Casa Del Castaneda

Casa Del Castaneda
Halterneck Dress


__ADS_3

Keesokan harinya.


Seperti permintaan Rafael semalam, Paloma menyetujui untuk pergi ke Granada. Lagi pula, dia sangat merindukan Theresa dan Alonzo, yang sangat berjasa dalam hidupnya selama beberapa tahun ke belakang. Suami istri tersebut begitu baik dan memperlakukan Paloma layaknya anak sendiri.


“Astaga, Anakku. Aku sangat merindukanmu.” Theresa tak henti-henti memeluk Paloma sambil berurai air mata.


“Aku juga sangat merindukanmu, Bibi. Sayang sekali, karena Paman Alonzo tidak ada di rumah,” balas Paloma seraya menyeka air mata yang membasahi pipi. Dia lalu mengarahkan perhatiannya kepada Rafael yang hanya terdiam memperhatikan kedua wanita lintas usia tadi.


Tanpa harus diperintah, Rafael mendekat ke hadapan Theresa. Dia menurunkan tubuhnya di hadapan wanita paruh baya bertubuh subur itu. “Bibi, kuharap kau tak lupa padaku,” ucap Rafael diiringi senyuman. Dia mengesampingkan segala rasa malu yang menggelayutinya.


“Anak bodoh!” Theresa menepuk pelan pipi Rafael. “Kau sangat keterlaluan! Aku ingin sekali menjewer telingamu hingga putus!” Theresa terdengar begitu gemas, atas tindakan yang dilakukan Rafael terhadap Paloma. “Ke mana saja kau selama ini. Jika aku menjadi Paloma, maka aku pasti akan memukul kepalamu dengan wajan hingga berkali-kali,” ujar Theresa lagi.


Namun, segala ucapan wanita paruh baya itu hanya ditanggapi dengan senyuman oleh Rafael. Bagaimanapun juga, dia pernah mengenal sosok Theresa dan Alonzo selama beberapa waktu. Rafael tahu seperti apa karakter wanita paruh baya tersebut. “Rupanya, Bibi sangat merindukanku,” kelakar pria bermata abu-abu itu, membuat Theresa kembali menepuk pipinya dengan jauh keras. Namun, hal itu lagi-lagi membuat Rafael kembali tersenyum kalem.


Setelah melepas rindu dengan Theresa, Paloma mengajak Rafael mengunjungi makam Nilo. Kondisi pusara anak itu terawat dengan baik, karena Theresa sering berkunjung ke sana. Kebetulan, jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat tinggal wanita paruh baya tersebut.


“Diego Nilo,” ucap Rafael menyebutkan nama yang tertera pada nisan makam di hadapannya. “Apa dia sakit?” tanyanya tanpa menoleh kepada Paloma, yang berdiri mematung sambil menatap nanar gundukan tanah di mana jasad putra semata wayangnya terbaring kaku.


“Nilo mengalami kelainan jantung dari semenjak dia dilahirkan,” jawab Paloma. Setitik air mata menetes di sudut bibirnya. “Aku bahkan sempat berpikir jika dia tidak akan sanggup bertahan. Namun, Tuhan memberikannya kesempatan untuk menemaniku. Dia mungkin tahu bahwa kau akan pergi,” tutur wanita seraya menyeka sudut matanya.


“Setiap hari, aku harus bekerja keras. Melakukan apapun hanya demi mengumpulkan uang. Nilo harus terus menjalani pengobatan. Aku bahkan tak memikirkan apa-apa lagi. Tak ingin bersolek dan memperhatikan penampilan. Tak ada waktu sama sekali untuk hal itu. Setiap saat, yang ada dalam otakku hanyalah bagaimana caranya mendapatkan uang. Namun, kenyataan tetap tak berpihak sepenuhnya padaku. Padahal, aku sudah melakukan segala cara. Walaupun memang tidak maksimal.” Paloma menundukkan wajah, menyembunyikan rasa haru yang tak dapat dirinya bendung.


“Aku bahkan tak ada di sana, ketika mereka melepas semua alat medis dan menutupi tubuh putraku dengan kain putih ….” Paloma terisak pelan. Dia tak mampu melanjutkan kata-katanya. Kembali terbayang dalam ingatan wanita dua puluh lima tahun tersebut, sosok Nilo yang ceria meskipun dalam kondisi tidak sehat.


Nilo, kerap menemaninya saat melepas penat di malam hari. Dia tak akan tidur sebelum sang ibu pulang ke rumah. Anak itu sudah terbiasa tidur dalam pelukan Paloma. “Jika aku sembuh, aku yang akan bekerja. Ibu ingin kubelikan apa?” Kata-kata itu yang selalu Nilo ucapkan setiap malam, sebelum dirinya terlelap.

__ADS_1


Rafael terdiam membeku. Pantaskah jika dia menyalahkan Tuhan, karena telah menutup mata hatinya dengan dendam dan kebencian yang salah sasaran? Penyesalan terbesar sekalipun, tak akan pernah dapat mengembalikan keadaan. Rafael yang seharusnya bertanggung jawab atas kesehatan Nilo, justru melepaskan diri dari hal itu. Dia melimpahkan semuanya pada tangan lemah seorang Paloma, untuk berjuang seorang diri.


“Maafkan aku, Paloma,” sesal Rafael. Pria itu membalikkan posisi badan. Dia yang tadinya menghadap ke makam Nilo, kali ini sudah bersimpuh sambil memeluk kaki Paloma. Rafael menangis, berusaha membasuh segala dosa dan kesalahannya dengan linangan air mata penyesalan terdalam. “Maaf untuk segala hal buruk yang telah kulakukan padamu dan Nilo,” ucapnya lagi. Jika perlu, dia mungkin akan mengiba agar Paloma sudi memberikan pengampunan padanya.


“Kenapa kau harus meminta maaf padaku? Semuanya tak akan bisa dikembalikan. Nilo-ku telah tiada. Aku juga tak bisa menyalahkan siapa pun. Ini semua kehendak Tuhan,” ucap Paloma lirih. Paloma meraih tubuh tegap Rafael. Dia membantunya bangkit. “Aku membencimu, Rafael Hernandez. Kau telah menimbulkan banyak sekali penderitaan dalam hidupku. Karena dirimu juga, aku harus berada di Casa del Castaneda. Menjalani hari-hari di antara orang-orang asing yang memandangku dengan tatapan aneh.” Air mata Paloma kembali mengalir deras.


Begitu juga dengan Rafael. Pria itu menangis, benar-benar menumpahkan kepedihannya atas nama penyesalan yang tak berujung. Entah harus dengan cara apa, untuk menebus segala kesalahan itu. “Apa yang harus kulakukan saat ini? Katakan, Paloma. Jika kau ingin melihatku mati saat ini juga, maka biarkan Tuhan mengambil nyawaku dengan cara yang mengenaskan. Aku tak akan menyesalinya,” racau Rafael tak menentu. Dia terlihat sangat kacau.


“Apa-apaan kau ini? Aku bukan Tuhan yang layak mengampuni atau menghakimi kesalahan seseorang. Aku tak bisa menilai seberapa besar dosa-dosamu. Aku juga bukan manusia yang sempurna.”


“Aku jauh lebih bejat dari yang terlihat. Kau benar saat menyebutku sebagai manusia berhati iblis. Itulah aku.” Rafael memandang wanita di hadapannya dengan tatapan sayu. Matanya sudah memerah karena menangis. Namun, pria itu mengesampingkan segala ego dan harga diri sebagai seorang pria. Dia tak peduli lagi, meskipun akan terlihat lemah dan menyedihkan di hadapan Paloma.


Setelah dari makam Nilo, mereka memutuskan kembali ke Porcuna. Hampir setengah perjalanan, keduanya lalui tanpa ada perbincangan apapun. Rafael fokus mengemudi, meskipun pikiran pria itu sebenarnya tengah melanglang buana entah ke mana. Sementara, Paloma pun demikian. Semangat dalam hidupnya selalu terserap habis, setiap kali teringat akan kegagalannya dalam menyelamatkan nyawa Nilo. Padahal, selama ini dia telah berjuang mati-matian demi anak itu.


Lamunan Paloma buyar seketika, saat ponselnya berdering dengan tidak terlalu nyaring. Dia segera merogoh ke dalam tas untuk mengambil telepon genggamnya. Saat diperiksa, ternyata itu merupakan panggilan masuk dari Sebastian. Paloma mengempaskan napas pelan. Dia belum memberikan jawaban atas undangan makan malam dari duda tampan tersebut.


“Paloma? Apa kau sangat sibuk sampai-sampai tak sempat membalas pesanku?” tanya Sebastian tanpa berbasa-basi terlebih dulu.


“Maafkan aku, Tuan Castaneda. Semalam, aku sangat lelah dan ….”


“Jadi, bagaimana?” sela Sebastian.


“Ya. Aku akan datang memenuhi undangan anda,” jawab Paloma berusaha terdengar meyakinkan, meskipun dia merasa sedikit ragu dengan keputusannya yang menerima undangan tersebut.


“Baiklah. Sampai bertemu pukul tujuh malam ini,” tutup Sebastian. Dia mengakhiri perbincangan singkat itu tanpa ada basa-basi lain.

__ADS_1


Paloma mengembuskan napas pelan.Telepon genggam mahalnya masih dia pegang dan sesekali dirinya mainkan di atas pangkuan. Sementara, tatap mata wanita cantik berambut sebahu tersebut menerawang ke depan, pada jalanan yang mereka lalui.


“Ada apa? Apa yang pria itu inginkan?” tanya Rafael menoleh sesaat kepada Paloma.


“Dia mengundangku makan malam di Casa del Castaneda,” jawab Paloma.


“Mengundangmu?” ulang Rafael seakan hendak meyakinkan apa yang dia dengar.


“Ya. Tuan Sebastian Cruz Castaneda hanya mengundangku,” jawab Paloma lagi seraya mengalihkan pandangan ke samping. Paloma melihat beberapa orang yang berjalan di trotoar. Sesuatu yang tampak sangat biasa. Tak ada hal yang menarik dalam perjalanannya kali ini. Rafael pun tak menanggapi lagi. Mereka kembali saling membisu, hingga memasuki wilayah Porcuna.


Sekitar pukul enam belas tiga puluh, mereka tiba di hotel. Paloma beristirahat sejenak, sebelum kembali bersiap-siap. Dia berdiri sambil berkacak pinggang, menghadapi koper berisi pakaian yang dirinya bawa dari Meksiko.


“Kenapa?” tanya Rafael yang baru masuk ke kamar sambil membawa dua cup kopi dengan label ternama.


“Aku tidak tahu harus memakai baju apa malam ini. Tak ada rencana untuk menghadiri undangan makan malam. Lagi pula, aku memang tak memiliki gaun apapun,” jawab Paloma seraya berdecak pelan.


Rafael meletakkan kopi yang dia bawa. Pria itu lalu berjalan mendekati Paloma. “Seberapa istimewanya undangan makan malam ini?” tanyanya.


Paloma tak langsung menjawab. Dia menoleh kepada Rafael untuk beberapa saat, sebelum kembali mengarahkan pandangan pada tumpukan pakaian di dalam koper. “Tidak ada yang istimewa. Aku hanya ingin berpenampilan pantas,” ucap Paloma pelan seraya melepas handuk yang menutupi kepalanya. Dia mengeringkan rambut menggunakan handuk tersebut.


Rafael tersenyum simpul mendengar jawaban wanita yang akan segera dirinya ceraikan tersebut. Dia meraih dompet dan kunci mobil, lalu beranjak keluar kamar. Rafael berjalan menyusuri koridor. Entah akan pergi ke mana pria itu. Dia menjalankan mobil yang disewanya melintasi jalanan Kota Porcuna, hingga tiba di depan sebuah butik.


Rafael berjalan masuk, setelah sebelumnya memarkirkan mobil dengan baik. Kedatangannya di butik itu, segera disambut oleh seorang wanita yang merupakan karyawan di sana. Rafael mengemukakan niatnya yang sedang mencari gaun malam untuk sang istri.


Dengan senang hati, wanita muda tadi memberikan beberapa rekomendasi. Pilihan Rafael jatuh pada halterneck dress berwarna merah, dengan tinggi selutut. “Ini gaun yang sangat cantik,” ucap Rafael seraya berjalan mengikuti wanita itu menuju kasir. Dia sudah bersiap membayar. Rafael menyodorkan beberapa kartu kepada petugas kasir. Namun, semua kartu kreditnya dalam keadaan diblokir. Dengan terpaksa, Rafael membayar gaun tadi menggunakan uang tunai.

__ADS_1


Setelah menyelesaikan transaksi, pria itu bergegas kembali ke hotel. Dilihatnya Paloma sedang bersiap-siap. “Ini untukmu. Pakailah,” ucap Rafael, seraya menyodorkan gaun yang baru dia beli.


__ADS_2