
“Pergi ke mana?” tanya Rafael gusar.
“Ke rumah ayahku. Di sanalah tempatku seharusnya. Bukan di sini.” Paloma melanjutkan langkah. Tak dipedulikannya Rafael yang terus mengikuti.
“Hentikan, Paloma. Ini sudah malam,” cegah Rafael. Dia menghalangi langkah wanita itu. Rafael tak membiarkannya maju.
Paloma tertegun. Dia menatap tajam dan penuh kebencian pada pria yang masih berstatus suaminya tersebut. Sesaat kemudian, wanita bermata hazel itu memalingkan wajah, seakan tak sudi melihat paras tampan pria di hadapannya.
Rafael sadar bahwa dirinya telah melakukan satu kesalahan lagi. Mungkin tak seharusnya dia membalas pukulan Sebastian, sehingga membuat Paloma semakin jengkel padanya. Namun, sebagai seorang pria, dia tak dapat selalu menahan amarah. Rafael menggeleng pelan.
“Jangan pergi. Seperti yang ayah katakan tadi, dia ingin agar kau tinggal di sini sebagai menantunya.” Rafael berbicara dengan penuh harap.
“Aku tidak sudi menjadi istrimu! Sudah cukup kau membuatku menjadi wanita paling bodoh di dunia ini!” tolak Paloma ketus.
Rafael mengembuskan napas dalam-dalam. Sesekali, dia menyugar rambut cokelatnya yang mulai memanjang. Pria tampan bermata abu-abu tersebut tampak berpikir. Dia harus mencari cara, untuk membuat Paloma agar mengurungkan niatnya.
“Minggir!” sentak Paloma dengan suara yang cukup nyaring. Untunglah, jarak ke aula pesta terbilang jauh dari tempat mereka berada saat ini. Jadi, sudah dipastikan tak akan ada satu pun dari tamu undangan yang mengetahui insiden panas malam itu.
Akan tetapi, tidak dengan beberapa pelayan yang kebetulan berlalu lalang di sekitar sana. Mereka mendengar dengan jelas, pertengkaran serta kemarahan Paloma terhadap Rafael.
Para pelayan tadi hanya saling berbisik. Pasalnya, sudah lama sekali di dalam bangunan megah tempat tinggal Rogelio tersebut, tidak ada keramaian. Bangunan itu teramat hening dan menakutkan. Namun, setelah Paloma dan Rafael kembali, hampir setiap hari para pelayan mendengar keributan.
“Aku tidak akan membiarkanmu pergi sendiri. Jika kau ingin kembali ke rumah Tuan Sanchez, maka aku akan ikut denganmu,” ujar Rafael mengambil keputusan tanpa meminta pendapat Paloma, karena Rafael yakin bahwa istrinya tersebut pasti akan menolak mentah-mentah.
__ADS_1
Apa yang Rafael duga, memang benar adanya. Paloma melayangkan tatapan protes. Dia melotot tajam kepada pria itu. “Sudah kuduga,” ucap Rafael lagi seraya berdecak pelan.
“Jangan pernah mengikutiku!” sergah Paloma tegas. Nada bicaranya teramat ketus.
“Maaf, aku tidak akan menuruti permintaanmu,” tolak Rafael. Dia berusaha tetap bersikap tenang di hadapan Paloma. Pria itu tak ingin bertindak bodoh lagi. Rafael berjalan semakin mendekat. “Kau dengar apa yang pastor katakan kemarin?” Tatapan lekat nan lembut, dia layangkan kepada wanita yang lebih banyak memalingkan muka darinya.
Rafael tersenyum simpul. “Pastor mengatakan bahwa kita memang harus tinggal berdua. Hanya berdua,” ucapnya tenang. “Aku rasa, pindah ke rumah Tuan Sanchez bukan ide yang buruk,” lanjut pria itu lagi.
“Aku akan tinggal sendiri di sana!” bantah Paloma. Sudah jelas bahwa dia tak ingin berdekatan dengan Rafael.
Rafael kembali menyunggingkan senyuman simpul. Dia harus memiliki kesabaran lebih, dalam menghadapi Paloma. Apalagi, wanita itu memiliki watak yang keras. Tak akan baik jika dirinya sampai terbawa emosi seperti tadi. “Tiga bulan, Paloma. Pastor mengatakan hanya tiga bulan,” ucap Rafael. “Jika dalam rentang waktu itu aku tidak berhasil meyakinkanmu untuk kembali membina rumah tangga bersamaku, maka … maka aku tak akan berharap apa-apa lagi. Aku akan menerima keputusan yang kau inginkan. Aku tak akan memaksamu untuk kembali padaku.”
Paloma tak menjawab. Dia juga masih memalingkan wajahnya dari Rafael.
“Jika kau ingin pergi dari sini, maka tunggulah sampai besok. Aku akan berbicara kepada ayah. Sekarang, kita kembali ke aula pesta,” ajak Rafael lembut.
“Aku tidak mau!” tolak Paloma seraya membalikkan badan. Tanpa berkata apa-apa lagi, dia berlalu kembali ke kamarnya. Paloma menutup rapat pintu ruangan itu, meninggalkan Rafael yang masih terpaku seorang diri.
Sementara, Sebastian sudah kembali ke hotel. Dia melepas tuksedo yang dikenakannya dengan penuh amarah. Duda tampan tersebut tak ingin berlama-lama lagi berada di Meksiko.
Sebastian begitu kecewa. Di saat dirinya mencoba untuk kembali membuka hati, ternyata hanya harapan semu yang dia dapatkan. Mungkin saja Sebastian telah salah sasaran dalam melesatkan panah asmaranya. Akan tetapi, pria itu menggeleng dengan segera.
“Tidak!”
__ADS_1
Sebastian duduk di tepian ranjang dengan posisi setengah membungkuk. Dia meraup kasar wajah serta rambutnya. Pikiran Sebastian teramat kacau. Pria tampan tersebut tak dapat berpikir jernih.
Beberapa saat kemudian, Sebastian melihat arloji di pergelangan kiri. Waktu menunjukkan pukul dua belas malam. Itu artinya, di Spanyol sudah pagi. Sebastian lalu mengambil ponsel yang tadi dia lemparkan dengan sembarang ke atas kasur. Niatnya adalah menghubungi Martin
“Hola. Habla Martin,” sapa sang mandor dari belahan bumi yang jauh di sana.
“Martin, bagaimana keadaan di sana?” tanya Sebastian. Dia mulai meredam amarahnya. Sebastian tak harus menunjukkan pada semua orang, bahwa saat ini dirinya sedang merasa kacau.
“Semuanya baik-baik saja, tuan. Bagaimana anda di sana?” Martin balik bertanya.
“Um … ya. Semua baik-baik saja. Namun, aku sudah membatalkan kerja sama dengan Tuan Rogelio Gallardo. Ada beberapa hal yang membuat kami memutuskan untuk tidak melanjutkannya,” terang Sebastian.
“Apa ada masalah, tuan?” tanya Martin. Dia sudah sangat mengenal Sebastian. Majikannya tersebut tak pernah menyalahi perjanjian, apalagi sampai membatalkan kontrak kerja sama.
“Tidak ada. Nanti saja akan kita bahas di sana. Aku akan segera kembali ke Spanyol. Hubungi Tuan Martinez dan buatkan janji untuk bertemu. Aku ingin membahas sesuatu dengannya,” titah Sebastian.
“Baiklah, tuan. Aku akan segera menghubunginya. Kira-kira, kapan anda akan kembali?” tanya Martin lagi.
“Besok. Aku akan pulang besok,” putus Sebastian yakin. Setelah berbasa-basi sebentar, pria itu menutup sambungan teleponnya.
Sebastian kembali termenung. Dia membuka galeri di ponselnya. Sebastian melihat beberapa foto yang menampilkan paras cantik Paloma. Perlahan, diusap lembut wajah dalam foto tersebut.
Perasaan tak rela masih menggelayutinya. Sebastian tak terbiasa menerima kekalahan. “Tidak, Paloma. Ini tidak seperti yang kuharapkan,” ucapnya. Duda tampan itu menggeleng pelan. “Aku mencintai dan ingin memilikimu."
__ADS_1
Sebastian terus memandangi paras cantik dengan sepasang mata hazel yang indah tersebut. “Haruskah kau kembali pada suamimu yang bajingan itu?" geramnya.