Casa Del Castaneda

Casa Del Castaneda
Terungkap


__ADS_3

“Tuan Sebastian?” Pengacara Cardenas, menyebutkan nama yang membuat Paloma seketika terbelalak tak percaya.


Paloma langsung menyembulkan kepala dari balik pintu. Sepasang mata hazelnya yang indah masih terbelalak lebar, karena tak menyangka bahwa duda kaya pemilik perkebunan zaitun itu telah berada di depan pintu rumah yang disewanya. “Kau? Di sini?” Paloma membuka pintu sedikit lebih lebar. “Bagaimana kau bisa mengetahui bahwa aku tinggal di sini?” tanyanya heran. "Kau menguntitku?" tukasnya.


“Tidak ada yang tak bisa kulakukan, Paloma,” jawab Sebastian diiringi senyum kalem kepada wanita cantik itu. Sesaat kemudian, Sebastian mengalihkan pandangan kepada Pengacara Cardenas. “Anda ada di sini juga, Tuan Pengacara?” tanya pria tampan empat puluh tahun tersebut.


“Aku bisa berada di manapun, Tuan Sebastian,” sahut pria bernama lengkap Jose Alvaro Cardenas itu. “Ada urusan yang harus dirundingkan dengan Nyonya Hernandez,” ucap pengacara muda berkemeja biru langit tersebut. Dia juga melayangkan senyuman kalem kepada Sebastian.


“Oh, baiklah. Rupanya, aku datang di saat yang tidak tepat,” ucap Sebastian setelah mendengar jawaban Pengacara Cardenas. Sorot matanya terlihat berbeda. Ada rasa kecewa yang tersirat, dalam tatapan sepasang iris cokelat madu itu. “Aku permisi dulu.” Sebastian membalikan badan. Baru saja dia akan melangkah pergi, suara dering panggilan lebih dulu menghentikannya.


Sebastian tertegun. Dia memeriksa panggilan masuk, yang ternyata berasal dari Abelardo. “Holla,” sapa Sebastian gagah.


“Bisakah kau membantuku, Sebastian?” tanya Abelardo dari seberang sana.


“Membantu apa?” Sebastian balik bertanya.


“Tolong katakan pada Nyonya Hernandez, bahwa kami sudah mengetahui nama pemilik kendaraan yang diduga telah menabrak mobil yang dikendarai Rafael Hernandez,” pinta Abelardo.


Sebastian terdiam sesaat. Dia tak segera menjawab. Pria itu menoleh kepada Paloma dan Pengacara Cardenas, yang masih berdiri di ambang pintu. Seulas senyuman terlukis di paras tampannya. Sikap Sebastian yang demikian, membuat Paloma menjadi keheranan. Terlebih, karena pria itu berbalik dan kembali berjalan ke arah ibunda Luz Maria tersebut.


“Baiklah. Akan kuhubungi lagi nanti,” tutup Sebastian. Dia mengakhiri perbincangan di telepon bersama Abelardo. Sebastian kembali tersenyum kepada Paloma.


“Ada apa?” tanya Paloma penasaran.


“Abelardo baru saja menghubungiku,” jawab Sebastian. “Dia memintaku untuk menyampaikan berita penting ini padamu,” ucap duda kaya raya itu.


“Kenapa Inspektur Polisi Lujan tidak menghubungiku secara langsung?” tanya Paloma yang seakan keberatan dengan tindakan Abelardo. Dia lagi-lagi ingin melayangkan protes keras, kepada pria yang juga merupakan sahabat Sebastian tersebut.


“Mungkin dia takut dengan omelanmu,” gurau Sebastian yang dibalas tatapan tajam dari Paloma. Jika saat itu mereka hanya berdua, Paloma sudah pasti langsung meledak di hadapan Sebastian. Janda cantik itu hanya mendengkus kesal. Lain halnya dengan pengacara Cardenas. Pria itu mengulum bibir demi menahan tawa. Dia tak ingin bermasalah dengan kliennya.

__ADS_1


“Jadi, bagaimana? Apa kau akan ikut bersamaku ke kantor polisi?” tanya Sebastian.


“Kebetulan sekali. Aku juga akan mendampingi Nyonya Hernandez, untuk melihat bukti-bukti yang berhasil dikumpulkan oleh polisi dan pihak penyidik,” ucap pengacara Cardenas.


“Aku ….” Paloma yang tadi merasa kesal, kali ini tampak ragu. Dia memandang wajah dua pria tampan di depan dan sampingnya itu secara bergantian. Pada akhirnya, Paloma memutuskan untuk menumpang mobil Pengacara Cardenas. “Aku akan mengikuti di belakang kendaraanmu,” putusnya sebelum bersiap-siap, lalu berpamitan kepada Teress yang sedang menjaga Luz Maria.


Dua jam perjalanan terasa lebih lama bagi Paloma. Dia tak bisa bersabar menunggu hasil penyelidikan anak buah Abelardo. Keringat dingin mulai keluar dari telapak tangan Paloma, sehingga dia harus menggosok-gosokkannya pada rok yang dikenakan.


“Semua akan baik-baik saja, Nyonya Hernandez,” ucap Pengacara Cardenas, yang sedari awal memperhatikan gerak-gerik Paloma.


“Apakah aku terlihat sedang gugup?” tanya Paloma malu-malu.


“Siapa pun yang berada pada posisi Anda, pasti akan merasakan hal yang sama,” jawab Pengacara Cardenas seraya tersenyum lembut.


Paloma tak sempat menanggapi lagi. Mereka sudah tiba di depan gedung berlantai lima, yang merupakan markas kepolisian tempat Abelardo bekerja. Tanpa menunggu Pengacara Cardenas turun dari kendaraannya, Paloma lebih dulu membuka pintu mobil dan setengah berlari menuju Sebastian yang lebih dulu datang. Duda kaya raya itu menunggu di samping pintu masuk.


“Ayo,” ajak Sebastian seraya mengulurkan tangan kepada Paloma. Dia sudah siap, seandainya Paloma menolaknya mentah-mentah. Namun, Sebastian tak memedulikan hal itu. Pria tampan tersebut, hanya ingin menggenggam jemari lentik Paloma.


“Selamat siang, Sahabatku." Sebastian melepaskan genggamannya dari Paloma, lalu merentangkan tangan. Dia bersiap untuk berpelukan dengan Abelardo.


“Aku merasa lega karena telah berhasil memecahkan kasus ini." Abelardo membalas dengan memeluk Sebastian, sambil menepuk-nepuk punggung duda kaya itu.


“Bagaimana hasilnya?” tanya Paloma tak sabar.


“Duduk dulu, Nyonya ….” Abelardo menghentikan kata-katanya, saat Pengacara Cardenas masuk dan mengangguk sopan padanya.


“Dia pengacaraku,” terang Paloma sebelum ditanya.


“Baiklah. Silakan duduk semuanya." Abelardo mengarahkan tangannya ke kursi-kursi kosong yang tersedia. Mereka bertiga duduk dengan tegang sambil menunggu Abelardo, yang tengah mengambil setumpuk berkas dari meja kerjanya.

__ADS_1


“Tim penyidik sudah menemukan pemilik mobil SUV yang plat nomornya berhasil kami identifikasi.” Abelardo menyerahkan salinan gambar plat nomor ke masing-masing yang ada di ruangannya itu. “Mobil itu terdaftar atas nama Nyonya Tatiana Vidal,” tutur Abelardo.


Paloma memegang selembar kertas itu dengan tangan gemetar. Dia memperhatikan gambar yang ada di depannya dengan saksama. “Milik Tatiana Vidal?” ulangnya lirih.


“Ya, Nyonya. Kami juga berhasil menyimpulkan, bahwa Tuan Sebastian Castaneda sama sekali tidak ada kaitannya dengan kecelakaan ini,” tegas Abelardo.


Paloma terkesiap, lalu menoleh pada Sebastian. Pria tampan itu menyunggingkan senyuman lembut, saat Paloma menoleh ke arahnya. Penyesalan mulai hadir dalam hati, yang lambat-laun berubah menjadi rasa bersalah.


Selama ini Paloma sudah bersikap buruk pada Sebastian. Akan tetapi, tak sekalipun pemilik perkebunan zaitun terbesar di Porcuna itu membalasnya. “Ja-jadi … Tatiana Vidal yang … yang …," ucap Paloma terbata.


“Ya, Nyonya. Mantan istri suami Anda ternyata pernah mencelakai Tuan Rafael Hernandez bertahun-tahun yang lalu. Kali ini, dia mengulanginya lagi,” jelas Abelardo. “Dia mengetahui bahwa Tuan Hernandez kembali ke Spanyol,” imbuhnya.


“Lalu, setelah ini bagaimana?” tanya Pengacara Cardenas.


“Kami sudah menerbitkan surat penangkapan. Saat ini, anak buahku sudah berkoordinasi dengan pihak kepolisian Sevilla. Mereka sudah bergerak ke kediaman Keluarga Vidal,” jawab Abelardo.


“Syukurlah,” ucap Pengacara Cardenas. “Bagaimana, Nyonya? Apakah Anda sudah puas menerima hasil penyidikan dari kepolisian?” Pengacara muda itu mengalihkan perhatiannya pada Paloma.


“Ya, aku bisa menerima semua ini." Paloma mengangguk sembari tersenyum kaku. Mata hazelnya sama sekali tak lepas dari Sebastian, yang juga tengah memandang ke arahnya.


“Baiklah, kalau begitu. Aku permisi untuk berangkat ke Sevilla." Usiran halus diucapkan oleh Abelardo, bertujuan agar para tamunya segera undur diri.


“Terima kasih banyak untuk semuanya." Sebastian ikut berdiri dan menyalami sahabatnya itu dengan antusias, lalu diikuti oleh Paloma. Tak henti-hentinya, janda cantik itu mengucapkan terima kasih kepada Abelardo.


“Bisakah kita bicara sebentar?” pinta Paloma, sesaat setelah mereka bertiga berada di luar gedung kepolisian.


“Tentu.” Sebastian mengiyakan tanpa pikir panjang. Dia lalu menoleh pada Pengacara Cardenas yang masih berdiri di sana. “Bersama dia juga?” tanyanya sambil mengarahkan telunjuk, pada pria yang berusia lebih muda darinya itu.


“Tidak. Berdua saja,” jawab Paloma.

__ADS_1


“Oh, maafkan aku. Kupikir Anda ingin berbicara mengenai kasus ini,” ucap Pengacara Cardenas. “Kalau begitu, aku permisi dulu. Kutunggu Anda di mobil,” pamitnya.


“Tidak usah, Tuan Pengacara. Aku yang akan mengantarkan Paloma pulang ke Granada,” ucap Sebastian.


__ADS_2