Casa Del Castaneda

Casa Del Castaneda
Ciuman Terakhir


__ADS_3

“Apa maksudmu?” tanya Paloma tak mengerti. Dia menatap penuh keresahan pada Sebastian.


“Berdiri dan ikutlah denganku ke Spanyol. Aku akan melindungimu di sana. Kau akan aman bersamaku. Sementara, biarkan proses perceraianmu terus berlanjut. Jika kau tak ada di sisi Rafael, maka pria itu tak mungkin dapat memaksakan kehendaknya padamu. Begitu juga dengan Tuan Gallardo.” Sebastian membantu Paloma berdiri. Dia mengusap lembut pipi wanita di hadapannya. “Aku jatuh cinta padamu. Kau telah membuatku kembali pada kehidupan yang lama kutinggalkan. Aku mencintaimu, Paloma," tegasnya.


“Sayangnya, aku tak akan membiarkan kau melanjutkan perasaan yang salah itu, Tuan Castaneda.” Suara Rogelio terdengar di sana. Dia melangkah gagah bersama Rafael. Kedua pria tersebut berdiri tak jauh dari tempat Paloma dan Sebastian berada.


Sebastian menoleh pada kedua pria tadi. Dia menatap tajam dan seakan menantang mereka. Sebastian memang tak takut dengan siapa pun. Apalagi, jika hal itu untuk mempertahankan sesuatu yang dirinya inginkan.


“Carlos Sanchez sudah menitipkan putrinya padaku. Dia berwasiat andai dirinya pergi terlebih dulu, maka aku yang bertanggung jawab atas Paloma. Karena itulah, aku menikahkannya dengan putra angkatku Rafael. Aku ingin Paloma berada di sini. Menjadi putriku tanpa membuatnya merasa tak nyaman,” jelas Rogelio dengan nada bicara yang terdengar sangat lugas.


“Aku juga sanggup menjaga Paloma dengan baik. Akan kuberikan dia kehidupan yang jauh dari kata layak. Anda tak perlu merasa khawatir, Tuan Gallardo. Paloma akan bahagia bersamaku. Kupastikan itu!" tegas Sebastian seraya menoleh kepada Paloma. Sedangkan, wanita itu membalas dengan tatapan nanar.


“Wanita yang sedang kau bicarakan adalah istriku,” ucap Rafael. Dia berjalan ke hadapan Sebastian, seakan menantang pria asal Spanyol tersebut. “Apakah tidak ada wanita lagi yang jatuh cinta padamu, sehingga kau harus mengambil istri pria lain? Di mana harga dirimu, Tuan Castaneda?” cibir Rafael seraya menyunggingkan senyuman sinis.


Sebastian menatap tajam pria bermata abu-abu di hadapannya. Dia juga membalas ucapan Rafael dengan senyuman sinis. “Kau berbicara tentang harga diri padaku?” ledek Sebastian. “Apa kau lupa, berapa tahun waktu yang dirimu habiskan untuk menjadi pria kesayangan Tatiana Vidal? Sementara, di lain tempat kau mengabaikan wanita yang tengah berjuang demi kehidupan anakmu!” Nada bicara Sebastian tiba-tiba meninggi.

__ADS_1


“Apapun yang kulakukan, itu bukanlah urusanmu!” ujar Rafael seraya mendorong tubuh tegap Sebastian.


“Akan menjadi urusanku jika itu berkaitan dengan Paloma! Dasar pria brengsek, seharusnya aku menembakmu saat di padang tandus tempo hari! Jika saat itu kau mati, maka hari ini kau tak akan menyusahkan hidup Paloma lagi!” Sebastian tak dapat menahan amarahnya. Dia melayangkan satu pukulan tepat mengenai wajah Rafael. Membuat pria bermata abu-abu itu bergerak mundur. Rafael bahkan hampir terjengkang, andai Rogelio tak segera menahannya.


“Sebastian!” sentak Rogelio. “Kau telah bertindak tidak sopan di tempatku! Aku berhak mengusirmu dengan tidak hormat!” Telunjuk pria paruh baya itu mengarah pada Sebastian yang akan kembali menerjang Rafael.


Namun, beberapa penjaga datang ke sana. Mereka memegangi tangan Sebastian dengan kencang. Para penjaga yang berjumlah empat orang tadi, berusaha keras menahan gerakan Sebastian yang terus mencoba melepaskan diri. Saat itulah, Rafael maju lalu membalas pukulan Sebastian. Ketika putra angkat Rogelio tersebut akan kembali melayangkan pukulan kedua, dengan segera Paloma bergerak mencegahnya.


“Tidak! Hentikan!” pekiknya tertahan. Paloma menatap Rogelio dan Rafael secara bergantian. Dia lalu mengalihkan perhatian kepada Sebastian dan beberapa penjaga yang masih memegangi lengan pria itu. “Lepaskan dia,” suruhnya. Akan tetapi, keempat pria tadi tak segera menuruti apa yang Paloma perintahkan. Mereka melihat kepada Rogelio, seakan meminta izin pada sang tuan besar. “Tolonglah, Ayah,” pinta Paloma.


“Aku tidak harus meminta izin kepada siapa pun termasuk Anda, Tuan Gallardo. Anda hanya diberi mandat oleh ayah Paloma. Akan tetapi, Anda tidak memiliki hak atas kehidupan wanita muda itu. Tuan Rogelio Gallardo bukan siapa-siapa bagi Paloma Sanchez de Luna.” Sebastian mengucapkan setiap kata yang meluncur dari bibirnya dengan penuh penekanan. Sorot mata serta raut wajah pria itu pun terlihat sangat berbeda.


Sementara, Rogelio seketika terpaku setelah mendengar ucapan Sebastian, yang dirasa begitu menusuk relung hatinya. Pria paruh baya tersebut tak membalas dengan kata-kata. Rogelio berjalan mundur beberapa langkah, dengan wajah tertunduk lesu.


Seperti itukah seorang Sebastian saat dilanda amarah yang besar? Paloma tak tahu harus merasa takut, atau justru kagum akan keberanian pria yang telah membuatnya berada dalam kegalauan. Tak ingin suasana semakin memanas, Paloma merasa harus segera bertindak.

__ADS_1


Wanita cantik bermata hazel itu, mendekat kepada Sebastian yang berdiri tak jauh darinya. Pria itu masih dikuasai amarah. "Pergilah, Sebastian. Jika kau datang kemari dengan membawa kebanggaan serta wibawamu, maka pulanglah ke Spanyol dengan tetap membawa kedua hal tersebut. Jangan rendahkan dirimu, dengan melakukan tindakan konyol seperti ini hanya untukku." Paloma mendekat. Tanpa diduga, dia mencium pria itu untuk sesaat.


Setelah memberikan ciuman terakhir untuk Sebastian, Paloma kemudian berlalu dari sana. Dia menuju kamarnya dengan setengah berlari.


Sebastian mengepalkan kedua tangan di samping tubuh. "Aku memutuskan jalinan kerja sama kita, Tuan Gallardo," ucapnya tegas sebelum berbalik meninggalkan Rogelio yang masih berdiri terpaku.


Rogelio tak mengatakan apapun. Dia tak peduli lagi dengan jalinan kerja sama itu. Rogelio begitu terganggu dengan ucapan Sebastian tadi, sehingga membuat pria paruh baya tersebut langsung membeku.


"Ayah." Rafael mengusap sudut bibirnya.


"Aku tidak peduli dengan jalinan kerja sama atau apapun," ucap Rogelio begitu saja. "Paloma." Rogelio tersadar. Dia menatap Rafael. "Aku harus kembali ke aula pesta. Kau carilah Paloma. Pastikan dia baik-baik saja." Rogelio menepuk pundak anak angkatnya, kemudian berlalu kembali ke aula di mana dia meninggalkan para tamu undangan.


Sementara, Rafael segera masuk. Pria itu mencari Paloma. Beruntung, salah seorang pelayan mengatakan bahwa dia melihat istri Rafael tersebut menuju kamarnya. Anak angkat Rogelio itu pun bergegas ke sana.


Sebelum tiba di kamar Paloma, Rafael sudah menghentikan langkahnya. Dia melihat sang istri berjalan keluar kamar, sambil menjinjing tas yang dipastikan berisi pakaian. "Kau mau ke mana?" Rafael bergegas menghampirinya.

__ADS_1


"Pergi," jawab Paloma tegas.


__ADS_2