
Sebastian menyodorkan buku yang baru diambilnya kepada Paloma. “Ambilah. Kuberikan buku ini untukmu, agar kau semakin mengenal Antonio Machado,” ucap pria bermata cokelat itu.
Paloma tak segera menerima buku yang disodorkan oleh Sebastian. Wanita muda itu malah memandang duda tampan di hadapannya. Sesaat kemudian, si pemilik mata hazel tadi mengulurkan tangan. Ragu, dia menerimanya. Paloma bahkan memasukkan foto Nilo yang sejak tadi dirinya pegang. “Apa Anda yakin, Tuan?” tanya Paloma yang seakan tak percaya dengan sikap Sebastian.
“Aku masih punya beberapa buku lain,” jawab Sebastian seraya merapikan buku-buku di atas meja.
Sementara, Paloma terus memperhatikan pria dengan perawakan tinggi tegap itu. Setiap bahasa tubuh Sebastian, tak dia lewatkan satu pun. Memang benar apa yang Flor katakan, bahwa sang pemilik bangunan megah Casa del Castaneda tersebut sungguh memesona.
Paloma merasa heran, bagaimana bisa pria itu betah menjalani hidup dalam kesendirian. Padahal, pasti banyak sekali wanita yang tertarik dan ingin menjadi nyonya besar di Casa del Castaneda. Apa lagi yang kurang? Semua kebutuhan primer, sekunder, bahkan tersier pun pasti akan terpenuhi, jika bersanding dengan duda tampan nan mapan tersebut.
Selagi Paloma asyik dengan pikirannya tentang Sebastian, terdengar suara ketukan di pintu dari luar. Wanita muda itu pun tersadar. Dia segera mengalihkan perhatian ke pintu, di mana muncul seraut wajah tampan yang tiada lain adalah Martin. Paloma tersenyum hangat, ketika pria itu memandang ke arahnya.
Martin pun melakukan hal yang sama. Dia membalas senyuman hangat wanita muda itu. “Paloma,” sapanya, “kau di sini?”
“Iya, aku ….”
“Ada apa, Martin?” tanya Sebastian menyela obrolan Martin dan Paloma. Dia yang tadi sibuk dengan buku-buku di atas meja, kali ini mengalihkan perhatiannya kepada sang mandor kepercayaan.
Martin berdiri sambil menempelkan topi fedora di dada. Dia memeganginya menggunakan tangan kiri. Dengan terpaksa, mandor tampan itu harus mengalihkan pandangannya dari paras cantik Paloma, beralih kepada sang majikan. “Ada sedikit urusan tentang perkebunan yang harus kita bahas, Tuan,” sahut Martin sembari mengangguk sopan. Setelah memberikan jawaban kepada sang majikan, ekor mata pria tampan itu kembali melirik Paloma.
“Baiklah.” Sebastian juga mengarahkan pandangannya kepada Paloma sebelum duduk di kursi kebesarannya. “Tugasmu untuk hari ini sudah selesai. Kau boleh pergi,” ucapnya, pada wanita muda yang tengah mendekap buku di dada.
Tanpa memberikan jawaban, Paloma segera mengangguk. Sebelum keluar dari ruang kerja Sebastian, Paloma sempat menoleh kepada Martin. Dia melayangkan senyuman terhadap pria berambut cepak tersebut. Lagi-lagi, Martin membalasnya dengan hal sama. Sebuah bahasa tubuh yang diam-diam menjadi perhatian Sebastian.
Sang pemilik Casa del Castaneda itu menaikkan sebelah alisnya. Duda tampan tiga puluh tujuh tahun tersebut, menangkap ada sesuatu yang lain, dari sikap Martin terhadap Paloma. Terlebih, ketika sang mandor terus mengikuti langkah si pemilik mata hazel itu hingga menghilang di balik pintu.
Sebastian mendehem pelan. Membuat Martin kembali mengarahkan pandangan kepada sang majikan, yang sudah duduk penuh wibawa di balik meja kerjanya. Martin tersenyum kikuk seraya mengusap tengkuk. Dia menjadi sedikit salah tingkah. Pria bertubuh tegap dengan kemeja kotak-kotak itu tertawa pelan, demi menghalau rasa malunya.
“Maafkan ketidaksopananku, Tuan.” Martin tertawa kecil atas sikap bodohnya.
__ADS_1
“Apakah yang hendak kau bahasa denganku, Martin?” tanya Sebastian seraya mengambil cerutu yang sudah tersedia di atas meja.
“Ini tentang kedatangan pekerja baru baru di bagian pemanen, Tuan,” jawab Martin sopan.
“Pekerja baru?” Sebastian mengernyitkan kening. Dia yang awalnya duduk bersandar, segera menegakkan tubuh. Dia mengurungkan niatnya untuk menyulut cerutu tadi.
“Ya, Tuan. Dia mengatakan bahwa Anda telah menyetujuinya,” tutur Martin.
“Siapa namanya? Aku tak pernah merasa merekrut siapa pun,” ujar Sebastian ragu. Dia mengusap-usap dagu untuk sesaat sambil berpikir. “Bawa pekerja baru itu kemari,” titahnya kemudian.
“Namanya Benicio Gutierrez, Tuan. Aku akan membawanya kemari." Martin kembali mengangguk sopan, sebelum membalikkan badan dan meninggalkan ruang kerja Sebastian.
Tak berselang lama, Martin kembali lagi bersama seorang pria muda seusia dirinya. “Selamat pagi, Tuan,” sapa pria bernama Benicio itu sambil membungkuk penuh hormat. Dia lalu berjalan mendekat.
Bukannya membalas sapaan Benicio, Sebastian malah berdiri dan memperhatikannya dari ujung kepala hingga ujung kaki sambil bersedekap. “Aku belum pernah melihatmu. Lalu, kenapa kau mengaku bahwa aku telah mendapatkan persetujuanku untuk bekerja di tempat ini?” tanyanya penuh curiga. "Lagi pula, aku tidak mengurusi para pekerja secara langsung, karena sudah ada orang yang bertugas untuk itu."
“Rafael?” ulang Sebastian. Ingatannya kemudian memutar pelan runtutan kejadian pada beberapa hari ke belakang.
Setelah pulang dari Casa de Castaneda, Rafael menghubungi Sebastian. Pria itu meminta agar Sebastian menerima seorang pekerja di perkebunan zaitun. Rafael berdalih bahwa pria yang merupakan kenalannya tersebut, sedang membutuhkan pekerjaan. Sementara, keahlian Benicio satu-satunya hanyalah di bidang perkebunan. Tatiana sendiri tidak memiliki lapangan pekerjaan yang sesuai dengan bidang kemampuan Benicio.
“Aku ingat sekarang.” Sebastian mengembuskan napas pelan, seraya menggaruk pelipis. “Dia benar, Martin. Aku yang menyetujuinya agar dapat bekerja di tempat ini. Maaf, sepertinya otakku sedang tidak berfungsi dengan baik,” kelakar Sebastian. Entah kenapa, selesai berbicara demikian wajah cantik Paloma terlintas sesaat di benaknya.
“Bagaimana ini, Tuan? Posisi pemanen sudah penuh,” ucap Martin bingung.
“Tempatkan saja di posisi lain,” sahut Sebastian.
Martin menggeleng. Jika saja Sebastian bukanlah atasan dan pemilik ribuan hektar lahan zaitun tempatnya bekerja selama bertahun-tahun, Martin akan lebih memilih berdebat. Sebastian telah mengambil keputusan seenaknya. Padahal, Martin lah yang paling mengetahui kondisi lapangan.
“Kurasa ada tempat di bagian perawat lahan, Tuan,” pikir Martin dengan ekspresi yang menunjukkan keberatan. “Namun, jika Benicio bersedia, aku akan menempatkannya di sini. Casa de Castaneda sepertinya juga kekurangan pelayan pria,” cetus Martin tiba-tiba.
__ADS_1
“Astaga.” Benicio mengeluh pelan sambil menggaruk kepalanya. “Kalau hanya menjadi pelayan, Tuan Rafael juga sempat menawarkannya padaku. Untuk apa aku jauh-jauh kemari jika harus mendapatkan posisi yang sama,” protesnya.
“Semua terserah padamu. Aku juga merasa bersalah karena mengiyakan begitu saja permintaan Rafael tanpa berdiskusi dengan Martin. Kau boleh kembali pulang ke asalmu jika keberatan. Aku yang akan menanggung seluruh biaya transportasi, sekaligus sedikit uang saku untuk membayar kerugian waktumu,” ujar Sebastian. Nada bicaranya terdengar tenang.
Namun, Benicio menanggapinya dengan sorot kebingungan. “Eh, i-itu ....” Dia tergagap dan tampak serba salah. “Baiklah. Aku setuju,” putus Benicio dengan segera. “Kupikir, daripada harus kembali pulang ... itu akan menjadi sesuatu yang sangat memalukan. Terlebih, aku juga sudah jauh-jauh datang kemari. Lagi pula, keluarga kecilku begitu berharap banyak. Mereka terlalu senang saat mendengar bahwa aku dapat pekerjaan di perkebunan milik Tuan Castaneda,” ucapnya.
“Jadi, bagaimana?” Martin memandang Benicio dan Sebastian secara bergantian.
“Aku bersedia bekerja menjadi pelayan. Akan tetapi, jika suatu saat ada lowongan di bagian perkebunan, tolong berikan padaku, Tuan,” pinta Benicio penuh harap.
“Baiklah, kalau begitu. Aku akan menyiapkan berkas-berkas untuk formulir kontrak.” Martin mengarahkan pandangannya pada Sebastian sebagai isyarat untuk meminta persetujuan.
“Kuserahkan semuanya padamu, Martin,” balas Sebastian seraya mengangguk.
“Terima kasih banyak, Tuan-tuan." Benicio terlihat begitu sumringah. Tanpa ragu, dia menyalami Sebastian dan Martin berkali-kali.
“Kami permisi, Tuan.” Martin setengah membungkuk, lalu melirik pada Benicio, mengisyaratkan pria itu agar melakukan hal yang sama. Benicio pun menurut. Tanpa berlama-lama, mereka berdua langsung meninggalkan ruang kerja Sebastian.
“Apa aku bisa mulai bekerja sekarang?” tanya Benicio tak sabar, sesaat setelah Martin menutup rapat pintu ruang kerja majikannya.
“Bersabarlah. Sebelum mulai bekerja di sini, kau harus ikut ke ruang kepegawaian terlebih dulu,” jawab Martin seraya mengarahkan Benicio untuk menuju ke bangunan lain yang berada tak terlalu jauh.
“Untuk apa, Tuan?” Pertanyaan Benicio membuat Martin harus menghentikan langkah dan berbalik menghadap ke arahnya.
“Tentu saja untuk mengurus kartu pegawai dan mengambil fotomu. Aku juga harus merekam kartu identitas yang kau bawa. Sekadar berjaga-jaga,” jelas Martin sedikit ketus.
“Berjaga-jaga?” Benicio menggeleng tak mengerti.
“Ya. Setiap pekerja di Casa del Castaneda, harus menyerahkan kartu identitas. Setelah kami merekam semua data-datamu, kami akan mengembalikan kartu itu. Hal ini untuk mempermudah kami menindak, andai terjadi pelanggaran yang dilakukan oleh pegawai,” jelas Martin yang seketika membuat tubuh Benicio membeku.
__ADS_1