Casa Del Castaneda

Casa Del Castaneda
Pagi yang Hangat


__ADS_3

“Kalian sedang apa?” tanya Rogelio. Dia menampakkan diri dari tempatnya bersembunyi, setelah menyeka bersih pipinya yang sempat basah oleh air mata.


“Ayah.” Paloma menoleh. Dia sudah akan berdiri dari kursi.


Namun, Rogelio mencegahnya. Pria itu memberi isyarat agar sang menantu tetap duduk di tempatnya. “Aromanya lezat sekali. Apakah kau yang memasaknya, Paloma?” tanya Rogelio. Dia mendekatkan hidungnya pada hidangan di atas meja yang terlihat sangat menggugah selera.


“Bukan, Ayah. Rafael yang memasaknya,” sahut Paloma malu-malu.


“Oh, ya?” Rogelio mengalihkan pandangannya pada sang anak angkat sambil menaikkan sebelah alisnya.


Sedangkan, Rafael hanya tersenyum sambil menyendok makanan. “Duduklah di sini, Ayah. Kita sarapan bersama,” ajak pria berambut cokelat itu, seraya menarik satu kursi di dekatnya untuk Rogelio.


“Sejak kau kecil, aku tak pernah melihatmu memasak. Apakah ini yang pertama kalinya?” tanya Rogelio lagi sembari menyendok makanan. “Ah, ini enak sekali. Aku tak yakin jika ini pertama kalinya kau memasak,” celoteh pria paruh baya itu sebelum Rafael sempat menjawab.


Rogelio menyendok lagi dan lagi, sampai makanan di atas piringnya benar-benar habis. “Ini benar-benar enak. Sepertinya kau berbakat dalam hal masak-memasak, Anakku,” sanjung Rogelio tanpa henti. "Aku benar-benar kenyang. Ini adalah sarapan terenak yang pernah kusantap, setelah beberapa tahun berlalu," ujarnya penuh makna


“Sebenarnya … aku dulu pernah memasak sewaktu masih tinggal di mess perkebunan milik Tuan Castaneda,” tutur Rafael ragu. Diam-diam dia melirik Paloma yang tengah menghabiskan sisa makanannya. Rafael ingin tahu bagaimana reaksi istrinya tersebut, saat dia menyebutkan nama belakang Sebastian.


Ternyata, Paloma tampak biasa saja. Dia bahkan terkesan tak peduli. Paloma antusias membersihkan tepian piring yang terkena saus bawang berwarna hijau dengan menggunakan jari telunjuk. Dia lalu menjilati jari telunjuknya itu. “Ini enak sekali,” gumam wanita itu tanpa menyadari, bahwa perhatian Rafael dan Rogelio tertuju padanya.


“Kau seperti orang yang belum makan selama berhari-hari, Paloma,” canda Rafael sambil diiringi tawa lebar.


“Ah, aku ….” Paloma terkejut ketika Rogelio juga ikut menertawakannya. “Biar aku yang mencuci semua piring kotornya," ujar Paloma mengalihkan pembicaraan demi menutupi rasa malu.


“Tidak usah. Biar aku saja,” cegah Rafael. Dia bergegas bangkit. Rafael bermaksud merebut tumpukan piring kotor dari tangan istrinya.


“Tidak usah. Biar aku saja,” tolak Paloma sambil menjauhkan tangan Rafael.


“Untuk kali ini, ikutilah apa yang Paloma katakan. Lagi pula, aku hendak membicarakan sesuatu yang penting denganmu,” ujar Rogelio menggerakkan tangannya agar Rafael mendekat. “Nak, apakah boleh aku meminjam suamimu barang sebentar?” tanya Rogelio yang mengalihkan perhatian kepada sang menantu.


“Bawa saja, Ayah. Aku tidak tertarik berada di dekatnya dalam waktu yang lama,” sahut Paloma dengan raut wajah terkesan serius.


Akan tetapi, Rafael malah menanggapinya dengan tawa lebar seperti tadi. Begitu juga dengan Rogelio yang ikut tertawa.

__ADS_1


“Aku senang melihat keakraban kalian. Seandainya, Eleanor masih ada. Ibumu pasti akan sangat bahagia melihat semua ini,” ucap Rogelio dengan sorot mata penuh arti. Sementara, Paloma hanya tersenyum simpul. Dia akan bersedih jika teringat akan sosok sang ibu, yang tiada saat dirinya masih kecil.


“Ayah hendak membicarakan apa?” tanya Rafael mengalihkan topik pembicaraan, setelah melihat raut wajah Paloma yang berubah murung.


“Oh, ya. Mari kita bicara di teras depan,” ajak Rogelio seraya melingkarkan tangan di pundak Rafael. Dia mengajak pria itu berbincang di luar.


Sementara, Paloma tak peduli. Dia berlalu ke dalam dapur. Paloma menyibukkan diri dengan mencuci piring dan merapikan dapur hingga bersih.


Setelah selesai dengan pekerjaan dapur, Paloma bermaksud untuk membersihkan diri. Dia melintasi ruang makan saat hendak ke kamar. Sekilas, ekor matanya menangkap telepon genggam Rafael yang tergeletak begitu saja di atas meja makan. Benda pipih itu tampak menyala, ketika sebuah pesan masuk dan sempat memenuhi layarnya.


Paloma mengernyitkan kening, saat membaca tulisan pada pesan masuk tadi. Dia menutup mulutnya rapat-rapat dengan mata terbelalak. Paloma mengambil ponsel itu. Wanita cantik berambut cokelat tersebut berlari ke arah depan rumah, di mana Rogelio tengah berbincang serius dengan suaminya.


“Rafael! Lihat ini,” seru Paloma tanpa memedulikan bahwa Rogelio sedang berbicara.


Rafael segera menoleh. Dia tampak keheranan, saat Paloma menyodorkan ponsel miliknya. “Kenapa kau membawa telepon genggamku, Paloma?” tanya Rafael sambil mengernyitkan kening.


“Bacalah pesan terbarunya!” suruh Paloma yang tak menghiraukan pertanyaan Rafael.


Rafael menerima telepon genggam dari tangan sang istri. Pria tampan bermata abu-abu itu menurut. Dia tersenyum samar setelah membuka pesan yang dimaksud oleh Paloma.


“Apa-apaan ini?” Rogelio terbelalak dengan wajah yang mendadak berubah gusar. "Tunggulah. Kematianmu akan segera datang." Rogelio membaca pesan bernada ancaman yang tertera di ponsel Rafael.


“Siapa yang mengirim pesan itu, Rafael?” tanya Paloma yang terlihat gusar.


Namun, Rafael hanya mengangkat kedua bahunya. Pria itu menggeleng tak yakin. “Aku tidak tahu. Sudah dua kali ini aku mendapatkan pesan bernada ancaman seperti itu. Mungkin hanya orang iseng,” jawabnya enteng.


“Bagaimana kau bisa setenang ini?” protes Paloma.


Rafael yang awalnya duduk di kursi rotan, segera berdiri dan menghadap ke arah Paloma. “Apa kau mulai mengkhawatirkanku? Seandainya iya, aku tak akan masalah mendapat pesan ancaman setiap hari,” kelakarnya seraya kembali tertawa, meski tak selebar tadi.


“Kau benar-benar menyebalkan!” Wajah cantik Paloma bersungut-sungut. Membuat Rafael hampir saja kehilangan akal sehat. Tiba-tiba, muncul perasaan yang begitu kuat dalam diri Rafael. Pria itu ingin mendekat, lalu melu•mat habis bibir tipis nan ranum yang sedang cemberut tadi. Akan tetapi, suara Rogelio membuyarkan semua pikiran nakalnya.


“Aku akan menyuruh orang untuk memperketat penjagaan bagi kalian di sini,” ujar Rogelio.

__ADS_1


“Astaga. Tidak usah terlalu berlebihan, Ayah. Aku bukan anak kecil lagi yang harus mendapatkan bantuanmu setiap saat. Biarlah aku menyelesaikan semua dengan caraku,” tolak Rafael sopan.


“Aku hanya khawatir dengan keadaan kalian, Nak,” balas Rogelio yang masih terlihat gusar.


“Aku bisa mengatasinya, Ayah. Percayalah padaku. Untuk apa badan sekekar ini jika aku tak bisa melindungi Paloma dan diri sendiri,” ujar Rafael seraya mengangkat satu lengan dan bergaya bak binaragawan. Dia masih memperlihatkan sikap tenang, dan seakan tak terpengaruh oleh pesan-pesan bernada ancaman dari nomor misterius yang diterimanya.


“Ya, ampun.” Rogelio yang tadinya memasang wajah gusar, menjadi tertawa saat melihat tingkah kocak Rafael.


Lain halnya dengan Paloma yang semakin terlihat kesal. “Terserah kau saja, Rafael! Aku mandi dulu.” Tanpa menunggu jawaban dari suaminya, Paloma mengangguk sopan pada Rogelio. Dia berlalu ke bagian dalam rumah.


Sikap Rafael membuatnya pusing. Paloma berpikir, mengguyur seluruh tubuh dengan air dingin adalah ide yang sangat bagus sekaligus menyegarkan.


Setengah jam berlalu, kini Paloma sudah tampil cantik dan rapi dengan dress berwarna cerah yang terlihat serasi dengan warna kulitnya. Wanita muda itu menyempurnakan penampilan dengan menyisir rambut. Dia sudah bersiap di depan cermin, ketika mendengar suara mesin pemotong rumput di halaman depan rumah.


Sambil tetap memegang sisir, Paloma mengintip dari balik jendela kamar di lantai dua yang terbuka. Diam-diam, Paloma memperhatikan pemandangan di bawahnya.


Tampaklah, Rafael yang tengah serius mengoperasikan mesin pemotong rumput melintasi halaman samping. Sementara, Rogelio sudah tak terlihat dari tempatnya berdiri.


Rafael dengan dengan tenang sambil menyiangi rumput, yang memang sudah meninggi. Dia juga bekerja sambil bertelanjang dada. Pria itu seolah sedang memamerkan tubuhnya yang memang terlihat begitu atletis dan kokoh. Rafael juga tak peduli, ketika beberapa tetangga Paloma yang merupakan wanita, asyik memperhatikannya dengan mata berbinar.


“Ck!” Paloma berdecak kesal. Pria itu harus diberi pengertian dan sedikit dimarahi, agar tak berbuat seenaknya. Akan tetapi, baru dua langkah Paloma berjalan menjauh dari jendela, terdengar dering panggilan dari ponselnya.


Paloma mengurungkan niat untuk keluar kamar. Dia memilih meraih telepon genggam yang tergeletak di atas ranjang. Wajahnya seketika berseri, saat membaca nama Sebastian di layar. “Hola,” sapa Paloma lembut sembari menghadapkan tubuhnya kembali ke arah jendela.


“Sedang apa, Paloma?” tanya Sebastian dengan suara beratnya yang khas.


“Aku baru selesai mandi,” jawab Paloma yang tanpa sadar terus memperhatikan gerak-gerik Rafael di bawah sana.


“Apa kau sudah tinggal serumah bersama Rafael?” tanya Sebastian lagi.


“Ya, Sebastian. Begitulah perjanjiannya sampai tiga bulan ke depan. Setelah itu, aku bebas dan dapat kembali fokus pada pengajuan pembatalan pernikahan ….” Kalimat Paloma terdengar mengambang.


Mata hazel Paloma terkunci pada sosok Rafael yang sedang sibuk menggulung rambut. Tubuh pria itu penuh dengan keringat. Tampak berkilau terkena cahaya matahari.

__ADS_1


Merasa ada yang mengawasi, Rafael memicingkan mata sembari berkacak pinggang. Dia lalu mendongak ke arah jendela kamar Paloma. Wanita muda itu sendiri tak sempat menghindari tatapan lembut Rafael, yang tersenyum lebar ke arahnya sambil melambaikan tangan.


Refleks Paloma membalas lambaian tangan pria itu. Dia juga tersenyum dengan begitu manis. Senyuman tadi, Paloma tujukan pada pria yang masih berstatus sebagai suaminya. Paloma begitu asyik, bahkan sampai lupa bahwa dia masih ada dalam sambungan telepon bersama Sebastian.


__ADS_2