Casa Del Castaneda

Casa Del Castaneda
Tak Ingin Bercerai


__ADS_3

Paloma langsung meletakkan sendok yang sedang dipegangnya. Dia menatap tajam Rafael. Sorot mata yang menyiratkan rasa tak mengerti, bercampur dengan keinginan protes atas ucapan pria itu. “Apa maksudmu?” tanyanya serius. “Jangan bercanda, Rafael!” Paloma terdengar jauh lebih tegas.


“Kenapa? Apa masalahnya jika aku tak ingin melanjutkan proses gugatan perceraian kita? Besok aku akan menemui Pengacara Ramos untuk membicarakan hal ini. Aku juga akan menemui pihak gereja dan menarik pengajuan pembatalan pernikahan.” Rafael terdengar begitu serius dengan apa yang dia ucapkan. Pria tampan bermata abu-abu itu, mengalihkan pandangannya kepada Rogelio yang sama terkejut seperti Paloma. “Kuharap, Ayah mendukung keputusanku kali ini. Aku tak ingin bercerai.”


Rogelio tak segera menjawab. Pria paruh baya tersebut memperlihatkan raut penuh haru dan tak percaya. “Sungguh, Nak? Apa kau serius?” tanyanya meyakinkan.


“Ya, Ayah. Aku lebih dari serius,” tegas Rafael. Dia memang terlihat sangat percaya diri. Rafael terdiam sejenak. Dia tahu bahwa Paloma masih memandang tak percaya padanya. Pria itu mengalihkan perhatian kepada wanita yang tak jadi dia ceraikan. Untuk beberapa saat, tatapan mereka saling beradu.


Paloma menggeleng tak terima. Namun, dia tak mengatakan apapun. Terlebih, karena Rogelio kembali bicara. Pria paruh baya tersebut mengungkapkan rasa bahagia dan syukur atas keputusan Rafael. “Ini benar-benar berita baik untukku. Keputusan untuk menjadikan kalian partner dalam jalinan kerja sama ini, ternyata memang merupakan sesuatu yang sangat tepat. Aku pasti akan sangat mendukungmu, Rafael. Ini adalah hal yang benar. Sebuah langkah nyata yang kau lakukan untuk memperbaiki hubungan kalian.” Rogelio tersenyum lebar. Namun, rona keharuan masih terlihat jelas pada sorot matanya.


“Kau benar, Ayah. Aku berpikir bahwa tak cukup hanya dengan kata maaf. Aku ingin memperbaiki semuanya. Mengganti enam tahun yang kusia-siakan, dengan sesuatu yang jauh lebih berarti. Tidak ada kesempatan yang paling tepat selain saat ini.” Rafael yang sempat mengalihkan perhatian kepada sang ayah, kembali memandang Paloma.


Wanita bermata hazel tersebut tak tahu harus berkata apa. Dia belum berani mengakui jalinan asmara yang baru dirinya bentangkan bersama Sebastian, di hadapan Rogelio. Terlebih, karena sang ayah mertua terlihat sangat bahagia dengan keputusan Rafael. Paloma meneguk minumannya hingga habis tak tersisa. Dia merasa resah dan gelisah. Namun, Paloma berusaha menyembunyikannya dari Rogelio.


Seusai makan malam, Paloma menemui Rafael di kamarnya. Tujuan wanita itu sudah pasti untuk membicarakan masalah tentang keputusan sepihak sang suami. “Apa-apaan kau?” protes Paloma tak suka dengan ucapan Rafael tadi.

__ADS_1


“Kenapa?” Rafael yang sedang duduk bersandar pada kepala tempat tidur, segera bangkit dan turun dari ranjang. Dia berdiri di hadapan Paloma yang memasang wajah seakan menantangnya. “Aku sudah memikirkan keputusan itu dengan baik. Ternyata, aku memang tak ingin bercerai denganmu. Aku ingin memperbaiki semuanya.”


“Tidak dengan cara seperti ini!” protes Paloma tegas, meskipun volume suaranya tidak terlalu keras.


“Seperti apa yang kau inginkan?” tantang Rafael. Dia menatap lekat Paloma. “Aku masih berstatus suamimu yang sah. Aku memiliki hak penuh atas dirimu, Paloma! Kau masih menjadi milikku! Ingatlah kenyataan itu, meskipun kau tak menyukainya!"


“Kau sangat keterlaluan! Kau tahu bahwa aku dan Sebastian … kami ….” Paloma menggeleng kencang.


“Aku jauh lebih berhak atas dirimu! Sebastian tak memiliki hak apapun! Sekarang, aku sudah mengambil keputusan dan kau harus menghormati hal itu! Lagi pula, pihak gereja pasti akan jauh lebih senang jika kita mencabut pengajuan pembatalan pernikahan.” Rafael membalikkan badan. Dia kembali naik ke tempat tidur dan duduk sambil meluruskan kaki.


Sementara, Rafael masih terlihat tenang. Awalnya dia asyik memainkan ponsel. Rafael tak menanggapi ucapan Paloma. Membuat wanita berambut sebahu itu menjadi kian terpancing amarahnya.


Paloma merebut ponsel yang sedang Rafael mainkan. Dia melemparnya ke atas kasur. Hal itu membuat Rafael segera menoleh padanya. Pria tampan tersebut tak marah atau protes sama sekali. Dia masih memperlihatkan raut tenang.


“Jika hubunganku dan Tatiana dianggap salah serta bertentangan dengan hukum, lalu bagaimana status hubunganmu bersama Sebastian? Kau pikir bukan hal yang salah bermesraan di hadapanku?” Rafael kembali berdiri. “Kau membiarkan pria itu menciummu berkali-kali di depanku, Paloma!” Nada bicara Rafael kian tegas. Dia marah dan seperti ingin melampiaskan segalanya, kepada wanita berambut pendek itu.

__ADS_1


“Aku tak pernah protes dengan segala hal yang kau lakukan bersama Tatiana!” balas Paloma tak kalah tegas.


“Aku sudah menyesali semuanya serta mengakui segala kesalahanku. Akan tetapi, kenapa di saat aku ingin memperbaiki diri, justru kau yang bersikap gila seperti ini?” Rafael menggeleng tak mengerti. “Tidak, Paloma. Aku sudah menyadari bahwa kau terlalu baik untuk kulepaskan dengan mudah. Aku tak ingin dan tidak akan pernah merelakanmu dengan pria manapun! Kau adalah istriku dan akan tetap seperti itu!”


“Kau tidak bisa melakukan ini padaku!” protes Paloma lagi. Dia menarik lengan Rafael yang sudah berbalik membelakanginya. “Kau sangat keterlaluan!” sentak Paloma meski dengan volume suara tidak terlalu nyaring.


Rafael kembali menghadap kepada Paloma. Sebenarnya, dia sudah tak ingin menanggapi protes serta penolakan yang dilayangkan wanita itu. Namun, Rafael tahu seperti apa karakter istrinya tersebut. “Lalu, apa yang akan kau lakukan? Kau hendak memukulku lagi dengan sepatumu?” tantang Rafael kembali pada intonasinya yang tenang.


“Pukul dan lampiaskan saja semuanya sekarang, Paloma. Silakan. Luapkan segala amarah yang kau pendam selama ini. Aku tak akan melawan atau membantahmu.” Rafael menatap sayu kepada Paloma. Dia semakin mendekat, lalu tiba-tiba menurunkan tubuhnya. Rafael berlutut di hadapan wanita, yang selama ini telah dirinya sakiti dan abaikan hingga bertahun-tahun.


“Hukumlah aku dengan cara apapun yang kau inginkan, Paloma. Puaskan segala kekesalanmu saat ini. Namun, setelah semuanya terlampiaskan, biarkan aku memperbaiki dan memulai lagi dari awal. Jangan membuangku dari hidupmu. Kumohon.” Rafael menundukkan wajah. Dia terlihat bersungguh-sungguh dengan apa yang diucapkannya.


Sementara, Paloma bergerak mundur. Ini tak seperti yang ada dalam benaknya. Dia tak pernah mengira bahwa Rafael akan meminta rujuk, di saat dirinya telah menemukan tambatan hati lain. Baru saja Paloma tersenyum lebar menyambut cinta seorang Sebastian, dia harus kembali berada di ambang kebimbangan.


Paloma tak dapat memaksakan tetap menolak. Terlebih, karena Rogelio mendukung penuh keputusan putra angkatnya, untuk menarik kembali gugatan cerai yang telah dilayangkan ke pengadilan. Lalu, bagaimana dengan kisah cintanya bersama Sebastian?

__ADS_1


__ADS_2