Casa Del Castaneda

Casa Del Castaneda
Kembali Memanas


__ADS_3

Wajah Rogelio semakin merah padam karena menahan amarah. Dia menatap tajam kepada Paloma. Wanita itu juga terkejut dengan apa yang Luz Maria ucapkan.


“Kita harus bicara nanti. Ini tentang perusahaan yang akan kau beli,” ucap Rogelio, sebelum berlalu meninggalkan taman itu. Dia berjalan tergesa-gesa. Tampak jelas bahasa tubuh pria paruh baya itu, yang menyiratkan rasa tak suka dengan apa yang didapati hari ini.


“Maafkan sikap ayahku, Sebastian,” sesal Paloma seraya kembali duduk.


“Tidak apa-apa. Jangan khawatir,” balas Sebastian kalem.


“Dia begitu menyayangi Rafael. Ayahku sangat terpukul karena merasa kehilangan." Paloma tersenyum getir. "Terkadang aku merasa bahwa kasih sayangnya terhadap Rafael, jauh lebih besar jika dibandingkan kepadaku. Mungkin karena dia lebih banyak menghabiskan waktu bersama Rafael dibanding denganku,” ucap Paloma lagi dengan wajah sendu.


Sebastian tak langsung menanggapi. Dia tersenyum kepada Luz Maria yang terus mengajaknya bermain. “Apakah maksud dari yang kau katakan tadi kepada Tuan Gallardo?” tanya Sebastian penasaran. “Dia mengasingkanmu saat kau masih bayi?” selidiknya.


Paloma merasa ragu untuk menjawab pertanyaan itu. Bagaimanapun juga, dia tak ingin membuat citra sang ayah menjadi jelek di mata Sebastian. Paloma menyadari karakter buruknya yang selalu kesulitan dalam mengendalikan kemarahan.


Janda cantik bernata hazel tersebut, memiliki sifat yang meluap-luap saat merasakan sesuatu. “Aku kesulitan mengendalikan diri. Tak jarang, diriku menyesali sifat buruk itu. Namun, rasanya sulit untuk bersikap lebih tenang, apalagi sampai harus menahan emosi.” Paloma mengembuskan napas pelan penuh keluhan.


“Tidak apa-apa. Kau hanya perlu belajar sedikit demi sedikit. Lama-kelamaan pasti akan terbiasa. Itulah yang dinamakan proses. Jalannya memang terkadang sangat sulit, tapi akan membuatmu merasa puas andai kau bisa mencapai titik tertinggi dari semua harapan,” ujar Sebastian. Dia menepuk-nepuk punggung Luz Maria, yang ternyata sudah tidur sambil memeluknya.


“Aku bisa memahami kenapa kau memiliki karakter seperti ini. Kau melewati kisah hidup yang sangat keras. Dirimu harus berjuang seorang diri dan ….” Sebastian menggenggam jemari lentik Paloma dengan tangan kirinya. “Kau membutuhkan seseorang, Paloma. Seseorang sepertiku,” ucapnya diiringi senyum menawan.


“Kau masih saja berusaha merayuku.” Paloma menggeleng tak mengerti. Sesaat kemudian, wanita cantik berambut cokelat sebahu itu tersipu malu. Sekeras apa hati Paloma, dia tetap wanita biasa yang akan meleleh saat menerima rayuan manis dari seorang pria. Terlebih, pria itu pernah menjadi seseorang yang istimewa baginya.


“Aku akan selalu merayumu setiap detik,” bisik Sebastian. Dia tertawa renyah setelah berkata demikian. “Jadi, kau serius membeli perusahaan milik Amoroso Barbossa?” Sebastian mengalihkan topik pembicaraan. Dia takut Paloma merasa bosan, jika dirinya hanya membahas masalah perasaan.


“Ya,” jawab Paloma. “Entah mengapa, aku harus terikat dengan negara ini. Makam putraku Nilo ada di sini. Begitu juga dengan makam Rafael. Aku ingin selalu dekat dengan mereka,” ucap Paloma.


“Setelah memikirkan saranmu kemarin-kemarin, aku jadi memiliki ide. Sesuatu yang memang sudah dirancang sejak beberapa tahun silam. Aku pernah membahas ini dengan Rafael. Namun, sayangnya belum sempat terealisasi,” tutur wanita cantik itu. Sesekali, dia melihat kepada Luz Maria yang terlelap dalam pelukan Sebastian. “Aneh sekali, Luz Maria tidur tanpa meminta susu terlebih dulu,” pikirnya heran.


“Kau juga pasti akan tidur nyenyak jika kupeluk seperti ini,” gurau Sebastian, yang langsung berbalas cubitan di lengannya. “Baiklah. Jika boleh kutahu, rencana apa yang sudah kau rancang bersama Rafael?” tanya sang tuan tanah.


Paloma tersenyum simpul. Dia menatap langit sore yang menaungi Kota Granada. Bayangan paras tampan Rafael hadir di sana, seakan memberinya semangat untuk kembali melanjutkan hidup. “Rafael sangat mendukungku dalam berkarier. Dia tidak merasa keberatan melihat istrinya sibuk berbisnis,” tutur Paloma seraya tersenyum kecil.


“Lalu?” Sebastian memusatkan perhatian sepenuhnya kepada Paloma.

__ADS_1


“Ayahku pernah berencana meluncurkan produk kosmetik. Dia memang menyiapkan itu untukku. Tadinya, aku akan memulai usaha tersebut di Meksiko. Namun, kurasa Spanyol juga bukan tempat yang buruk.” Paloma menoleh kepada Sebastian. Binar indah terlihat jelas dari sorot matanya.


“Kurasa, kosmetika akan menjadi bidang usaha yang cocok untuk wanita secantik dirimu,” ujar Sebastian menanggapi.


“Kau merayuku lagi." Paloma berdecak pelan. Sesuatu yang langsung dibalas tawa renyah oleh Sebastian


“Ya, sudah. Aku pulang dulu. Kapan kita bisa bertemu lagi? Aku ingin membantu masalah perizinan dan seluk beluk usaha di bidang kosmetika. Kurasa kau harus mempelajari dulu segala sisi tentang usaha itu, jika tidak ingin merugi ke depannya,” ucap Sebastian.


“Aku tidak ingin merepotkanmu,” balas Paloma sambil meraih tubuh Luz Maria yang masih terlelap. Dia menggendongnya dengan hati-hati. Paloma lalu berdiri dan segera diikuti oleh Sebastian.


“Aku tidak akan pernah merasa direpotkan olehmu. Justru sebaliknya. Aku merasa senang karena bisa membantumu." Sebastian membelai lembut pipi Paloma, lalu mendekatkan wajahnya. Tanpa permisi, dia mencium bibir wanita itu.


Paloma berdiri terpaku sambil terus memeluk Luz Maria. Dia tak kuasa menolak. Paloma membiarkan Sebastian, hingga merasa puas bermain-main dengan bibirnya. Sesuatu yang seharusnya tidak terjadi, meskipun tak ada yang melarang hal tersebut.


“Te veré pronto (sampai jumpa lagi), Mi Amor,” ucap Sebastian dengan tatapan lembut penuh arti.


Sementara, Paloma lagi-lagi hanya terpaku menatap sosok tinggi tegap penuh pesona itu. Dia terus memperhatikan Sebastian, hingga pria tampan tersebut menghilang dari pandangan. “Ya, Tuhan. Apa yang sudah kulakukan?” Paloma menggeleng tak percaya, karena sudah berciuman dengan Sebastian.


Setelah itu, Paloma membersihkan tubuh. Seusai berpakaian, dia menuju ke ruang makan.


Rogelio sudah menunggu di sana. Raut wajahnya masih terlihat masam. “Apa kekasihmu sudah pulang?” tanya Rogelio sedikit ketus.


“Ya,” jawab Paloma singkat sambil duduk, lalu membalikkan piring. "Sebastian bukan kekasihku," ucapnya lagi tanpa memedulikan sorot tajam sang ayah. Paloma malah asyik memilih menu hidangan yang tersaji di meja.


“Ketahuilah, bahwa aku tak akan pernah merestui hubunganmu dengan Sebastian! Kuharap kau tidak membangkang,” tegas Rogelio.


Paloma langsung menghentikan apa yang sedang dilakukannya. Dia menoleh kepada Rogelio. “Aku sudah berusia dua puluh delapan tahun, Ayah. Aku berhak menentukan jalan hidupku."


“Kau putriku, Paloma! Ingat itu!” sentak Rogelio sambil berdiri. Rogelio bahkan sampai menggebrak meja.


Paloma sempat tertegun menyaksikan sikap sang ayah yang dirasa tak biasa. Kematian Rafael benar-benar memengaruhi kondisi kejiwaan pria paruh baya itu. “Apa kau akan bersikap seperti ini jika aku mati, Ayah? Apakah kau akan bersedih? Apakah kasih sayangmu hanya kau tujukan untuk Rafael?”


Seketika Rogelio tersadar. Dia kembali duduk sambil mengatur napas. “Tidak, Nak. Maksudku ….”

__ADS_1


"Aku tahu kau sangat menyayangi Rafael, bahkan mungkin melebihi rasa sayangmu padaku. Namun, aku adalah putri kandungmu. Seperti yang kau katakan tadi," ucap Paloma pelan. Dia menatap makanan di dalam piring.


"Aku hanya ingin mengingatkanmu. Kau masih dalam suasana berduka. Jangan bertindak bodoh," tegur Rogelio.


"Aku tahu dan tidak akan pernah mengabaikan hal itu. Kau tahu alasanku mengapa ingin menetap di sini." Paloma mengalihkan pandangan kepada pria paruh baya, yang duduk tak jauh darinya.


"Kau bersedih karena kehilangan menantu sekaligus anak angkatmu. Sedangkan aku ... aku berduka karena kehilangan suami dan ayah dari putriku." Bulir bening mulai menetes, membasahi pipi Paloma. Namun, dengan segera dia menyekanya hingga tak berbekas. Paloma kembali mengalihkan pandangan dari sang ayah. Wanita itu terdiam membisu.


Helaan napas berat meluncur dari bibir Rogelio. Seperti ada beban besar yang menghimpit dada pria asal Meksiko tersebut. Rogelio sadar bahwa dirinya sudah bersikap keterlaluan. Namun, dia merasa harus tetap membatasi Paloma.


"Aku sudah membeli perusahaan itu untukmu. Kau bisa memulai bisnis yang dirimu inginkan. Anggap itu sebagai modal awal. Setelah ini, berusahalah sendiri. Kau bisa meminta bantuan kepada Elazar. Aku sudah menitipkanmu padanya," terang Rogelio dengan intonasi yang jauh lebih tenang.


"Kenapa harus dia? Aku tidak mengenal pria itu dengan baik!" tolak Paloma tegas.


"Karena Elazar adalah pengusaha. Dia bukanlah tukang kebun," jawab Rogelio tak kalah tegas.


"Apa maksudmu, Ayah? Apa kau tidak tahu bahwa Elazar adalah mantan suami Tatiana Vidal?"


"Aku mengetahuinya. Dia sudah bercerita padaku. Namun, itu tak penting. Elazar mengemukakan alasan kenapa mereka sampai bercerai." Rogelio menatap tajam Paloma. "Aku memang tidak merawatmu secara langsung. Namun, aku selalu mengawasi setiap perkembanganmu, Nak. Aku tahu apa yang baik dan tidak untukmu ...."


"Kau dulu menikahkanku dengan Rafael. Aku mengawali semuanya dengan buruk ...."


"Ya, tapi lihatlah sekarang!" tegas Rogelio. "Lihatlah Luz Maria yang begitu cantik dan menggemaskan. Apa kau tak melihat seorang Rafael dalam diri putrimu? Secepat itukah kau ingin menggantikan posisinya?"


"Kenapa kau berpikir sejauh itu, Ayah?" protes Paloma keras. "Aku juga tahu sampai di mana batasanku! Kau tidak perlu khawatir." Nafsu makan Paloma seketika menghilang Dia tak menyentuh makanan yang sudah berada di piring. Paloma memilih berdiri, kemudian berlalu meninggalkan Rogelio yang terdiam.


“Dengarkan aku, Paloma!” cegah Rogelio cukup nyaring.


Namun, Paloma tak menggubrisnya. Dia berjalan cepat meniti undakan anak tangga, lalu segera masuk ke kamar. Paloma melangkah pelan mendekati boks tempat tidur Luz Maria. Ditatapnya wajah menggemaskan anak itu.


Paloma mengusap pipi gembul putrinya dengan lembut. Air mata kembali menetes membasahi sudut bibir, lalu jatuh ke punggung tangan wanita itu. “Apa yang harus kulakukan, Luz Maria?” Paloma terisak pelan. "Ayahmu memiliki tempat yang istimewa di hatiku. Dia ...." Paloma tak melanjutkan kata-katanya, karena terdengar suara ketukan di pintu. Walaupun malas, Paloma membukanya.


Tampaklah wajah lusuh Rogelio. "Aku memberimu kesempatan untuk tetap berada di sini. Buktikan jika kau bisa memegang kata-katamu, atau kembali ke Meksiko," tegasnya.

__ADS_1


__ADS_2