Casa Del Castaneda

Casa Del Castaneda
Penolakan Halus


__ADS_3

“Paloma?” ulang Tatiana. Angan wanita berusia empat puluh tahun tersebut, langsung tertuju pada kejadian saat perjamuan di Casa del Castaneda. Dia ingat betul dengan wanita muda yang menyerang Rafael, serta mengaku sebagai istri dari pria tampan yang kini telah menjadi suaminya. “Tidak. Rafael tidak pernah mengatakan apapun padaku,” bantah Tatiana seraya menggeleng kencang.


“Begitukah?” Rogelio mengernyitkan kening. “Lalu, di mana Rafael saat ini?” tanyanya.


“Suamiku masih berada di Porcuna. Ada urusan pekerjaan yang harus dia selesaikan di sana,” jawab Tatiana.


“Porcuna?” ulang Rogelio.


“Ya. Dia harus bertemu dengan salah seorang rekan bisnis kami,” terang Tatiana.


“Di mana tepatnya?” tanya Rogelio terus mengulik informasi.


“Perkebunan Castaneda. Namun, dia menyewa penginapan di sana,” jawab wanita paruh baya itu. Sesaat kemudian, Tatiana terdiam. Dia memikirkan sesuatu. “Bagaimana jika kusiapkan kamar untukmu, Ayah mertua?” tawarnya dengan nada bicara serta sikap yang jauh lebih bersahabat.


“Tidak usah,” tolak Rogelio. “Berikan nomor ponsel Rafael padaku. Aku akan menghubunginya untuk membuat janji bertemu,” pinta pria paruh baya yang masih terlihat tampan tersebut.


Tatiana tak segera menanggapi. Raut wajah wanita berpenampilan glamor tadi menyiratkan sebuah kekecewaan atas penolakan Rogelio. “Rafael akan kembali besok siang. Sebaiknya, Anda beristirahat sambil menunggu dia di sini. Jangan khawatir, aku akan memberikan pelayanan terbaik untukmu, Ayah,” bujuk wanita itu lagi penuh harap.


Rogelio menggeleng pelan. Bagi orang berkantong tebal seperti dia, pelayanan dan kemewahan dapat dirinya dapatkan di mana saja. Namun, dia tak mengharapkan itu dari seseorang yang mengaku sebagai menantunya. “Tidak usah, Nyonya Vidal. Bukan maksudku menolak kebaikan Anda. Akan tetapi, aku kemari untuk menemui Rafael dan menantuku Paloma. Jadi, sebaiknya Anda berikan saja nomor telepon yang bisa kuhubungi.” Rogelio berbicara dengan sopan dan penuh wibawa. Dia mengabaikan raut kecewa yang ditunjukkan wanita di hadapannya.


“Kenapa harus terlalu formal seperti ini, Ayah? Aku adalah istri Rafael. Itu artinya, aku juga menantumu. Anda tidak perlu merasa sungkan,” ucap Tatiana. “Lihatlah rumah ini. Begitu besar dan mewah. Ada banyak kamar di sini. Aku akan menyiapkan kamar tamu terbaik untuk ….”


“Maafkan aku.” Rogelio tetap menolak.


Tatiana terpaku. Rasa kecewa kian menyeruak dalam dirinya. Sebagai seseorang yang memiliki intelektual tinggi, dia sudah dapat menangkap sikap Rogelio. Pria itu seperti tak menghendaki dirinya sebagai seorang menantu. Padahal, dia sudah menjalani biduk rumah tangga cukup lama bersama Rafael.

__ADS_1


Wanita berusia empat puluh tahun tersebut menatap tajam kepada ayah mertuanya. Dia lalu mengangguk. “Baiklah. Aku tak akan memaksa Anda,” ucap Tatiana kemudian.


Tatiana membuka laci meja kerja paling atas. Dia mengambil kotak plastik berwarna putih transparan dari sana. Wanita dengan tatanan rambut tersanggul rapi tersebut membuka tutupnya, lalu mengambil selembar kartu nama. Setelah itu, kotak plastik transparan tadi kembali ditutup dan disimpan ke dalam laci.


Tatiana melangkah ke hadapan Rogelio. Wanita dengan setelan blazer mahal itu, menyodorkan kartu nama milik sang suami kepada sang ayah mertua. “Ambilah ini, Ayah,” ucapnya.


Rogelio menerima kartu nama tadi. Dia membaca tulisan cetak tebal yang tertera di sana. Raut wajah pria lima puluh tahun tersebut seketika berubah cerah. Pria paruh baya itu tersenyum semringah. “Baiklah. Terima kasih. Permisi.” Rogelio mengangguk sopan, kemudian membalikkan badan. Dia berlalu keluar dari ruang kerja Tatiana, meninggalkan wanita kaya raya tadi dalam perasaan tak karuan.


Sepeninggal Rogelio, Tatiana segera mengambil ponselnya. Dia bermaksud untuk menghubungi Rafael yang masih berada di Porcuna. Panggilan pertama darinya berakhir dengan tanpa jawaban. Wanita itu mencoba untuk kembali menghubungi sang suami. Pada panggilan kedua, barulah Rafael menerimanya.


“Ada apa, sayang? Aku baru kembali dari kamar mandi.” Suara berat Rafael terdengar di ujung telepon.


Tatiana tak segera menjawab. Wanita itu belum dapat mengendalikan perasaan yang berkecamuk dalam dada. Amarah tertahan atas penolakan halus Rogelio, membuat harga dirinya yang setinggi langit seakan runtuh menghantam kerak bumi. Itu merupakan sebuah penghinaan besar bagi seseorang seperti dirinya.


“Sayang? Apa kau baik-baik saja?” tanya Rafael lagi. “Jangan membuatku cemas,” ucap pria itu khawatir.


“Kau sudah tahu itu. Aku akan pulang besok. Kenapa? Apa kau merindukanku?” goda Rafael mencoba mencairkan suasana. Dari nada bicara wanita itu, Rafael tahu bahwa sang istri yang berusia lebih tua darinya tersebut sedang dalam keadaan tidak baik.


“Ya. Kupikir kau akan pulang lebih cepat,” ujar Tatiana.


“Memangnya ada apa?” tanya Rafael penasaran.


Akan tetapi, Tatiana tak segera menjawab. Rasa kesal dalam hati wanita tersebut kembali hadir. “Rafael,” panggil Tatiana pelan, “ada seorang pria datang kemari. Dia mencarimu,” ucap wanita kaya raya tersebut.


“Siapa, sayang?” tanya Rafael.

__ADS_1


“Rogelio Gallardo. Apakah dia memang ayahmu?” tanya Tatiana memastikan. “Dia sedang menuju ke Porcuna saat ini.”


Kini, giliran Rafael seketika membisu. Pria itu terpaku dan hampir menjatuhkan ponsel yang sedang dia genggam. Tak pernah diduga sama sekali, bahwa Rogelio akan menemukan keberadaanya setelah sekian tahun berlalu.


“Apa kau mendengarku, sayang?” Suara Tatiana kembali terdengar. Membuyarkan lamunan singkat Rafael. Namun, pria itu tetap tak menjawab. Rafael bahkan mematikan sambungan telepon dengan begitu saja. Dia bergegas keluar dari penginapan mewah yang disewanya.


Rafael berjalan terburu-buru menuju ke tempat di mana mobilnya terparkir. Dia meminta kunci kendaraan pada sopir pribadi yang tengah asyik minum kopi, tak jauh dari mobil milik sang majikan terparkir. Rafael tak banyak bicara kepada sang sopir.


Setelah mendapatkan kunci, pria tampan bermata abu-abu tersebut segera mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Entah akan ke mana tujuan pria itu. Rafael terlihat gelisah. Raut wajahnya menyiratkan sesuatu yang membuat dia merasa tak nyaman. Dia bahkan mengemudi dengan tidak tenang.


Selang beberapa saat, Rafael akhirnya tiba di depan gerbang tinggi dan kokoh bertuliskan Casa del Castaneda. Setelah diizinkan masuk oleh penjaga pintu gerbang, Rafael kembali melajukan kendaraan memasuki halaman luas kediaman milik Sebastian.


Setelah memarkirkan mobil dengan baik, dia bergegas keluar. Pria itu berjalan terburu-buru menyusuri koridor panjang. Derap langkahnya menimbulkan suara cukup nyaring, sehingga membuat beberapa pelayan yang berpapasan dengannya langsung menoleh.


Beberapa dari pelayan ada yang mengenal sosok Rafael. Pria itu sudah biasa datang ke Casa del Castaneda, dengan alasan jalinan bisnis bersama sang pemilik bangunan megah tersebut. Mereka mengangguk sopan sambil tersenyum. Namun, Rafael tak memedulikan para pelayan yang memperlihatkan sikap hormat padanya. Pria itu terus berjalan cepat, hingga akhirnya menghentikan langkah saat melihat sosok yang hendak dia temui.


Dengan kasar, Rafael meraih lengan Paloma, hingga wanita itu tersentak dan berbalik. Tanpa banyak bicara, pria berambut cokelat tadi memaksa Paloma agar ikut dengannya. Dia bahkan setengah menyeret wanita yang masih menjadi istrinya tersebut.


“Lepaskan aku, Brengsek!” Paloma berusaha untuk menyingkirkan tangan Rafael dari lengan kirinya. Dia memukul-mukul tangan pria itu sekuat tenaga. “Lepaskan!” Paloma terus berontak.


Namun, kekuatannya tak sebanding dengan Rafael yang sedang kalut karena rasa khawatir, atas berita kedatangan Rogelio di Spanyol. Pria tampan tersebut tak memedulikan penolakan serta perlawanan Paloma. Dia terus menyeret wanita muda itu menuju kendaraannya yang terparkir di halaman.


“Lepaskan! Kau akan membawaku ke mana?” Paloma menolak, ketika Rafael memaksanya masuk ke mobil.


“Masuk! Jangan melawan, jika kau tak ingin merasakan kemarahanku!” ancam Rafael penuh penekanan. Dia bersikap sangat kasar kepada Paloma. Terlihat jelas raut kebencian yang ditunjukkan pria itu.

__ADS_1


Beberapa pelayan yang melihat adegan tersebut, hanya terpaku dengan tatapan heran. Tak ada seorang pun dari mereka yang berani membantu Paloma, ketika wanita cantik berambut cokelat tersebut dipaksa masuk ke mobil. Mereka tak ingin mengambil risiko.


__ADS_2