Casa Del Castaneda

Casa Del Castaneda
Persaingan Para Duda


__ADS_3

“Aku? Kenapa Tatiana berpikir demikian?” tanya Sebastian tak mengerti.


“Entahlah. Nyonya Tatiana bersikeras bahwa mobil itu sudah dia buang, beberapa hari setelah Tuan Rafael Hernandez memutuskan ikatan dengannya. Nyonya Tatiana mengatakan bahwa SUV hitam itu dulunya merupakan hadiah yang dia berikan untuk mendiang Tuan Rafael, karena itulah dia ingin menghilangkan semua benda yang berkaitan dengan mantan suaminya tersebut,” terang Alfonso.


Sebastian terdiam mendengarkan penuturan dari pengacara Tatiana. Sesekali, dia manggut-manggut. Namun, lebih seringnya sang pemilik bangunan megah Casa del Castaneda itu hanya menyimak beberapa penjelasan lain, yang juga dituturkan oleh pria dengan setelan jas tanpa dasi tadi.


“Baiklah. Kalau begitu, aku akan menemui Tatiana secara langsung di penjara,” putus Sebastian setelah mendengarkan semua yang Alfonso katakan.


“Bagaimana jika besok?” tawar Alfonso. “Kita bisa bertemu langsung di sana pada jam besuk pagi.”


Sebastian tak langsung menjawab. Dia ingat bahwa besok Paloma akan ke Porcuna untuk melihat rumah yang akan wanita itu beli. Sebastian tak mungkin membiarkan ibunda Luz Maria tersebut pergi berduaan dengan Elazar.


“Bagaimana jika lusa saja?” Sebastian memberikan penawaran lain. “Kebetulan, besok aku masih ada agenda penting,” ucapnya. Sebastian tak memedulikan tatapan aneh yang dilayangkan Leandra kepadanya. Dia tetap fokus kepada Pengacara Alfonso Guinan.


“Tidak masalah, Tuan Castaneda. Kalau begitu, tolong catat nomor teleponku agar kita bisa lebih mudah berkomunikasi.”


Sebastian mengarahkan pandangan kepada Leandra, yang sejak tadi ikut menyimak. Wanita cantik tersebut langsung mengangguk. Leandra langsung mencatat nomor telepon milik Pengacara Alfonso Guinan. Dia juga memberikan nomor telepon ketiga milik Sebastian.


Sebastian memiliki tiga nomor telepon. Satu, merupakan nomor pribadi yang berisikan kontak orang-orang terdekat. Dua, merupakan nomor telepon bisnis. Sudah pasti hanya digunakan untuk urusan pekerjaan. Tiga, nomor ini biasa dia berikan kepada orang-orang yang tidak berkomunikasi secara intens dengannya.


Beberapa saat kemudian, Pengacara Alfonso Guinan berpamitan untuk kembali ke Sevilla. Sebastian mengantarnya hingga ke halaman depan. Sedangkan, Leandra mengikuti dari belakang.


“Terima kasih atas kerja samanya, Tuan Castaneda. Sampai bertemu di Sevilla.” Alfonso menjabat tangan Sebastian dengan penuh keakraban, sebelum dirinya masuk ke kendaraan. Sesaat kemudian, mobil milik pengacara Tatiana Vidal tersebut melaju tenang meninggalkan halaman depan Casa del Castaneda diiringi tatapan Sebastian dan Leandra.


“Apakah besok memang ada agenda penting, Tuan? Kenapa aku tidak mengetahuinya?” tanya Leandra seraya menoleh kepada Sebastian yang berdiri di sebelahnya.


“Kau tidak tahu, karena itu merupakan sesuatu yang tak berkaitan dengan pekerjaan,” jawab Sebastian, tanpa menoleh kepada sang asisten pribadi yang cantik.


“Apakah itu berkaitan dengan Paloma Hernandez?” tanya Leandra lagi penuh selidik.


Sebastian tak segera menjawab. Dia menggumam pelan, lalu tersenyum simpul. “Tugasmu hanya mencatat segala hal yang berhubungan dengan perkebunan serta agenda-agenda penting seputar bisnis. Di luar itu, kau tidak perlu merepotkan diri untuk ikut mengurusinya, Leandra.” Sebastian melirik sekilas kepada Leandra yang tampak kecewa atas jawaban sang majikan. Namun, pria itu tak mau ambil pusing. Dia langsung membalikkan badan, lalu kembali ke dalam.

__ADS_1


Keesokan harinya.


Sebelum pukul sepuluh, Sebastian sudah tiba di rumah yang disewa Paloma. Pria itu mengabaikan rasa tak nyaman karena perselisihan kemarin, yang menyebabkannya menjadi kesal hingga memutuskan pulang dengan membawa rasa jengkel ke Porcuna.


Hari itu, Sebastian datang dengan membawa senyuman menawan yang diberikan secara istimewa untuk Paloma serta putrinya Seperti biasa, balita cantik tersebut meronta-ronta, meminta agar Sebastian menggendongnya.


“Kupikir, kau tidak akan datang,” ucap Paloma yang sudah bersiap pergi. Dia sedang menunggu Kalida yang akan ikut ke Porcuna.


“Kau pikir, aku akan membiarkanmu pergi berdua dengan Elazar?” Sebastian tertawa pelan. “Jangan harap, Sayang,” bisiknya, karena saat itu Kalida muncul di sana. Sang pengasuh membawa tas berisi beberapa perlengkapan untuk Luz Maria.


Selang beberapa saat setelah Kalida muncul, Elazar pun tiba di sana. Raut wajah mantan suami Tatiana Vidal tersebut kembali masam, saat melihat Sebastian telah lebih dulu berada di sana. Namun, Elazar pintar menyembunyikan rasa kecewa dalam hatinya. Pria tiga puluh tahun tersebut berjalan mendekat sambil memamerkan senyuman hangat kepada semua yang ada di sana.


“Sebastian,” sapa Elazar. “Kau bergerak sangat cepat rupanya,” ujar pria itu dengan sedikit bumbu sindiran halus.


“Aku harus bergerak cepat jika tidak ingin tertinggal,” balas Sebastian kalem. Dia mencium pipi Luz Maria, yang langsung tertawa sambil bertepuk tangan.


“Apa bisa kita berangkat sekarang?” tanya Paloma. Dia ta ingin menjadi wasit untuk turnamen adu sindiran halus, dari dua pria tampan yang sama-sama berstatus sebagai duda kaya tersebut.


“Tentu, Nyonya Hernandez. Silakan.” Elazar mengarahkan tangan kanan ke arah mobilnya.


“Ah … baiklah.” Elazar menanggapi dengan pelan. Dia mengembuskan napas dalam-dalam, sebelum kembali ke kendaraannya.


‘Astaga, Nyonya. Bahagia sekali menjadi Anda,” bisik Kalida diiringi tawa renyah. Dia dapat menangkap bahasa tubuh dari dua pria tampan yang bersaing merebut perhatian Paloma.


“Mereka berdua sangat menyebalkan, Kalida,” balas Paloma seraya berjalan ke dekat mobil SUV putih milik Sebastian. Sebelum duduk di kursi depan sebelah sopir, Paloma lebih dulu memeriksa keadaan Luz Maria yang sudah terlihat nyaman di kursinya. Paloma merasa tenang, karena di jok tengah ada Kalida yang menemani sang anak.


Perjalanan menuju Porcuna sudah dimulai. Kendaraan milik Sebastian mengikuti mobil yang dikendarai Elazar. Walaupun dalam jarak tempuh sekitar dua jam tersebut tak ada percakapan yang terlalu berarti, tapi Sebastian tampak sangat sangat bahagia. Sesekali, pria itu tersenyum kecil sambil terus memegang kemudi. Tak jarang pula, dia melirik Paloma yang lebih memilih berpura-pura tidak tahu bahwa pria tampan di sebelahnya tengah mencuri pandang.


Sebastian mendehem pelan, karena Paloma tak juga memedulikannya. Namun, bukannya menoleh, Paloma justru mengalihkan pandangan ke samping. Dia hanya tersenyum kecil, ketika merasakan tangan Sebastian menyentuh punggung tangannya. Paloma tidak menolak, tapi tidak juga menanggapi. Sayang, adegan manis itu harus berakhir ketika mobil milik Elazar berhenti di depan sebuah rumah dua lantai. Mereka telah tiba di tempat tujuan.


Elazar keluar dari mobil tanpa melepas kacamata hitam yang dikenakannya. Rambut gondrong pria itu bergerak perlahan tertiup angin. Dia berjalan ke dekat kendaraan milik Sebastian, berhubung Paloma juga sudah keluar dari sana.

__ADS_1


“Ini rumahnya, Nyonya,” tunjuk Elazar. Dia mengarahkan tangan kanan pada bangunan dua lantai tadi.


Sebastian dan Paloma mengamati sebentar tampilan luar rumah dengan nuansa warna putih dan kuning gading itu. Sebastian yang saat itu mengenakan topi baseball dan kacamata hitam, bahkan sampai mengamati hingga ke lantai dua bangunan tadi.


“Kondisinya masih bagus, Paloma. Kelihatannya, bangunan ini baru direnovasi,” ucap pria itu memberikan komentar.


“Kau benar, Sebastian,” sahut Elazar. “Pemilik rumah ini memang sengaja merenovasi terlebih dulu, sebelum memutuskan untuk menjualnya.” Elazar mengalihkan perhatian kepada Paloma yang belum berkomentar. “Bagaimana jika kita masuk saja, Nyonya?” tawarnya.


Paloma menoleh, lalu mengangguk setuju.


Setelah mendapat persetujuan dari Paloma, Elazar menekan bel yang terpasang di dekat gerbang masuk. Tak berselang lama, seorang pria paruh baya muncul dari dalam. Dia langsung membuka teralis tadi, saat melihat bahwa Elazar lah yang bertamu.


“Ah, Tuan Blanco. Selamat datang,” sambut pria itu hangat. “Silakan masuk.” Pria dengan kepala bagian depannya yang botak tadi mempersilakan mereka agar masuk.


“Aku harap kalian menyukai warna cat tembok yang kupilih. Putih adalah warna yang elegan, membuat bangunan terlihat mewah,” celoteh pria tua yang ternyata sangat ramah itu.


Paloma hanya tersenyum menanggapi. Dia sama sekali tidak paham perihal seluk-beluk bangunan. “Bagiku, asalkan atapnya masih bagus dan tidak bocor, karena tidak akan ada yang membantu jika terjadi kerusakan," ujarnya seraya tersenyum kelu.


Kembali teringat oleh Paloma, rumah peninggalan Carlos Sanchez yang tak semewah tempat tinggal Rogelio. Paloma menghabiskan sebagian besar hidupnya di sana, sampai dia menikah dengan Rafael. Wanita cantik itu sudah terbiasa menjalani hari-hari dalam kesederhanaan.


“Oh! Jangan khawatir, Nyonya. Aku dapat menjamin kondisi fisik rumah ini. Semuanya dalam keadaan sempurna, karena baru saja direnovasi,” ujar pria pemilik rumah itu yakin. “Meskipun aku harus membangun dan mengecat ulang bagian pagar rumah,” imbuhnya kemudian.


“Memangnya kenapa, Tuan?” tanya Paloma seraya mengernyitkan kening.


“Ah! Aku benar-benar kesal jika mengingat malam itu. Kira-kira beberapa bulan yang lalu. Ada seorang pengemudi ugal-ugalan. Dia melajukan kendaraannya dengan sangat kencang saat melewati jalan depan rumah. Aku rasa, dia mungkin dalam keadaan mabuk, sehingga mobilnya oleng dan menabrak pagarku,” jelas pria itu.


“Saat aku hendak berlari keluar untuk menegurnya, mobil itu sudah lebih dulu melarikan diri meninggalkan pagarku yang hancur berantakan. Kurang ajar sekali pengemudinya!” geram si pria. “Saking marahnya, bahkan sampai sekarang aku masih mengingat tipe mobil dan plat nomor kendaraannya itu."


“Oh, ya?” Sebastian menunjukkan ekspresi bahwa dia tertarik, dan tampak antusias dengan cerita si pria. Sebastian mendekat pada sang pemilik rumah tersebut. “Kalau boleh tahu, apa jenis kendaraan yang menabrak pagar rumah Anda, Tuan? Lalu berapa plat nomornya?”


Si pria terdiam dan tampak mengingat-ingat sejenak, sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Sebastian. “Mobil itu bertipe SUV dengan warna hitam. Bannya berukuran lebih besar dari ban mobil SUV pada umumnya,” jawab pria itu.

__ADS_1


“Lalu, berapa plat nomornya?” tanya Sebastian lagi seraya memicingkan mata.


“SE 2211 NN,” jawab si pria pemilik rumah begitu yakin. Jawaban yang seketika membuat Sebastian terkesiap. Pasalnya, plat nomor tersebut diketahui merupakan milik kendaraan, yang telah menabrak mobil Rafael hingga dia tewas.


__ADS_2