
Rogelio menangkup paras cantik Paloma yang dihiasi sejumlah luka. Setelah sekian tahun berlalu, dia dapat kembali bertemu dengan wanita muda itu. Dipeluknya sang menantu penuh suka cita. “Anakku. Apa yang terjadi padamu? Di mana Rafael?” tanyanya tanpa melepas dekapan erat dari tubuh semampai Paloma.
“Dia ….”
“Rafael yang sudah melakukan ini terhadap Paloma,” sela Sebastian, membuat Rogelio dan Martin terkejut bukan main.
Perlahan, Rogelio melepaskan pelukannya. Dia mengarahkan perhatian pada pria berpostur tegap yang berdiri gagah di dekat Paloma. “Rafael?” Rogelio menautkan alis tak percaya. Pria paruh baya itu terdiam beberapa saat.
“Martin, bawa Paloma menemui Matilda. Lukanya harus segera diobati,” titah Sebastian.
“Baik, Tuan,” sahut Martin. Tanpa berlama-lama, dia mengajak wanita muda itu keluar dari ruang tamu. Tujuan mereka adalah tempat Matilda. Seperti yang dikatakan Sebastian, wakil kepala pelayan tersebut, mengatur segala hal yang berkaitan dengan para pelayan di sana. Termasuk obat-obatan.
“Apa yang terjadi, Paloma? Kenapa Rafael Hernandez melakukan hal seperti ini padamu?” cecar Martin penuh kekhawatiran.
“Karena dia gila,” jawab Paloma singkat. Kebetulan, saat itu mereka sudah tiba di tempat Matilda. Martin juga tak ingin bertanya lebih jauh lagi. Dia sangat mengerti kondisi Paloma yang penuh luka. Mungkin, ada waktunya nanti Paloma akan menceritakan semua yang terjadi pada dirinya.
“Masuklah." Martin membuka pintu ruangan lebar-lebar. Di dalam sana, tampak Matilda yang tengah sibuk menata rak-rak khusus yang berisi perlengkapan pelayan.
“Matilda. Tuan Sebastian memintamu untuk mengobati luka-luka Paloma,” ujar Martin.
Matilda segera menoleh. Dia begitu terkejut melihat keadaan Paloma yang menyedihkan. “Astaga, apa yang terjadi padamu?” Wanita paruh baya itu mendekati Paloma, kemudian menyentuh wajahnya dengan sangat hati-hati.
“Rafael Hernandez pelakunya,” geram Martin yang seketika membuat Matilda terbelalak.
“Jadi, apa yang dikatakan oleh para pelayan tadi adalah benar adanya,” desis Matilda. “Mereka mengatakan bahwa Paloma diseret dan dibawa pergi secara paksa oleh Tuan Hernandez,” jelasnya kemudian.
“Apa? Kurang ajar,” geram Martin lagi. Mendengar penuturan Matilda, dada mandor tampan itu semakin bergemuruh. Entah dari mana datangnya rasa marah itu. Sekuat tenaga, Martin menahan luapan amarah yang hampir tak terbendung, agar tidak sampai dirinya lampiaskan di hadapan kedua wanita tadi. Dia hanya dapat mengepalkan tangan dengan kuat.
Sementara, Sebastian masih berada di ruang tamu bersama Rogelio. “Jadi, Anda adalah ….”
“Rogelio Gallardo. Aku adalah ayah Rafael,” ucap pria paruh baya itu.
__ADS_1
“Rafael Hernandez?” Sebastian menautkan alisnya tak mengerti. “Kenapa nama belakang kalian berbeda?” tanya sang pemilik perkebunan zaitun terluas di Porcuna tersebut.
Rogelio tak segera menjawab. Pria dengan penampilan rapi khas kalangan atas tadi, terlihat kurang nyaman dengan pertanyaan yang diajukan Sebastian.
Sebastian pun memahami hal itu. Mereka tak saling mengenal. Wajar jika pria paruh baya di hadapannya tersebut merasa risi dengan pertanyaan yang terlalu pribadi. “Sebelumnya, perkenalkan. Namaku Sebastian Cruz Castaneda. Aku adalah pemilik tempat ini. Kuucapkan selamat datang, Tuan Gallardo,” sambut Sebastian, sekadar mencairkan suasana canggung antara mereka. Sebastian mempersilakan Rogelio agar kembali duduk.
“Terima kasih, Tuan Castaneda. Aku baru tiba beberapa jam yang lalu dari Chihuahua, Meksiko. Aku sudah mencari Rafael ke Sevilla, tapi ….” Rogelio menggeleng pelan.
“Jadi, Anda sudah bertemu dengan Nyonya Tatiana Vidal?” tanya Sebastian penuh wibawa.
Rogelio mengangguk lesu. Dia merasa kecolongan. Hampir enam tahun berlalu, dirinya tak tinggal diam. Entah berapa detektif swasta yang telah dirinya sewa untuk membantu menemukan keberadaan Rafael dan Paloma. Namun, baru Javier lah yang dapat memberikan hasil secara signifikan. Lalu, saat dirinya berhasil menemukan keberadaan mereka, ternyata sang pemilik perusahaan farmasi terbesar di Chihuahua tersebut harus menghadapi sebuah kenyataan yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya.
“Aku sudah lama menjadi rekan bisnis Nyonya Tatiana Vidal. Setahuku, mereka telah menjadi pasangan suami istri sejak dulu. Aku justru merasa terkejut, ketika Paloma datang kemari dan mengaku sebagai istri putra Anda,” tutur Sebastian tetap terlihat tenang dan penuh kharisma.
“Apakah Paloma masih baru berada di sini?” tanya Rogelio.
“Ya. Belum ada satu bulan dia berada di Casa del Castaneda,” jawab sang penguasa tempat megah itu.
“Aku rasa, mungkin sebaiknya Anda tanyakan sendiri kepada Paloma. Tinggalah di sini untuk menghilangkan rasa lelah Anda. Aku akan menyuruh pelayan agar menyiapkan kamar tamu. Dengan begitu, Anda dapat berbincang secara leluasa bersama Paloma,” saran Sebastian. Dia memberikan penawaran yang baik kepada Rogelio.
Rogelio tak segera memberikan jawaban. Pria asal Meksiko tersebut seperti tengah menimbang-nimbang. “Aku tidak ingin merepotkan Anda, Tuan Castaneda. Aku akan mencari penginapan terdekat dari sini,” tolaknya dengan halus.
Sebastian tersenyum hangat. Duda tiga puluh tujuh tahun tersebut menggosok-gosokkan kedua telapak tangan. Setelah itu, Sebastian menautkan jemari dengan hiasan cincin mahal. Dia juga masih memakai cincin kawin hingga saat ini. “Kenapa harus merasa sungkan, Tuan Gallardo? Aku pernah mendengar nama besar Anda sebagai pemilik Perusahaan Estrella Pharmacies. Namun, aku tak pernah menyangka bahwa Anda merupakan ayah dari Rafael Hernandez.”
Mendengar nama sang anak kembali disebut, Rogelio tampak gusar. Wajah lelah yang sedari tadi dia tutupi, justru terlihat semakin jelas. Rogelio berkali-kali mengembuskan napas panjang. “Dia bukan anak kandungku!” ungkapnya kesal.
“Apa?” Sebastian mencondongkan tubuh, untuk memperjelas kalimat Rogelio yang sempat dia dengar tadi.
“Aku ….” Rogelio tampak ragu-ragu. “Rafael adalah putra dari sahabatku. Ketika dia masih bayi, kedua orang tuanya mengalami kecelakaan sampai meninggal dunia. Mereka tak memiliki sanak saudara, sehingga aku berinisiatif untuk merawat Rafael. Namun, ternyata begini cara anak itu membalas semuanya.”
“Jadi … Tuan Rafael Hernandez adalah ….”
__ADS_1
“Dia hanyalah seorang anak asuh tak tahu diri,” umpat Rogelio. Pria paruh baya itu kemudian terdiam dan menunduk dalam-dalam.
“Tenangkan dulu diri Anda, Tuan,” saran Sebastian. “Sebaiknya, beristirahatlah di sini. Dengan begitu, Anda juga bisa berada lebih dekat dengan menantu Anda,” bujuknya.
Mendengar hal itu, Rogelio langsung mengangkat wajah. “Apakah Paloma juga tinggal di sini?” tanyanya antusias.
“Ya, Tuan. Dia … tinggal di sini,” jawab Sebastian ragu.
“Jangan katakan jika kalian ….” Rogelio membelalakkan mata, seolah tak terima.
“Oh, tidak. Anda jangan salah paham dulu,” potong Sebastian. “Dia tinggal di sini dan bekerja sebagai pelayan,” lanjutnya.
“Pelayan?” ulang Rogelio seraya memicingkan mata. Sesaat kemudian, dia mengempaskan punggungnya ke sandaran kursi. “Kasihan sekali anak itu. Seumur hidupnya, Paloma selalu ditimpa kemalangan.”
Selesai berkata demikian, Rogelio memijit pelipisnya.
“Ini semua salahku. Dulu, aku yang memaksa agar Paloma menikah dengan Rafael. Kupikir, Rafael adalah pria yang baik dan sanggup menjaga Paloma. Akan tetapi, dia malah menyia-nyiakan dan menyiksa gadis itu.” Rogelio menggelengkan kepala pelan.
"Tak apa, Tuan. Segala hal yang terjadi dalam hidup, merupakan kehendak Tuhan. Kita hanya bisa berusaha untuk melakukan yang terbaik," ujar Sebastian bijak. "Jika Anda mau, besok kita bisa berjalan-jalan keliling perkebunan zaitun milikku. Kebetulan, masa panen akan segera tiba," tawar pria itu lagi.
"Oh, itu sangat menarik. Tentu saja aku mau, Tuan Castaneda," balas Rogelio.
"Suatu kehormatan bagiku bisa menjamu Anda di sini," ujar Sebastian lagi.
"Aku pun merasa tersanjung, Tuan Castaneda. Walaupun, sebenarnya tidak enak karena telah merepotkan Anda," balas Rogelio sungkan.
"Jangan khawatir, Tuan Gallardo. Nikmatilah waktu Anda selama berada di sini," ucap Sebastian lagi. Dia menoleh ke arah pintu masuk ruang tamu, ketika Paloma muncul di sana. Luka pada wajah wanita muda itu sudah selesai diobati.
Paloma segera duduk di sebelah Rogelio. "Apa kabar, Ayah?" sapanya lembut. Tak terlihat sisi pembangkang dalam diri wanita bermata hazel tersebut, saat sedang berhadapan dengan Rogelio.
"Aku sangat bahagia karena bisa bertemu denganmu, Nak. Ikutlah denganku ke Meksiko," ajak Rogelio tanpa basa-basi.
__ADS_1