Casa Del Castaneda

Casa Del Castaneda
Undangan Makan Malam


__ADS_3

Rafael mengurungkan niat untuk mandi. Dia bergegas keluar. Rafael menatap nanar ke arah Paloma yang terlelap di ranjang. Dengkuran halus wanita muda itu terdengar seperti alunan nada yang lembut. Sangat berirama, sehingga dapat menenangkan jiwanya yang gundah.


“Untuk apa kau masih menyimpan fotoku, Paloma?” Rafael berbisik lirih, seakan tak ingin ada siapa pun yang mendengarnya. “Aku hampir saja menghabisimu. Aku jugalah yang membuatmu bertahun-tahun hidup dalam kesengsaraan. Kau … dan Nilo …. Astaga.” Rafael meraup wajahnya kasar sambil mengembuskan napas pelan. Rafael melangkah gontai menuju balkon. Dia duduk di salah satu kursi dan mulai menyesali diri atas segala hal buruk yang telah dilakukannya selama ini.


Rafael mulai menitikkan air mata. Makin lama, tetesan kepedihan itu semakin kencang menguasai diri. Meruntuhkan segala keteguhannya sebagai seorang pria dewasa, yang telah lama mengarungi kerasnya hidup.


Tangisan pelan tapi memilukan itu akhirnya berhasil membangunkan Paloma dari tidurnya. “Rafael?” Wanita cantik itu mengucek-ucek mata. Merasa takut jika dirinya salah lihat. Setelah yakin bahwa sosok yang tengah duduk setengah membungkuk di balkon itu memang Rafael, Paloma segera bangkit dari pembaringan lalu menghampiri pria tersebut.


“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Paloma membuat Rafael tersentak. Dia seketika menoleh.


“Kau? Kenapa kau terbangun?” Rafael segera mengusap air matanya.


“Aku mendengar suara tangisan,” jawab Paloma ragu sembari menunduk. “Kenapa kau menangis.


“Ah, itu ….” Rafael tertawa getir. Tanpa berkata apa-apa lagi, dia menyodorkan dua lembar foto yang dirinya temukan di dompet. “Aku tak sengaja menemukan ini,” kilah Rafael dengan tangan tetap terulur ke arah Paloma.


“Astaga!” Paloma terbelalak. Secepat kilat dia merebut dua foto itu dari tangan Rafael. “Apa maksudmu membuka barang-barang pribadiku?” protes Paloma tak terima.


“Jadi … seperti inikah wajah putra kita?” Rafael tak memedulikan pertanyaan bernada keberatan dari Paloma. Dia malah tersenyum samar sambil terus menatap wanita cantik di hadapannya.


“Ya,” Paloma menunduk dalam-dalam sambil ibu jarinya mengusap lembut permukaan potret Nilo. Dia merasa terkesan, dengan kata ‘putra kita’ yang diucapkan Rafael.


“Wajah anak itu sangat mirip denganku sewaktu kecil,” ujar Rafael diiringi senyuman yang terlihat jauh lebih tenang.


“Aku tahu itu. Aku pernah melihat fotomu saat balita di ruang kerja ayah mertua,” sahut Paloma seraya memalingkan muka.


“Oh, ya?” Rafael tertawa pelan, lalu terdiam. Setelah itu, keheningan datang dan menyelimuti dua anak manusia yang tengah tenggelam dalam pikiran masing-masing.

__ADS_1


“Maaf, Paloma. Bertahun-tahun aku kehilangan arah dan tujuan. Akal sehatku hilang seketika, saat diriku melihat Selena tewas gantung diri secara langsung,” ucap Rafael. “Masih teringat olehku. Saat itu jasadnya kaku menggenggam sebuah alat pengetes kehamilan. Ada dua garis merah pada alat itu,” tuturnya. Rafael kembali menitikkan air mata. “Dia sedang mengandung anakku dan memilih untuk bunuh diri saat mendengar bahwa aku akan menikah dengan gadis pilihan ayah.”


Rafael mendongak, menoleh pada Paloma. Dia menatap lekat wanita bermata hazel itu. ”Aku begitu marah. Namun, aku tak tahu harus melampiaskannya kepada siapa,” ungkap Rafael. “Kau gadis lugu yang tak tahu apa-apa. Kau harus menerima kemarahanku. Aku memang pria brengsek,” sesalnya.


“Aku juga seharusnya meminta maaf padamu,” balas Paloma. Dia yang sedari tadi berusaha untuk terus menghindari tatapan Rafael, kini memberanikan diri memandang lurus pada wajah rupawan itu.


“Seandainya dulu aku tahu bahwa kau sudah memiliki kekasih dan akan menjadi seorang ayah, aku pasti akan menolak perjodohan itu. Meskipun … aku ….” Paloma menjeda kata-katanya. Dia kembali menunduk.


“Apa?” tanya Rafael penasaran.


“Aku sudah jatuh cinta sejak pertama kali melihatmu. Kau pria yang sangat tampan dan terlihat dewasa. Kau adalah cinta pertamaku,” ungkap Paloma terdengar begitu lirih.


Namun, Rafael masih dapat menangkapnya dengan jelas. “Sungguh? Aku adalah cinta pertamamu?” Rafael terbelalak tak percaya, kemudian tertawa. “Bagaimana bisa, Paloma?”


“Seperti yang kukatakan tadi. Aku langsung jatuh hati padamu saat ayah mengenalkan kita berdua. Kau begitu menawan dengan senyumanmu yang teramat memesona.” Paloma tertawa pelan, lalu menggigit bibirnya. “Sejak saat itu, hidupku menjadi lebih berwarna,” imbuhnya. “Kedengarannya sangat lucu. Saat itu, usiaku baru sembilan belas tahun.”


“Ayah mengatakan bahwa dia akan membiayai pendidikanku ke universitas setelah kita menikah. Namun, saat itu ternyata kau langsung membawaku ke Spanyol. Kupikir, aku akan melanjutkan pendidikan di sini. Akan tetapi ….” Paloma kembali menggigit bibirnya.


Rafael kembali terlihat tak nyaman mendengar ucapan Paloma. Dia menggaruk kening, lalu melakukan hal lain yang tak begitu penting demi mengalihkan perasaan mengganggu dalam hatinya. Seberapa sering pun dia mengucapkan kata penyesalan, hal itu tak akan dapat mengubah apapun. Rafael memilih mengalihkan topik pembicaraan. “Untuk apa kau terus menyimpan fotoku, Paloma? Setelah semua hal jahat yang kulakukan, aku ….” Rafael tak sanggup melanjutkan kata-katanya.


“Anggap saja aku adalah wanita bodoh yang terlalu terlena atas nama cinta,” sahut Paloma seraya menggeleng pelan. Dia juga tak mengerti dengan hal itu. “Ada banyak wanita yang menjadi sangat konyol karena dibutakan rasa cinta terhadap seorang pria. Terkadang, kami melupakan harga diri hanya demi mendapat sebuah pengakuan.”


“Tak hanya wanita. Pria juga sama seperti itu. Cinta buta memang membuat siapa pun menjadi bodoh karenanya,” ujar Rafael.


“Tak ada pria yang menjadi bodoh karena cintanya padaku. Aku bukan wanita beruntung,” ujar Paloma. Dia berdiri di dekat pagar pembatas. Paloma memandang hamparan kegelapan malam yang menyelimuti Porcuna.


“Kau ingin membuat orang lain menjadi gila karena dirimu?” Rafael ikut berdiri di sebelah wanita muda berambut pendek itu. Dia tertawa pelan, lalu terdiam. Tatapannya menerawang jauh, menembus batas penglihatan mata manusia. “Pertemuan tadi berjalan lancar.” Rafael mengganti topik pembicaraan.

__ADS_1


“Aku belum mengabarkan apapun kepada ayah. Bagaimana jika kau saja yang memberitahunya?” Paloma menoleh kepada Rafael yang masih melayangkan tatapan ke depan. Dia memandang pria itu. Ketampanan Rafael tak pernah berubah sejak dulu. Mungkin, karena itulah Tatiana begitu tergila-gila padanya.


Rafael menoleh. Dia tersenyum kalem. Iris mata abu-abunya membalas tatapan lembut Paloma. Entah mengapa, segala perasaan marah dan benci yang selama ini hadir dan membentengi mereka berdua seakan sirna dan perlahan runtuh. “Aku melihat Sebastian menatapmu dengan cara yang berbeda,” ucap Rafael, dengan arah pandang yang masih tertuju pada wajah cantik Paloma.


“Aku tidak memperhatikannya,” balas Paloma. Dia mengalihkan pandangan ke segala arah.


“Apakah pernah terjadi sesuatu di antara kalian?” tanya Rafael. Dia mulai penasaran setelah melihat bahasa tubuh yang ditunjukkan Sebastian, ketika berhadapan dengan Paloma.


“Tidak,” jawab Paloma. Dia seakan ingin menghindar dari pertanyaan Rafael tentang duda tampan pemilik perkebunan zaitun terbesar di Porcuna tersebut.


Rafael manggut-manggut. Namun, dia dapat menangkap sesuatu yang aneh dari bahasa tubuh Paloma, ketika mereka membahas Sebastian. Rafael tak ingin bertanya lebih jauh, tentang sesuatu yang bukan urusannya. Pria itu kembali menghadapkan tubuh ke depan. Memandang langit malam yang gelap.


“Bagaimana jika kapan-kapan kau menemaniku mengunjungi makam Nilo?” Rafael kembali bersuara, setelah terdiam beberapa saat.


“Sungguh? Kau ingin mengunjunginya?” Paloma terlihat tak percaya.


“Ya. Tentu saja,” sahut Rafael yakin.


“Astaga.” Paloma tersenyum lebar. Senyuman yang bercampur tangis penuh haru. Paloma menutupi mulut menggunakan kedua telapak tangan. Dia tak dapat menyembunyikan rasa bahagianya, atas keinginan yang diutarakan Rafael.


Apakah itu artinya pria tampan tersebut sudah menerima Nilo dan pernikahan mereka? Entahlah, karena hanya Rafael sendiri yang mengetahui jawabannya. Namun, satu hal yang pasti. Rafael telah membuat rasa cinta dalam hati Paloma yang dalam beberapa waktu ke belakang telah memudar, kali ini muncul lagi. Warna merah di hati Paloma kembali merona, bagaikan buah cherry yang siap dipetik.


“Sudah terlalu malam. Sebaiknya kau lanjutkan tidurmu,” ucap Rafael.


“Kau juga. Selamat beristirahat.” Paloma tersenyum, kemudian membalikkan badan. Dia kembali ke dalam. Paloma naik ke tempat tidur. Dia bersiap untuk melanjutkan istirahat malamnya yang sempat terganggu. Namun, sebelum kembali memejamkan mata, Paloma menyempatkan diri memeriksa ponsel. Alat komunikasi canggih itu baru dia miliki beberapa hari yang lalu, sebelum dirinya berangkat ke Spanyol.


Paloma mengernyitkan kening, ketika membuka sebuah pesan dari Sebastian. Pesan itu masuk beberapa jam yang lalu. Namun, dia tak segera membalasnya. Paloma tak tahu harus menjawab apa.

__ADS_1


Aku mengundangmu makan malam di Casa del Castaneda besok pukul tujuh. Ada sesuatu yang harus kita bahas. Jadi, datanglah tanpa membawa pengawal.


__ADS_2