
“Ada apa, Martin?” tanya Sebastian setelah menjawab panggilan dari sang mandor di perkebunannya.
“Ada masalah di perkebunan, Tuan. Bisakah anda datang kemari?” sahut Martin terdengar was-was.
“Masalah sepenting apa?” Sebastian kembali bertanya. Paras tampannya berubah serius, saat mendengarkan penjelasan dari Martin. Sesaat kemudian, Sebastian mengakhiri perbincangan itu. Dia memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jaket. “Aku harus kembali ke Casa del Castaneda,” ucap sang tuan tanah itu. Tatapannya menyiratkan rasa berat, karena harus meninggalkan Paloma dan Luz Maria lebih cepat dari yang dia rencanakan.
“Apakah ada masalah, Sebastian?” tanya Paloma penasaran.
“Biasa. Masalah di perkebunan. Ada sesuatu yang membuatku harus turun tangan secara langsung,” jelasnya. Dia mengembalikan Luz Maria kepada Paloma, setelah mencium balita itu berkali-kali. Luz Maria tertawa riang. “Apa boleh jika aku mencium ibumu, Sayang?” Sebastian bertanya kepada Luz Maria, tetapi ekor mata pria itu tertuju pada Paloma yang langsung melotot padanya.
Sebastian tertawa renyah. Kali ini, dia tak main-main. Duda empat puluh tahun tersebut langsung menangkup paras cantik Paloma, kemudian menciumnya mesra untuk beberapa saat. “Menikahlah denganku,” pinta Sebastian setengah berbisik. “Aku akan membantumu membangun bisnis yang akan kau rintis. Jangan khawatir, bukan bantuan secara berlebihan. Aku hanya ….”
“Aku paham, Sebastian. Aku akan berbicara dengan ayahku mengenai siapa Elazar sebenarnya. Mungkin kau bisa memanfaatkan hal ini untuk mencari perhatian dari Tuan Rogelio Gallardo,” ujar Paloma diakhiri tawa renyah.
“Oh, itu bukan hal sulit bagiku. Aku memang ahlinya dalam mencari perhatian,” balas Sebastian ikut tertawa. “Sudahlah, aku harus pergi dulu. Akan kuhubungi lagi kau nanti malam." Duda tampan itu berpamitan. Dia mengecup lembut kening Paloma, lalu mencubit pipi Luz Maria sebelun berbalik menuju kendaraannya.
Paloma tersenyum manis. Dia masih terpaku sambil terus menggendong Luz Maria. Tatapan lembut penuh cinta janda Rafael Hernandez tersebut tak teralihkan. Dia terpukau memperhatikan punggung lebar Sebastian, hingga sosok pria itu menghilang dari pandangan. Setelah Sebastian pergi, Paloma baru masuk ke rumah.
Saat itu, kendaraan milik Sebastian sudah jauh meninggalkan kawasan perumahan tempat tinggal Paloma yang baru. Sebastian mengemudikan mobil double cabin itu dengan kecepatan sedang. Tak lama lagi, dia akan tiba di kediamannya yang mewah.
Akan tetapi, ketika hendak berbelok menuju kawasan Casa del Castaneda, tiba-tiba mobilnya dihadang dan dipepet oleh dua kendaraan berjenis minitruk. Posisi dua kendaraan tadi, berada di depan dan samping kiri mobil milik Sebastian, sehingga pria itu spontan memutar kemudi ke tepian jalan untuk menghindari tabrakan.
Namun, belum sempat Sebastian menginjak pedal rem, mobilnya sudah lebih dulu menabrak sebuah pohon besar. Saking kencangnya tabrakan itu, sehingga air bag pun otomatis mengembang. "Astaga," keluh duda pemilik ribuan hektar tanah perkebunan tersebut, seraya menggeleng tak percaya.
Tak ingin membuang waktu dan demi menghindari hal yang lebih buruk, Sebastian berusaha keluar dari mobil. Akan tetapi, baru saja dia akan menghubungi Pedro sambil berjalan sedikit menjauh dari mobil, langkahnya lebih dulu dihadang empat pria berbadan tegap.
__ADS_1
Sebastian memicingkan mata, saat memperhatikan orang-orang yang mengelilingiya tadi. Dia tidak pernah bertemu dengan mereka sebelumnya.
Setetes darah mengucur dari luka sobek di atas pelipis mengenai mata. “Siapa kalian!” sentaknya.
“Kau tak perlu tahu siapa kami. Catat baik-baik agar kau tidak ikut campur dalam kasus kematian Rafael Hernandez, atau dirimu yang akan menjadi korban berikutnya,” ancam salah seorang dari empat orang pria tadi sambil menyeringai.
Sebastian tertawa pelan mendengar ancaman itu. Tak ada sedikit pun ekspresi takut yang terpancar dari wajah tampannya. “Sudah jelas kalian tak mengetahui siapa diriku,” ujar pria itu kalem.
“Kami tidak perlu tahu siapa dirimu. Kau ….”
Belum selesai pria asing itu berbicara, Sebastian sudah lebih dulu memukul rahangnya. Tak hanya itu, dia juga melayangkan tendangan kepada satu orang yang berdiri di samping pria tadi. Sementara, dua orang lagi yang mengambil posisi di belakang Sebastian, bermaksud untuk menahan gerakannya.
Akan tetapi, Sebastian bergerak dengan gesit. Dia lebih dulu menyikut satu orang di kanan tepat pada ulu hati, kemudian menyarangkan satu pukulan di area inti pria sebelah kirinya.
Keempat pria itu berusaha membalas serangan Sebastian secara bersamaan. Namun, bunyi sirene polisi yang terdengar semakin mendekat, berhasil menakuti mereka. Orang-orang itu berlari tergesa-gesa. Mereka masuk ke kendaraan masing-masing, lalu pergi dari sana
“Astaga! Apa kau baik-baik saja?” tanya seseorang yang tak lain adalah Abelardo. Dia langsung mendekat dan memeriksa keadaan teman lamanya tersebut.
“Aku tidak apa-apa. Ini hanya luka kecil,” jawab Sebastian enteng. “Apa kau sudah berhasil mencatat nomor polisi kendaraan mereka, Abelardo?” Pria rupawan itu balik bertanya.
“Tidak perlu. Di setiap pertigaan selalu ada kamera pengawas dan alat pencatat kecepatan kendaraan yang terpasang di tiang lampu merah,” jelas Abelardo. “Benda itu sudah merekam apa yang terjadi denganmu beberapa saat yang lalu,” imbuhnya.
“Baiklah, kalau begitu. Kuharap, mereka dapat ditangkap secepatnya.” Sebastian merengkuh pundak sahabatnya, lalu berjalan dengan kaki pincang menuju mobil Abelardo. “Sepertinya, kakiku terkilir,” keluh Sebastian.
“Ayo, kuantar kau pulang. Biar anak buahku yang menderek mobilmu,” ujar Abelardo, sembari membantu Sebastian masuk ke mobilnya.
__ADS_1
Selang beberapa saat, mereka telah tiba di halaman depan bangunan mewah kediaman Sebastian. Leandra tampak sudah menunggu di teras dengan raut cemas, karena Sebastian sempat mengubunginya tadi saat di perjalanan.
“Apa yang terjadi, Tuan?” tanya Leandra seraya membelalakan mata, melihat kondisi Sebastian yang penuh luka.
“Aku tidak apa-apa, Leandra. Jangan berlebihan,” ujar Sebastian seraya tersenyum.
“Ayo, kita bicara di ruanganku saja." Duda tampan itu beralih pada Abelardo.
“Apa tidak sebaiknya kau obati dulu luka-lukamu?” saran Abelardo.
“Ah! Ini hanya luka kecil. Ada yang jauh lebih penting dari ini,” tolak Sebastian. Dia merengkuh pundak Abelardo. Sebastian setengah memaksanya menuju ke ruang kerja.
Sedangkan, Leandra hanya menatap keheranan. Dia sempat terpaku di tempatnya, sebelum mengikuti langkah sang majikan menuju ruang kerja.
“Biar kubantu membersihkan luka Anda, Tuan,” ujar Leandra. Raut khawatirnya terlihat begitu nyata.
“Sudahlah, nanti saja. Aku harus berbicara dengan ….” Sebastian tiba-tiba menghentikan kalimatnya. Dia melotot pada Abelardo yang membalasnya dengan senyuman kalem.
“Sudahlah, jangan khawatir. Aku sudah memerintahkan anak buahku untuk menjaga rumah Nyonya Hernandez, sesaat setelah mendapat telepon darimu. Kekasihmu berada dalam kondisi aman,” terang Abelardo.
“Ah, syukurlah.” Sebastian mengembuskan napas lega. Lain halnya dengan Leandra yang menegang saat Abelardo menyebut kata ‘kekasih’.
“Akan tetapi, aku belum dapat menangkap Elazar Ganimedes Blanco, sebelum tim kami mengumpulkan bukti-bukti kuat,” lanjut Abelardo.
“Tak apa selama Paloma ada dalam penjagaan ketat,” sahut Sebastian.
__ADS_1
“Jangan khawatirkan itu." Abelardo tertawa sambil menepuk-nepuk pundak Sebastian.
“Maaf, tapi ….” Leandra nekat menyela pembicaraan dua pria itu. “Apa hubungan Nyonya Hernandez dengan luka-luka yang diderita Tuan Castaneda?” tanyanya pelan dengan sorot mata sendu.