Casa Del Castaneda

Casa Del Castaneda
Prasangka


__ADS_3

Anggota Tim SAR sudah tiba di rumah sakit terdekat. Ketua tim juga telah berkoordinasi dengan pihak kepolisian setempat, untuk menemukan identitas pria dalam karung yang sedang menjalani perawatan intensif itu. Bagaimanapun juga, harus ada seseorang yang bertanggung jawab atas diri pasien. Terlebih, karena kondisi pria yang tak lain adalah Rafael tersebut saat ini dalam kondisi kritis.


Sementara, Paloma dan Rogelio sudah berada dalam pesawat. Wanita muda itu duduk dekat jendela. Sesekali, dia melihat keluar di sela aktivitasnya yang sedang membaca buku. Jika harus diungkapkan, sebenarnya saat ini hati dan pikiran Paloma sama tak menentu seperti Rogelio.


Lain halnya dengan Rogelio. Pria itu tak melakukan apapun selain termenung. Keresahan terlihat jelas di wajah tua sang pemilik Estrella Pharmacies tersebut. Rogelio tak dapat bernapas lega, selama dirinya belum mendapat kejelasan tentang keberadaan serta kondisi Rafael yang sebenarnya.


Kurang lebih sepuluh jam perjalanan udara telah dilalui. Tak ada perbincangan yang terlalu berarti dari ayah dan putrinya itu. Mereka lebih banyak saling terdiam. Larut dalam pikiran masing-masing, bahkan hingga keduanya tiba di hotel.


Rogelio sudah membuat janji bertemu secara langsung dengan Pengacara Cardenas. Dia hanya meminta waktu untuk beristirahat, sampai rasa lelahnya berkurang. Rogelio sebenarnya sudah malas melakukan perjalanan jauh, jika bukan karena terpaksa.


Sedangkan, Paloma berada di dalam kamarnya. Dia berjalan mondar-mandir tak menentu. Perasaan khawatir itu tentu saja ada dalam hatinya, meskipun tak dia perlihatkan di depan Rogelio.


“Ya, Tuhan. Apa yang harus kulakukan?” resah Paloma sambil menyibakkan poni yang menghiasi kening. Paloma kemudian terduduk di pinggiran tempat tidur sambil menggenggam ponsel. “Apa sebaiknya aku menemui Sebastian dan meminta bantuan secara diam-diam?” pikir wanita itu setelah berpikir beberapa saat.


Paloma melihat arloji di pergelangan kiri. Saat itu, sudah menunjukkan pukul lima sore. Tanpa menghiraukan rasa lelah, dia meraih tas selempangnya. Paloma berjalan keluar kamar, tanpa berpamitan terlebih dulu pada Rogelio yang mungkin sedang meluruskan badan di tempat tidur. Namun, setelah beberapa langkah melewati pintu, Paloma kembali tertegun. Raut wajah si pemilik mata hazel tersebut tampak ragu.


Wanita muda berambut sebahu itu kembali berpikir. Setidaknya, dia membutuhkan waktu sekitar dua jam agar bisa sampai ke Porcuna. Jika harus pulang malam itu juga, rasanya terlalu berat bagi Paloma. Terlebih, dia baru tiba dari penerbangan panjang Meksiko-Spanyol.


Paloma mengembuskan napas dalam-dalam. Dia melanjutkan langkah menuju lift. Wanita itu mengubah rencana. Dia hanya akan pergi ke restoran hotel, dan menghabiskan waktu di sana untuk beberapa saat. Akan tetapi, belum sempat dirinya tiba di restoran hotel, Paloma harus kembali menghentikan langkah.


Saat melintasi lobi, Paloma sempat melihat tayangan di televisi. Di sana, diberitakan bahwa telah ditemukan pria dalam karung di Bukit Sierra Norte dalam kondisi mengenaskan. Berita itu juga menyebutkan nama rumah sakit, tempat perawatan pria yang ada dalam kondisi kritis tersebut.


Paloma mengurungkan niatnya yang akan ke restoran hotel. Dia berbalik, kembali ke kamar. Paloma langsung menuju kamar yang ditempati sang ayah. Namun, sebelum wanita itu sempat mengetuknya, pintu kamar yang ditempati Rogelio lebih dulu terbuka. Rogelio terlihat sudah rapi. Sepertinya, pria itu akan pergi. “Ayah sudah melihat berita di televisi?” tanya Paloma.

__ADS_1


“Pengacara Cardenas menghubungiku beberapa saat yang lalu,” jawab Rogelio. “Apa kau akan ikut?” tanyanya memastikan.


Paloma mengangguk yakin. “Aku ikut, Ayah,” sahutnya.


Beberapa saat kemudian, Paloma dan Rogelio sudah berada di perjalanan. Mereka memakai taksi untuk menuju tempat yang disebutkan oleh Pengacara Cardenas. Sekitar setengah jam, keduanya telah tiba di depan sebuah bangunan perkantoran.


Awalnya, Rogelio sempat kebingungan mencari sosok Pengacara Cardenas. Dalam bayangan ayah kandung Paloma tersebut, orang yang akan ditemuinya merupakan sosok pria seperti Pengacara Ramos. Namun, ternyata Pengacara Cardenas masih sangat muda. Hal itu menumbuhkan nilai plus bagi Rogelio.


“Tuan Gallardo?” sapa Pengacara Cardenas sopan. Dia menyalami Rogelio dan Paloma secara bergantian.


“Pengacara Cardenas?” balas Rogelio. Sejenak, dia mengabaikan kegundahan yang sedang menggelayutinya. “Senang bisa bertemu secara langsung seperti ini,” ucap Rogelio basa-basi.


“Ya, Tuan Gallardo,” balas Pengacara Cardenas. “Tuan Rafael Hernandez adalah klien yang menyenangkan. Terlebih, karena usia kami juga tak terpaut jauh, sehingga komunikasi kami berdua terjalin dengan ringan dan tak terasa kaku.” Pengacara muda itu mengalihkan pandangan kepada Paloma.


“Oh. Salam kenal, Nyonya Hernandez.” Pengacara Cardenas mengangguk sopan. “Bagaimana jika kita langsung saja ke rumah sakit tempat Tuan Rafael Hernandez dirawat. Kebetulan aku sudah mengkonfirmasi pada pihak rumah sakit terkait, tentang keberadaan Tuan Rafael Hernandez yang telah menghilang hampir dua hari lamanya,” jelas Pengacara Cardenas.


“Lebih cepat kita berangkat, akan jauh lebih baik,” ujar Rogelio tak sabar. Dia ingin segera mengetahui kondisi Rafael.


“Baiklah, Tuan. Kita berangkat ke rumah sakit dengan menggunakan mobilku saja." Pengacara Cardenas mengarahkan ayah dan putrinya ke tempat parkir khusus.


“Silakan masuk." Pengacara muda itu membukakan pintu untuk Rogelio dan juga Paloma. Setelah mereka duduk dengan nyaman, Pengacara Cardenas menjalankan mobilnya ke rumah sakit di wilayah Sierra Norte.


Setibanya di rumah sakit, seorang petugas dari kepolisian yang telah berkoordinasi dengan Pengacara Cardenas langsung menyambut mereka. Petugas polisi tadi mengantarkan mereka ke depan ruang gawat darurat.

__ADS_1


“Pasien sedang menjalani tindakan operasi saat ini. Tim dokter harus berburu dengan waktu, untuk mengobati luka-luka Tuan Hernandez yang telah kehilangan banyak darah. Ini merupakan keajaiban, karena dia masih dapat bertahan dalam kondisi yang sangat memprihatinkan seperti itu," jelas sang petugas polisi tadi.


“Astaga,” desah Paloma dengan ekspresi tak percaya.


“Bagaimana keadaan putraku sekarang? Apakah kondisinya parah?” tanya Rogelio gusar.


“Sejauh informasi yang didapatkan tadi, putra Anda mengalami cedera di bagian kepala dan patah tulang di beberapa tempat. Namun, hingga saat ini, kondisinya masih terbilang stabil,” jelas sang polisi lagi.


“Ya, Tuhan." Separuh jiwa Rogelio seakan melayang mendengar berita buruk tersebut. Tubuhnya terasa lemas, sampai-sampai Rogelio hampir terjatuh. Beruntung, Paloma sigap memeganginya, lalu mendudukkan pria paruh baya tersebut di kursi tunggu.


“Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa Rafael harus diculik dan dianiaya seperti itu? Siapa pelakunya?” cecar Paloma yang tak dapat lagi menyembunyikan kegundahannya.


“Polisi masih mendalami kasus ini, Nyonya. Kita harus bersabar sampai mereka selesai melakukan penyidikan,” tutur Pengacara Cardenas.


“Sementara ini, kami baru dapat menyimpulkan bahwa siapa pun pelakunya, mereka mengetahui aktivitas Tuan Rafael Hernandez. Mereka mungkin saja sudah mengawasi suami Anda sejak awal tiba di Spanyol,” terang sang polisi. “Buktinya, mereka bisa mendapatkan alamat hotel dengan mudah. Mereka juga menunggu Tuan Rafael Hernandez sampai tiba di hotel, sebelum menyergap dan mencelakainya,” lanjut polisi itu.


“Pertanyaannya sekarang, siapakah yang mengetahui kedatangan Tuan Rafael Hernandez ke Spanyol selain Anda dan Tuan Rogelio?” pikir Pengacara Cardenas. Rautnya terlihat amat serius saat itu.


“Sudah pasti bahwa itu adalah Tatiana Vidal, dan ....” Paloma ragu melanjutkan kalimatnya.


“Siapa lagi, Nyonya?” tanya sang polisi penasaran.


“Sebastian Cruz Castaneda,” jawab Paloma pelan.

__ADS_1


__ADS_2