
“Senang bisa melihat kalian berada di Spanyol,” ucap pria yang tak lain adalah Sebastian. Dia melangkah gagah ke hadapan Paloma dan Rafael. Sementara, Rogelio yang tadi keluar lebih dulu, kembali ke dekat pintu masuk.
“Sedang apa kau di sini?” tanya Rafael berbasa-basi. Namun, nada pertanyaan pria itu terdengar kurang bersahabat.
“Ini Spanyol, Tuan Hernandez. Spanyol adalah negara tempat tinggalku,” jawab Sebastian kalem. Dia tak ingin memedulikan Rafael, karena dirinya segera mengalihkan perhatian kepada Rogelio. “Apa kabar, Tuan Gallardo?” sapa pria empat puluh tahun itu penuh wibawa.
“Aku sangat lelah. Sekarang, perutku terasa mual,” jawab Rogelio penuh sindiran.
“Oh, sayangnya aku tidak membawa kantong muntah,” balas Sebastian diiringi senyuman kalem. Setelah mengembuskan napas pendek, dia mengalihkan pandangan kepada Paloma yang tengah menggendong Luz Maria. Balita itu tertidur sambil melingkarkan tangan di leher sang ibu.
“Apakah itu putrimu?” tanya Sebastian dengan nada bicara yang terdengar berbeda. Bagaimanapun juga, ada perasaan indah dalam penantian panjang yang ternyata tak memberikan kepastian padanya.
“Ya,” jawab Paloma singkat.
Perasaan berkecamuk mulai mendera dalam dada Sebastian. Jika dia tak pandai mengendalikan diri, maka sudah pasti dirinya akan berkata dengan nada keras kepada Paloma. Dia ingin sekali mengeluarkan segala unek-unek, yang telah dipendamnya selama bertahun-tahun. Rasa kecewa atas sikap Paloma yang telah begitu tega mencampakkan, serta membiarkannya dalam penantian menyakitkan.
“Oh.” Sebastian mengangguk samar. Dia menatap Paloma beberapa saat, hingga tersadar dan kembali berbicara. “Kebetulan kau datang ke Spanyol. Bisakah mampir sebentar ke Casa del Castaneda? Ada sesuatu yang ingin kukembalikan padamu.”
Paloma sempat terkesiap mendengar kata ‘sesuatu yang ingin kukembalikan’. Pikirannya langsung tertuju pada kalung yang telah lama ditahan oleh Sebastian. Tanpa berpikir panjang, ibunda Luz Maria itu langsung mengangguk setuju. “Tentu. Aku akan ke sana lusa. Besok, kami masih ada acara,” sahutnya.
‘Baiklah. Aku tunggu,” balas Sebastian datar. “Permisi. Selamat malam.” Dia mengangguk sopan kepada Rogelio, tapi tak menoleh lagi pada Rafael. Sebastian langsung berbalik menuju kendaraannya.
__ADS_1
Untuk sesaat, Paloma tertegun menatap punggung tegap pria yang hampir menjadi pengganti Rafael. Hingga tubuh Sebastian masuk dan menghilang di dalam kendaraan, Paloma masih terpaku di tempatnya.
“Ayo, Sayang. Kita harus segera beristirahat,” ucap Rafael membuyarkan lamunan Paloma.
“Kau benar, Rafael,” timpal Rogelio. “Sudahlah. Punggungku sudah benar-benar sakit. Aku ingin segera berbaring,” keluh pria paruh baya itu lagi. Dia membalikkan badan, berjalan mendahului menuju hotel.
Sementara itu di dalam kendaraan milik Sebastian. Leandra melihat perubahan sikap sang tuan yang berubah drastis, setelah bertemu dengan wanita asing tadi. Leandra ingin sekali bertanya. Akan tetapi, dia sadar bahwa itu bukan merupakan ranahnya. Wanita itu memilih diam dan melawan rasa penasaran dalam hati.
Keesokan harinya, Paloma bersama Rafael dan Rogelio mengunjungi makam Nilo. Kondisi tempat peristirahatan terakhir anak itu sangat terawat. Namun, seindah dan sebersih apapun pusara putra pertamanya dengan Rafael tersebut, tetap saja tak dapat menghapus rasa sakit yang menyesakkan dada Paloma. Air mata wanita cantik tersebut tetap menetes. Mengalir deras membanjiri pipi. Ratap kepedihan seorang ibu atas kehilangan putra tercinta, kembali hadir.
“Sudahlah, Nak.” Rogelio memegangi lengan Paloma agar tetap berdiri. Sementara, Rafael hanya terpaku sambil menggendong Luz Maria.
“Nilo sudah tenang dalam pangkuan Yang Maha Kuasa. Tuhan menyayanginya. Karena itu, dia tidak dibiarkan merasakan sakit terlalu lama,” ucap Rogelio lagi menghibur Paloma.
“Rasa bersalahku tak akan pernah habis, setiap kali mengingat putra yang tak pernah kusentuh sama sekali. Andaikan waktu dapat diputar ulang, maka aku akan berusaha menjadi ayah terbaik untuknya,” ucap Rafael penuh sesal.
“Sudahlah, Rafael,” balas Rogelio menanggapi. “Semua yang telah berlalu, jangan sampai diungkit lagi. Kau sudah berusaha. Saat ini, dirimu telah menjadi suami yang hebat untuk Paloma, dan ayah yang luar biasa bagi Luz Maria.”
“Tetap saja rasanya berbeda, Ayah,” bantah Rafael. “Aku ingin sekali merasakan bagaimana menemani anak laki-laki saat bermain.” Rafael terdiam beberapa saat. Dia menepuk-nepuk punggung Luz Maria yang menggeliat dalam tidurnya. Rafael menatap nanar pusara putra pertamanya, yang telah diabaikan beberapa tahun silam.
Tiba-tiba, Rafael menyunggingkan senyuman samar di bibirnya yang dihiasi kumis tipis. Dia menoleh kepada Paloma yang sudah menenangkan diri. Satu tangan pria itu meraih pundak sang istri. Rafael merengkuhnya dengan hangat. “Aku tahu apa yang harus kulakukan, Paloma. Dulu, aku pernah mengatakannya padamu tentang hal ini,” ucap Rafael pelan, tapi terdengar sangat yakin.
__ADS_1
“Tentang apa?” tanya Paloma tak mengerti. Dia sudah menyeka bersih sisa-sisa air matanya hingga tak tersisa.
“Apa kau benar-benar lupa dengan apa yang kukatakan di sini beberapa tahun silam?” Rafael menggumam pelan. Dia lalu tersenyum simpul. “Saat itu, aku mengatakan bahwa seandainya diriku mati, maka aku ingin dimakamkan di dekat pusara Nilo. Dengan begitu, aku dapat selalu berada di sisinya. Tak apa andai Nilo tak mengenaliku sebagai ayahnya. Aku sudah melihat paras anak itu dari selembar foto. Wajah kecilnya terpatri dalam ingatanku, dan tak mungkin dilupakan.”
“Jangan bicara sembarangan, Rafael. Aku tak suka membicarakan masalah kematian,” tolak Paloma.
“Paloma benar. Aku justru ingin hidup lebih lama lagi, agar dapat melihat seperti apa wajah Luz Maria saat dewasa nanti. Kau pun seharusnya berpikir seperti itu, Rafael,” tegur Rogelio seraya menepuk pundak sang menantu. Sedangkan, Rafael hanya tersenyum simpul. Dia tak menanggapi lagi Terlebih, karena hari sudah beranjak panas.
Sesuai rencana, mereka akan mampir terlebih dulu ke tempat Theresa. Paloma ingin sekali bertemu dengannya. Wanita paruh baya yang baik hati itu, menyambut kedatangan mereka di tempat tinggalnya yang sederhana.
Hingga beberapa saat Paloma dan Theresa melepas rindu. Sayangnya, karena Luz Maria tak seperti Nilo. Balita cantik itu tak mau disentuh, apalagi sampai digendong mantan pengasuh kakaknya tersebut.
“Kalida, besok kami akan pergi ke Porcuna. Namun, Luz Maria tak akan diajak, karena aku takut dia terlalu kelelahan,” ucap Paloma pada wanita muda yang merupakan pengasuh Luz Maria.
“Baik, Nyonya. Anda tidak perlu khawatir,” sahut Kalida, wanita dua puluh empat tahun yang sudah menjadi pengasuh Luz Maria sejak balita itu berusia lima bulan. Paloma harus memakai jasa pengasuh, karena dirinya harus melanjutkan jabatan yang dipegang Rogelio di perusahaan.
Sesuai yang telah direncanakan semalam, Paloma dan Rafael berangkat ke Porcuna menggunakan mobil rental. Mereka pergi sekitar pukul sepuluh pagi. Jika tak ada hambatan dalam perjalanan, keduanya akan tiba dalam waktu kurang lebih dua jam.
Setibanya di depan gerbang bertuliskan Casa del Castaneda, perasaan Paloma menjadi kian tak menentu. Resah dan gelisah mulai mendera. Dia begitu gugup, terlebih saat melihat sang tuan rumah yang sudah menunggu di teras.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Rafael memastikan.
__ADS_1
Paloma tidak menjawab. Dia hanya mengangguk seraya melepas sabuk pengaman.