Casa Del Castaneda

Casa Del Castaneda
Tubuh di Dalam Karung


__ADS_3

Rogelio bergegas menuju ke kamar Paloma, setelah selesai berkomunikasi dengan Pengacara Cardenas. Pikiran pria paruh baya tersebut sudah tak karuan, saat kembali teringat akan ucapan pengacara itu yang mengatakan bahwa Rafael telah menghilang dan ada kemungkinan diculik.


Bagaimanapun juga, kasih sayang Rogelio kepada anak angkatnya tersebut sangat besar, terlepas dari segala sikap buruk yang telah Rafael lakukan terhadap Paloma.


Dengan ketukan yang cukup kencang, Rogelio telah berhasil membuat Paloma kembali membuka pintu kamarnya. Wanita muda itu tertegun seraya memasang ekspresi keheranan, saat melihat ayah mertua yang ternyata merupakan ayah kandungnya itu datang lagi ke sana. Terlebih, raut wajah Rogelio juga terlihat aneh dan mencurigakan.


Paloma yang tadinya ingin membatasi komunikasi dengan Rogelio, ternyata tak dapat melakukan hal itu. Dia tak bisa mengabaikan satu sisi hatinya, yang telah mengenal baik sosok pria paruh baya tersebut.


“Ada apa lagi, Ayah?” tanya Paloma penasaran.


“Rafael, Nak,” jawab Rogelio lesu.


“Ada apa dengan Rafael?” tanya Paloma menautkan alisnya.


“Dia … aku baru mendapat telepon dari pengacara yang disewanya di Spanyol. Pengacara itu mengatakan bahwa Rafael menghilang tanpa kabar. Rekaman pengawas hotel yang ditempatinya, memperlihatkan dia dibawa oleh beberapa orang. Entah ke mana mereka membawa Rafael? Apa yang harus kita lakukan?” Rogelio mengembuskan napas panjang yang diakhiri keluhan pelan.


“Rafael menghilang? Dia diculik?” Paloma mengernyitkan kening, "tapi, kenapa?" pikirnya.


“Itu kemungkinan terbesarnya, Nak,” ucap Rogelio. “Aku tidak memiliki kenalan di Spanyol ….” Rogelio terdiam seraya menatap Paloma.

__ADS_1


“Sebastian,” sela Paloma, “mungkin dia bisa membantu mencari informasi.” Akan tetapi, Paloma langsung terdiam setelah berkata demikian. Dia tampak memikirkan kembali ucapannya. Paloma tahu, bahwa itu bukanlah ide bagus. “Lupakan,” ucapnya kemudian.


Rogelio tak menanggapi. Sepertinya, dia memang tak berniat untuk meminta bantuan kepada Sebastian. Apalagi, setelah mengatakan bahwa dirinya tak memiliki kenalan di Spanyol. Itu berarti bahwa Rogelio memang sudah tak menganggap duda kaya raya itu lagi. “Aku akan menyuruh Enrique untuk menyiapkan tiket ke Spanyol. Biar kuurus sendiri masalah ini,” ucap pria paruh baya tersebut yakin. “Apa kau ingin ikut denganku?” tawarnya.


Paloma tak segera menjawab. Dia tampak berpikir sejenak. Sesaat kemudian, wanita muda itu tampaknya sudah mendapat keputusan. Paloma mengangguk. “Aku ikut, Ayah,” ucapnya.


“Baiklah. Persiapkan dirimu untuk keberangkatan ke sana.” Seusai berkata demikian, Rogelio membalikkan badan. Dia berlalu dari hadapan Paloma yang masih terpaku di ambang pintu.


Paloma menutup pintu. Dia kembali ke tempat tidur, lalu duduk di tepiannya. Pikiran wanita dua puluh lima tahun tersebut, melayang pada sosok Rafael yang menghilang. “Kau di mana, Rafael?”


Sementara itu, ribuan kilometer jauhnya dari Meksiko. Seorang pria berdiri di bibir tebing. Dari penampilan serta ransel besar yang ada di punggungnya, dapat dipastikan bahwa pria itu merupakan seorang pendaki. “Apa yang kau temukan, Chico?” seru pria itu pada anjingnya yang berada di dasar jurang.


Anjing itu tak menoleh. Dia sibuk mengelilingi karung goni besar yang berada dekat batu. Sesekali, hewan berkaki empat tersebut mengendus ke dekat karung tadi.


“Apa?” balas salah seorang dari tiga pria, yang membawa barang sama seperti si pemilik anjing tadi.


“Entahlah. Di bawah sana ada karung besar. Bagaimana jika ternyata isinya adalah mayat korban pembunuhan?” sahut pria pemilik anjing itu, kembali mengalihkan perhatian ke dasar jurang. Sedangkan, anjingnya tak juga beranjak dari dekat karung goni tadi.


“Apa menurutmu itu sesuatu yang ….” Salah seorang teman si pria pemilik anjing, datang menghampiri. Dia berdiri di bibir tebing sambil memandang ke bawah. Sesaat kemudian, pria itu menoleh pada temannya yang lain. “Hey, siapkan tali! Aku ingin turun ke dasar jurang itu!”

__ADS_1


“Kau mau apa, Agusto?” Temannya yang sedang beristirahat malah bertanya.


Namun, pria bernama Agusto tersebut tak menjawab. Dia menoleh pada si pria pemilik anjing yang masih berdiri di sebelahnya. “Aku akan turun. Bantu aku,” pintanya. “Hey, kalian! Bantulah Delmar! Aku akan turun untuk memastikan isi dalam karung itu.”


Dua pria lain yang sedang asyik beristirahat, mau tak mau beranjak dari duduknya. Mereka memasang tali tampar dan mengikatkannya pada sebatang pohon, yang tadi mereka jadikan sebagai tempat berteduh. Setelah itu, Agusto mengikatkan ujung tali yang lain di pinggangnya menggunakan pengait khusus.


“Aku akan turun sekarang!” ucap Agusto setengah berseru. Sedangkan, kedua temannya yang sudah selesai mengikatkan tali pada batang pohon, segera menanggapi dengan mengangkat ibu jari.


“Hati-hati, Kawan,” pesan Delmar, si pria pemilik anjing bernama Chico yang masih duduk di dekat karung.


“Ini adalah bagian yang paling kusukai,” sahut Agusto seraya tersenyum lebar. Dia mulai bergerak dengan hati-hati, menuruni lembah terjal berbatu. Walaupun tingkat kemiringan lembah itu tidak terlalu curam, tapi Agusto harus tetap waspada.


Sesaat kemudian, pria dengan topi dan kacamata hitam itu telah tiba di dekat karung goni, yang membuatnya merasa penasaran. Tanpa melepas tali tampar yang terikat di pinggang, Agusto meraih bagian atas karung itu. Dia membuka tali yang mengikatnya.


Ketika bagian atas karung terbuka, Agusto langsung membelalakan mata. Tanpa berlama-lama, pria itu memberi kode pada ketiga rekannya yang menyaksikan dari atas. “Minta bantuan pada Tim SAR. Katakan bahwa kita menemukan mayat di sini!” seru pria itu.


Tanpa harus diminta dua kali. Delmar meletakkan ransel besar yang sedari tadi berada di punggungnya. Pria itu mengeluarkan radio pemanggil yang memang sengaja dibawa. Alat tersebut bisa membantu mereka, seandainya terjadi sesuatu yang tak diinginkan. Delmar hanya tinggal mencari frekuensi yang tepat.


Setelah tersambung, Delmar memberitahukan temuan mereka. Dia juga memberikan titik koordinat yang tepat, agar keberadaannya mudah dilacak dan ditemukan. Setelah menutup sambungan komunikasi, Delmar kembali ke dekat bibir tebing. “Bantuan akan segera datang dalam waktu satu jam. Kita tunggu saja!” serunya pada Agusto.

__ADS_1


Kurang lebih satu jam kemudian, beberapa anggota Tim SAR telah tiba di sana. Mereka bahkan sudah menaikkan karung goni, berisi tubuh pria yang berlumuran darah dan terluka parah. “Pria ini masih hidup,” ucap salah seorang anggota Tim SAR, yang memeriksa kondisi pria dalam karung. Pria yang tak lain adalah Rafael Hernandez.


“Kalau begitu, segera saja kita bawa ke rumah sakit terdekat,” sahut yang lainnya. Mereka bahu-membahu membawa tubuh Rafael, yang sudah dalam kondisi tak sadarkan diri dan sangat memprihatinkan.


__ADS_2