Casa Del Castaneda

Casa Del Castaneda
Berujung Pilu


__ADS_3

“Ayah!” protes Rafael tak terima dengan pernyataan Rogelio. “Kenapa Ayah harus datang kemari dan mengusik kehidupanku yang tenang?” Pria tampan berambut cokelat itu, menyatakan keberatannya atas kehadiran Rogelio dan Paloma di sana.


“Seharusnya kau berterima kasih dan merasa beruntung, karena aku datang kemari. Dengan begitu, kebodohan yang telah kau lakukan ini tak akan terus berlanjut,” balas Rogelio tegas. “Kau benar-benar anak tak tahu diri! Aku tak pernah mendidikmu untuk bersikap kasar dan tak menghormati seorang wanita!” geram pria paruh baya tersebut dengan sorot tajam.


Rafael mendengkus kesal seraya memalingkan muka. Dia tak sudi melihat wajah Paloma, yang tengah memandang penuh kebencian terhadapnya. “Dari dulu, aku tak pernah menginginkan pernikahan ini. Tidak pernah!” tegas Rafael dengan deru napas yang mulai tak beraturan. Pria itu sedang berusaha menahan amarah yang memuncak dan seperti akan meledak.


“Apa maksudmu? Kenapa kau berkata seperti itu?” tanya Rogelio seraya menautkan alisnya.


Rafael tak segera menjawab. Dia mengarahkan pandangan kepada Tatiana. Menatap penuh harap, agar wanita yang selama ini telah menjalani biduk rumah tangga dengannya dapat memberikan sedikit pembelaa. Rafael, tak ingin jika Tatiana berpikir semakin buruk terhadap dirinya. “Ayah ….” Pria itu mengembuskan napas berat.


“Jangan membuang waktuku, Rafael!” Rogelio belum mengubah nada bicaranya.


“Bicaralah, Rafael,” timpal Paloma, yang sedari tadi belum bicara sepatah kata pun. "Itu juga, jika kau bukan seorang pengecut yang hanya berani saat melawan wanita," sindir wanita bermata hazel itu.


Perhatian Rafael beralih kepada Paloma. Wanita yang selama ini dia abaikan, dan tak pernah dirinya anggap sebagai istri. Tatapan Rafael pun tak bersahabat sama sekali. Kebencian yang sangat besar tampak jelas di sana. “Kau! Tutup mulutmu!” tunjuk Rafael kasar. “Kau adalah pengacau yang sangat menyebalkan, Paloma!” hardiknya.


“Jaga bicaramu!” sergah Rogelio. Nada bicaranya terdengar jauh lebih tegas dan keras dibandingkan tadi. Sementara, Tatiana hanya diam menyimak perseteruan itu.


“Apa salahku? Selama ini, aku selalu menurut padamu. Kau membawaku berpindah-pindah tempat, hingga menutup komunikasi dengan ayahku yang berada di Meksiko. Kurang apa lagi? Aku bahkan membiarkanmu pergi tanpa kabar selama lima tahun. Mengurus sendiri anak kita, meskipun pada akhirnya dia harus menyerah dan meninggal dunia di ranjang rumah sakit!” Paloma mulai hilang kendali. Matanya berkaca-kaca, saat teringat kembali pada sosok si kecil Nilo, yang tak dapat lagi dirinya peluk dan cium.


Rogelio dan Tatiana, serempak memperlihatkan raut terkejut saat mendengar ucapan Paloma. Terlebih Rogelio. Pria itu memandang lekat sang menantu. Ada rasa tak percaya, atas apa yang telah dikatakan wanita muda itu. “Paloma? Kau sudah memiliki anak?” tanyanya.


Paloma menoleh, kemudian mengangguk pelan. “Iya, Ayah. Namanya Diego Nilo,” jawab Paloma pelan dengan bibir bergetar. Kepedihan terlihat jelas dari diri si pemilik mata hazel tersebut. Karena itulah, dia segera memilih menundukkan wajahnya. “Usianya lima tahun. Nilo adalah anak laki-laki yang tampan. Berambut cokelat dengan mata abu-abu yang indah. Dia selalu menemani dan menghiburku. Membuat diriku lupa bahwa hidup kami sangat menyedihkan. Namun, pada akhirnya dia harus pergi. Sejak saat itulah aku berpikir untuk mencari Rafael,” tutur Paloma pelan dan pilu.


“Astaga. Jadi, aku sudah memiliki seorang cucu?” Rogelio meraup kasar wajah dan rambutnya.

__ADS_1


“Ya, Ayah,” jawab Paloma.


Namun, raut berbeda terlihat dari paras tampan Rafael. Pria itu tak menunjukkan rasa empatinya sama sekali. Rafael bahkan terkesan mencibir atas penuturan Paloma. “Jangan pernah merasa bahwa kau merupakan yang paling menderita di sini,” ucapnya penuh penekanan.


“Itu memang kenyataannya,” sanggah Paloma. Dia mengangkat wajah. Mencoba melawan pria yang selama ini telah menempatkan dirinya, dalam situasi yang tak menentu dan serba salah.


“Tidak, Paloma! Kau bukan satu-satunya yang menderita dan merasa kehilangan!" sanggah Rafael. "Aku." Rafael mengarahkan telunjuk pada dirinya. "Aku sudah merasakan hal itu. Kehilangan yang terasa menyiksa. Aku! Aku adalah pria paling menyedihkan!" Rafael mendengkus kesal. Dia kembali mengembuskan napas penuh kemarahan, yang membuat dadanya terasa sesak.


"Apa maksudmu? Apakah ini tentang kedua orang tuamu?" tanya Rogelio membuat Paloma tak mengerti. Wanita itu memandang ayah mertuanya dengan sorot penuh tanda tanya.


Sementara, Rafael setengah membungkukkan badan. Dia menopang kening menggunakan kedua tangan. Rafael terlihat sangat kacau. "Kenapa, Ayah? Kenapa?" Pria itu menggeleng tak mengerti.


"Bicara yang jelas," geram Rogelio penuh penekanan.


Rafael memandang sang ayah angkat. Raut wajah serta sorot matanya kali ini terlihat sendu. Ada kesedihan dan penyesalan teramat besar di sana. "Kau mengambil dan mengangkatku sebagai anak. Mendidik serta memberikanku kehidupan yang sangat layak. Saat itu, aku merasa begitu beruntung. Di balik rasa takutku tanpa kehadiran orang tua, tertutupi oleh kasih sayang serta seluruh perhatianmu." Rafael terdiam sejenak.


"Aku tak pernah meminta agar kau membalas budi padaku," sanggah Rogelio tegas.


"Ya, kau memintanya! Kau memaksaku untuk membalas budi secara tidak langsung."


"Bagaimana bisa kau berpikir seperti itu?" Rogelio tak terima dengan tudingan Rafael. Selama ini, dia merawat pria itu dengan tulus.


"Kau melakukannya, Ayah," ucap Rafael lagi. "Ketika dirimu memaksaku untuk menikahi Paloma, sejak saat itu kau telah merenggut kebahagiaan serta harapan luar biasa yang telah kurancang bersama seseorang ...." Rafael menjeda kata-katanya. Pria itu seakan tak mampu melanjutkan lagi.


Sementara, Tatiana tampak bereaksi. Rasa cintanya terhadap pria yang berusia jauh lebih muda itu sungguh besar. Mendengar Rafael berkata demikian, membuat hatinya tiba-tiba merasa terusik. Perasaan terganggu itu lebih besar, dibanding ketika dia mendengar status pernikahan Rafael dengan Paloma. Namun, Tatiana belum mengucapkan sepatah kata pun. Wanita empat puluh tahun tersebut, lebih memilih membuang muka.

__ADS_1


"Siapa yang sedang kau bicarakan?" tanya Rogelio. Nada bicaranya mulai sedikit melunak.


"Selena Rivera. Dia adalah gadis sederhana yang sangat kucintai. Aku belum berani membawanya ke hadapanmu, Ayah. Banyak sekali hal yang harus kupertimbangkan," terang Rafael.


"Selena bukan berasal dari keluarga kaya. Aku merasa ragu. Sementara, dia juga tak percaya diri untuk kepertemukan denganmu. Akan tetapi, kami telah memiliki serta merancang angan-angan indah masa depan. Aku dan dia. Kami saling mencintai." Rafael tertunduk lesu.


"Di saat keberanian itu mulai muncul. Aku telah membulatkan tekad untuk membawanya ke hadapanmu. Terlebih, saat itu Selena sedang mengandung anakku. Namun, bersamaan dengan niat besarku tersebut, kau lebih dulu memutuskan bahwa aku harus menikahi Paloma." Rafael menuturkan kisah cintanya yang pilu, di depan mereka semua. Dia seakan mengesampingkan tanggapan yang akan diberikan Tatiana terhadap dirinya.


"Aku juga bukan berasal dari keluarga bangsawan," bantah Paloma, "tapi, ayah menerimaku sebagai menantunya."


"Itu karena kau putri Carlos Sanchez. Dia sahabat dekat ayahku!" Rafael menyanggah bantahan Paloma dengan tegas. Sementara, Rogelio tak berkata apapun.


"Kalau begitu, mari permudah semuanya. Sejak awal, aku tak mengharapkan apapun. Aku mencarimu hingga ke Porcuna, dengan harapan agar kau memberikan status yang jelas. Aku tak ingin meneruskan pernikahan ini. Jadi, mari kita selesaikan secepatnya. Dengan begitu, kau dan aku sama-sama bebas. Kau bisa menikahi wanita kaya ini secara sah, atau kembali pada kekasihmu yang ...."


"Itu tidak mungkin," bantah Rafael dengan segera. "Apapun yang kulakukan, tak akan membuat diriku bisa kembali bersama Selena. Kau tahu kenapa?" Rafael mengangkat sebelah alisnya. "Jawabannya, karena Selena telah mati bunuh diri, ketika aku mengucapkan janji suci pernikahan denganmu."


Paloma dan Rogelio sama-sama terkejut mendengar penuturan Rafael. Begitu juga dengan Tatiana.


"Lalu, apa yang akan kau lakukan sekarang? Bagaimana dengan pernikahan dan kebersamaan kita?" tanya Tatiana.


"Biarkan putraku menyelesaikan urusannya dengan Paloma terlebih dulu. Setelah itu, terserah dia akan melakukan apapun. Aku tak akan menghalanginya," ujar Rogelio.


"Anda jangan menganggap remeh perasaanku, Tuan!" sergah Tatiana. "Anda boleh tak mengakuiku sebagai menantu, tapi ... tapi ...." Tatiana memijit keningnya. "Butuh waktu yang sangat lama untuk melakukan pembatalan pernikahan. Prosesnya teramat panjang dan juga ... astaga."


Tatiana menatap tajam Rafael yang terlihat semakin kacau. "Kau! Selama ini aku telah menyerahkan diriku pada seorang pecundang sialan sepertimu!" makinya tak terima.

__ADS_1


"Aku bisa menjelaskan semuanya," sahut Rafael dengan intonasi yang terdengar berbeda, saat dia berbicara kepada wanita itu.


"Intinya, aku menekankan agar kau kembali ke Meksiko secepatnya. Kutunggu untuk mengurus proses pembatalan pernikahan kita," putus Paloma.


__ADS_2