Casa Del Castaneda

Casa Del Castaneda
Tak Berkutik


__ADS_3

Paloma menatap lekat Sebastian. Pria itu mengangguk sopan, sebagai pertanda bahwa dia sudah mempersilakan wanita cantik tersebut untuk pergi. Paloma yang tadinya hendak mengatakan sesuatu, akhirnya mengurungkan hal itu. Dia langsung menutup kaca jendela, bersamaan dengan mobil yang melaju pelan meninggalkan halaman Casa del Castaneda.


Sebastian terpaku beberapa saat sambil menatap kepergian Paloma, hingga dia tersadar bahwa Elazar sudah menunggunya di dalam. Duda tampan tersebut membalikkan badan. Pria tampan itu melangkah gagah menuju ruang tamu.


Di ruangan luas dengan segala ornamen mewah dan suasana khas rumah perkebunan, Elazar sudah tak sabar menunggu sang tuan rumah. Raut masamnya seketika berubah cerah, saat melihat Sebastian telah muncul di sana. Elazar berdiri, ketika menyambut sang pemilik bangunan megah bernuansa putih tersebut datang menghampiri.


“Ada hal penting apa, Elazar?” tanya Sebastian, seraya mempersilakan mantan suami Tatiana tersebut agar kembali duduk.


“Aku baru melakukan pertemuan dengan Tuan Amoroso Barbossa. Apa kau mengenalnya, Sebastian?” Bukannya menjawab pertanyaan Sebastian, Elazar malah balik bertanya.


“Amoroso Barbossa? Pengusaha tekstil itu?” Sebastian menaikkan sebelah alisnya. “Aku tidak terlalu mengenal pengusaha tersebut. Memangnya ada apa?”


Elazar mengeluarkan rokok. Dia bahkan menawari Sebastian. Namun, sang pemilik Casa del Castaneda itu menolaknya. Elazar langsung menyulut sebatang, lalu mengisapnya.


“Perusahaan tekstil milik Amoroso Barbossa sedang dalam masalah besar. Tak lama lagi, mungkin akan dinyatakan pailit,” terang mantan suami Tatiana tersebut.


“Lalu? Apa masalahnya denganku?” tanya Sebastian seraya memicingkan mata. Sesaat kemudian, sang pemilik ribuan hektar perkebunan zaitun tersebut seakan menangkap maksud yang tersirat dari penuturan Elazar tadi.


“Ah, tidak!” tolak Sebastian. “Aku tak akan meminjamkan uang berapapun jumlahnya pada seseorang yang tak kukenal,” tegas pria yang terlihat semakin menawan di usianya yang semakin matang.


Elazar tergelak setelah mendengar ucapan Sebastian. Dia membuang abu rokok ke dalam asbak. Pria dengan usia dan postur mirip Rafael Hernandez tersebut, meneguk minuman yang telah disuguhkan pelayan untuknya.


“Tentu saja tidak, Sebastian,” ujar pria bermata abu-abu itu, seraya kembali mengisap rokok yang masih panjang.


“Lalu?” tanya Sebastian kembali menaikkan sebelah alisnya.


“Begini,” ucap Elazar memulai penjelasan yang akan diberikan kepada Sebastian. “Amoroso Barbossa berhubungan baik denganku. Aku sangat mengetahui seperti apa kondisi perekonomiannya saat ini. Dia berencana untuk menjual perusahaan tersebut. Amoroso memintaku menjadi perantara, karena menurutnya aku memiliki jaringan pertemanan yang luas,” terang Elazar.


“Berhubung perusahaannya berada di wilayah Porcuna, jadi sebelum kutawarkan pada orang lain maka kutawarkan terlebih dulu padamu. Siapa tahu kau berminat membelinya," ucap Elazar lagi.


“Astaga.” Sebastian berdecak pelan. “Aku lebih suka mengurus perkebunan daripada perusahaan,” ujar Sebastian enteng.


“Ah, sudah kuduga kau akan mengatakan itu. Namun, tak ada salahnya kucoba menawarkan padamu.” Elazar kembali mengisap rokok yang sempat dia letakkan di asbak. “Jika kau bersedia membelinya, kupastikan perusahaan itu tak akan membuatmu rugi. Pasalnya, bangunan fisik berada di wilayah yang sangat strategis,” ucap Elazar lagi setengah membujuk.

__ADS_1


Sebastian mengembuskan napas panjang. Dia menggaruk keningnya, tapi tak mengatakan apapun lagi. Pria tampan empat puluh tahun tersebut, malah membelokkan topik perbincangan mereka ke permasalahan yang lain.


Obrolan ringan terus mengalir. Kedua pria itu bahkan sempat membahas tentang Paloma. Setelah mendengar nama janda cantik tersebut, Sebastian kembali teringat bahwa dirinya harus membuat janji bertemu dengan Abelardo.


Setelah Elazar berpamitan, Sebastian bergegas menuju ruang kerja. Dia bermaksud untuk menghubungi sahabat lamanya tersebut di sana. Namun, Sebastian merasa terganggu saat melihat Leandra yang tertidur lelap di sofa. Wanita itu bahkan tak menyadari saat Sebastian masuk ke ruangan tadi.


Karena merasa tak nyaman melihat rok span Leandra yang naik hingga memperlihatkan sebagian besar paha mulusnya, Sebastian memutuskan keluar lagi dari ruangan bernuansa merah hati tersebut. Dia memilih pergi ke kamar pribadinya. Lagi pula, saat itu waktu sudah menjelang petang.


“Ada apa, Sebastian?” tanya Abelardo, setelah panggilan tersambung.


“Apa kau sedang sibuk?” Sebastian balik bertanya.


“Tidak juga. Aku baru pulang ke rumah. Hari ini, istriku memasak istimewa. Biasanya, dia pasti menginginkan sesuatu jika sedang baik begini.” Abelardo tertawa renyah atas ucapannya.


“Jadi, ada apa?” tanya sang kepala polisi tersebut memastikan.


“Tidak ada yang serius. Aku hanya ingin kau meluangkan waktu sebentar,” ucap Sebastian kalem.


“Astaga, maaf,” ucap sahabat lama Sebastian tersebut. “Aku akan pindah ruangan. Sebentar.” Abelardo tak bicara lagi. Namun, Sebastian masih dapat mendengar suara-suara aneh. Sepertinya, kepala polisi tadi berjalan dengan setengah berlari.


“Sebastian? Apa kau masih di situ?” tanya Abelardo kembali ke sambungan telepon.


“Ya. Bagaimana?” tanya Sebastian menanggapi.


“Kau mengatakan apa tadi?” tanya Abelardo.


“Aku ingin agar kau meluangkan waktu besok atau lusa,” ucap Sebastian.


“Memangnya ada apa? Apakah ada sesuatu yang ingin kau bicarakan?” tanya Abelardo lagi.


“Bukan aku, tapi Nyonya Paloma Hernandez,” jawab Sebastian. “Dia datang ke Casa del Castaneda, lalu memintaku agar mempertemukanmu dengannya. Entah untuk apa, tapi ….”


“Besok siang saja, karena lusa aku ada acara penting,” sela Abelardo. “Datanglah ke kantor pukul sepuluh pagi.”

__ADS_1


Setelah mendapat kesepakatan tentang waktu. Sebastian mengakhiri panggilan tadi. Dia lanjut menghubungi Paloma. Janda Rafael itu terdengar sangat antusias, saat Abelardo bersedia meluangkan waktu untuk bertemu dengannya.


Keesokan harinya.


Masih menggunakan mobil sewaan, Paloma mendatangi kantor polisi tempat Abelardo bertugas. Sebastian ternyata datang lebih dulu. Dia telah menunggunya di pintu masuk bangunan itu.


“Apakah kau sudah lama menunggu?” tanya Paloma tak enak.


“Tidak juga. Aku baru saja datang,” jawab Sebastian sambil memamerkan senyum menawan.


“Di mana pengawal pribadimu yang galak itu?” tanya Paloma lagi.


“Maksudmu Leandra?” Sebastian balik bertanya, lalu tertawa pelan. “Aku melarangnya ikut,” jelas Sebastian singkat.


“Oh." Paloma juga menanggapi dengan singkat, sebelum mengalihkan perhatiannya pada petugas polisi yang menghampiri mereka dengan tergesa-gesa.


“Permisi, Nyonya Hernandez dan Tuan Castaneda?” sapa polisi itu ragu. Barulah setelah Paloma dan Sebastian mengangguk, polisi tadi tersenyum ramah. “Inspektur Polisi Lujan sudah menunggu Anda berdua di ruangannya,” terang pria tadi seraya mengarahkan Paloma dan Sebastian menuju ruangan Abelardo.


Kepala polisi yang berusia sama dengan Sebastian tersebut langsung berdiri saat menyambut Paloma. “Apa kabar, Nyonya Hernandez?” tanya Abelardo seraya menyalami wanita itu.


“Tidak baik, Inspektur. Sudah berhari-hari aku menunggu kabar dari Anda. Namun, sampai sekarang aku tak mendapatkan apapun. Aku bahkan sudah berkali-kali mencoba menghubungi Anda, tapi selalu saja gagal,” keluh Paloma jengkel. Dia langsung mengeluarkan unek-uneknya kepada Abelardo.


"Apakah Anda sengaja menghindari tanggung jawab serta kewajiban untuk mengungkap kasus kematian suamiku?” tukas Paloma ketus.


Raut wajah ramah yang tadi diperlihatkan oleh Abelardo, memudar seketika. Ekspresi pria itu berubah menjadi serius. Tatapannya pun tajam tertuju pada Paloma. “Berhati-hatilah saat berbicara dengan penegah hukum, Nyonya! Anda telah melontarkan tuduhan serius kepadaku,” tegas Abelardo. Dia melawan sikap keras Paloma terhadapnya.


Akan tetapi, Paloma tak gentar sama sekali. Dia malah mengangkat dagu dengan sorot meremehkan. “Lalu? Kalau begitu, jelaskan padaku kenapa Anda sulit sekali dihubungi?” tantang janda cantik tersebut.


“Kendalikan dirimu, Paloma,” bisik Sebastian. Dia dapat menangkap ekspresi tak suka dari wajah Abelardo.


“Kutekankan sekali lagi padamu, Nyonya Hernandez!" tegas Abelardo lagi. "Aku akan jauh lebih menghargai, jika Anda bisa bersikap sopan pada petugas penegak hukum! Perlukah kuingatkan bahwa Anda hanyalah pendatang di sini? Anda bukan warga Spanyol. Bisa saja visa Anda akan segera berakhir," cibir Abelardo.


"Ketahuilah, hanya dengan menjentikan jari, maka aku bisa menghubungi petugas imigrasi dan meminta mereka agar mengusir Anda keluar dari negara ini!” ancam Abelardo, yang seketika membuat Paloma tak dapat berkutik lagi.

__ADS_1


__ADS_2