
“Kujemput besok pukul sepuluh,” ucap Sebastian sambil menjauhkan dirinya dari Paloma. Pria tampan dengan janggut yang mulai lebat tak beraturan tadi tersenyum simpul, saat melihat Paloma telah memejamkan mata. Wanita itu mungkin mengira bahwa Sebastian hendak menciumnya lagi. “Apa kau mengharapkan sesuatu?” tanya duda tampan tersebut dengan nada setengah meledek.
Paloma yang kembali membuka mata, segera memalingkan muka. Rasa malu tak terkira, menghampirinya dan menertawakan dengan puas. Paloma tak tahu harus berkata apa, selain menghindar. “Aku sangat lelah. Sebaiknya, Anda segera kembali ke Casa del Castaneda,” ucap wanita berambut sebahu itu mencari alasan.
“Baiklah. Jangan lupa besok,” pesan Sebastian lagi diiringi senyuman yang teramat memesona. “Selamat malam, Paloma.” Seusai berkata demikian, Sebastian berjalan mundur beberapa langkah. Setelah agak menjauh, barulah dia membalikkan badan. Pria itu kembali masuk ke lift yang membawanya turun.
Paloma mengembuskan napas lega sambil memegangi dada. Dia seakan baru terbebas dari dalam gua sempit nan pengap, yang membuat dirinya kekurangan oksigen. Paloma menenangkan diri dengan mengambil napas berkali-kali, sebelum memutar gagang pintu. Namun, ternyata pintu itu dalam keadaan terkunci. “Apa Rafael sudah tidur?” pikirnya.
Wanita muda berambut pendek dengan hiasan poni yang semakin mempercantik tampilannya itu, merogoh ke dalam tas. Dia hendak mengambil ponsel. Akan tetapi, niat Paloma segera terhenti. Dia tertegun, saat mendengar suara Rafael dari arah belakang. Paloma lalu menoleh. “Kupikir kau sudah tidur,” ucap si pemilik mata hazel tersebut.
“Aku menunggumu,” balas Rafael diiringi senyuman kecil. Dia berjalan mendekat, lalu membuka kunci. Rafael mempersilakan Paloma agar masuk terlebih dulu.
“Di mana kau menungguku? Kenapa aku tidak melihatmu di lobi.” Paloma meletakkan tasnya di atas meja. Dia duduk di ujung tempat tidur, kemudian melepas high heels yang membuat kakinya terasa pegal dan panas.
“Aku menunggumu di dekat gerbang Casa del Castaneda. Namun, kau pulang bersama Sebastian,” jawab Rafael seraya melepas jaketnya. Dia melemparkan begitu saja ke sofa. Rafael kemudian duduk sambil menengadahkan kepala, yang dia letakkan di atas sandaran sofa. Pria itu memejakan mata.
Sementara, Paloma terdiam mendengar jawaban anak angkat Rogelio tersebut. Dia sempat menatap pria tampan yang masih menjadi suaminya. Terbesit rasa tak enak dalam hati. Paloma tak menyangka bahwa Rafael menunggunya di sana. “Aku tak menyuruhmu untuk menunggu,” ucap Paloma demi menepis perasaan tak nyaman yang hadir.
“Aku yang ingin menunggu. Jangan khawatir. Lagi pula, aku tadi sempat berjalan-jalan sebentar,” sahut Rafael tanpa membuka matanya.
Entah yang dikatakan pria itu benar atau tidak, Paloma tak dapat memastikan. Dia beranjak hendak ke kamar mandi, untuk membersihkan diri sebelum berganti pakaian. Dilihatnya, Rafael masih belum mengubah posisi. “Apa kau sudah makan malam?” tanya Paloma. Perhatiannya terhadap pria itu memang tak pernah berubah. Entah ke mana perginya segala rasa marah dan benci, yang membuat Paloma bersikeras ingin bercerai.
“Aku sudah mengisi perut tadi. Jangan khawatir,” jawab Rafael. Dia membuka mata, lalu mengubah posisi duduk menjadi lebih tegak. “Sebaiknya kau segera berganti pakaian. Jangan sampai tidur dengan menggunakan gaun itu.”
“Memangnya kenapa?” tanya Paloma tak mengerti.
__ADS_1
“Punggungmu terlihat jelas,” jawab Rafael kikuk. Dia meraih ponsel. Rafael mengalihkan rasa tak nyamannya pada alat komunikasi canggih itu. Pria tampan berambut cokelat itu tak bicara lagi. Mungkin saja, dia sedang menyesali apa yang dirinya ucapkan barusan.
Paloma pun tak berniat menanggapi. Dia masuk ke kamar mandi. Beberapa saat lamanya, wanita muda itu menghabiskan waktu di sana. Sekitar setengah jam kemudian, Paloma baru keluar dengan mengenakan pakaian tidur.
“Kau akan tidur sekarang?” tanya Rafael yang melihat Paloma sudah naik ke ranjang.
“Ya. Aku sangat lelah,” jawab Paloma seraya menyelimuti tubuhnya hingga sebatas leher.
“Besok aku akan ke Sevilla sebentar untuk menemui Tatiana. Ada hal yang harus kubahas dengannya,” ucap Rafael sambil merebahkan tubuh jangkungnya di sofa tadi.
“Asal kau tidak lupa, bahwa lusa kita sudah harus kembali ke Meksiko,” pesan Paloma.
“Tenang saja. Aku ingat itu. Lagi pula, aku tak akan menginap di sana,” balas Rafael. Pria bermata abu-abu itu terdiam beberapa saat, sambil memandangi langit-langit kamar hotel dengan model plafon yang terlihat modern.
“Selamat malam, Paloma,” ucap Rafael setelah puas merenung. Namun, ucapan selamat malamnya tak berbalas, karena Paloma ternyata sudah terlelap sejak beberapa saat yang lalu. Rafael pun memutuskan untuk segera tidur.
"Ya," jawab Paloma yang tengah asyik menonton televisi.
"Apa hari ini kau tidak akan ke mana-mana?" tanya Rafael sambil memakai arloji di pergelangan kirinya.
"Entahlah. Aku rasa tidak," jawab Paloma ragu. Dia sebenarnya ingat betul bahwa Sebastian akan menjemput ke hotel tempat dirinya menginap, untuk mengajak 'kencan'. Paloma sendiri tak mengerti apa maksud dari kata 'kencan' itu.
"Baiklah. Kau pasti bisa menjaga diri dengan baik selagi aku pergi. Jika membutuhkan sesuatu, kau juga tahu harus bagaimana," ujar Rafael lagi menanggapi.
"Ya. Jangan khawatir. Aku sudah menjalani hidup hampir enam tahun tanpa ada yang menjaga," sahut Paloma tanpa mengalihkan pandangan dari layar televisi. "Aku bisa menjaga diri dengan baik," ucap wanita itu lagi.
__ADS_1
"Baguslah," balas Rafael yang merasa tersindir dengan ucapan Paloma tadi. Dia mengenakan jaketnya, kemudian meraih ponsel dan kunci mobil. Dia menoleh sejenak kepada Paloma, yang masih asyik menonton acara di televisi. "Aku pergi dulu," pamitnya.
Tanpa menunggu jawaban dari Paloma, Rafael berlalu keluar kamar. Dia melangkah tenang menuju lift, lalu turun ke lantai pertama. Pria itu melintasi lobi hotel dengan cara berjalannya yang gagah dan teratur, bak seorang peragawan di atas catwalk.
Sepeninggal Rafael, Paloma hanya seorang diri di dalam kamar. Hampir satu jam dia habiskan hanya untuk menonton siaran televisi. Lama-kelamaan, Paloma merasa bosan. Dia beranjak dari tempat tidur, lalu berjalan ke balkon kamar. Dia berdiri beberapa saat di sana, menikmati hangatnya cahaya mentari pagi.
Paloma sempat termenung di sana, hingga suara dering ponsel menyadarkan wanita cantik yang masih mengenakan pakaian tidur tersebut. Paloma kembali masuk untuk menjawab panggilan tadi. Nama Rogelio muncul di layar. Tanpa berlama-lama, segera digeserkannya ikon telepon berwarna hijau.
"Bueno," sapa Paloma.
"Apa kabar, Nak. Bagaimana urusan kalian di sana?" tanya Rogelio dengan nada bicaranya yang terdengar lembut.
"Semua hal yang berkaitan dengan kontrak kerja sama telah selesai, ayah. Kami akan kembali besok ke Meksiko. Hari ini, Rafael sedang pergi ke Sevilla. Dia harus menyelesaikan sedikit urusannya," jelas Paloma.
"Untuk apa lagi dia menemui wanita itu?" Rogelio mengeluh pelan. Mendengar kata Sevilla, pikirannya langsung tertuju pada Tatiana Vidal.
"Biarkan saja, ayah. Lagi pula, sebagai pria yang bertanggung jawab, sudah seharusnya dia menyelesaikan segala urusan dengan Tatiana. Sebagai seorang wanita, aku tak akan menyalahkan tindakan Rafael," ujar Paloma. Dia menghentikan sejenak pembicaraan itu, karena terdengar suara ketukan di pintu. "Tunggu sebentar, ayah. Sepertinya, petugas layanan kamar datang kemari. Nanti kuhubungi lagi."
Paloma menutup sambungan teleponnya. Dia meletakkan ponsel di atas meja. Dengan rambut yang masih sedikit acak-acakan, wanita itu berjalan menuju pintu.
Seketika, Paloma terpaku saat melihat sosok yang berdiri di luar kamar. Sebastian sudah terlihat gagah dengan tampilan casualnya. Pria itu mengenakan T-Shirt lengan panjang berwarna hitam, dipadukan bersama celana jeans biru gelap.
Sebastian mengernyitkan kening, saat melihat penampilan Paloma yang masih mengenakan pakaian tidur. Dia menatap heran wanita cantik bermata hazel tersebut. "Kau belum bersiap-siap?" tanyanya.
"Ke mana?" Paloma seprtinya tengah berpura-pura lupa.
__ADS_1
"Bukankah semalam kita sudah membuat janji?"