Casa Del Castaneda

Casa Del Castaneda
Menata Masa Depan


__ADS_3

Hari, minggu, dan bulan silih berganti begitu cepat. Paloma kembali ke kediaman milik Carlos bersama Rafael. Dia merawat pria itu dengan telaten, hingga kondisi sang suami sudah semakin membaik meski belum pulih sepenuhnya. Walaupun Rafael tak terlihat lagi seperti mumi yang berbalut perban putih, tapi kondisi badan pria itu masih rentan. Dia tidak boleh banyak beraktivitas secara berlebihan terlebih dulu.


Selama itu pula, Sebastian tak pernah lagi memberikan kabar kepada Paloma. Duda tampan kaya raya tersebut memfokuskan diri pada bisnis yang sedang dijalaninya, meski tak jarang dihantui bayangan indah Paloma. Sebastian kembali menjadi dirinya yang dulu. Pria penyendiri, dan mungkin akan tetap menghabiskan sisa hidupnya tanpa kehadiran siapa pun.


Akan tetapi, entah dengan saat ini. Martin, sang mandor kepercayaan mengajukan agar Sebastian memiliki asisten pribadi, yang akan membantunya dalam segala urusan pekerjaan. Dengan begitu, Sebastian tak harus mengurus segala sesuatunya seorang diri.


“Nona Leandra Navarro memiliki pengalaman bekerja di beberapa perusahaan besar Spanyol. Dia pasti bisa diandalkan, Tuan,” ucap Martin, saat menemani Sebastian memantau panen raya di hari pertama.


“Bagiku itu tidak penting. Selama dia bisa bekerja dengan baik, itu sudah lebih dari cukup,” balas Sebastian tanpa mengalihkan perhatiannya, dari para pekerja yang tengah sibuk dengan aktivitas di perkebunan.


“Aku harap dia bisa bekerja dengan baik,” ucap Martin lagi seraya mengikuti langkah Sebastian, yang mulai bosan berkeliling.


“Kita lihat saja nanti.” Sebastian menepuk pundak Martin. Sang tuan tanah, berlalu dari hadapan mandor dengan topi fedora yang selalu menjadi ciri khasnya. Sebastian berniat kembali ke Casa del Castaneda. Dia merindukan ruang kerjanya yang nyaman. Akan tetapi, kali ini ada yang berbeda. Jika biasanya di sana tak ada siapa pun selain dirinya, maka mulai sekarang Sebastian harus terbiasa dengan kehadiran Leandra.


Leandra Navarro. Wanita cantik bertubuh sintal, dengan rambut panjang berwarna cokelat yang selalu tergerai menutupi punggungnya. Penampilan wanita dua puluh enam tahun itu sangat sopan, dengan setelan kemeja dan celana panjang model kulot.


Leandra terpilih dan berhasil menyingkirkan beberapa pesaing, yang juga melamar untuk pekerjaan itu. Siapa yang tak tergiur dengan dengan semua yang ditawarkan? Gaji cukup, tempat tinggal, dan pastinya bisa bekerja pada tuan tanah di Porcuna. Itu yang menjadi daya tarik paling utama.


“Ada email masuk dari Tuan Ricardo Cortez. Dia menanyakan waktu pengiriman barang pesanannya,” ucap Leandra. Sepasang iris matanya yang berwarna abu-abu, mengarah pada Sebastian yang baru saja masuk.

__ADS_1


“Katakan saja jika kita akan melakukan pengiriman bahan mentah secara serempak, pada akhir pekan ini,” sahut Sebastian seraya duduk di belakang meja kerjanya.


“Baik, Tuan. Akan segera kubalas demikian,” ucap Leandra seraya mengetikkan sesuatu di layar laptopnya. “Apakah Tuan Ricardo Cortez merupakan pelanggan baru Anda?” tanya Leandra berbasa-basi.


“Ya. Dia adalah orang baru. Jadi, wajar jika belum terlalu memahami mekanisme kerja kita. Padahal, sebelum menjalin kerja sama sudah kujelaskan semuanya.” Sebastian mengeluh pelan. Dia membuka laci meja kerja. Pandangannya tiba-tiba tertuju pada kotak stainless, tempat di mana dirinya menyimpan kalung milik Paloma. Pria itu seketika terdiam.


“Tidak semua orang paham dengan satu atau dua kali penjelasan. Aku tidak habis pikir. Padahal dia seorang pengusaha.” Leandra tertawa pelan. Namun, dia segera menutup mulutnya, saat melihat Sebastian yang diam dengan tatapan aneh ke bagian bawah meja.


Sementara, ribuan kilometer jauhnya dari Porcuna. Malam telah menyelimuti Kota Chihuahua. Paloma sudah menata tempat tidur. Semenjak dirinya memutuskan menerima Rafael kembali, mereka tidur di kamar dan kasur yang sama. Akan tetapi, tak pernah terjadi apapun antara keduanya, selain perbincangan ringan sebelum tidur.


“Jangan bergerak terlalu berlebihan, Rafael,” tegur Paloma, saat melihat suaminya melakukan peregangan ringan. “Ingat, kondisi tubuhmu belum sepenuhnya fit.”


“Astaga. Kondisi ini sangat membosankan. Aku merasa seperti orang jompo saja,” keluh Rafael. Dia menghentikan gerakan kecilnya tadi, lalu naik ke tempat tidur. “Kau tahu, Paloma? Tadi siang, ayah mengatakan sesuatu yang membuatku merasa geli,” ucap pria itu. Dia ikut duduk bersandar pada kepala tempat tidur.


“Ayah mengatakan bahwa kita sudah menjalani masa percobaan dengan lancar. Tiga bulan telah terlewati tanpa terasa. Kau juga tak banyak mengeluh, meski harus terus merawatku. Kau bahkan melakukan itu semua dengan sangat baik.” Rafael memulai perbincangan, seperti yang biasa mereka lakukan hingga kantuk datang.


“Lalu?” tanya Paloma lagi.


“Ayah ingin agar kita benar-benar merencanakan masa depan dengan matang. Membina kembali rumah tangga yang sesungguhnya. Kau, aku, dan seorang anak. Ya. Ayah meminta kita memberinya cucu.” Rafael mengembuskan napas pelan setelah berkata demikian. Dia tak yakin dengan tanggapan dari Paloma.

__ADS_1


Benar saja. Paloma tak segera menanggapi apa yang Rafael ucapkan tadi. Wanita berambut cokelat itu malah termenung, memandang selimut yang menutupi sebagian tubuhnya. Sikap Paloma yang demikian, seakan memberikan jawaban bagi Rafael.


“Ah, sudahlah. Lupakan saja apa yang kukatakan barusan. Kau tak harus menganggapnya terlalu serius. Kita bisa menjalani ini berdua saja. Tak apa-apa.” Rafael membetulkan selimut yang menutupi hingga sebatas perut. “Apa kau akan tidur sekarang?” tanyanya mengalihkan topik perbincangan.


“Apa kau sudah mengantuk? Tidak biasanya kau tidur secepat ini.” Paloma memandang heran kepada Rafael.


“Tadinya, aku ingin melakukan olahraga ringan sebelum tidur. Akan tetapi, kau melarangku. Padahal, aku sudah merasa jauh lebih baik dari sebelumnya. Sudah lebih dari delapan bulan, Paloma,” ujar Rafael.


“Lebih baik ditahan dulu. Dari pada lukamu kambuh dan malah menjadi semakin parah,” balas Paloma.


“Inilah yang aku sukai darimu. Kau selalu menjadi wanita yang perhatian sejak dulu. Kau sangat baik. Aku bahagia meskipun hanya seperti ini.” Rafael tertawa renyah seraya menyugar rambutnya. “Boleh kukatakan sesuatu?” Rafael setengah menghadap kepada Paloma yang masih duduk bersandar.


“Tentang apa?”


“Aku tahu jika kau pasti membutuhkan waktu untuk bisa menerimaku sepenuhnya. Namun, kuharap kau belajar melupakan Sebastian. Maaf jika aku harus berkata seperti ini. Aku hanya ingin agar kita benar-benar memulai hidup baru. Kau dan aku ….”


“Dan seorang anak?” lanjut Paloma yang menyela ucapan Rafael.


Rafael menatap tak percaya. Dia tak yakin dengan apa yang baru saja didengarnya, sehingga pria itu harus menggeser tubuh hingga semakin mendekat. “Apa aku tak salah dengar, Paloma?” tanyanya memastikan.

__ADS_1


Paloma tersenyum lembut. Dia memang tak memberikan jawaban lewat kata-kata. Namun, bahasa tubuhnya telah cukup mewakili.


“Sungguh?” Rafael menggenggam tangan kanan Paloma dengan wajah berseri.


__ADS_2