
Sudah hampir dua minggu, Paloma dirawat di rumah sakit Kota Granada. Selama itu pula, Theresa selalu menemani ibunda Luz Maria tersebut.
Sementara, Luz Maria bersama sang pengasuh bernama Kalida. Mereka menempati sebuah rumah yang sengaja disewa Rogelio. Letaknya pun tidak terlalu jauh dari rumah sakit, sehingga Rogelio bisa pulang pergi dengan mudah. Pria paruh baya tersebut begitu telaten. Dia menunjukkan tanggung jawabnya, sebagai seorang ayah serta kakek yang baik.
Biasanya, Rogelio datang di sore hari untuk menggantikan Theresa. Namun, ada yang berbeda dengan hari itu. Pria paruh baya tersebut mengatakan, bahwa Luz Maria tak ingin ditinggalkan. Alhasil, Theresa lah yang menunggui Paloma hingga keesokan harinya.
Untungnya, karena Alonzo teramat pengertian. Pria itu bahkan datang menjenguk Paloma hampir setiap hari, sebelum dirinya pergi berjualan.
“Terima kasih, Bibi. Aku merepotkanmu lagi kali ini,” ucap Paloma tak enak. Dia baru selesai berganti pakaian. Theresa bahkan sudah menyuapi Paloma. Setelah dua minggu menjalani masa perawatan, Paloma sudah bisa berkomunikasi, meski di tubuhnya masih terpasang beberapa alat medis. Terlebih, karena dia sempat koma selama sebelas hari.
“Sudahlah, Nak.” Theresa duduk di tepian ranjang. “Kau adalah putri yang tak pernah kumiliki. Aku bahagia karena bisa melewati kebersamaan seperti ini lagi denganmu, setelah sekian tahun berlalu. Walaupun, aku tak menyukai segala hal yang telah terjadi.” Theresa menyentuh wajah cantik Paloma. Dia menyeka air mata, yang mulai membanjiri pipi wanita berambut cokelat itu.
“Aku kehilangan lagi, Bibi,” isak Paloma. “Tuhan kembali mengambil seseorang yang kucintai.” Isakan pelan tadi, lama-kelamaan berubah menjadi rintihan memilukan. Paloma menangis entah untuk yang keberapa kalinya. Seberapapun dia menguatkan diri, tetapi rasa sakit itu tak dapat ditepiskan dengan mudah.
Paloma sudah terbiasa dengan kehadiran Rafael. Entah akan seperti apa dirinya kali ini. Jika dulu Rafael pergi tanpa pamit, Paloma masih dapat mencari hingga menemukannya. Akan tetapi, lain dengan sekarang. Dia tak akan dapat menemukan sosok Rafael lagi, meski dirinya mencari hingga ke dasar samudera terdalam sekalipun.
“Tabahkan hatimu, Nak. Ini pasti terasa berat. Namun, yakinlah bahwa Tuhan tengah mempersiapkan rencana yang jauh lebih indah. Aku yakin. Suatu saat nanti, kau akan mendapatkan kebahagiaan sesungguhnya.”
Theresa kembali menyeka air mata yang mengalir deras, membasahi wajah cantik Paloma. “Sudah, jangan menangis lagi,” bisik wanita paruh baya tersebut, setelah terdengar suara ketukan di pintu. Theresa segera berjalan ke dekat pintu itu, lalu membuka dengan tidak terlalu lebar.
“Selamat siang,” sapa seorang pria. “Aku ingin melihat keadaan Paloma,” ucap pria itu lagi.
__ADS_1
Theresa terdiam sejenak. Dia memperhatikan pria asing di hadapannya dari ujung rambut hingga ujung kaki. “Anda siapa?” tanya wanita bertubuh agak gemuk itu.
Si pria tak segera menjawab. Sorot matanya menyiratkan keraguan. Dia lalu melihat seikat bunga mawar merah yang dibawanya.
Theresa menoleh ke dalam, pada Paloma yang sedang terbaring menatap ke luar jendela. “Sebentar, Tuan,” ucapnya setelah kembali mengalihkan perhatian kepada pria yang masih berdiri tegak, di depan pintu ruang perawatan.
“Paloma, ada yang ingin bertemu denganmu,” ucap Theresa meminta izin terlebih dulu.
“Siapa, Bibi?” tanya Paloma lesu.
“Aku,” jawab si pria yang langsung masuk.
“Bagaimana keadaanmu sekarang, Paloma?” tanya Sebastian dengan tatapan terus tertuju pada wanita cantik, yang terbaring menyedihkan di ranjang perawatan rumah sakit.
“Apa kau melihatku baik-baik saja?” Paloma balik bertanya dengan nada bicara ketus dan seakan menyindir.
“Sebaiknya, aku permisi dulu,” sela Theresa. “Aku ada di luar jika kau membutuhkan sesuatu,” pesannya kepada Paloma yang menanggapi dengan anggukan lemah. Theresa tersenyum ramah kepada Sebastian, meskipun dia tak mengenalnya. Wanita paruh baya tersebut lalu keluar kamar perawatan, meninggalkan Paloma berdua saja dengan tamunya.
“Kubawakan bunga ini untukmu,” ucap Sebastian seraya melangkah ke dekat ranjang. Dia meletakkan bunga yang dibawanya di meja sebelah tempat tidur. “Aku mendengar kabar kecelakaan yang menimpamu beberapa hari yang lalu. Aku juga turut berduka cita atas kepergian Rafael,” ucap Sebastian melayangkan tatapan iba kepada Paloma.
Wajah cantik ibunda Luz Maria tersebut dipenuhi luka. Kepala wanita itu dibebat perban. Di dekat mata terdapat memar cukup jelas, yang diakibatkan karena benturan keras. Begitu juga sudut bibirnya.
__ADS_1
"Kau pasti kesakitan," ucap Sebastian lembut. Dia duduk di tepian ranjang, dengan tubuh menghadap kepada Paloma. "Semua akan segera membaik," ucap pria itu lagi pelan.
"Aku tidak membutuhkan simpatimu, Tuan Castaneda. Mau apa kau kemari? Bukankah kau tak ingin melihat wajahku dan Rafael untuk selamanya?" Nada bicara Paloma begitu sinis kepada Sebastian. Kebencian terpancar jelas dari sorot matanya yang tajam.
"Apa kau puas, Sebastian?" tanya Paloma dingin. "Kau tak akan melihat wajah Rafael lagi. Namun, sayang sekali karena kau masih dapat melihat wajahku. Mungkin, setelah ini justru kau akan semakin sering melihatku." Paloma berkata dengan penuh penekanan. Tersirat makna lain dalam ucapannya tadi.
"Aku senang bisa lebih sering melihatmu," jawab Sebastian, "tapi, aku tidak mengerti dengan maksud dari kata-kata yang kau ucapkan tadi." Sebastian kembali berdiri dari duduknya. Namun, tatapan pria itu masih tertuju kepada Paloma. Heran dan penasaran bercampur menjadi satu.
"Kau tidak mengerti atau memang sengaja berpura-pura bodoh, Tuan Sebastian Cruz Castaneda?" Nada bicara Paloma masih belum berubah. Tetap sinis bagaikan terhadap musuh.
"Tidak, Paloma." Sebastian menggeleng kencang. "Apa kau berpikir bahwa aku ...."
"Kau memang seorang penjahat!" teriak Paloma. Tiba-tiba, dia bersikap histeris. "Kau seribu kali lebih biadab, jika dibandingkan dengan Rafael!" Paloma kembali berteriak. Wanita itu melampiaskan segala kemarahannya.
"Ucapanmu tidak beralasan," bantah Sebastian. Dia berusaha tak terpancing atas sikap dan kata-kata kasar Paloma.
"Tak perlu ada alasan yang harus kujabarkan di hadapanmu! Semua sudah jelas! Kau dengan sengaja mengundang kami ke Casa del Castaneda ...."
"Sudah kukatakan bahwa aku tak pernah mengundang Rafael." Sebastian kembali membantah tudingan yang dialamatkan Paloma terhadapnya.
"Silakan saja keluarkan segala alasanmu, Tuan Sebastian Cruz Castaneda! Satu yang pasti adalah, Tuhan tetap membiarkanku hidup agar kau bisa terus melihat wajahku. Ya! Kau akan lebih sering melihatnya, karena aku bersumpah untuk menuntut balas padamu!" tegas Paloma.
__ADS_1