Casa Del Castaneda

Casa Del Castaneda
Wanita Berbaju Putih


__ADS_3

Sambil menunggu persiapan keberangkatan ke Spanyol, Paloma mempelajari banyak hal terlebih dulu. Rogelio membantunya dengan memberikan penjelasan yang tidak terlalu sulit dimengerti, sehingga Paloma dapat mudah memahami apa yang dijabarkan oleh sang ayah mertua. Selagi Paloma sibuk belajar, Rafael justru gelisah karena dirinya akan kembali ke Spanyol. Selain karena Tatiana, dia juga akan bertemu dengan Sebastian yang jelas-jelas tak menyukainya


Sekitar pukul delapan pagi, Paloma dan Rafael sudah berada di bandara. Mereka akan melakoni perjalanan panjang menuju Negeri Matador. Entah apa yang akan terjadi dalam rentang waktu sepuluh jam ke depan.


Duduk di kelas bisnis yang nyaman, Paloma lebih memilih membaca buku karangan Antonio Machado pemberian Sebastian. Sementara, Rafael juga tak banyak bicara. Selama hampir dua jam, mereka lalui dalam kebisuan.


Setelah merasa bosan, Paloma menutup bukunya. Dia memejamkan mata, mencoba untuk beristirahat. Namun, entah mengapa wanita itu merasa tidak nyaman. Paloma menggerakkan tubuh dengan gelisah, meski matanya masih terpejam. Beberapa saat kemudian, si pemilik rambut cokelat pendek sebahu itu mulai terlelap


Berbeda dengan Rafael. Dia masih termenung. Sesekali, pria tampan bermata abu-abu tersebut melirik Paloma yang sudah tertidur. Paras cantik itu pernah menemaninya selama beberapa bulan. Entah mengapa, tiba-tiba Rafael teringat akan kebersamaan yang tidak semanis pasangan suami istri pada umumnya. Rafael memandangi wajah berpoleskan riasan tipis, yang terlihat jauh berbeda jika dibandingkan dengan Tatiana.


Rasa nyaman perlahan hadir. Makin lama, pria itu semakin terhanyut. Ada sesuatu yang membuatnya begitu tenang, saat memandangi paras cantik Paloma. Seulas senyuman pun terlukis di sudut bibir berkumis tipis putra angkat Rogelio tersebut. Akan tetapi, senyuman di wajah Rafael seketika memudar, ketika dia melihat Paloma yang gelisah dalam tidurnya. Paloma, seperti sedang mengalami mimpi buruk. “Paloma. Paloma.” Rafael menepuk-nepuk pipi wanita itu hingga terbangun.


Paloma seketika membuka matanya. Dia menoleh kepada Rafael yang tengah memandang dengan sorot aneh. Dengan segera, wanita itu membetulkan sikap duduk. Paloma merapikan rambut serta pakaiannya.


“Kau kenapa? Apa kau bermimpi buruk?” tanya Rafael penasaran.


Paloma tak segera menjawab. Dia menatap sesaat kepada pria di sebelahnya, sebelum mengalihkan pandangan ke luar jendela. “Semenjak kejadian ketika kau berniat untuk membunuhku, hampir setiap malam aku bermimpi buruk. Aku merasa bahwa kau akan mengulangi hal yang sama,” ucap Paloma pelan.


Rafael merasa tak enak mendengar jawaban Paloma. “Aku sangat kalut dan tak tahu harus bagaimana, untuk menutupi kebobrokan dalam rumah tangga kita. Tak pernah kuduga bahwa ayah akan menemukan keberadaanku di Spanyol. Sementara, ada Tatiana yang tak mungkin kusembunyikan darinya,” jelas Rafael dengan nada penuh sesal.


“Apa kau benar-benar ingin melihatku mati?”


Sebuah pertanyaan yang terdengar sangat menakutkan bagi Rafael. Bagaimanapun juga, dia bukanlah pembunuh yang dengan mudahnya mencabut nyawa seseorang tanpa ada beban sama sekali. “Sudah kukatakan bahwa aku sedang kalut,” jawabnya seraya mengarahkan pandangan ke depan.


Paloma terdiam. Begitu juga dengan Rafael. Mereka kembali larut dalam pikiran masing-masing, sampai akhirnya Paloma kembali bersuara. “Apa kau mencintainya?” Paloma menoleh sesaat kepada Rafael yang terlihat tak nyaman.


“Siapa?” Pria bermata abu-abu itu balik bertanya.

__ADS_1


“Kau,” jawab Paloma. “Apa kau mencintai wanita kaya itu?” Paloma memperjelas pertanyaannya.


Rafael tak segera menjawab. Dia bahkan terlihat keberatan untuk menanggapi pertanyaan tersebut. Namun, Rafael merasa bahwa tak ada salahnya sedikit bercerita. Lagi pula, saat ini Tatiana sudah membuangnya. “Tatiana bersikap sangat baik padaku. Dia memenuhi segala kebutuhan dan ….” Rafael tak melanjutkan kata-katanya. Dia yakin bahwa Paloma pasti dapat memahami apa yang dirinya maksud. “Tatiana memberikan fasilitas serta kebebasan padaku dalam mengembangkan karier. Begitulah. Semuanya kembali pada balas budi. Kau tak tahu betapa menyedihkannya hidupku,” tutur Rafael.


“Kau pria yang lemah, Rafael,” cicir Paloma.


“Ya. Anggap saja aku begitu,” balas Rafael tak ingin berdebat.


“Jika kau tak pernah menyukaiku, kenapa dirimu tak langsung menolak saat Tuan Rogelio memperkenalkan kita?”


Rafael tersenyum getir, lalu berdecak pelan. Dia menatap Paloma, sebelum kembali mengarahkan pandangan ke depan. “Waktu itu, ayah berjanji untuk memberikan lahan usaha padaku. Dia akan memberikan modal awal. Namun, syaratnya adalah aku harus menikah terlebih dulu,” tutur Rafael mengawali ceritanya.


“Dari situ, aku meyakinkan Selena agar dia bersedia ikut dan bertemu ayah. Rasa bahagia yang tak terkira dalam hatiku. Selangkah lagi, kami akan bersama. Benar-benar bersama. Akan tetapi, sebelum diriku sempat membawa Selena, ternyata maksud ayah adalah bahwa aku harus menikahimu.” Rafael tertunduk sejenak. Bayangan paras cantik kekasih yang teramat dia cintai, kembali hadir di pelupuk mata.


“Kenapa kau tak langsung menolak?”


“Kau pikir akan semudah itu?” Rafael mengangkat wajah, lalu menoleh kepada Paloma yang tengah menatapnya lekat. “Tuan Rogelio adalah pria yang sangat baik. Jasanya teramat besar dalam hidupku. Dia merupakan seseorang yang luar biasa. Aku akan merasa seperti tak memiliki etika, ketika harus membantah apa yang dia kehendaki atas diriku.”


“Mudah bagimu berkata demikian. Namun, cobalah tempatkan dirimu dalam posisiku.” Rafael menyandarkan kepala dengan setengah mendongak. “Itulah mengapa aku membawamu pergi menjauh dari Meksiko. Dengan begitu, ayah tak akan tahu dengan apapun yang kulakukan terhadapmu.”


“Keterlaluan!” Paloma memalingkan wajah. Namun, Rafael tak ingin menanggapi. Kali ini, giliran pria itu yang memejamkan mata.


Sepuluh jam perjalanan, akhirnya terlewati. Mereka sudah tiba di bandara yang dituju. Dari Kota Sevilla, Paloma dan Rafael kembali melanjutkan perjalanan hingga tiba di Porcuna. Sebelumnya, Enrique sudah memesankan kamar di hotel terbaik kota itu. Namun, ternyata Enrique hanya memesan satu kamar untuk berdua.


“Haruskah kita tidur sekamar?” pikir Paloma seraya duduk di ujung tempat tidur.


“Aku bisa tidur di sofa,” sahut Rafael sembari melepas jaketnya.

__ADS_1


“Baiklah.” Paloma beranjak ke kamar mandi. Dia ingin membersihkan diri, berhubung tubuhnya terasa sangat lengket. Lagi pula, waktu sudah petang ketika mereka tiba di hotel. Paloma ingin langsung beristirahat sambil meluruskan badan. Dia tak berniat untuk makan malam, karena perutnya sudah diisi beberapa macam kudapan mengenyangkan selama perjalanan dari Sevilla menuju Porcuna.


Keesokan harinya.


Seusai sarapan, Paloma dan Rafael segera bersiap untuk berangkat ke Casa del Castaneda. Seperti biasa, Rafael terlihat rapi dengan kemeja yang dilapisi blazer.


Sedangkan, Paloma juga sudah terlihat rapi. Dia tampil sangat cantik dengan riasan tipis, tapi membuatnya tampak sangat menarik. Potongan rambut pendek sebahu wanita bermata hazel tersebut, begitu serasi dengan sheath dress sebatas lutut berlengan tiga per empat. Pakaian itu menempel ketat, membentuk tubuh indah Paloma hingga memperlihatkan bentuk pinggang dan pinggulnya yang indah.


“Mobil sewaan sudah siap. Kita berangkat sekarang,” ucap Rafael, setelah melihat Paloma telah selesai merapikan diri.


Paloma mengangguk pelan. Dia bergegas keluar kamar. Terlebih, karena Rafael menatapnya dengan sorot yang terlihat aneh.


“Apa Sebastian tahu bahwa kau dan aku yang menjadi perwakilan ayah?” tanya Rafael saat mereka sudah memasuki lift.


“Entahlah. Aku rasa tidak,” jawab Paloma.


“Kau tahu kenapa ayah tak mengatakannya kepada Sebastian?” tanya Rafael lagi.


“Kenapa kau bertanya padaku?” Paloma balik bertanya. Membuat Rafael hanya mengembuskan napas pelan.


Beberapa saat kemudian, mereka telah melewati lobi. Keduanya lalu berjalan menuju area parkir, di mana sudah menunggu mobil yang Rafael sewa. Sebagai seseorang yang mengenal wilayah Porcuna dengan baik, Rafael tak membutuhkan sopir dalam menjelajahi kotamadya tersebut.


Selama dalam perjalanan, tak ada percakapan yang terlalu berarti antara mereka berdua. Rafael fokus pada lalu lintas kota, sedangkan Paloma membaca buku.


Selang beberapa saat, mobil yang Rafael kendarai telah tiba di Casa del Castaneda. Paloma meminta izin untuk masuk, atas nama perwakilan Rogelio. Penjaga pintu gerbang pun membuka lebar-lebar, dan membiarkan mereka masuk.


“Sebastian tak akan menyukai kehadiranku,” ujar Rafael sebelum memutuskan turun dari kendaraan.

__ADS_1


“Kau datang bersamaku,” ucap Paloma menanggapi. Dia sibuk mengenakan sepatu yang tadi sempat dirinya lepas saat di perjalanan. Paloma, sebenarnya tengah berusaha menetralkan perasaan yang tak karuan. Entah mengapa, dia menjadi begitu gugup saat membayangkan kembali berhadapan dengan duda tampan penguasa Casa del Castaneda, yang sempat memberinya satu ciuman sebelum mereka berpisah.


Tanpa banyak bicara, Rafael keluar dari mobil setelah melihat Sebastian menyambut di teras. Sebastian tampak sangat terkejut. Dia tak menyukai kehadiran Rafael di sana. Namun, dengan segera perhatian Sebastian teralihkan pada sosok cantik berbaju putih, yang muncul beberapa saat kemudian.


__ADS_2