Casa Del Castaneda

Casa Del Castaneda
Penampilan Baru


__ADS_3

Paloma membantu Rafael duduk di sofa. Dia lalu menemui pelayan untuk meminta kotak P3K. Tak berselang lama, Paloma kembali dengan membawa benda yang dimaksud. Wanita muda bermata hazel tersebut duduk di dekat Rafael, yang langsung menghadap padanya tanpa harus diminta.


Paloma mengobati luka lebam serta robek di wajah tampan Rafael. Dia melakukan hal itu dengan cekatan, meski tanpa mengatakan apapun kepada pria di hadapannya.


Sementara, Rafael juga tak bicara apa-apa. Dia memandang Paloma yang sedang sibuk mengobati dirinya. Tatapan Rafael begitu lekat, tertuju pada paras cantik yang hanya berada beberapa senti dari wajahnya. Pria tampan tersebut tak menyangka, bahwa wanita yang selama ini dia abaikan masih memiliki kepedulian sebesar itu. “Kenapa?” tanya Rafael pada akhirnya.


“Apanya yang kenapa?” Paloma balik bertanya.


“Kenapa tidak kau biarkan saja ayah menghabisiku?” Rafael masih menatap lekat paras cantik Paloma yang belum selesai mengobatinya.


Paloma menghentikan sejenak apa yang sedang dia lakukan. Wanita muda itu membalas tatapan Rafael. Sesaat kemudian, si pemilik mata hazel tersebut kembali mengobati luka di wajah tampan tadi. “Pertama, karena kau masih menjadi suamiku meskipun aku tak menyukainya. Kedua, aku sangat menyayangi ayahmu. Terlebih, setelah ayahku tiada. Aku tak memiliki siapa pun selain Tuan Rogelio. Dia begitu baik dan perhatian padaku.” Paloma telah selesai mengobati luka Rafael. Dia membereskan beberapa obat yang tadi digunakan. Paloma lalu beranjak dari duduknya.


“Tuan Carlos meninggal? Kapan?” tanya Rafael yang membuat Paloma kembali duduk.


Paloma terdiam beberapa saat. Dia tertunduk, kemudian menyentuh sudut matanya. “Saat aku baru tiba dari Spanyol, seorang tetangga memberitahu bahwa ayahku telah tiada karena terkena serangan jantung. Aku tak sempat bertemu dengannya,” tutur Paloma lirih.


“Aku turut berduka cita,” ucap Rafael pelan seraya menghadapkan tubuh ke depan.


“Terima kasih,” balas Paloma. Dia beranjak meninggalkan pria itu sendirian.


Rafael setengah membungkukkan badan. Dia menopang kening menggunakan kedua tangan. Keluhan demi keluhan meluncur dari bibirnya yang dihiasi kumis tipis. Entah apa yang akan dirinya lakukan saat ini. Tatiana telah membuangnya. Janda kaya itu begitu marah. Selama hampir enam tahun kebersamaan mereka, Rafael belum pernah mendapatkan tamparan seperti tadi dari. wanita tersebut.


Perlahan, pria berambut cokelat itu bangkit dari sofa yang diduduki. Dia menggeret koper menuju kamar lamanya. Ruangan yang dimaksud berada di lantai dua. Namun, entah pelayan sudah membereskannya atau belum, berhubung Rafael tadinya tak berniat menginap di kediaman megah Rogelio.


Setibanya di depan kamar yang dituju, ternyata pintu ruangan itu dalam keadaan terkunci. Rafael terpaksa harus kembali ke lantai bawah untuk meminta kunci kamarnya pada pelayan. Dia tak peduli meskipun beberapa dari mereka menatap dengan aneh, karena wajah Rafael yang babak belur. Setelah mendapatkan kunci kamar, pria itu bermaksud untuk kembali ke lantai dua.


“Biar kubersihkan dulu kamar Anda, Tuan,” ucap pelayan yang tadi memberikan kunci kepada Rafael.


“Baiklah.” Rafael mengangguk setuju. Selagi menunggu asisten rumah tangga tadi membersihkan kamar yang akan dirinya tempati, Rafael memilih duduk di ruang tamu. Pria tampan itu kembali termenung. Tak berselang lama, kedua matanya terpejam, meskipun dia tak sampai terlelap.

__ADS_1


Sementara, Paloma tengah membereskan barang-barang di kamar.. Dia merapikan pakaian yang hanya beberapa potong ke dalam lemari besar. Terlalu besar, sehingga tempat menyimpan baju dan perlengkapan lainnya tersebut tetap terlihat kosong. Ketika Paloma telah selesai menata barang-barang yang tak seberapa banyak, terdengar suara ketukan di pintu. Dengan segera, wanita cantik tersebut membukanya.


Tampaklah wajah Rogelio yang sudah terlihat normal. Pria paruh baya itu tersenyum hangat. Tak ada lagi kesan menakutkan dalam dirinya. “Apa kau lelah hari ini?” tanya Rogelio.


“Ada apa, Ayah?” Paloma balik bertanya.


“Jika kau tidak lelah, aku ingin mengajakmu keluar sebentar,” jawab pria paruh baya dengan rambut bercampur uban tersebut.


Paloma tak segera menanggapi. Sorot matanya menyiratkan rasa penasaran. Sesaat kemudian, wanita muda itu tersenyum kecil. “Baiklah. Sebentar. Aku akan mengambil cardigan dulu.” Paloma membuka lemari, lalu mengambil cropped cardigan berwarna merah bata. Tak lupa, dia juga meraih tas selempang kecil. “Aku sudah siap.” Paloma tersenyum hangat kepada sang ayah mertua.


“Ayo,” ajak Rogelio. Dia berjalan terlebih dulu menyusuri koridor, yang menghubungkan kamar Paloma ke ruang lain, termasuk ruang tamu. Di sana, mereka melihat Rafael tengah tertidur sambil duduk di sofa. Rogelio sempat tertegun, lalu memperhatikan sejenak anak angkatnya tersebut. Akan tetapi, dia tak mengatakan apapun. Rogelio melanjutkan langkahnya diikuti Paloma.


“Aku sudah mengobati lukanya. Bagaimanapun juga, kami masih terikat pernikahan. Aku tetap berkewajiban untuk merawat Rafael,” ucap Paloma tanpa ditanya.


“Ya. Sudah seharusnya, Nak. Kau tidak perlu khawatir. Aku sudah meluapkan semua kekesalan kepada Rafael.” Rogelio tertawa pelan. Dia membukakan pintu untuk Paloma. Setelah sang menantu duduk nyaman di dalamnya, barulah dia mulai menyalakan mesin mobil. Rogelio kemudian melajukan sedan mewah itu keluar dari halaman kediamannya yang megah.


“Kita akan ke mana, Ayah?” tanya Paloma penasaran.


Paloma tersenyum lembut. Dia tak bertanya lagi. Paloma mengarahkan pandangan ke depan. Rasanya seperti mimpi, ketika dia kembali merasakan atmosfer Kota Chihuahua yang telah lama dirinya tinggalkan


Selang beberapa saat di perjalanan, mobil sedan hitam yang dikendarai Rogelio akhirnya tiba di tempat tujuan. Pria paruh baya tersebut rupanya membawa Paloma ke pusat perbelanjaan mewah di pusat kota. Setelah memarkirkan kendaraan, Rogelio mengajak Paloma memasuki bangunan megah tadi. Rogelio mengajak Paloma ke sebuah butik. Di sana, dia menyuruh sang menantu agar memilih beberapa pakaian.


“Ayah, Anda tidak perlu melakukan ini,” tolak Paloma halus.


“Tidak, Nak. Kau akan menjadi perwakilanku dalam mengurus kerja sama dengan Tuan Sebastian. Itu artinya, kau harus berpenampilan dengan pantas. Ayo, pilihlah berapapun yang kau suka,” ucap Rogelio. Dia langsung meninggalkan Paloma di dekat deretan baju bagus dan mahal. Rogelio duduk di sebuah bangku sambil, memperhatikan menantunya yang sedang memilih pakaian.


Akan tetapi, Paloma terlihat bingung. Dia tak terbiasa menghadapi pakaian-pakaian mahal seperti itu. Paloma juga merasa tak enak, meski Rogelio sudah membebaskannya untuk mengambil sebanyak yang dia inginkan. Hampir lima belas menit lamanya, Paloma hanya berputar-putar tak menentu. Semua baju yang ada di butik itu dibanderol dengan harga fantastis.


Melihat Paloma yang terkesan sungkan, Rogelio beranjak dari duduknya. Dia berjalan mendekat, lalu berdiri di sebelah wanita muda itu. “Kenapa kau terlihat bingung?” tanyanya.

__ADS_1


Paloma segera menoleh. Wajahnya yang cantik terlihat begitu polos. “Baju-baju yang dijual di sini sangat mahal, Ayah,” ujarnya.


“Apa masalahmu, Nak? Aku yang akan membayarnya.” Rogelio memilih beberapa pakaian yang dirasa cocok untuk Paloma. Dia menyerahkan baju-baju tadi kepada wanita muda tersebut. “Cobalah ini. Jika kurang cocok, kau bisa memilih yang lain.” Rogelio mengarahkan tangannya ke kamar pas.


“Ayah ….” Paloma hendak protes. Namun, Rogelio segera menggeleng. Dia tak ingin menerima bantahan. Sambil membawa beberapa potong pakaian, Paloma melangkah ke kamar pas. Dia mula mencobanya satu per satu. Pakaian yang dipilihkan oleh Rogelio, memang terlihat cocok saat dikenakan Paloma. Rogelio pun memutuskan untuk membeli semuanya.


Seusai dari butik, Rogelio kemudian mengajak Paloma membeli beberapa pasang sepatu dengan tinggi hak yang beragam. Paloma harus mulai belajar berjalan menggunakan sepatu-sepatu itu.


“Aku takut jatuh tersungkur, Ayah,” ujar Paloma diiringi tawa renyah, saat keluar dari toko sepatu tadi.


“Tentu tidak, Nak. Sepatu hak tinggi adalah sahabat wanita modern,” balas Rogelio.


Mereka kembali berjalan menyusuri deretan pertokoan, hingga keduanya melintasi salon khusus wanita. Tiba-tiba, terbersit sebuah ide dalam benak Paloma. Dia menghentikan langkah, lalu menoleh kepada Rogelio. “Ayah, aku ingin ke sana,” tunjuk Paloma pada salon di sebelahnya.


“Tentu, Nak,” sahut Rogelio. Dia menuntun menantunya tersebut memasuki salon tersebut.


Seorang wanita muda menyambut kedatangan mereka dengan ramah. Setelah berbincang sebentar dengan Paloma, wanita muda itu mempersilakan menantu Rogelio tersebut untuk duduk di kursi khusus yang menghadap cermin.


Sementara, Rafael yang tadi tertidur di sofa sudah terbangun. Kali ini, bukan hanya wajahnya yang terasa tak nyaman. Seluruh badan pun ikut pegal, karena dia tertidur dalam posisi yang tidak semestinya.


Rafael menegakkan sikap duduknya. Dia mengumpulkan segenap kekuatan dan kesadaran, sebelum memutuskan untuk berdiri. Tak berselang lama, terdengar suara mobil berhenti di depan rumah. Rafael sempat menoleh ke arah pintu. Namun, dia bersikap tak peduli. Pria itu bangkit dari duduknya, lalu berjalan menuju tangga dengan agak gontai. Niat Rafael adalah kamar yang pastinya sudah dibersihkan oleh pelayan.


Baru saja pria bermata abu-abu itu akan menaiki undakan pertama anak tangga, niatnya segera terjeda. Suara tawa renyah Paloma dan Rogelio terdengar jelas di telinga pria berkemeja putih, dengan beberapa bercak darah di bagian depannya.


Rafael menoleh, ketika suara tawa tadi terdengar semakin jelas. Dia memicingkan mata, saat melihat perubahan dalam penampilan Paloma. Wanita itu terlihat sangat berbeda, dengan model rambut barunya yang sangat cantik.


Ya, Paloma memotong rambutnya hingga sebatas pundak. Dia juga memberikan hiasan poni, sehingga membuat wanita dua puluh lima tahun tersebut tampak jauh lebih muda dan segar.


Paloma tertegun melihat Rafael yang tengah memandang ke arahnya. Begitu juga dengan Rogelio yang membalas tatapan aneh putra angkatnya tersebut.

__ADS_1


Seulas senyuman sinis tersungging di sudut bibir Rafael, dengan sorot mata tidak bersahabat. Sekarang, dia memahami alasan Rogelio yang begitu membela Paloma. Terlebih, setelah Rafael melihat banyaknya kantong belanja dari berbagai merk kenamaan di tangan Paloma. Sebagian, di jinjing oleh Rogelio.


“Luar biasa, Ayah.,” sindir Rafael seraya bertepuk tangan. “Kau juga Paloma. Setelah gagal mendekati Tuan Sebastian, kali ini kau mengincar ayahku,” ujarnya penuh cibiran.


__ADS_2