
Paloma mengangguk. Dia sudah mengambil keputusan untuk sepenuhnya fokus, pada apa yang ada di hadapannya. Harapan indah untuk dapat hidup bersama Sebastian, telah dibuang jauh seiring ciuman mesra yang selalu diterimanya dari Rafael.
Hampir setiap saat, pria itu menunjukkan perasaan cinta yang teramat besar kepada Paloma. Baik lewat kata-kata, maupun tindakan nyata. Paloma, merasakan perubahan yang sangat luar biasa, pada diri pria tiga puluh satu tahun tersebut.
Hari-hari yang Paloma lalui, terasa semakin indah dan berwarna. Perlahan, rasa cinta dalam hatinya mulai tumbuh, bahkan menyingkirkan bayangan sosok tampan sang tuan tanah asal Spanyol. Paloma, kini sudah menjadi milik Rafael seutuhnya.
“Ah ….” Desah•an pelan meluncur dari bibir Paloma, mengiringi percintaan penuh gairah yang tengah dilakukannya bersama Rafael. Beberapa tahun telah berlalu, dari semenjak terakhir kali mereka bercinta. Saat Rafael belum mencampakkannya sendirian di Granada.
Paloma tak pernah menyangka, bahwa dirinya akan kembali menerima kenikmatan yang pria itu berikan, dalam suasana serta rasa yang berbeda. Kali ini, Rafael mencumbuinya tidak dalam kondisi mabuk. Pria tampan itu sepenuhnya sadar, saat dirinya menyentuh setiap bagian dari lekuk indah Paloma.
“Kuharap kau tak bosan bercinta denganku,” ucap Rafael, sesaat setelah mereka selesai melakukan ritual panas di ranjang.
“Bukannya kau yang harus diwaspadai,” sindir Paloma. Dia bergelayut manja dalam dekapan Rafael, yang menanggapi ucapannya dengan tawa renyah.
“Aku sudah bertaubat. Sekarang, hanya ada Paloma dalam hati dan hidupku. Selamanya akan selalu seperti itu. Aku berjanji padamu. Tuhan sudah cukup memberikan hukuman, atas semua dosa yang telah kuperbuat. Sekarang, aku hanya ingin memperbaiki semuanya.” Rafael menyentuh dagu Paloma. Dia mengangkat perlahan, lalu mencium bibir yang selalu menjadi santapan kesukaannya setiap hari.
Paloma tertawa manja, seiring dengan gerak nakal tangan Rafael yang kembali menggerayangi tubuh polosnya. Malam itu, mereka mengulangi percintaan panas tadi, hingga hasrat keduanya benar-benar terpuaskan.
......................
Tiga tahun kemudian.
Rogelio terlihat begitu bahagia menikmati sinar sang surya di pagi hari. Dalam gendongannya, tampak balita perempuan berusia satu setengah tahun. Balita cantik bermata abu-abu dengan rambut ikal berwarna cokelat. Model rambut yang sangat mirip dengan ayah dari anak itu.
“Luz Maria!” panggil suara seorang wanita yang tak lain adalah Paloma. Dia datang menghampiri Rogelio. “Kemarilah, Sayang. Sudah waktunya kau membersihkan tubuh.” Paloma bermaksud mengambil balita cantik tadi dari gendongan sang ayah.
__ADS_1
“Sebentar lagi, Nak. Aku masih ingin menggendongnya,” tolak Rogelio. Dia tak memberikan balita bernama Luz Maria tadi kepada Paloma. Sementara, si balita pun terlihat nyaman dalam gendongan sang kakek.
“Astaga, Ayah. Kau sudah menggendongnya sejak dua puluh menit yang lalu. Apa tanganmu tidak terasa pegal?” Paloma menaikkan sepasang alisnya karena tak habis pikir.
“Tak akan pernah. Aku sangat bahagia dengan cucu perempuanku yang cantik ini,” ujar Rogelio seraya mencium pipi Luz Maria berkali-kali. Dia terlihat begitu gemas, dengan balita yang justru tertawa menerima perlakuan seperti tadi dari kakeknya.
Paloma tersenyum lembut. Setidaknya, nasib Luz Maria jauh lebih baik. Balita itu tak harus terusir dari tempat tinggalnya. Tak seperti nasib yang menimpa dia puluhan tahun silam.
“Di mana Rafael? Apa dia belum datang?” tanya Rogelio beberapa saat kemudian.
“Dia akan datang sebentar lagi. Aku tak yakin saat menyuruhnya mengemasi sisa barang-barang keperluan Luz Maria. Pasti selalu ada yang tertinggal,” ujar Paloma diiringi tawa renyah.
“Itu bukan masalah besar, Nak. Kita akan pergi ke Spanyol, bukan ke Hutan Amazone. Kita bisa berbelanja di sana.” Rogelio mengalihkan perhatian pada seseorang yang baru datang. Pria tampan dengan kemeja putih, yang tengah melangkah gagah ke arah mereka. “Kami baru saja membicarakanmu, Nak,” ujar Rogelio, menyambut Rafael yang langsung mengajak Luz Maria bermain.
“Pantas saja telingaku terasa panas,” gurau Rafael, tanpa mengalihkan perhatian dari putri kecilnya. Luz Maria tertawa riang, ketika Rafael mengajaknya bercanda.
“Aku sudah menyelesaikan segala urusan yang berkaitan dengan keberangkatan kita ke Spanyol. Kita akan terbang besok pagi,” jawab Rafael yakin.
“Syukurlah. Aku sangat merindukan Bibi Teresa dan Paman Alonzo. Terutama Nilo. Sudah lama sekali tidak mengunjungi makamnya.” Gurat kepedihan terlihat jelas pada paras cantik Paloma, yang selalu setia dengan rambut pendek sebahu serta poni.
“Kita ke sana memang untuk mengunjunginya, Sayang,” ucap Rafael. Dia mendekat kepada Paloma yang memandang lembut padanya. Tanpa sungkan, pria itu mengecup bibir sang istri.
Tak ada kebahagiaan yang paling sempurna bagi Rogelio, selain saat melihat keharmonisan Rafael dan Paloma. Impian pria paruh baya itu telah terwujud, dengan hadirnya Luz Maria Hernandez. Balita cantik yang semakin mempererat hubungan antara suami istri tersebut.
Waktu keberangkatan yang ditunggu telah tiba. Dengan penuh suka cita, mereka menempuh perjalanan kurang lebih sepuluh jam. Rogelio yang biasanya merasa malas melakukan perjalanan jarak jauh, kali ini memaksakan ikut. Alasannya, tiada lain karena dia ingin selalu dekat dengan sang cucu tercinta.
__ADS_1
Setibanya di Spanyol, mereka langsung menuju ke Granada. Rafael sudah memesan kamar hotel, sejak beberapa hari sebelum waktu keberangkatan. Setelah istirahat beberapa saat, mereka keluar kamar untuk makan malam bersama. Sebuah restoran bintang lima di pusat Kota Granada menjadi pilihan mereka. Tempat itu sengaja dipilih, karena jaraknya yang dekat dengan hotel tempat mereka menginap.
“Lama tak datang kemari. Kota ini sudah banyak berubah,” ucap Paloma yang masih belum percaya, karena bisa berkunjung lagi ke Spanyol.
“Kau benar, Sayang,” timpal Rafael. Dia hanya menanggapi demikian, karena pelayan telah datang membawakan makanan yang mereka pesan.
Sementara, Luz Maria sudah duduk di kursi khusus balita. Namun, Paloma tetap menyiapkan alat makan sendiri untuk putri tercintanya. Dia juga memastikan terlebih dulu, bahwa kursi yang akan digunakan oleh putrinya dalam kondisi higienis.
Beberapa menu khas Spanyol telah tersaji di meja. Mereka yang kelelahan setelah perjalanan panjang serta membawa perut kosong, langsung menyantap semua makanan itu. Setelah merasa kenyang, Rogelio mengajak kembali ke hotel. Kondisi fisiknya yang tidak muda lagi, membuat dirinya mudah merasa lelah.
“Aku ingin ke toilet dulu sebentar,” ucap Paloma. Dia beranjak dari tempat duduknya.
“Jangan terlalu lama, Sayang. Ayah dan Luz Maria sudah kelelahan,” pesan Rafael.
Paloma tidak menjawab. Dia hanya menoleh sambil tersenyum. Paloma berjalan sedikit terburu-buru menuju toilet. Tanpa sengaja dirinya menyenggol lengan seorang wanita berambut cokelat, yang langsung menoleh kepada Paloma dengan memasang ekspresi terkejut. “Ah, maaf,” ucap Paloma diiringi senyuman hangat nan ramah. “Aku sedang terburu-buru,” ucapnya lagi.
“Tidak apa-apa, Nyonya,” balas si wanita berambut cokelat tadi. Dia membalas senyum ramah Paloma.
“Anda tidak apa-apa, kan?” tanya Paloma memastikan.
“Oh, tentu saja tidak. Jangan khawatir, aku ….”
“Leandra.” Terdengar suara seorang pria menyela obrolan kedua wanita cantik, yang sama-sama berambut cokelat tadi. Mereka bahkan menoleh dengan serempak.
Senyuman hangat Paloma seketika memudar, saat melihat sosok si pemilik suara yang langsung terpaku menatap ke arahnya Paloma segera mengalihkan perhatian pada wanita bernama Leandra, lalu kembali memaksakan tersenyum. “Permisi,” pamitnya seraya berlalu tanpa basa-basi lagi.
__ADS_1
Dunia terasa begitu sempit. Tiga tahun telah berlalu. Paloma tak pernah berpikir akan kembali dipertemukan dengan pria itu. Sang pemilik ribuan hektar perkebunan zaitun yang masih belum banyak berubah. Dia masih setampan dulu. Namun, Paloma tak pantas untuk terus mengagumi pesona Sebastian Cruz Castaneda, karena di sisinya telah ada Rafael Hernandez.
“Ayo,” ajak Paloma setelah kembali dari toilet. Dia menepiskan rasa kikuk, setelah bertemu Sebastian tadi. Paloma berjalan keluar bersama Rafael dan Rogelio. Namun, baru saja melewati pintu, terdengar sapaan yang membuat mereka langsung menoleh.