
Rafael memperlihatkan rona keberatan atas ucapan sang pastor. Itu bukan merupakan sesuatu yang dia inginkan. Rafael menatap tajam kepada Paloma yang masih terlihat tenang, menyimak segala petuah pastor tadi. Pria tampan bermata abu-abu tersebut merasa heran, karena Paloma tak melakukan protes sama sekali. Namun, Rafael tak ingin bersikap seperti yang wanita itu tunjukkan.
“Apa maksudnya kami harus tetap bersama selama menunggu keputusan dari pihak gereja?” protes Rafael tak terima. “Kami memutuskan untuk bercerai. Itu artinya, kami sudah tak ingin bersama-sama lagi. Kenapa peraturannya demikian? Itu sama saja memaksakan kehendak. Apa Anda sadar, Pastor? Itu tak akan menyelesaikan masalah, karena jalan satu-satunya adalah berpisah,” tegas Rafael menahan kekesalan. Sebisa mungkin, pria berambut cokelat itu tak terbawa emosi. Terlebih, yang dihadapinya merupakan seorang pemuka agama.
“Aku sangat memahami maksud Anda, Tuan,” ucap sang pastor tetap terlihat tenang. “Lihatlah diri Anda saat ini. Dipenuhi amarah dan kebencian yang sangat besar. Seseorang yang sedang diliputi kemarahan, biasanya mengambil keputusan tanpa berpikir baik-baik. Sama seperti mereka yang sedang merasa kalut. Mengambil pisau, lalu menghilangkan nyawa orang yang membuat mereka kecewa. Lalu, setelah orang yang dihabisi itu mati bersimbah darah, apakah masalah selesai sampai di sana? Tidak, Tuan. Hal itu justru menimbulkan masalah yang baru bagi si pelaku.”
“Kenapa pikiran Anda begitu jauh, Pastor? Kami hanya ingin mencari kebahagiaan masing-masing. Aku sama sekali tidak merasa bahagia menikahi wanita ini. Dia pun sebaliknya.” Rafael kembali membantah ucapan pastor tadi.
“Jika Anda memang tak pernah menginginkan pernikahan ini, seharusnya Anda menolak secara langsung sebelum terjadi pengukuhan dalam janji suci di hadapan Tuhan. Itu bukan hal yang sulit, Tuan. Anda juga akan terhindar dari perasaan yang pastinya benar-benar membebani,” ujar sang pastor lagi. “Kami di sini hanya memberi masukan. Selalu ada jalan yang tepat untuk menuju ke arah yang benar, meskipun kita sempat tersesat. Itu bukan hal yang tidak mungkin, Tuan. Kecuali, jika Anda lebih senang berada dalam lingkaran kesalahan itu, tanpa ada niat untuk berusaha keluar.”
“Kami di sini hanya ingin membantu setiap pasangan. Seberapa besar rasa benci yang ada saat ini. Tentu pernah ada setitik rasa kasih dalam hati. Ini hanya saran. Kami akan jauh lebih peduli, jika Anda dapat menghargai apa yang sudah kusampaikan tadi. Jika Anda tak bersedia bekerja sama, maka kami juga tak akan melakukan apapun.” Pastor itu mengakhiri segala petuahnya.
Tak ada gunanya bagi Rafael untuk terus membantah. Terlebih, setelah Paloma memberi isyarat agar dirinya diam dan tak melayangkan protes lagi. Setelah bertemu pastor tadi, keduanya berjalan keluar tanpa saling bicara. Rafael terlihat begitu kacau.
“Bagaimana, Sayang?” tanya Tatiana yang langsung menyambut pria tampan pujaan hatinya tersebut.
“Aku tidak menyukainya,” jawab Rafael tak bersemangat.
“Apanya yang tidak kau sukai?” tanya Tatiana.
Rafael menghentikan langkahnya saat akan menuju mobil, di mana Paloma dan Rogelio sudah menunggu. Pria tampan bermata abu-abu tersebut menghadapkan tubuhnya kepada Tatiana yang terlihat penasaran. “Aku akan mengantarkanmu ke hotel.” Sebuah jawaban yang tak sesuai harapan wanita berusia empat puluh tahun itu. Rafael, kembali melanjutkan langkah.
__ADS_1
Namun, dengan segera Tatiana menarik lengannya. Rafael kembali menoleh. “Katakan, Rafael!” desaknya tegas. Suara wanita asal Spanyol itu terdengar cukup nyaring, sehingga membuat Paloma dan Rogelio yang sedang berbincang langsung menoleh. “Kenapa kau tak bicara?” Tatiana mendorong pundak Rafael dengan keras, membuat pria itu sedikit mundur.
“Sudah kukatakan bahwa aku akan mengantarkanmu ke hotel. Setelah itu, kembalilah ke Spanyol,” ujar Rafael berusaha tak terpancing.
Tatiana terbelalak. Tamparan keras mendarat di pipi sebelah kiri Rafael. “Kau ingin aku pergi dari sini?” sentak Tatiana.
“Aku tidak memiliki pilihan lain, Tatiana!” Rafael tak kalah tegas. Pikirannya kian kacau. Rafael pikir Tatiana tak akan marah atas keputusannya. “Aku harus tetap berada di sini. Pastor di dalam sana mengatakan bahwa mereka akan membantu mengajukan permohonan pembatalan pernikahanku dengan Paloma, asalkan kami tetap tinggal bersama,” jelas Rafael, yang justru membuat Tatiana kian dikuasai amarah.
“Kau? Kau akan tinggal bersama wanita itu?” Tatiana menggeleng tak percaya. Wanita dengan penampilan glamour tersebut mendengkus kesal. “Persetan dengan perceraianmu!” Amarah yang tadi tak terlampiaskan atas sikap dan kata-kata pedas Rogelio, kali ini Tatiana luapkan. Keputusan Rafael untuk menetap sementara di Meksiko, seakan menjadi jalan bagi janda kaya tersebut. Dia melampiaskan segala amarahnya yang tertahan. Tatiana beranjak pergi dari hadapan Rafael. Wanita itu berjalan dengan terburu-buru. Kemarahan terlihat jelas dari raut wajah serta cara dia melangkahkan kaki.
“Kau mau ke mana?” tanya Rafael setengah berseru, karena jaraknya dengan Tatiana sudah cukup jauh.
“Kau tak harus peduli, meskipun aku akan ke neraka!” jawab Tatiana dengan suara nyaring. Dia bergegas menuju pinggir jalan. Tatiana menghentikan taksi yang kebetulan melintas. Wanita itu pergi membawa segala kekesalan dan rasa kecewa yang menggunung.
Setibanya di kediaman mewah sang ayah angkat, Rafael segera turun. Dia lalu menghampiri Rogelio untuk mengembalikan kunci mobil. Niat pria itu hendak kembali ke hotel tempatnya dan Tatiana menginap. Namun, belum sempat Rafael berpamitan, penjaga pintu gerbang telah lebih dulu datang menghadap sambil membawa sebuah koper. Benda yang sangat Rafael kenali, karena itu merupakan koper berisi pakaian serta barang-barang miliknya.
“Maaf, Tuan Rafael. Baru saja ada sopir taksi yang memberikan ini. Katanya, kiriman dari Nyonya Tatiana Vidal,” lapor penjaga pintu gerbang tersebut.
Rafael meraup kasar rambutnya. Dia tak mengatakan apapun. Kemarahan kian memuncak. Terlebih, saat pria itu melihat Paloma yang memandang penuh ejekan padanya. Sementara, Rogelio sudah lebih dulu masuk.
“Dia membuangmu? Kasihan sekali,” ledek Paloma seraya berlalu dari hadapan Rafael. Wanita muda bermata hazel tersebut berjalan memasuki rumah mewah ayah mertuanya.
__ADS_1
Rafael yang berada dalam kondisi kalut, bergegas mengejar wanita yang ingin segera dia ceraikan. Pria itu meraih lengan Paloma dengan kasar, mencekalnya kencang, hingga si pemilik mata hazel tadi meringis. “Berani-beraninya kau!” ucap Rafael penuh penekanan. Dia seakan hendak menghabisi Paloma saat itu juga. “Jangan karena mendapatkan dukungan penuh dari ayahku, lantas kau menjadi begitu percaya diri. Ingatlah, Paloma! Kau akan menyesali senyuman yang telah dirimu perlihatkan padaku hari ini!” ancam Rafael dengan cengkeramannya yang semakin kuat.
Paloma meringis kesakitan. Namun, dia tak ingin memperlihatkan sisi lemahnya di hadapan pria itu. Paloma mengangkat dagu sebagai tanda bahwa dirinya tak takut dengan ancaman Rafael. “Tuhan akan selalu melindungi orang yang baik. Sama seperti saat kau menyeret dan mencoba menembak kepalaku di gurun. Saat itu, Tuan Sebastian datang menyelamatkanku. Bukan tak mungkin jika nanti Tuhan akan kembali mengirimkan seorang penyelamat, atau bahkan malaikat pelindung bagiku ….”
“Ya. Itu adalah aku.” Suara Rogelio terdengar di sana. Mengejutkan Paloma juga Rafael yang segera berbalik. “Singkirkan tanganmu, Rafael!” Rogelio menarik paksa pria itu. Dia bahkan mengempaskan tubuh tegap anak angkatnya, hingga Rafael terhuyung menubruk sofa.
Tak puas hanya sampai di situ, Rogelio menarik kerah kemeja bagian belakang Rafael. Dia kembali mengempaskannya kasar. Kali ini, Rafael tak dapat mengatur keseimbangan. Pria tampan tersebut kembali terhuyung, lalu menubruk bufet kayu.
Pusing, itulah yang Rafael rasakan kali ini. Dia yang dalam posisi tak siap, kembali mendapat serangan bertubi-tubi dari Rogelio. Pukulan demi pukulan mendarat di wajah tampannya, hingga pelipis dan sudut bibir pria itu sobek serta mengeluarkan darah. Namun, Rafael tak melawan sama sekali.
“Anak bodoh!” maki Rogelio seraya kembali melayangkan pukulannya. Tak terhitung lagi berapa kali tangan yang dulu digunakan untuk membelai rambut cokelat Rafael penuh kasih dan harapan, kini berganti menjadi pukulan menyakitkan. Darah dan luka lebam pun menghiasi wajah tampan pria bermata abu-abu tersebut.
“Hentikan, Ayah!” seru Paloma histeris. Beberapa asisten rumah tangga berdatangan ke sana. Mereka begitu terkejut menyaksikan apa yang Rogelio lakukan kepada putra angkatnya.
“Ayah, sudahlah. Kumohon. Hentikan!” pinta Paloma lagi. Merasa jika tindakan Rogelio sudah di luar batas, Paloma pun segera menahan agar pria paruh baya tersebut tak semakin kalap. “Tenanglah, Ayah. Orang yang sedang kau pukuli adalah putramu. Anak yang dulu kau rawat dan besarkan dengan penuh cinta. Tolong jangan kotori tanganmu yang penuh kebaikan, dengan sesuatu yang mengerikan seperti ini.” Paloma menghalangi Rogelio, sehingga pria paruh baya tersebut harus mengurungkan niatnya untuk kembali menghajar Rafael.
“Minggir, Nak! Biarkan aku memberi pelajaran pada anak kurang ajar ini!” Tak biasanya, Rogelio berkata dengan tegas seperti itu kepada Paloma. “Enam tahun aku membiarkannya melakukan dosa besar terhadapmu. Karena itu, hari ini … hari ini akan kutuntaskan semuanya. Kau akan menjadi janda jauh lebih cepat, tanpa harus menunggu keputusan pengadilan atau pihak gereja.” Rogelio tak dapat membendung lagi kemarahannya.
“Tidak, Ayah. Kumohon. Jangan berkata seperti itu,” pinta Paloma. “Aku tak akan menyesali kematian Rafael. Akan tetapi, aku akan sangat bersedih jika Anda harus menanggung dosa seumur hidup. Biarlah, Ayah. Semua perbuatan buruk Rafael, akan kembali pada dirinya.” Paloma terus berusaha meredam amarah sang ayah mertua.
Rogelio menatap tajam Rafael dengan napas yang tak beraturan. Pria paruh baya itu bahkan terengah-engah. Sudah lama, Rogelio tak melakukan sesuatu yang menguras tenaga seperti tadi. Andai saja Rafael memberikan perlawanan, bukan tidak mungkin justru dirinyalah yang akan berakhir dengan mengenaskan. Rogelio kemudian mengalihkan pandangan kepada Paloma. Tanpa banyak bicara, dia berlalu dari sana.
__ADS_1
Melihat Rafael terkapar, Paloma segera membantunya bangkit. “Bangunlah.”