Casa Del Castaneda

Casa Del Castaneda
Menepis Keraguan


__ADS_3

Rogelio duduk di balik meja kerja seraya memainkan ponsel. Dia tengah menimbang-nimbang niatnya yang akan menghubungi Sebastian. Rogelio melihat arloji mahal yang melingkar di pergelangan kiri.


Jarum jam menunjukkan pukul sepuluh pagi. Artinya, di Spanyol sudah masuk pukul enam petang, berhubung Spanyol lebih cepat delapan jam jika dibanding Meksiko. Rasanya, tak ada masalah jika dia menghubungi Sebastian pada jam seperti itu.


Panggilan pertama terabaikan begitu saja. Pada panggilan kedua, barulah Sebastian menjawabnya. Pria tampan yang sudah merapikan rambut dan janggut tersebut, baru keluar dari walk in closet. Dia terlihat sudah rapi dan segar. “Hola,” sapa Sebastian seraya duduk di kursi yang terletak tak jauh dari tempat tidur. Bahasa tubuh pria itu terlihat penuh wibawa.


“Apa kabar, Tuan Castaneda?” balas Rogelio berbasa-basi.


“Sangat baik, Tuan Gallardo. Apakah ada masalah, sehingga anda harus repot-repot menghubungiku secara langsung seperti ini?” tanya Sebastian.


“Tidak ada yang serius, Tuan Castaneda,” sahut Rogelio. “Sebenarnya, aku berniat untuk mengadakan jamuan besar di kediamanku. Akan menjadi suatu kehormatan yang sangat istimewa, seandainya anda bisa hadir dalam acara tersebut. Kita bisa sekalian mengukuhkan jalinan kerja sama. Aku juga bisa mengenalkan anda pada beberapa kolega, yang bergerak dalam bidang sepertiku. Siapa tahu mereka juga berminat untuk menjalin kerja sama dengan anda.”


“Oh, itu tawaran yang sangat menarik. Memangnya, kapan acara jamuan tersebut akan diselenggarakan, Tuan Gallardo?” tanya Sebastian. Tentu saja, dia akan ke Meksiko membawa hati ceria. Ini menjadi alasan baginya, agar dapat menemui Paloma dengan leluasa.


“Aku ingin menyelenggarakannya akhir pekan ini. Namun, jika anda berminat hadir, kita bisa menyesuaikan jadwal dengan kesibukan anda,” tawar Rogelio.


“Oh, Tuan Gallardo. Anda sangat pengertian.” Sebastian tertawa pelan. Dia merasa tersanjung dengan sikap rendah hati yang ditunjukkan Rogelio terhadapnya. “Aku akan melihat jadwalku terlebih dulu. Semoga akhir pekan ini tak ada acara yang penting, sehingga anda tak perlu menyesuaikannya dengan kesibukanku. Aku merasa sangat tidak enak jika harus seperti itu.”


“Tidak masalah sama sekali, Tuan Castaneda. Aku senang memiliki rekan bisnis seperti anda.”

__ADS_1


Perbincangan ringan terus berlangsung, hingga terdengar suara ketukan di pintu kamar Sebastian. Seorang pelayan datang menghadap. Dia memberitahukan bahwa Tatiana datang berkunjung.


Sebastian sempat menautkan alisnya. Tatiana tak pernah berkunjung pada jam seperti itu. Sebastian mengangguk sebagai isyarat setuju. Terpaksa, dia harus menyudahi perbincangannya bersama Rogelio. “Maafkan aku, Tuan Gallardo. Aku harus menerima tamu dulu. Akan kuhubungi lagi nanti, untuk memastikan waktu keberangkatan. Aku pasti akan datang ke Meksiko,” ucap Sebastian sebelum menutup sambungan telepon.


Setelah selesai berbincang dengan Rogelio, Sebastian meletakkan kembali ponselnya di atas meja dekat tempat tidur. Dia lalu keluar dari kamar. Sebastian melangkah gagah menyusuri koridor panjang, hingga tiba di ruang tamu. Di sana, pria itu mendapati Tatiana yang sudah menunggunya.


“Selamat malam, Sebastian,” sapa Tatiana. Janda kaya tersebut segera berdiri, ketika sang tuan rumah berjalan ke arahnya.


“Selamat malam, Tatiana,” balas Sebastian. Saat sedang berbincang berdua seperti itu, mereka memang saling menyebut nama masing-masing. Tak ada kesan formal sama sekali. Kecuali jika di hadapan kolega yang lain, barulah keduanya akan berbicara dengan panggilan lebih formal ‘Tuan dan Nyonya’.


“Tidak biasanya kau datang pada jam seperti ini,” ujar Sebastian sambil duduk di salah satu kursi, yang berada tak jauh dari tempat Tatiana berada.


“Ya. Kebetulan, aku baru kembali dari menghadiri undangan Nyonya Irene Garcia. Kau masih mengingatnya?” Tatiana duduk sambil menyilangkan kaki. Dia mengeluarkan kotak rokok dari dalam tas mahalnya.


“Aku berhenti merokok saat di hadapan Rafael. Namun, saat ini dia sedang tidak ada. Aku rasa bahkan tak akan kembali,” sahut Tatiana seraya mengisap kembali rokoknya.


“Apa dia tidak menemuimu kemarin?” tanya Sebastian.


Tatiana mengepulkan asap dari bibirnya yang merah merona. Warna lipstik yang selalu menjadi ciri khas janda kaya tersebut sejak dulu. Walaupun usianya sudah menginjak kepala empat, tetapi penampilan Tatiana masih sangat modis. Dia juga selalu terlihat cantik dan glamour.

__ADS_1


“Rafael memang datang menemuiku. Kupikir, dia akan meminta maaf dan kembali. Terlebih, setelah aku memblokir semua kartu kreditnya,” tutur Tatiana. Dia membuang abu rokok di dalam asbak.


“Lalu?” tanya Sebastian.


“Kau tahu? Dia datang untuk memutuskan hubungan kami. Benar-benar putus." Tatiana tertawa renyah. ”Alasannya, karena dia ingin kembali pada wanita itu. Istrinya yang liar dan tak tahu tata krama.”


“Paloma?” Sebastian mengernyitkan kening.


“Ya. Aku tak ingin menyebutkan namanya.” Tatiana mengisap rokok dengan kuat. Tampak jelas jika dia sedang dilanda kegundahan luar biasa. Bahasa tubuh janda kaya tersebut, menggambarkan kegusaran yang tak diungkapkan. “Rafael yang bodoh! Dia mengabaikanku hanya demi wanita kampungan itu!” Tatiana mendengkus kesal.


“Jaga bicaramu, Tatiana!” sergah Sebastian tegas. “Wanita yang kau sebut kampungan dan tidak tahu tata krama itu adalah kekasihku,” ungkap sang pemilik Casa del Castaneda tersebut dengan penuh percaya diri.


Seketika, Tatiana membelalakan mata. Dia tak percaya dengan apa yang Sebastian ucapkan. Setahu dirinya, Sebastian tak berminat lagi membuka hati pada wanita manapun setelah kepergian Brishia. “Jangan bercanda, Sebastian. Kau menyebut wanita itu sebagai kekasihmu?” protesnya seraya menggeleng tak percaya.


“Apanya yang salah? Aku jatuh cinta padanya. Kami sudah memulai jalinan kasih sejak beberapa hari yang lalu, sebelum Paloma kembali ke Meksiko,” jelas Sebastian.


Tak disangka, Tatiana menanggapi ucapan Sebastian dengan tawa mencibir. Dia kembali membuang abu rokoknya di dalam asbak. “Jadi, kalian menjalani hubungan jarak jauh?” Asap tipis mengepul dari bibir janda kaya tersebut.


“Ya, tapi itu bukan masalah bagiku,” sahut Sebastian tenang.

__ADS_1


“Bukan masalah untuk saat ini, karena kau belum menemukan kenyataan yang sebenarnya. Aku yakin rasa percaya dirimu akan segera sirna, setelah kau mendengar kabar rujuk dari pasangan bodoh itu. Tak lama lagi, Sebastian. Kau akan segera patah hati sepertiku.” Tatiana tersenyum sinis. Dia mematikan rokoknya di dalam asbak hingga benar-benar padam.


Sementara, Sebastian diam termenung menatap lekat Tatiana. Dia berusaha menepiskan perasaan mengganggu yang tiba-tiba hadir dan merusak suasana hatinya. Sebastian, teringat pada perbincangan terakhirnya dengan Paloma. Wanita itu memang terdengar kaku dan agak berbeda. Sebastian terus berpikir semakin jauh. Jika yang dikatakan Tatiana memang benar adanya, lalu bagaimana dengan nasib hubungan yang baru dijalin bersama Paloma?


__ADS_2