Casa Del Castaneda

Casa Del Castaneda
Tak Habis Pikir


__ADS_3

“Kenapa?” tanya Sebastian kecewa, karena Paloma menolak ciuman darinya.


“Maafkan aku, Sebastian. Tolong mengertilah. Aku masih dalam suasana berkabung. Rafael baru meninggal beberapa waktu yang lalu. Tidak sepantasnya aku ….” Paloma mengembuskan napas berat. Wanita itu lalu menunduk.


Sementara, Sebastian terpaku menatapnya. Dia juga tak tahu harus berkata apa. Pria tampan bermata cokelat madu tersebut dapat memahami maksud ucapan Paloma. “Aku juga minta maaf. Namun, sejujurnya bahwa diriku tak dapat menahan diri lagi. Aku ingin segera memilikimu, Paloma,” ucap Sebastian dengan dalam.


Paloma kembali mengembuskan napas berat. Dia mengambil Luz Maria dari gendongan Sebastian, meski anak itu terlihat sangat nyaman berdekatan dengan pria tersebut. Paloma terlihat gelisah, setelah mendengar apa yang Sebastian katakan. Kegalauan mulai melanda hatinya.


“Kenapa? Apakah ada masalah?” tanya Sebastian lagi. “Apa kau tidak menyukai kata-kataku tadi?”


“Tidak, bukan begitu. Aku hanya … Sebastian, sebaiknya kau mulai menjaga jarak denganku,” jawab Paloma tanpa berani menatap langsung pria di hadapannya.


“Kenapa?” Lagi-lagi, pertanyaan itu yang meluncur dari bibir duda empat puluh tahun tadi. “Kenapa aku harus menjaga jarak darimu?” Sebastian tak mengerti. Dia juga tidak ingin menerima begitu saja ucapan Paloma.


“Kau sudah tahu bahwa aku sangat mencintaimu. Ini pertama kalinya aku jatuh cinta lagi setelah sekian lama menduda. Aku bahkan tak terikat dengan wanita manapun, saat kau lebih memilih Rafael Hernandez. Apakah itu semua belum cukup untuk membuktikan perasaanku?”


“Aku tahu itu, Sebastian. Aku benar-benar tersanjung dan sangat menghargainya. Tolong, jangan membuatku merasa bimbang,” pinta Paloma. Kali ini, dia memberanikan diri menatap Sebastian.


“Kenapa kau harus merasa bimbang? Perasaan cintaku ini benar-benar tulus. Aku tak suka jika membuatmu menjadi demikian.”


“Kau tahu bahwa ayahku belum memberikan izin.”


“Aku akan mengusahakannya. Kau tidak perlu khawatir dengan hal itu.” Sebastian terus membujuk Paloma agar bisa menerima cintanya.

__ADS_1


“Tidak, Sebastian,” tolak Paloma. “Ayahku membeli perusahaan milik Tuan Amoroso Barbossa sebagai modal awal. Aku membutuhkan itu. Namun, ayah memberikan syarat yang harus kupenuhi. Dia tidak ingin melihatku berdekatan denganmu. Apalagi sampai menjalin hubungan. Tidak, Sebastian.” Paloma menggeleng kencang.


“Ayahmu tidak ada di sini, Paloma!” tegas Sebastian. Dia mulai hilang kesabaran menghadapi wanita di hadapannya. “Lagi pula, sejak kapan seorang Paloma takut dengan hal seperti itu. Kau pembantah, Paloma! Kau sangat ahli dalam hal itu, Sayang.” Sebastian menyentuh pipi ibunda Luz Maria tersebut.


“Jika kau mau, aku akan bicara dan memohon kepada Tuan Rogelio Gallardo. Aku akan membujuk serta melakukan segala cara agar dia bersedia menerimaku. Aku yakin dia pasti akan memahami apa yang kita berdua rasakan. Seberapapun kuatnya dirimu, kau tetap seorang wanita. Wanita akan selalu membutuhkan pria, sebagai penopang hidupnya agar menjadi semakin kokoh.”


“Kaum pria berpikir secara rasional. Kau pasti memerlukan pendapat, masukan, serta dukungan agar dapat membangun bisnismu. Ayolah, Paloma. Aku berjanji tak akan membatasi ruang gerakmu. Aku akan mempersilakan dengan leluasa, andai kau tetap ingin mengembangkan karier berbisnismu. Namun, tolong hargai perasaanku. Aku sudah tersiksa selama ini.” Sebastian terus membujuk Paloma agar bersedia menerimanya.


“Tidak, Sebastian. Ini terlalu cepat,” tolak Paloma lagi. “Kumohon, berikan aku sedikit waktu,” pintanya.


“Apa yang kau katakan? Usiaku sudah empat puluh tahun sekarang. Berapa lama lagi aku harus menunggumu?” Nada bicara Sebastian mulai tak terkontrol. Dia seakan kehabisan kata-kata untuk membujuk Paloma, sehingga pikirannya mulai kacau. “Jika kau hanya mencari alasan untuk mengulur-ulur waktu … maka sudahlah!”


“Sebastian ….”


‘Kau bisa mencobanya, Paloma. Aku berjanji akan memperlakukanmu dengan sangat baik. Selain itu, Luz Maria juga pasti membutuhkan figur seorang ayah. Walaupun dia bukan darah dagingku, tapi aku tak akan pernah menganggapnya sebagai anak tiri.”


“Lalu aku harus bagaimana lagi? Kenapa kau begitu keras kepala?”


“Aku hanya mencoba berpikir logis, Sebastian!” bantah Paloma lagi.


“Apanya yang logis? Kau hanya sedang menyiksa dirimu. Apa yang ingin kau tunjukkan sebenarnya? Kau ingin melihatku menua sendirian! Baiklah!” Sebastian mendengkus kesal. Dia membalikkan badan. Pria itu berlalu dari hadapan Paloma yang masih menggendong Luz Maria.


Sebastian melangkah gagah menuju mobilnya. Dia melajukan SUV putih tadi dengan kecepatan tinggi. Dalam waktu yang sangat cepat, kendaraan mewah sang tuan tanah sudah tak terlihat lagi.

__ADS_1


“Apakah aku memang egois, Luz Maria?” tanya Paloma, yang lebih tepat ditujukan kepada diri sendiri. Namun, Paloma tak akan menyesali keputusannya. Dia harus membuktikan terlebih dulu, janji yang telah diucapkan kepada sang ayah.


Sebastian terus menginjak pedal gas. Perasaan kesal memenuhi hatinya. Pikiran pria itu pun terasa kacau. Sebastian hanya ingin segera tiba di Porcuna, agar dapat menyendiri di ruang kerja sambil menikmati minuman mahal yang terpajang di lemari khusus miliknya.


Dua jam perjalanan telah dilewati dengan tanpa terasa. Raut wajah Sebastian masih terlihat masam, saat dirinya keluar dari kendaraan. Pria itu bahkan menutup pintu dengan keras.


“Tuan,” sapa Pedro. Dia segera menghampiri sang majikan untuk meminta kunci kendaraan.


“Ambil ini.” Sebastian melemparkan kunci mobil kepada Pedro yang sigap menangkap. Tanpa berkata apa-apa lagi, sang penguasa Casa del Castaneda tersebut bergegas masuk. Namun, ketika baru melewati koridor depan, pria itu tertegun. Sebastian baru menyadari, bahwa ada mobil yang terparkir di halaman bangunan megah tersebut. Mobil yang terlihat asing baginya.


Sebastian ingin bertanya kepada Pedro. Akan tetapi, sang sopir sudah terlanjur membawa mobilnya ke garasi. Alhasil, dia memilih melanjutkan langkah ke dalam bangunan.


Setibanya di ruang tamu, Sebastian langsung disambut oleh Leandra. Seperti biasa, wanita itu selalu tersenyum manis dan hangat. “Ada tamu untuk Anda, Tuan. Dia sudah menunggu sejak setengah jam yang lalu,” lapor Leandra. Dia mengarahkan tangannya pada seorang pria yang langsung berdiri.


“Tuan Castaneda,” sapa pria itu sopan.


“Anda siapa?” tanya Sebastian seraya berjalan mendekat. Dia membalas jabat tangan yang disodorkan pria itu.


“Perkenalkan, namaku Adolfo Guinan. Aku adalah pengacara Nyonya Tatiana Vidal,” ucap pria itu memperkenalkan diri.


“Pengacara Tatiana?” ulang Sebastian seraya menautkan alisnya karena tak mengerti.


“Ya, Tuan."

__ADS_1


“Untuk apa Anda datang kemari, Tuan Guinan?” tanya Sebastian lagi penuh selidik. Dia mempersilakan Adolfo agar kembali duduk.


Adolfo mendehem pelan sebelum mengutarakan maksud kedatangannya. Sesaat kemudian, barulah pria itu berkata, “Aku sengaja datang kemari demi memenuhi permintaan Nyonya Tatiana Vidal. Ini terkait dengan kasus yang tengah menjeratnya saat ini. Nyonya Tatiana bersikeras, bahwa Anda bisa membantunya untuk membuktikan kepemilikan mobil itu.”


__ADS_2