
Paloma memicingkan mata. Dia mencoba mencerna kata-kata Rogelio. “Apa masalahmu, Ayah? Kenapa kau tiba-tiba bersikap seperti ini?” tanyanya tak mengerti.
Rogelio terpaku. Dia terlihat bingung dan seakan tak tahu harus menjawab apa. Rogelio menggeleng pelan, tak mengerti dengan sikapnya.
“Ini tantangan untukku? Kenapa kau memberikannya, Ayah?” tanya Paloma lagi. “Kau pernah membuangku dulu. Tak akan menjadi masalah besar, andai saat ini kau kembali kehilangan putrimu. Ya. Mungkin bukan hanya kakekku yang tak menghendaki cucu perempuan. Namun, kau juga tak terlalu menginginkan ….”
“Hentikan, Paloma!” sergah Rogelio dengan suara tidak terlalu nyaring. “Kau tahu ini bukan tentang masalah jenis kelamin. Kenapa kau terus mengungkit kesalahanku di masa lalu?” protes Rogelio.
“Lalu apa yang kau inginkan dariku sekarang? Aku sudah menjadi janda saat ini. Aku harus bertanggung jawab untuk mengurus serta membesarkan Luz Maria seorang diri. Kenapa harus menambah beban pikiranku?”
“Aku hanya ingin agar kau membatasi diri ….”
“Kau hanya tak menyukai Sebastian, Ayah! Itu alasannya. Ini bukan tentang batasan atau masalah kesetiaan serta suasana berduka. Ini hanya karena rasa bencimu terhadap pria bernama Sebastian Cruz Castaneda!”
Rogelio kembali terpaku. Dalam hati, dia membenarkan apa yang Paloma katakan. Namun, Rogelio masih mempertahankan satu sisi kebijaksanaan dalam dirinya. “Aku kemari bukan untuk mengajakmu bertengkar, Nak,” ucap pria paruh baya itu dengan intonasi yang semakin rendah. “Aku hanya ingin menegaskan tentang perusahaan itu bahwa ….”
“Terima kasih untuk bantuanmu, Ayah,” sela Paloma. “Aku adalah Paloma, putri Rogelio Gallardo. Jika memang darahmu benar-benar mengalir dalam tubuhku, maka kupastikan bahwa diriku bisa membuktikan seberapa mampu dalam membangun bisnis ini. Kau tak akan melihatku dalam waktu yang lama di Meksiko. Bisa jadi, aku akan menetap di sini selamanya.”
“Tidak dengan Sebastian Cruz Castaneda,” ucap Rogelio pelan, tapi penuh penekanan.
Paloma mengembuskan napas dalam-dalam sebelum menanggapi ucapan sang ayah. “Dengan siapa aku akan menjalani hidup. Diriku pun tak tahu. Kau, aku, kita bukan Tuhan yang mengetahui apa yang akan terjadi bahkan satu detik setelah ini. Aku tak akan menjanjikan apapun padamu, Ayah. Aku hanya akan membuktikan bahwa putrimu ini mampu dan bisa diandalkan. Walaupun aku hanya seorang wanita.” Paloma berkata dengan penuh percaya diri.
“Jangan memintaku untuk menjauh dari siapa pun. Jangan pula memaksaku agar dekat dengan seseorang yang tak kukehendaki,” ucap Paloma lagi. Senyuman kecil tersungging di bibirnya. Meski terlihat sedikit dipaksakan, tapi itu mewakili bahwa Paloma tak memiliki kebencian yang berarti terhadap Rogelio.
“Izinkan aku menutup pintunya, Ayah. Aku ingin beristirahat. Tubuhku rasanya begitu lelah,” ucap Paloma lembut.
“Baiklah, Nak. Beristirahatlah.” Rogelio mengangguk sambil menyentuh bahu Paloma. Dia lalu membalikkan badan menuju kamarnya.
Paloma menutup pintu rapat-rapat, setelah sosok sang ayah tak tampak lagi di hadapannya. Dia mengeluh pelan, sebelum membaringkan tubuh di ranjang. Posisinya sengaja menghadap ke arah tempat tidur Luz Maria.
Paloma sudah hampir terbang ke alam mimpi, ketika tiba-tiba sebuah pesan masuk ke ponselnya. Paloma mengira bahwa itu adalah pesan dari Sebastian. Namum, perkiraan wanita cantik tersebut keliru.
Pesan itu datang dari nomor tak dikenal. Merasa penasaran, dia langsung membukanya. Paloma menautkan alis, saat membaca untaian kata di dalam pesan tadi.
__ADS_1
Selamat malam, Nyonya Hernandez. Maaf menghubungimu selarut ini. Jika kau mengizinkan, bolehkah aku menghubungimu sekarang? Ini terkait pembelian properti milik Tuan Amoroso Barbossa.
Tertanda, Elazar Ganimedes Blanco.
“Elazar?” gumam Paloma. Sembari terus berpikir, dia mengetik sesuatu untuk membalas pesan tersebut.
Apakah ayahku yang memberikan nomor ini padamu?
Sesaat kemudian, Elazar kembali membalas.
Ya, Nyonya. Aku harap kau tidak keberatan.
Paloma kembali berpikir untuk sejenak, lalu menghubungi Elazar. “Hola," sapanya biasa saja, "hal penting apa yang ingin akan anda sampaikan, sampai-sampai harus menghubungiku selarut ini?” tanyanya.
“Ini tentang aset milik Tuan Barbossa, yang akan segera pindah kepemilikan atas namamu, Nyonya. Aku dan Tuan Rogelio sepakat bahwa kita akan bertemu di Porcuna besok pagi,” jelas Elazar.
“Besok pagi?” ulang Paloma terkejut.
“Ya, Nyonya. Aku sudah membuat janji dengan Tuan Barbossa,” jawab Elazar.
Keesokan harinya, Paloma sudah bersiap lebih awal dari janji yang telah ditentukan. Dia meninggalkan Luz Maria untuk kesekian kalinya, bersama Kalida demi bisnis yang akan dibangun di Spanyol.
“Kuusahakan pulang cepat,” pamit Paloma pada pengasuh sang putri, bersamaan dengan mobil Elazar yang berhenti di halaman depan rumah sewaannya.
Pria dengan fisik mirip mendiang Rafael tersebut, turun dari mobil dengan gagah. Dia lalu menghampiri Paloma. Tak lupa, Elazar mengecup punggung tangan wanita cantik itu. “Apakah kita bisa berangkat sekarang?” tanyanya..
“Tunggu ayahku sebentar lagi,” jawab Paloma tanpa senyumam sedikit pun.
Sesaat kemudian, Rogelio muncul dari dalam rumah dengan pakaian rapi.
“Mari berangkat sekarang,” ajak Rogelio. “Jangan membuang waktu lebih banyak lagi. Aku tak sabar membeli pabrik bekas itu,” kelakarnya yang disambut tawa renyah oleh Elazar.
Sekitar dua jam di perjalanan mereka tempuh, hingga akhirnya tiba di kediaman Amoroso Barbossa. Setelah itu, mereka menuju lokasi pabrik yang dimaksud bersama-sama.
__ADS_1
“Bangunan luas ini dulunya adalah pabrik tekstil. Aku sudah tidak sanggup lagi menggelontorkan uang, bahkan sekadar untuk membayar listrik dan biaya operasional lainnya,” keluh Amoroso.
“Apa kondisi mesin-mesinnya masih baik?” tanya Paloma.
“Oh, tentu. Semuanya masih seperti baru. Apa Anda berencana untuk membuka usaha tekstil juga?” Amoroso balik bertanya.
“Tidak, Tuan. Aku dan ayahku sepakat untuk mendirikan perusahaan kosmetik di sini. Tujuanku bertanya tadi adalah, jika mesin-mesin Anda masih dalam kondisi bagus, aku berencana untuk melelangnya sebagai tambahan modal,” jelas Paloma.
Sontak Rogelio memandang dengan sorot terpana pada putri kandungnya itu. Paloma tak pernah mengenyam pendidikan tinggi, tetapi kecerdasan dan jiwa bisnisnya sudah terasah sempurna tanpa perlu diajari.
“Itu ide yang bagus, Nyonya Hernandez,” sanjung Elazar yang sedari awal menaruh perhatian lebih terhadap janda cantik tersebut.
“Terima kasih." Paloma membalas pujian itu dengan senyuman seperlunya. Sekilas, dia melihat sosok Rafael di sana. Namun, dengan cepat dirinya menghapus bayangan itu. Terlebih, karena ponselnya berdering.
Tampaklah panggilan masuk dari Sebastian di layar. Dada Paloma pun berdegup pelan. Teringat olehnya ciuman mesra yang terakhir dilakukan bersama sang tuan tanah tersebut.
“Apa kau sibuk, Paloma?” tanya Sebastian.
“Aku sedang berada di lokasi pabrik Tuan Barbossa. Ada apa, Sebastian?” Ekor mata Paloma melirik pada sang ayah yang menatapnya tajam, sesaat setelah dia menyebut nama Sebastian.
“Ah, kau sudah di Porcuna rupanya,” sahut Sebastian sumringah. “Apa kita bisa bertemu?” tanyanya lagi dengan penuh harap.
“Boleh, tapi aku tak bisa menemuimu terlalu lama. Ada banyak hal yang harus diselesaikan hari ini,” jawab Paloma, masih dengan nada bicara lembut.
“Tidak apa-apa. Sebentar juga sudah cukup bagiku ....”
“Apakah panggilan telepon itu lebih penting dari urusan bisnis ini, Paloma?” tegur Rogelio. Dia sengaja menyela perbincangan hangat Paloma dan Sebastian.
“Astaga." Paloma mengeluh pelan. “Nanti kuhubungi lagi,” tutupnya sebelum mengakhiri panggilan.
“Maafkan aku," ucap Paloma. "Mari kita lanjutkan. Sampai di mana tadi, Tuan Barbossa?” Paloma mengalihkan perhatian sepenuhnya pada pria tua berjenggot lebat tersebut.
Sementara, Elazar masih menatap kagum pada Paloma. Dia memperhatikan secara detail, bahasa tubuh serta kata-kata yang keluar dari bibir wanita cantik itu.
__ADS_1
Sedangkan, Rogelio juga malah memperhatikan ekspresi Elazar. Terlihat jelas bahwa pria tersebut, menaruh perhatian lebih pada putrinya. Hal itu mencetuskan ide brilian di benak Rogelio. Dia lalu tersenyum kalem penuh arti.