Casa Del Castaneda

Casa Del Castaneda
Bekas Gigitan


__ADS_3

Paloma mengeluh pelan. Dia tak memiliki alasan apapun untuk dijadikan penolakan kepada Sebastian. Terlebih, setelah dirinya ingat kembali pada kalung yang belum dikembalikan oleh pria itu. “Baiklah. Aku akan bersiap-siap dulu,” ucap Paloma dengan raut terpaksa.


“Nah ….” Sebastian tersenyum lebar. Dia sudah hendak menanggapi jawaban Paloma. Namun, seketika pria tampan itu terdiam. Senyumnya pun memudar, saat Paloma menutup pintu kamar dengan tanpa permisi. “Astaga.” Sebastian berdecak pelan. Dengan terpaksa, dia harus menunggu di luar.


Hampir satu jam lamanya, sang tuan tanah berdiri di luar kamar. Dia sudah mondar-mandir, bersandar pada dinding, berkacak pinggang, dan melakukan hal lain demi mengurangi rasa bosan saat menunggu Paloma yang sedang bersiap-siap. Sebastian bahkan berkali-kali menarik dan mengembuskan napas dalam-dalam.


Penantian pria tampan tersebut usai sudah, ketika pintu kamar sedikit terbuka. Sebastian segera menegakkan tubuh dan kembali bersikap penuh wibawa, saat Paloma muncul dari dalam sana. Sebastian tersenyum kalem, melihat wanita cantik di hadapannya.


“Apa kau sudah meminta izin pada suamimu?” tanya Sebastian enteng.


“Dia sedang pergi ke Sevilla,” jawab Paloma.


“Baguslah kalau begitu,” balas Sebastian seraya meraih pergelangan tangan Paloma. Dia menuntun wanita dengan midi dress lengan tiga per empat itu berjalan menuju lift. Sebastian tetap memegangi tangan wanita di sebelahnya, selama mereka berada di lift hingga turun dan melintasi lobi. Pria itu baru melepaskan genggaman erat tadi, saat dia membukakan pintu dan mempersilakan Paloma agar masuk. Sang duda kaya raya tersebut, bahkan memasangkan sabuk pengaman bagi wanita yang kali ini tak memakai sepatu high heels-nya.


“Anda akan membawaku ke mana?” tanya Paloma, ketika Sebastian sudah duduk di belakang kemudi.


“Ke suatu tempat,” jawab Sebastian seraya melajukan kendaraan, meninggalkan area pelataran hotel. SUV putih itu melaju dengan gagah, membelah jalanan Porcuna yang tidak terlalu ramai. Selama dalam perjalanan itu, Paloma ataupun Sebastian tak banyak bicara. Mereka sama-sama larut dalam pikiran masing-masing. Paloma bahkan lebih sering melihat ke luar, menikmati keindahan kotamadya yang dikelilingi hamparan perkebunan zaitun.


Selang beberapa saat di perjalanan, Sebastian akhirnya memarkirkan SUV putihnya di depan sebuah bangunan yang tiada lain merupakan tempat cukur rambut. Dengan tenang, duda tiga puluh tujuh tahun tersebut menuntun Paloma masuk ke sana. Sebastian tak peduli meskipun Paloma terlihat risi.

__ADS_1


Setelah berada di dalam, mereka segera disambut oleh seorang pria paruh baya berkepala plontos, tapi memiliki janggut yang lebat. “Sebastian.” Pria yang merupakan pemilik tempat cukur rambut khusus pria itu memeluk hangat Sebastian. Kelihatannya, mereka sudah akrab sejak lama. Si pria lalu mengalihkan pandangan kepada Paloma. “Ow, kau membawa seseorang rupanya.”


“Ini Paloma,” ucap Sebastian seraya merengkuh pundak wanita berambut pendek di sebelahnya, sehingga posisi Paloma semakin mendekat padanya.


Paloma memaksakan diri untuk tersenyum. “Selamat siang, Tuan ….”


“Astaga, jangan terlalu formal,” sela si pria seraya tergelak. “Panggil saja Iker.”


“Oh, ya.” Paloma kembali tersenyum. Kali ini senyumnya terlihat jauh tulus.


“Tunggulah sebentar,” bisik Sebastian. Dia mengarahkan Paloma ke kursi kayu tempat para pelanggan menunggu. Untungnya, saat itu di sana sedang tidak ada pengunjung lain selain Sebastian.


Paloma mengangguk. Dia tak banyak membantah. Wanita cantik dengan midi dress biru navy itu langsung duduk. Dia memperhatikan Sebastian yang sudah bersiap di depan cermin besar dengan tubuh tertutup kain khusus. Pria itu memang terlihat luar biasa. Entah mengapa, dia begitu betah menduda setelah sekian lama. Padahal, Sebastian memiliki banyak kelebihan yang dapat digunakan untuk memikat lawan jenis.


Paloma merasa malu. Akhirnya, dia menundukkan wajah. Menyembunyikan paras cantiknya dari sorot mata Sebastian yang makin lama menjadi semakin penuh godaan. Paloma tak ingin memikirkan urusan percintaan dulu, sebelum menyelesaikan masalahnya dengan Rafael. Sebisa mungkin, dia harus membentengi diri dari rayuan maut sang tuan tanah penuh pesona yang selalu memperlihatkan godaannya.


Sementara, Sebastian hanya tersenyum simpul. Sebagai pria yang sudah berpengalaman, dia seakan dapat menebak pergolakan rasa dalam dada Paloma. Sebastian dapat melihat dengan jelas, bahasa tubuh wanita yang pernah tinggal beberapa waktu di Casa del Castaneda tersebut. Seberapa tangguh pertahanan seorang Paloma? Akan dia buktikan tak lama lagi.


Sebastian sudah selesai merapikan rambut dan janggutnya. Kali ini, penampilan duda tiga puluh tujuh tahun tersebut terlihat semakin sedap dipandang. Setelah berpamitan kepada Iker, sang pemilik perkebunan zaitun itu membawa Paloma ke Casa del Castaneda. Sebastian meminta Paloma agar menemaninya bersantap siang.

__ADS_1


“Seharusnya, aku tak pernah memberikan kalung itu padamu,” sesal Paloma, ketika mereka telah tiba di Casa del Castaneda. Dia masih merasa risi, tiap kali harus datang ke rumah perkebunan tersebut.


“Seharusnya kau tidak bermain-main denganku,” balas Sebastian. Dia kembali menuntun Paloma memasuki bangunan megah, dengan dominasi warna kuning gading dan cokelat tua. “Sekarang kau tahu sedang berhadapan dengan siapa?” Sebastian terus menggenggam tangan Paloma menyusuri koridor. Dia tak peduli, meskipun ada beberapa pelayan yang memperhatikan mereka. Salah satunya adalah Flor.


Wanita muda berambut pirang tersebut, berpapasan langsung dengan mereka. Flor tertegun dan tak percaya, saat melihat penampilan teman satu kamarnya dulu. “Paloma?” sapa Flor ragu.


“Hai, Flor,” balas Paloma. Namun, dia tak sempat berbasa-basi lagi, karena Sebastian lebih dulu menariknya agar terus melanjutkan langkah. Paloma bahkan cukup kesulitan, saat harus mengimbangi kecepatan laju Sebastian.


Sebastian baru melepaskan genggaman tangannya dari pergelangan Paloma, ketika mereka sudah tiba di ruang kerja. Pria itu mengambil sesuatu dari dalam laci. Sebuah kotak stainless, di mana dirinya menyimpan kalung milik Paloma. “Kau ingin ini, Paloma?” Sebastian menunjukkan kalung itu.


Seketika, raut wajah Paloma berubah ceria. Sepasang mata hazelnya yang indah tampak berbinar. Paloma bergerak cepat, hendak menyambar kalung yang Sebastian pegang. Namun, gerakan Sebastian jauh lebih gesit darinya. Pria itu menyembunyikan kalung yang Paloma inginkan dalam genggaman.


“Ambil jika kau bisa,” tantang Sebastian, seraya mengulurkan tangannya yang terkepal kepada Paloma. Seperti bocah yang sedang bermain bersama, Paloma berusaha membuka kepalan tangan Sebastian. Namun, wanita itu terlihat kesulitan melakukannya. Makin lama, Paloma merasa kesal. Dia bahkan sempat memukul-mukul tangan Sebastian yang justru tertawa melihat sikapnya.


Merasa jika Sebastian sedang mempermainkannya, Paloma menjadi kesal. Tak kehilangan akal, Paloma menggigit pergelangan Sebastian dengan kuat. Membuat pria itu memekik pelan. Namun, pertahanan Sebastian terlalu kuat, meskipun di tangannya sudah ada bekas gigitan Paloma. Sebastian meringis kecil. Akan tetapi, pria itu kembali tertawa.


“Kau menyebalkan!” umpat Paloma. Dia melipat kedua tangan di dada sambil berbalik. Paloma membelakangi Sebastian dengan kekesalan yang sudah menggunung.


Sementara, Sebastian masih terlihat tenang. Dia memasukkan kalung tadi ke saku celana jeansnya. Sebastian mendekat dan berdiri di belakang Paloma. Perlahan, pria itu membalikkannya. “Aku akan mengembalikan kalungmu, setelah kau melunasi sisa utang padaku.”

__ADS_1


“Bagaimana caranya agar bisa segera lunas?” tanya Paloma.


“Jadilah kekasihku,” jawab Sebastian, seraya menyentuh lembut bibir Paloma untuk kedua kalinya.


__ADS_2