
Selama beberapa hari dirawat di rumah sakit, Sebastian ditemani oleh Martin. Dia menolak saat Leandra menawarkan diri untuk menemaninya. Sebastian justru menyuruh sang asisten pribadi agar menggantikan Martin dalam mengawasi segala hal yang berkaitan dengan perkebunan selama sang mandor menemaninya di rumah sakit.
Lagi pula, belakangan ini sudah ada perubahan dalam struktur jabatan dan tugas di perkebunan milik Sebastian, sehingga banyak pihak yang menopang pekerjaan Martin selaku mandor dan penanggung jawab.
Siang itu, Rogelio yang juga sudah berada di Spanyol ikut menjenguk Sebastian bersama Paloma. Rencananya hari ini duda kaya tersebut akan meninggalkan rumah sakit, setelah empat hari menjalani perawatan.
“Kapan Anda tiba di Spanyol, Tuan?” tanya Sebastian. Ketika Rogelio menjenguknya ke rumah sakit.
“Aku sudah berada di sini selama dua hari. Setelah Paloma menceritakan semuanya,tanpa pikir panjang kuputuskan untuk segera terbang kemari,” jawab Rogelio. Dia menoleh sesaat kepada Paloma yang duduk setengah menyamping di tepian ranjang. Sementara, Sebastian awalnya duduk di kursi dekat ranjang perawatan.
“Aku sudah menceritakan tentang Elazar kepada ayah,” ucap Paloma ikut menimpali obrolan kedua pria itu. Dia menggeser tubuhnya, ketika Sebastian berpindah tempat. Pria itu memilih duduk di dekat Paloma.
“Abelardo kemarin datang kemari. Dia mengatakan bahwa semua bukti yang memberatkan Elazar telah terkumpul dan siap digunakan untuk menjerat pria itu. Satu lagi. Tatiana telah dibebaskan. Kurasa, tak ada lagi permasalahan dengan dirinya,” tutur Sebastian.
Paloma tak segera menanggapi. Sesaat kemudian, ibunda Luz Maria tersebut mengangguk pelan. “Apa dia menemuimu di sini?” tanyanya.
“Tidak. Kami belum bertemu,” sahut Sebastian. “Aku rasa, dia pasti membutuhkan waktu untuk mengembalikan harga dirinya. Aku sangat mengenal Tatiana. Semoga dia baik-baik saja.” Sebastian tersenyum simpul. “Bagaimana kabar boneka kesayanganku?” Sebastian menanyakan kondisi Luz Maria.
Paloma tertawa renyah. “Apa kau ingin bicara dengannya?” tawar wanita itu.
“Tentu saja.” Sebastian tersenyum lebar, ketika Paloma menghubungi Kalida lalu meminta bicara dengan Luz Maria. Beberapa saat pria itu mengajak balita cantik tersebut berbincang, meski Luz Maria belum bisa menanggapi segala ucapan Sebastian dengan kata-kata. Putri semata wayang Paloma tersebut hanya tertawa ceria sambil sesekali memanggil Sebastian dengan sebutan ‘papa’.
Menyaksikan keakraban serta sikap hangat nan tulus yang Sebastian tunjukkan, membuat Rogelio tersenyum simpul. Pria itu juga melihat tatapan penuh cinta dari Paloma terhadap duda kaya tersebut. Rogelio menghela napas dalam-dalam lalu mengembuskannya perlahan. Belum sempat dirinya mengatakan sesuatu, terdengar suara ketukan di pintu.
Martin muncul dengan membawa beberapa lembar kertas, sebagai bukti pembayaran biaya perawatan Sebastian selama berada di rumah sakit itu. “Seluruh biaya administrasi sudah dilunasi, Tuan. Apa Anda ingin pulang sekarang atau masih betah di sini?” tanya Martin diakhiri gurauan.
“Ingatkan aku untuk memberimu bonus bulan ini,” ujar Sebastian. Dia yang tadi duduk di tepian ranjang bersama Paloma, beranjak turun. Pria itu mempersilakan Rogelio agar keluar terlebih dulu. Barulah dia dan Paloma. Setelah itu, Martin mengikuti paling belakang.
“Aku senang karena akhirnya kau sudah diizinkan pulang,” ucap Paloma seraya menggandeng lengan Sebastian.
“Empat hari di rumah sakit rasanya sudah cukup. Aku merindukan rumah perkebunanku,” balas Sebastian. “Apa Anda akan ikut bersama kami ke Casa del Castaneda, Tuan Gallardo?” tanya pria itu kepada Rogelio yang berada di depannya.
“Aku akan pulang saja. Kasihan cucuku di rumah sendirian,” jawab Rogelio menoleh sesaat. Dia mungkin masih merasa canggung di hadapan Sebastian.
__ADS_1
“Aku akan menyuruh Pedro untuk menjemput mereka. Kita langsung ke tempatku saja,” ucap Sebastian setengah memaksa.
“Astaga, Sebastian. Kau harus banyak istirahat,” tegur Paloma.
Sebastian menggumam pelan. Dia menyentuh punggung tangan Paloma yang berada di lengannya. Sebastian merasa bahagia, karena bisa kembali mencurahkan rasa cinta serta mendapat perhatian istimewa dari seorang wanita, selain Brissia. Dia yang berpikir tak akan bisa jatuh cinta lagi, ternyata ingin kembali menikmati hidup setelah mengenal sosok Paloma.
“Apakah Tuan Salvatore sudah menghubungimu?” tanya Sebastian setelah berada di dalam kendaraan.
“Sudah. Kemarin, dia datang ke rumah. Tuan Salvatore bahkan sempat berbincang dengan ayahku,” jawab Paloma.
“Sepertinya, dia merupakan orang yang sangat berpengalaman. Aku menyukai pemikirannya. Kau memilih orang yang tepat untuk membantu putriku dalam merintis bisnisnya.” Rogelio yang duduk di jok depan sebelah sopir, menoleh kepada Sebastian yang berada di jok belakang bersama Paloma.
“Tuan Salvatore adalah orang yang sangat berpengalaman. Aku yakin dia bisa memberikan bimbingan dan masukan-masukan yang bagus untuk Paloma,” balas Sebastian. Dia menoleh kepada wanita cantik di sebelahnya. Mereka saling berpegangan tangan sejak tadi. Keduanya seakan sudah tidak dapat menahan diri, untuk bisa saling memiliki.
“Aku akan segera meluncurkan produk andalanku, Sebastian. Luz Beauty adalah impian terbesar yang ingin segera kuwujudkan,” ucap Paloma.
“Aku akan selalu mendukungmu, Sayang,” balas Sebastian, seraya mencium punggung tangan wanita itu.
Paloma tersenyum lembut atas perlakuan Sebastian. Diperhatikannya wajah pria tampan itu untuk beberapa saat. Kembali terngiang di telinganya, ajakan menikah dari Sebastian yang belum dia jawab. Ibunda Luz Maria kembali tersenyum, lalu menyandarkan kepalanya di bahu lebar Sebastian. Dia tak mengeluarkan sepatah kata pun, sampai mereka tiba di Casa del Castaneda.
“Selamat datang, Tuan Castaneda. Selamat datang, Nyonya Paloma dan Tuan Gallardo. Kami sudah menyiapkan hidangan makan siang untuk anda semua. Silakan." Leandra mengarahkan mereka ke ruang perjamuan.
Sementara, Martin yang dulu sempat menaruh perhatian lebih kepada Paloma, hanya menyaksikan kebersamaan itu dengan senyum simpul. Dia sadar bahwa dirinya tidak sebanding dengan Paloma. Sebastian memang jauh lebih layak.
Di ruang makan, beberapa pelayan sudah siap menunggu perintah. Mereka berdiri mengitari meja makan besar berbentuk oval.
“Silakan, Tuan.” Sebastian menarik satu kursi dengan tangan kanan untuk tempat duduk Rogelio. Sedangkan, tangan kirinya masih harus menggunakan arm sling. Sesuai pesan dokter, Sebastian belum boleh menggerakkan bagian tubuh atas sebelah kirinya setelah operasi. Hal itu membuat dia cukup kesulitan, saat harus mengiris makanan kesukaannya, yaitu steak.
Paloma cepat tanggap melihat keadaan Sebastian. Dia segera mengambil alih. Dengan telaten, Paloma mengiriskan olahan daging sapi itu, lalu menyuapi Sebastian.
Dia bahkan tak menyentuh makanannya, hingga piring Sebastian kosong. Sementara, Rogelio terus memperhatikan adegan manis itu hingga selesai.
“Aku jadi merepotkanmu, Paloma,” keluh Sebastian tak nyaman.
__ADS_1
“Apa yang kulakukan untukmu, tidaklah sebanding dengan semua yang telah kau berikan padaku.” Paloma menatap lekat paras tampan Sebastian.
“Sekarang, izinkan aku yang menyuapimu,” balas Sebastian.
“Ah! tidak usah,” tolak Paloma seraya tertawa, menampakkan lesung pipinya yang manis. Membuat Sebastian lagi-lagi bertekuk lutut di hadapannya.
“Berhubung ada Tuan Gallardo di sini, aku ingin meminta kepastian darimu, Paloma,” ujar Sebastian.
Rogelio yang mendengar hal itu, segera menghentikan aktivitasnya. Pria paruh baya tersebut kembali mengarahkan perhatian kepada Sebastian.
“Beberapa hari yang lalu, aku meminta Paloma untuk menikah denganku, Tuan,” ucap Sebastian lagi. “Namun, sampai sekarang Paloma belum juga memberikan jawaban.”
Mendengar ucapan Sebastian, Paloma yang tengah mengunyah, hampir tersedak. Wajah putihnya bersemu merah. Paloma segera meraih segelas air, lalu meneguknya pelan.
Rogelio terdiam sejenak. Dia seperti tengah berpikir. Sesaat kemudian, pria paruh baya itu mengangguk. “Paloma sudah dewasa. Dia berhak menentukan jalan hidupnya. Sebagai seorang ayah, aku akan selalu mendukung semua keputusannya, asalkan putriku bahagia,” tegas Rogelio.
Paloma yang awalnya menunduk, segera mendongak. Dia menatap tak percaya pada sang ayah. “Be-benarkah itu, Ayah?” tanya Paloma ragu.
“Ya, Nak. Sudah cukup diriku memberikan kesengsaraan serta mengatur hidupmu. Kau berhak mendapatkan yang terbaik, setelah semua yang terjadi,” jawab Rogelio yakin.
“A-aku ....” Paloma menoleh pada Sebastian yang memandangnya penuh harap. “Aku sudah terlalu banyak menyakitimu, Sebastian. Apakah aku pantas ....”
“Aku mencintaimu, Paloma. Selamanya akan tetap seperti itu,” potong Sebastian.
“Tak ada yang lebih pantas menemaniku selain dirimu. Jika aku tak bisa mendapatkanmu, maka akan memilih untuk tetap menyendiri,” ujar Sebastian. Dia begitu bersungguh-sungguh dalam setiap kata yang dilontarkannya.
“Sebastian." Paloma menatap haru sekaligus penuh cinta pada duda rupawan di sampingnya. Perasaan wanita itu tak jauh berbeda dengan Sebastian. Paloma hanya harus melewati jalan yang berliku untuk tiba pada titik itu.
Kedewasaan Paloma terus meningkat, seiring perjalanan hidup dan pengalaman yang dia dapatkan. Kini, ibunda Luz Maria tersebut tak ragu lagi saat mengatakan ‘iya’, sembari menggenggam erat tangan Sebastian.
Sementara itu, di balik pintu ruang perjamuan, Leandra mendengarkan semua percakapan tersebut dengan hati yang hancut. Dia tak dapat menahan air mata yang kian deras mengalir, hingga Martin datang dan menyodorkan sapu tangan padanya.
“Jangan menguping. Itu tak sopan. Tuan Sebastian pasti akan marah jika sampai memergokimu,” tegur Martin.
__ADS_1
“Ah, iya. Maafkan aku.” Leandra memaksakan tersenyum sambil menyeka air matanya.
"Aku ingin melihat laporan tentang perkebunan selama beberapa hari kemarin," ucap Martin diiringi senyum kalem.