Casa Del Castaneda

Casa Del Castaneda
Mukjizat


__ADS_3

“Anda siapa?” Sebastian membalikkan tubuh tegapnya, sehingga jadi menghadap pada pria yang menyapanya tadi. Sang tuan tanah ribuan hektar itu memusatkan perhatian sepenuhnya, pada pria muda yang berjalan mendekat.


“Perkrnalkan. Namaku Jose Alvaro Cardenas. Aku adalah kuasa hukum Tuan Rafael Hernandez yang sekarang tengah terbaring koma,” jawab pengacara Cardenas. Nada bicaranya terdengar tenang dan ramah. Senyuman hangat penuh kekeluargaan pun terlihat dari paras tampan khas pria Spanyol itu.


“Apa yang bisa kulakukan untuk Anda?” tanya Sebastian. Dia masih terlihat tenang dan begitu berwibawa.


“Nyonya Paloma memberitahuku bahwa Anda adalah salah satu dari dua orang yang mengetahui kedatangan Tuan Rafael ke Spanyol,” jawab pengacara yang disewa Rafael tadi.


“Lantas kenapa?” Sebastian mengangkat sebelah alisnya.


“Tuan Rafael disergap di depan hotel tempatnya menginap. Siapa yang mengetahui informasi bahwa klienku menginap di sana?” Pengacara Cardenas melontarkan pertanyaan penuh kecurigaan pada Sebastian.


“Mana kutahu?" jawab Sebastian enteng. "Aku bukan pengangguran yang memiliki banyak waktu, hanya untuk mencari tahu di mana Rafael menginap,” sahut Sebastian terdengar sangat meyakinkan.


“Apakah Anda mempunyai bukti tentang pernyataan barusan?” tanya Pengacara Cardenas lagi.


“Apakah Anda juga sudah memilki bukti atas kecurigaan yang dialamatkan padaku?” balas Sebastian, seraya menyunggingkan senyuman kalem. "Lagi pula, tak etis rasanya membahas hal itu di sini. Anda merupakan seseorang yang mengerti hukum. Seharusnya, Anda jauh lebih memahami dibandingkan diriku."


Pengacara Cardrnas tertawa, lalu menggeleng pelan. “Polisi sedang berkumpul di lobi dan berbincang dengan Tuan Rogelio. Kuharap, Anda bersedia untuk bergabung,” ajaknya.


“Tentu,” balas Sebastian tanpa ragu. Dia meraih tangan Paloma, lalu membawa kekasihnya mengikuti langkah pengacara muda itu menuju lobi rumah sakit. Di sana, terlihat beberapa pria berseragam polisi dan Rogelio yang tengah terlibat percakapan serius. Mereka menjeda perbincangan, saat Pengacara Cardenas dan Sebastian datang.


Sementara, Paloma langsung melepas tangannya dari genggaman Sebastian, ketika Rogelio melihat adegan itu.


“Bagaimana, Tuan-tuan?” sapa Pengacara Cardenas.


“Aku menjelaskan pada para polisi, bahwa kedatangan Rafael kemari untuk menyelesaikan urusannya bersama Tatiana Vidal,” jawab Rogelio.


“Kami akan memanggil Nyonya Vidal secepatnya,” timpal salah seorang polisi.


“Lalu, bagaimana dengan Tuan Sebastian?” tanya Pengacara Cardenas, ketika beberapa polisi tadi hendak berlalu.

__ADS_1


“Oh, ya. Tentang hal itu ….” Salah seorang polisi dengan pangkat tertinggi, menghentikan langkah lalu berbalik menghadap Sebastian. “Anda Tuan Castaneda dari Porcuna. Benar, kan?” tanyanya memastikan.


“Ya, benar,” jawab Sebastian seraya menjabat polisi tadi dengan penuh wibawa.


“Kami meminta izin untuk mengakses panggilan telepon masuk dan keluar dari nomor Anda,” ucap polisi itu setelah melepaskan jabat tangannya.


“Tentu. Apapun yang pihak kepolisian inginkan, aku tidak akan menghalangi. Kupastikan bahwa diriku tidak terlibat,” tegas Sebastian.


“Terima kasih atas kerja samanya, Tuan Castaneda. Semoga hari Anda menyenangkan." Polisi tadi mengangguk sopan, kemudian berlalu.


“Sebenarnya, apa maumu, Tuan Castaneda?” Rogelio menepuk pundak Sebastian sedikit keras, agar pria itu berbalik ke arahnya.


“Aku hanya ingin melihat keadaan Paloma,” jawab Sebastian singkat.


“Berapa kali harus kukatakan bahwa Paloma akan tetap menjadi istri Rafael, kecuali jika kau mengharapkan Rafael mati,” geram Rogelio. Dia berjalan semakin mendekat, hingga hanya tersisa jarak beberapa inchi saja antara wajah pria paruh baya itu dengan Sebastian.


“Jaga bicara Anda, Tuan Gallardo!” Nada bicara Sebastian meninggi. “Meskipun Anda ayah kandung Paloma, tapi Anda tidak bisa ….”


“Jika kau tak menghargai Rafael karena dia pernah hampir menembakku dulu, lalu apa bedanya kau dengan dirinya sekarang? Kau tak memedulikan apakah dia akan mati atau hidup. Semurah itukah nyawa manusia?” ujar Paloma kecewa. Dia begitu menggebu mengungkapkan segala perasaannya.


“Tanyakan itu padanya ketika sadar nanti,” sahut Sebastian dingin. “Bukan aku yang berniat membunuh seseorang, tanpa memikirkan bahwa seseorang itu hanyalah wanita yang lemah. Menurutku, pria seperti itu tak pantas untuk mendapatkan wanita sebaik dirimu, Paloma.”


Wajah Rogelio merah padam mendengar kata-kata sindiran dari Sebastian. Dia hendak menanggapi kalimat menohok itu dengan sesuatu yang lebih menyakitkan. Akan tetapi, sebelum hal itu terjadi, terdengar suara pengumuman dari speaker rumah sakit yang menyebutkan nama Rafael Hernandez.


Spontan Paloma berlari menuju ke ruang perawatan Rafael, diikuti oleh Rogelio dan Sebastian.


Di depan ruang perawatan, telah berdiri beberapa orang dokter dan perawat, seolah hendak menyambut kehadiran Paloma serta ayahnya. “Keluarga Tuan Hernandez?” tanya salah seorang dokter.


“Aku istrinya,” sahut Paloma maju paling depan.


Sementara, Sebastian segera menunjukkan raut keberatan saat Paloma menyebut dirinya sebagai istri Rafael.

__ADS_1


“Suami Anda telah siuman. Ini merupakan suatu keajaiban,” ujar dokter itu antusias.


“Benarkah?” Rogelio terbelalak. Dia merangsek maju. Rogelio berniat untuk menerobos barisan para petugas medis di hadapannya, agar dapat masuk ke ruangan.


“Masuk bergiliran, Tuan,” cegah seorang perawat. “Biarlah nyonya ini yang masuk terlebih dulu,” sambungnya.


Rogelio tak memiliki kuasa untuk menolak. Dia terpaksa mengangguk dan menurut. Rogelio kemudian mengambil tempat duduk di bangku panjang kursi tunggu, tak jauh dari ruang perawatan Rafael.


Sementara, Sebastian masih terus berdiri di tempatnya, memperhatikan Paloma yang masuk ke ruang perawatan Rafael dengan didampingi oleh para dokter. Dua orang perawat kemudian menutup pintu ruangan rapat-rapat, membuat Sebastian tak dapat melihat sosok sang kekasih.


“Sialan!" gerutunya pelan. Dia memutuskan menghampiri Rogelio, lalu duduk di samping ayahanda Paloma tersebut.


Di dalam kamar yang penuh dengan alat medis, Paloma berjalan ragu mendekati tepian ranjang. Hatinya teriris, melihat kondisi Rafael yang dibebat kain perban dari ujung kepala, hingga lengan dan kaki. Pria itu lebih pantas disamakan dengan mumi. Belum lagi selang-selang kecil yang entah apa kegunaannya, menempel di sekujur tubuh Rafael.


Paloma memberanikan diri untuk setengah membungkuk, ketika melihat bibir Rafael bergerak lemah seakan memanggil dirinya. “Apa kau mencariku, Rafael?” bisik Paloma pelan.


“Ma-af,” ucap Rafael pelan, nyaris tak terdengar.


“Maaf untuk apa?” tanya wanita cantik itu dengan tatapan iba.


Rafael tak menjawab. Dia hanya mengedipkan matanya lemah, lalu terpejam.


Paloma terkesiap, lalu menoleh pada para dokter yang turut memperhatikan gerak-gerik Rafael. “Apa yang terjadi? Apa dia tak sadarkan diri lagi?” tanyanya.


“Jangan khawatir. Itu merupakan efek samping dari obat anestesi,” tutur sang dokter menjelaskan.


“Pengaruh obat biusnya masih terlalu tinggi,” timpal dokter lainnya. “Namun, semua tanda-tanda vitalnya normal dan stabil. Suami Anda akan segera pulih,” imbuhnya.


“Seperti yang kita ketahui bersama, suami Anda terjatuh ke dalam jurang dengan kedalaman belasan meter. Dalam keadaan normal, kondisi seperti itu tidak akan bisa membuat siapa pun bertahan. Namun,, suami Anda berhasil selamat, meskipun terdapat luka yang cukup serius di kepala, lengan, dan kakinya,” terang dokter yang lain.


“Ini adalah mukjizat, Nyonya,” ucap sang dokter. “Jika melihat keadaannya, kami yakin suami Anda akan sembuh. Namun, akan membutuhkan waktu yang lama untuk proses pemulihan. Kami harap, Anda bisa bersabar mendampingi Tuan Hernandez saat melalui proses yang berat itu,” pungkasnya.

__ADS_1


__ADS_2