
Sebastian melangkah gagah keluar dari kamar. Sesuai rencana, pagi ini dia akan membawa Rogelio berjalan-jalan ke perkebunan zaitun miliknya. Sebastian juga sudah berkoordinasi dengan Martin selaku mandor, karena pria itu sangat mengetahui seluk-beluk tempat yang memiliki luas ribuan hektar tersebut.
Tadinya, Sebastian akan mengajak Rogelio berkeliling sambil berkuda. Akan tetapi, ayah mertua Paloma ternyata tak mahir melakukan itu. Rogelio merasa ragu. “Tidak ada alat transportasi lain yang kami gunakan di sini selain kuda. Karena itu, kita akan berkeliling sambil berjalan kaki saja,” ujar Sebastian yang sudah siap. Dia mengenakan T-Shirt berlapis kemeja kotak-kotak panjang, dengan lengan dilipat tiga per empat.
“Kuharap Anda tidak keberatan, Tuan Castaneda,” balas Rogelio. “Lagi pula, ini masih pagi. Udaranya terasa begitu sejuk,” ujar pria paruh baya tersebut menambahi.
“Aku sama sekali tak ada masalah dengan hal itu, Tuan Gallardo,” balas Sebastian. “Mari. Kita harus bergegas, sebelum cuaca beranjak panas,” ajak Sebastian mengarahkan tangan kanan ke depan dengan sopan.
Kedua pria itu berjalan berdampingan sambil berbincang ringan. Ketika mereka akan melewati taman air mancur, suara Paloma terdengar memanggil Rogelio. Mereka seketika tertegun dan menoleh secara bersamaan.
Tampaklah Paloma yang berlari ke arah mereka. Wanita itu sedikit terengah. “Kita akan berangkat jam berapa?” tanya Paloma saat melihat Rogelio tersenyum padanya.
“Aku akan berkeliling perkebunan sebentar bersama Tuan Castaneda. Kau bersiap-siaplah dulu,” jawab Rogelio.
Paloma mengatur napas agar lebih teratur, seraya menyelipkan rambut ke belakang telinga. Semua yang dia lakukan tak lepas dari perhatian Sebastian. Pria itu memandangnya dari sejak Paloma muncul di sana. “Aku ingin bicara sebentar dengan Anda,” ucap Paloma lagi kepada sang ayah mertua. Setelah itu, pandangannya beralih pada Sebastian yang masih menatapnya lekat. Si pemilik mata hazel tersebut seakan hendak meminta izin, kepada sang penguasa Casa del Castaneda.
“Bagaimana jika nanti saja? Aku merasa tak enak jika harus membiarkan Tuan Castaneda menunggu terlalu lama,” tolak Rogelio disertai alasan yang masuk akal. Terlebih, karena Sebastian pun tak memberikan tanggapan apapun.
Paloma terdiam sejenak. Sesaat kemudian, wanita cantik berambut cokelat di bawah pundak itu tersenyum lembut. “Baiklah. Aku akan menunggu hingga kalian selesai,” putusnya. Dia membalikkan badan. Paloma berlalu dari hadapan kedua pria yang terus menatap kepergiannya.
Terutama Sebastian. Ya, pria itu tak mengalihkan pandangan dari sosok menantu Rogelio tersebut. Sebastian baru tersadar, ketika Rogelio menegurnya pelan. Duda tampan itu agak gelagapan, menahan perasaan malu atas sikap yang dirinya tunjukkan tadi. “Maaf, Tuan Gallardo. Mari.” Sebastian mempersilakan Rogelio melanjutkan langkah menuju area perkebunan.
Selagi sang ayah mertua tengah berkeliling bersama Sebastian, Paloma kembali membereskan barang-barangnya yang tak seberapa banyak. Saat berangkat dari Granada, dia hanya membawa beberapa potong pakaian. Tak lupa, wanita itu juga memasukkan buku karangan Antonio Machado pemberian Sebastian. Setelah semua siap, barulah dirinya merapikan penampilan.
“Jadi, pria itu ayah mertuamu?” tanya Flor yang masuk ke kamar untuk mengambil sesuatu.
__ADS_1
“Iya,” jawab Paloma singkat, tapi diiringi senyuman hangat.
“Kelihatannya, dia sangat menyayangimu. Sikap yang dia tunjukkan jauh berbeda dengan perilaku Tuan Hernandez,” ujar Flor hati-hati dalam mengemukakan pendapatnya, mengingat apa yang dia katakan terlalu sensitif dan pribadi.
“Dia memang sangat baik. Aku bersyukur dengan hal itu,” balas Paloma.
Flor mengangguk pelan. Rasa canggung terlihat jelas dalam diri wanita berambut pirang tersebut. “Jadi, kau akan kembali ke Meksiko?” tanyanya lagi.
Paloma hanya mengangguk saat menanggapi pertanyaan tersebut. Sorot mata wanita dua puluh lima tahun itu, menyiratkan sesuatu yang sulit diartikan. “Maaf jika selama di tinggal sini aku ….”
“Sudahlah, Paloma. Aku tahu bahwa kau tak seperti yang orang-orang pikirkan. Kuharap, semuanya segera membaik.” Flor tersenyum, kemudian berjalan mendekat. Dia menepiskan rasa canggung dalam dirinya. Flor segera memeluk teman sekamar yang akan segera meninggalkan tempat itu. “Semoga kau selalu berada dalam keberuntungan, Paloma.”
“Terima kasih, Flor. Aku berharap yang sama untukmu. Semoga kau segera mendapat teman sekamar yang baru,” balas Paloma tulus
Sekitar pukul delapan pagi, matahari sudah bersinar terang. Aktivitas di perkebunan pun telah dimulai. Sebastian dan Rogelio baru kembali dari sana. Raut wajah kedua pria tersebut tampak begitu berseri. Entah kesepakatan apa yang telah mereka dapatkan.
“Akan kusiapkan mobil dan sopir untuk mengantar Anda serta Paloma ke sana, Tuan,” ujar Sebastian.
“Ah, tidak usah,” tolak Rogelio dengan segera. “Aku sudah cukup merepotkan Anda selama berada di sini. Aku akan menghubungi sopir yang kusewa kemarin agar menjemput kemari.”
“Aku sangat kecewa jika Anda menolaknya, Tuan Gallardo,” balas Sebastian setengah memaksa. Membuat Rogelio merasa serba salah. Lagi pula, butuh waktu hingga beberapa jam, jika menunggu sopir yang disewanya kemarin. Berhubung, sopir itu berdomisili di Sevilla. Mau tak mau, Rogelio menerima tawaran Sebastian agar tidak terlalu membuang banyak waktu.
“Baiklah. Terima kasih sebelumnya, Tuan Castaneda. Aku akan bersiap-siap dulu. Permisi.” Rogelio berlalu meninggalkan Sebastian yang segera menuju ke ruang kerja.
Setibanya di ruangan dengan dominasi warna cokelat dan merah hati, Sebastian mengeluarkan sesuatu dari laci meja kerjanya. Sebuah benda dengan tombol warna merah yang langsung dia tekan. Setelah itu, dia menyimpan kembali benda kecil tadi ke dalam laci. Sebastian, membetulkan sikap duduknya menjadi terlihat jauh lebih berwibawa, ketika terdengar suara ketukan di pintu.
__ADS_1
“Masuk!” suruhnya dengan cukup nyaring.
Perlahan, pintu terbuka. Wajah cantik Paloma muncul dari baliknya. Dia berjalan pelan hingga tiba di hadapan Sebastian. “Anda memanggilku, Tuan?” tanya Paloma ragu. Pikiran wanita cantik tersebut sudah tak enak, ketika dirinya teringat pada sprei bermotif bunga yang dipasang sebagai pengganti sprei dark grey. Perasaan Paloma kian resah, saat melihat Sebastian beranjak dari tempat duduknya.
“Jadi, kau mengubah kamarku menjadi kebun bunga,” ucap Sebastian sambil melangkah ke hadapan Paloma.
“Itu … aku ….” Paloma tertawa renyah. Tawa yang hanya sekejap, karena segera dia singkirkan saat melihat raut wajah sang penguasa kebun zaitun yang menatap lekat padanya. “Bukankah Anda mengatakan bahwa aku boleh melakukan apapun?”
“Apapun?” ulang Sebastian. “Kuberitahukan sesuatu, Paloma. Sprei yang kau pasangkan itu adalah kesukaan mendiang istriku. Aku sengaja menyimpan dan tak mengizinkan pelayan untuk memakainya lagi. Ini pertama kali setelah beberapa tahun, ada yang berani melakukan itu. Kau, Nona Sanchez de Luna.” Suara yang keluar dari bibir Sebastian terdengar begitu dalam. Membuat Paloma seketika merinding.
“Aku tidak tahu. Maaf,” ucap Paloma membalas penuturan Sebastian.
“Maaf,” ulang pria dengan rambut agak gondrong tersebut, masih memperhatikan Paloma begitu lekat. Perlahan, Sebastian berjalan kian mendekat. Jaraknya dan Paloma kali ini, tak kurang dari satu langkah. “Aku heran. Kenapa semua yang kau lakukan selalu membuatku merasa terusik?”
“Itu hanya kebetulan,” sahut Paloma membalas tatapan Sebastian yang sejak tadi tak teralihkan dari paras cantiknya.
“Kebetulan yang berulang?” Sebastian mengernyitkan kening.
“Mungkin,” jawab Paloma lagi dengan enteng.
“Luar biasa,” balas Sebastian. Suaranya terdengar semakin dalam. Menghipnotis Paloma, hingga wanita muda itu hanya dapat terpaku.
Paloma tak kuasa untuk bergerak. Kitten heels yang dia kenakan seperti menancap di lantai. Membuat wanita itu tak bisa ke manapun selain pasrah, ketika tangan kanan Sebastian sudah berada di tengkuknya. Pria itu menahan kepala Paloma agar tak menghindar, saat dia mendekat dan menyentuh bibir mungil nan polos istri Rafael Hernandez tersebut.
Paloma sempat terkesiap dengan apa yang Sebastian lakukan. Namun, dalam hitungan detik saja, semua rasa terkejut itu sirna. Berubah menjadi getaran lain, ketika Sebastian menciumnya dengan semakin dalam.
__ADS_1
Debaran dalam dada Paloma mulai tak terkendali. Semakin menggila dan seperti hendak mendobrak keluar. Membuat wanita itu merasa gelisah. Paloma, memilih memejamkan mata. Merasakan kesegaran dari rasa dahaga, yang telah menderanya sekian lama.