
“Sebastian,” sambut seorang pria dengan beberapa lencana yang menempel di seragamnya. “Apa yang membawamu datang kemari?” tanya pria itu penuh wibawa. Dia memeluk hangat Sebastian, layaknya sahabat yang tidak berjumpa dalam waktu lama.
“Apa kabar, Abelardo?” Sebastian menepuk punggung pria bernama Abelardo tadi. Dia membalas sikap hangat yang ditunjukkan pria itu padanya.
“Kau lihat sendiri. Aku tua dan berkumis,” sahut Abelardo diiringi gelak tawa. Pria berambut cokelat tembaga dengan banyak lencana tadi, mengajak Sebastian duduk bersama.
“Jangan bicara masalah tua, Kawan. Kita satu angkatan. Jika kau tua, maka aku pun tua,” protes Sebastian, dengan nada bicara yang terdengar santai.
Ucapan Sebastian tadi, membuat Abelardo kembali tergelak. “Ya, kau benar. Aku lupa jika usia kita hanya terpaut satu bulan,” ucapnya. Abelardo membetulkan posisi duduk. “Jadi, apa yang membawa tuan tanah ini sampai datang kemari ?” tanya pria dengan kumis tebal itu.
Sebastian tak segera menjawab. Dia mengusap-usap dagu berhiaskan janggut tipis yang tercukur rapi. Pria tampan berusia empat puluh tahun tersebut, tampaknya sedang menata kata-kata yang akan disampaikan kepada Abelardo.
“Boleh kutahu siapa yang menangani kasus kecelakaan di perbatasan Porcuna?” tanya Sebastian beberapa saat kemudian.
“Kenapa kau tertarik dengan hal itu?” Bukannya menjawab, Abelardo justru balik bertanya.
“Tidak apa-apa. Aku hanya ingin tahu. Lagi pula, Rafael Hernandez adalah mantan kolegaku dulu. Kau pasti mengenal Tatiana Vidal. Pengusaha wanita asal Sevilla,” terang Sebastian.
“Apa hubungannya dengan Tatiana?” tanya Abelardo seraya menaikkan sebelah alis.
“Rafael Hernandez adalah suami Tatiana Vidal,” jawab Sebastian.
Abelardo tergelak mendengar hal itu. Dia menggeleng tak percaya. “Setahuku, nama suaminya adalah Elazar Ganimedes Blanco. Pengusaha konstruksi yang terkenal itu.”
Sebastian terdiam sejenak, sebelum menanggapi ucapan Abelardo. Sesaat kemudian, pria tampan empat puluh tahun tersebut mengangguk pelan. “Kau benar. Mereka bercerai setelah ….” Sebastian menjeda kata-katanya. Dia kembali berpikir. “Bagaimana dengan kecelakaan itu?”
Abelardo mengembuskan napas panjang disertai keluhan. Dia membetulkan posisi duduknya. Pria dengan kumis tebal tersebut berdecak seraya menggeleng berkali-kali.
__ADS_1
“Pertama, di sana bukanlah jalur ramai. Tak ada kamera CCTV yang dipasang, karena itu termasuk jalur alternatif. Kami sempat meyakini bahwa kecelakaan tersebut bukanlah kecelakaan tunggal. Akan tetapi, minimnya bukti yang didapat, membuat kami kesulitan mengembangkan kasus ini,” jelas Abelardo.
“Oh, tidak bisa begitu,” protes Sebastian. “Ini sudah menjadi tanggung jawab instansi yang kau kepalai. Aku ingin agar kau tetap mengusut kasus ini hingga selesai,” pinta sang tuan tanah memasang raut serius.
Abelardo terlihat ragu sebelum memberikan jawaban. Dia harus memikirkan matang-matang, sebelum mengambil keputusan. “Kami sudah menutup kasus ini dan menganggap bahwa kejadian itu merupakan kecelakaan tunggal,” ujarnya.
“Pastinya dibutuhkan waktu yang panjang untuk dapat mengungkap kasus ini, tanpa adanya bukti dan saksi mata yang jelas.”
“Kau salah besar jika mengatakan tak ada saksi mata yang jelas,” bantah Sebastian dengan tegas. “Istri Rafael Hernandez selamat dari kecelakaan itu. Dia yakin bahwa ada seseorang yang berusaha mencelakai mereka. Parahnya, istri Rafael Hernandez melayangkan tuduhan itu padaku,” terang Sebastian gusar.
Apa yang Sebastian katakan tadi, membuat Abelardo mengernyitkan kening. Dia tak mengerti dengan duduk permasalahan yang sesungguhnya. “Kenapa istri Rafael Hernandez berpikir demikian?” tanya pria berambut cokelat tembaga itu penuh selidik.
Kini, giliran Sebastian yang merasa bingung untuk menjelaskan semua yang telah terjadi, antara dirinya, Paloma, serta Rafael. Dia tak mungkin menjabarkan kisah cintanya yang tak berakhir dengan indah bersama Paloma, karena wanita itu lebih memilih kembali pada Rafael.
“Ada satu masalah yang tak bisa kujelaskan padamu. Namun, intinya adalah aku hanya ingin membuktikan, bahwa diriku tak ada sangkut-paut dengan kecelakaan yang menimpa pasangan itu. Sebagai sahabatku, aku yakin kau bisa membantu meluruskan masalah ini. Nama baik serta harga diriku dipertaruhkan, andai istri Rafael Hernandez terus maju dan berusaha melawanku.” Sebastian mengembuskan napas kasar.
Abelardo manggut-manggut. Dia dapat memahami kegundahan teman lamanya tersebut. “Selama kau memang dalam posisi yang benar, maka dirimu tak harus merasa gusar.”
Namun, Abelardo justru kembali tertawa, setelah mendengar ucapan bernada protes yang dilayangkan Sebastian. “Kau tidak perlu khawatir. Sebagai sahabatmu dan juga aparatur negara yang memang berkewajiban untuk membuktikan kebenaran, maka akan kubuka lagi kasus ini. Kami akan melanjutkan penyelidikan yang kemarin sempat tertunda,” ujar Abelardo yakin.
“Sebenarnya, ini adalah kasus yang pasti memberikan banyak tantangan. Aku menyukainya. Namun, karena pihak lain merasa tak yakin … ah tidak. Tak seharusnya kami merasa tidak yakin untuk yang namanya kebenaran. Kau benar, Sebastian. Aku harus menyelesaikannya.”
Sebastian merasa lega setelah mendengar ucapan Abelardo. Setidaknya, dia mendapat satu dukungan di luar apa yang akan dilakukannya nanti. Sebastian, tentu tak akan berdiam diri dan hanya menjadi penonton yang menunggu pertunjukan berakhir.
Setelah berbasa-basi beberapa saat dengan Abelardo, sang tuan tanah terluas di Porcuna itu memutuskan untuk pamit. Dia melanjutkan perjalanan pulang ke Casa del Castaneda.
Setibanya di rumah perkebunan megah tersebut, Sebastian segera menuju ke ruang kerja.
__ADS_1
Si cantik Leandra langsung menyambut dengan senyuman hangat nan manis. Wanita itu sudah mengabdi sekian lama kepada Sebastian, karena kinerjanya yang dapat diandalkan. Leandra bahkan kerap memberikan perhatian lebih di luar urusan pekerjaan. Contoh kecilnya adalah menanyakan apakah Sebastian sudah sarapan, makan siang, atau makan malam.
“Para pelayan sudah menyiapkan menu makan siang spesial untuk Anda, Tuan,” ucap Leandra lembut, saat Sebastian baru mengempaskan tubuh di atas kursi kebesarannya.
“Aku tidak lapar, Leandra. Kau saja yang makan,” sahut Sebastian sambil membuka kotak cerutu. Dia mengambil sebatang, lalu menggunting ujungnya. Seolah tak menganggap keberadaan Leandra, Sebastian asyik membakar ujung cerutu tadi dengan korek api otomatis.
“Setahuku, Anda tadi tidak sempat sarapan saat meninggalkan Casa del Castaneda,” ujar Leandra lagi.
Mendengar hal itu, barulah Sebastian menghentikan aktivitasnya. Dia menatap lekat pada wanita cantik, yang juga tengah memandang ke arahnya.
Leandra menjadi salah tingkah, saat Sebastian terus memandangnya. “A-apa ada sesuatu yang salah pada diriku, Tuan?” tanya Leandra gugup.
“Terima kasih atas perhatianmu, tapi kau tak perlu repot-repot. Bertahun-tahun aku hidup seorang diri dan merasa nyaman dengan keadaan yang seperti ini,” jawab Sebastian tanpa menanggalkan kewibawaannya.
Cerutu Kuba kualitas unggulan yang sudah terbakar tadi menimbulkan asap. Sebastian mengisapnya dengan mata terpejam. Dia menikmati aroma tembakau, yang memenuhi rongga mulut dan hidungnya.
“Bu-bukan begitu maksudku, Tuan.” Leandra menjadi semakin salah tingkah. Dia menyelipkan beberapa helai rambut ke belakang telinga. “Selama ini, perhatianku selalu tulus untuk Anda, Tuan," ucapnya.
“Aku tak meragukannya Leandra. Itulah kenapa aku memilihmu menjadi asisten kepercayaanku.” Sebastian menyunggingkan senyuman menawan. Membuat pipi Leandra bersemu merah. Wanita itu sudah hendak menanggapi perkataan sang majikan, ketika Sebastian tiba-tiba membalik kursinya sehingga membelakangi Leandra.
Sebastian mengalihkan perhatian pada jendela besar, yang menampilkan hamparan perkebunan zaitun miliknya. “Kau boleh pergi, Leandra. Makan sianglah dulu. Aku ingin menyendiri sejenak tanpa diganggu siapa pun,” ujar sang tuan tanah.
“Baik, Tuan,” sahut Leandra yang terlihat sedikit kecewa. Dia mengangguk, lalu meninggalkan Sebastian sendiri seperti keinginannya.
Sebastian sempat menoleh untuk memastikan Leandra sudah benar-benar pergi dari ruangannya. Setelah yakin bahwa tak ada seorang pun selain dirinya, Sebastian mengambil telepon genggam yang tergeletak di atas meja. Dia lalu menghubungi Martin.
Tak berselang lama, panggilannya tersambung.
__ADS_1
“Ada yang bisa kubantu, Tuan? Aku bisa ke ruang kerja sekarang juga,” jawab Martin tanpa menunggu Sebastian berbicara.
“Tidak usah. Aku hanya ingin menyuruhmu untuk memeriksa rekaman CCTV yang berada di dua sisi gerbang depan. Cari dan unduh rekaman di hari yang sama dengan saat kejadian kecelakaan Paloma,” suruh Sebastian.