
Paloma tak tahu harus menjawab apa untuk menanggapi ajakan ayah mertuanya. Wanita cantik bermata hazel tersebut, memandang lekat Rogelio dengan sorot yang sulit diartikan. Ada rasa yang tak dapat dia ungkapkan kepada pria paruh baya itu. Terlalu menyesakkan bagi dirinya, jika harus pergi jauh dari Spanyol.
Begitu juga dengan Sebastian. Walaupun sang pemilik perkebunan zaitun terluas di Porcuna tersebut masih memperlihatkan sikap yang tenang dan penuh wibawa, tetapi sorot matanya menyiratkan hal lain. Bagaimanapun juga, masih ada perjanjian hukuman yang harus Paloma penuhi di Casa del Castaneda. Sebuah sanksi yang sebenarnya tak jelas sampai kapan akan berakhir, karena Sebastian tak menetapkan batas waktu.
“Haruskah aku ikut ke Meksiko, Ayah?” tanya Paloma ragu. Pelan dan lembut, suara wanita yang hingga saat ini statusnya masih terombang-ambing dalam ketidakpastian.
“Iya, Anakku. Meksiko akan lebih aman bagimu,” jawab Rogelio. “Apa yang kau harapkan lagi di sini?Rafael bahkan sudah tak menganggapmu sebagai istrinya. Lihat apa yang sudah anak bodoh lakukan padamu,” ujar Rogelio. Dengan penuh kasih, dia menangkup paras cantik Paloma. Mengamati setiap luka yang menghiasai wajah menantunya.
“Rafael memang putraku. Akan tetapi, aku sama sekali tak akan mendukung tindakan gila yang dilakukannya padamu. Aku mengutuk perbuatannya. Aku tak ingin lagi menganggap dia sebagai anak.” Rogelio menyingkirkan tangannya dari wajah Paloma. Ada kepedihan berbalut penyesalan yang teramat besar dalam sorot matanya.
“Tidak, Ayah. Jangan berkata seperti itu. Pasti sangat menyedihkan, saat orang tua tak bersedia mengakui anaknya.” Paloma menggenggam erat jemari sang ayah mertua.
Rogelio terkesiap mendengar ucapan Paloma. Dia menatap penuh kasih pada istri putra angkatnya. Rogelio merasa beruntung karena memiliki menantu seperti Paloma. Namun, sayangnya tidak dengan Rafael. Entah apa yang melatarbelakangi pria tampan tersebut, sehingga melakukan hal yang sangat keji kepada istrinya.
“Aku berharap kau tetap ikut ke Meksiko. Terlebih, karena Carlos juga ingin berjumpa denganmu. Dia sangat merindukan putrinya yang cantik ini,” bujuk Rogelio. Seulas senyuman muncul di wajah berjanggut cukup tebal itu.
Seketika, raut wajah Paloma berubah. Matanya berbinar saat mendengar nama Carlos, sang ayah tercinta. Sekian tahun berlalu, dia sudah lepas komunikasi dengan pria yang teramat dirinya rindukan. Bukannya tak ingin bertemu. Akan tetapi, keterbatasan yang dialami Paloma selama hidup di Granada, membuat dia harus lebih bersabar.
Setelah Rafael menikahi Paloma di salah satu gereja kota Chihuahua, pria tampan bermata abu-abu tersebut langsung mengajaknya pindah ke Spanyol.
Pada awalnya, Rafael membawa Paloma ke Malaga. Rogelio dan Carlos juga mengetahui alamat tempat tinggal mereka. Paloma pun masih tetap berkomunikasi baik dengan sang ayah. Namun, setelah beberapa bulan kemudian, Rafael tiba-tiba mengajak Paloma pindah ke Granada. Setelah berada di Granada, mereka menutup komunikasi dari keluarga.
Awalnya, Paloma tak mengerti dengan sikap aneh Rafael. Pria itu tak mengizinkan Paloma untuk memegang alat komunikasi. Karena itulah, Paloma tak bisa menghubungi Rogelio apalagi Carlos, yang selama ini selalu berkomunikasi lewat ayah angkat Rafael tersebut.
__ADS_1
“Aku sangat bodoh, Ayah,” sesal Paloma. “Aku tak pernah menyangka bahwa Rafael akan menelantarkanku di Granada. Aku juga tak dapat menghafal nomor teleponmu. Semuanya, seakan terlalu sempurna untuk ….” Paloma tak dapat mengungkapkan apa yang dia rasakan. Wanita muda berambut cokelat itu tampak kebingungan.
“Rafael memang kurang ajar!” geram Rogelio.
Sementara, Sebastian sejak tadi hanya diam dan menyimak. Dia seperti tengah menganalisa, lalu mencerna setiap penuturan yang Paloma utarakan kepada Rogelio. Sang pemilik Casa del Castaneda tersebut, semakin yakin bahwa ada sesuatu yang melatarbelakangi sikap Rafael terhadap Paloma. Dia yakin bahwa suami Tatiana Vidal tersebut, memiliki alasan kuat dan terencana dalam melakukan segala aksinya.
Sesaat kemudian, Rogelio merogoh ke dalam saku blazernya. Dari sana, dia mengambil sebuah benda yang merupakan titipan Calos sebelum dirinya berangkat ke Spanyol. “Ini, Nak. Ayahmu ingin agar aku memberikan kalung ini.” Rogelio meraih tangan Paloma, lalu meletakkan kalung tadi ke dalam telapak wanita muda itu.
“Ayah? Bagaimana kabar ayahku?” tanya Paloma. Rasa haru mulai menyergapnya. Membangkitkan kenangan indah kebersamaan antara dirinya dengan Carlos. Pria yang kini hidup menyendiri, setelah kepergian Eleanor, ibunda Paloma.
“Beberapa waktu yang lalu, Carlos sempat sakit. Namun, saat ini kondisinya sudah kembali sehat,” tutur Rogelio.
Perasaan Paloma kian tak karuan, saat membayangkan sang ayah yang hidup menyendiri di usia tuanya. Kegalauan semakin menggelayuti wanita dua puluh lima tahun tersebut. Paloma, mengalihkan pandangan kepada Sebastian yang sejak tadi hanya menyimak. Dia tak menyadari, bahwa sejak tadi pria tampan berpostur tinggi tegap itu sedang memandang ke arahnya.
“Aku ingin melakukan pembatalan pernikahan, Ayah. Bisakah Anda membantuku berbicara dengan Rafael? Bagaimanapun juga, aku membutuhkan status yang jelas,” ucap Paloma, setelah terdiam beberapa saat. Dia kembali mengarahkan pandangan kepada Rogelio.
“Aku tahu di mana tempat tinggalnya, Nak. Namun, Rafael sepertinya tak pernah mengakui bahwa dia masih berstatus sebagai suamimu kepada istrinya yang sekarang. Wanita yang kutemui di sana, mengatakan bahwa dia tak pernah menerima pengakuan apapun dari Rafael tentang pernikahan kalian.”
“Maaf sebelumnya, Tuan Gallardo. Aku sama sekali tak berniat untuk ikut campur dengan urusan pribadi antara Rafael dan Paloma. Namun, apa Anda tidak mengetahui alasan Rafael yang dengan sengaja menelantarkan Paloma? Aku rasa, ini bukan sebuah kebetulan.” Sebastian yang sejak tadi hanya menyimak, kali ini ikut bersuara.
Rogelio terdiam dan berpikir. Dia seperti tengah mengingat-ingat sesuatu. Namun, renungannya tadi berakhir dengan gelengan pelan. “Aku rasa, hanya Rafael yang mengetahui alasannya, Tuan Castaneda. Saat aku meminta dia untuk menikah dengan Paloma, pria itu tak menolak sama sekali,” ujar Rogelio menuturkan.
“Kalau begitu, memang ada baiknya kalian melakukan perundingan agar masalah ini tidak semakin berlarut-larut,” saran Sebastian.
__ADS_1
Rogelio mengangguk setuju. “Anda benar, Tuan Castaneda.” Rogelio kembali mengarahkan perhatian pada Paloma. “Aku akan mengantarmu untuk bertemu dengan Rafael. Kita akan membuat janji bertemu dengannya. Kau tidak perlu takut, Anakku. Selama ada aku, maka Rafael tak akan berani berbuat macam-macam terhadapmu.” Sang pemilik perusahaan farmasi terbesar di Chihuahua bernama Estrella Pharmacies tersebut, meyakinkan Paloma. Pria paruh baya itu tersenyum penuh arti.
Setelah perbincangan di ruang tamu, Sebastian yang tadi sudah memerintahkan seorang pelayan untuk menyiapkan kamar tamu terbaik bagi Rogelio, mempersilakan pria asal Meksiko tersebut agar beristirahat. Pasalnya, ayah mertua Paloma tersebut tampak sangat kelelahan. Rogelio pun kali ini tak menolak. Dia menerima dengan senang hati sambutan hangat dan penuh kekeluargaan yang diberikan oleh Sebastian selaku tuan rumah.
Sambil menunggu saatnya makan malam tiba, Sebastian menghabiskan waktu di ruang kerja dengan membaca. Pria tiga puluh tujuh tahun tersebut memang sangat mencintai buku. Dia selalu lupa waktu, jika sudah melakukan salah satu hobinya itu, selain berkuda.
Akan tetapi, kali ini Sebastian tak dapat membaca dengan tenang, karena ada seseorang yang mengetuk pintu ruang kerjanya.
Dengan terpaksa, duda tampan tersebut menutup buku yang sedang dia baca, lalu mempersilakan seseorang yang berada di luar agar masuk.
Ketika pintu terbuka, wajah cantik Paloma muncul dari baliknya. Wanita muda bermata hazel itu berjalan pelan ke hadapan sang pemilik Casa del Castaneda, yang sedang duduk di balik meja kerja. Paloma berdiri sambil menatap lurus kepada pria tampan tersebut. “Aku ingin bicara sebentar,” ucapnya pelan.
Sebastian mengembuskan napas dalam-dalam. Dia seperti sudah mengetahui apa yang akan Paloma bahas. Sebastian menyandarkan punggung, pada sandaran kursi kebesarannya. “Kau masih terikat dalam hukumanku, Paloma,” ucap Sebastian, sebelum wanita itu sempat mengatakan sesuatu padanya.
“Sampai kapan?” tanya Paloma.
“Sampai aku memutuskan untuk selesai,” jawab Sebastian.
“Anda mendengar sendiri apa yang ayah mertuaku katakan tadi. Apakah aku harus tetap melanjutkan hukuman konyol ini?” protes Paloma.
“Seharusnya, aku tak mengizinkanmu keluar dari Casa del Castaneda selama menjalani masa hukuman,” sahut Sebastian tenang. Pria rupawan berpostur tegap tadi beranjak dari tempat duduknya. Dia melangkah ke hadapan Paloma. “Aku menghormati Tuan Gallardo. Dia seorang pengusaha yang sangat luar biasa. Aku juga tak ingin meninggalkan citra buruk di matanya.”
“Apakah itu berarti Anda mengizinkanku pergi dari sini, Tuan?” Sorot mata Paloma terlihat penuh harap.
__ADS_1
“Ya. Dengan catatan bahwa kau masih memiliki sisa utang yang belum dilunasi,” jawab Sebastian.