Casa Del Castaneda

Casa Del Castaneda
Arogansi


__ADS_3

Paloma menatap sang penguasa Casa del Castaneda. Dia melayangkan protes secara tak langsung. Sebuah hukuman yang sama menyedihkan dengan masuk ke rumah sakit jiwa. Bekerja dan mengabdi di sana tanpa mendapat upah. Entah apa namanya jika bukan sebuah perbudakan. Segila itukah seorang Sebastian Cruz Castaneda, hanya karena sebuah perjamuan yang tak berjalan lancar seperti biasanya.


“Apa Anda sadar dengan yang baru saja diucapkan, Tuan?” Pertanyaan Paloma terdengar penuh penekanan. Wanita muda itu tentu tak terima dengan sikap semena-mena pria di hadapannya.


“Itu sudah merupakan hukuman paling ringan untukmu,” jawab Sebastian dingin.


“Jika itu merupakan hukuman paling ringan, lalu seperti apa hukuman terberat Anda kepada orang-orang yang berbuat salah di tempat ini?” Pertanyaan Paloma kali ini terdengar seperti sebuah tantangan.


“Kau tak akan menyukainya, Paloma,” sahut Sebastian menyebut nama wanita di hadapannya dengan nada bicara yang masih terdengar dingin.


“Tak ada siapa pun yang akan menyukai hukuman, Tuan. Terlebih hukuman tidak masuk akal seperti yang Anda berikan kali ini,” protes Paloma. Dia tak gentar sama sekali menghadapi Sebastian. Entah Paloma lupa akan kedudukannya atau karena dia merasa lelah dengan semua hal buruk yang sudah dirinya alami. “Usir saja aku dari sini!” pinta si pemilik mata hazel tersebut dengan tegas.


“Berani-beraninya kau berbicara dengan nada seperti itu di hadapanku!” sentak Sebastian, membuat Paloma tersentak. Wanita muda itu bergerak mundur secara perlahan, ketika Sebastian beranjak dari tempat duduknya. Dia tak tahu apa yang akan Sebastian lakukan, setelah mendapat perlawanan seperti tadi.


“Dari mana kau memiliki keberanian sebesar ini?” Tatap mata Sebastian tak terlalu tajam, tapi terasa begitu menusuk bagi Paloma. Nada bicara pria itu juga terdengar menakutkan. “Seberapa besar nyalimu sehingga berani menantang serta membantah semua ucapanku?”


Sedangkan Paloma tak menjawab. Dia hanya menatap pria dengan postur tinggi tegap di hadapannya. Sorot mata wanita berambut cokelat itu menyiratkan ketidaksukaan atas sikap Sebastian.


“Kenapa kau diam? Apa kau sudah kehilangan kata-kata untuk menentangku?” seringai Sebastian. “Kau tak tahu apa yang bisa kulakukan terhadap seorang pembangkang seperti dirimu,” ancam pria itu penuh penekanan.


“Apa Anda tidak memiliki pekerjaan lain, sehingga harus repot-repot mengurusi pelayan sepertiku?” balas Paloma sinis, membuat Sebastian seketika menautkan alisnya.


Tatapan Sebastian kian tajam. Perlahan, dia bergerak mundur. Menjaga jarak dari Paloma yang terus memandang ke arahnya. “Kau semakin berani. Apa kau tidak takut jika aku memperberat hukumanmu?” ancam Sebastian dengan suaranya yang terdengar begitu dalam.


“Seberat apa? Anda tak membiarkanku pergi dari sini. Itu berarti, aku harus menerimanya dengan sukarela,” sahut Paloma. Sesaat kemudian, dia menunduk. “Apa aku sudah boleh keluar dari ruangan ini?” tanyanya pelan.


“Pergilah. Ingat satu hal. Kau akan menjalani hukumanmu mulai hari ini,” tegas Sebastian. Dia kembali ke meja kerja dan duduk di baliknya. Sebastian langsung menyibukkan diri dengan laptop. Dia tak memedulikan meski Paloma masih berada di sana.


Melihat sikap Sebastian yang demikian, Paloma pun tak ingin berlama-lama berada di ruang kerja pria tersebut. Tanpa banyak bicara, wanita dua puluh lima tahun itu bergegas menuju pintu. Dia lalu keluar meninggalkan tempat yang terasa menyesakkan tadi.


Paloma melangkah pelan. Dia menyusuri koridor panjang dengan tatapan menerawang ke depan. Niatnya untuk menyelesaikan masalah dengan Rafael, justru membuat dia terjebak dalam masalah yang lain. Entah untuk berapa lama dirinya akan terkurung dalam bangunan mewah bernama Casa del Castaneda.


“Bibi Theresa,” gumam Paloma pelan. Dia menyebut nama wanita yang telah dirinya anggap sebagai ibu kandung. “Apa yang harus kulakukan?” Paloma menghentikan langkahnya. Dia bersandar sejenak pada dinding koridor depan taman air mancur. Untuk beberapa saat, wanita dengan dress floral itu memperhatikan air yang yang bergerak indah menghiasi taman terbuka di tengah bangunan.

__ADS_1


“Paloma,” sapa Martin. Pria itu berjalan mendekat.


Paloma yang sedang bersandar, segera menegakkan tubuh. Dia memaksakan tersenyum kepada pria yang baru melepas topi fedora dan memeganginya. “Kau tidak ke perkebunan?” tanya Paloma heran.


“Sekarang sudah waktunya istirahat makan siang,” sahut Martin. “Kenapa kau masih di sini? Apa kau sudah makan?”


Paloma menggeleng pelan. Wanita itu kembali tersenyum. “Aku baru selesai dengan Tuan Sebastian,” ucapnya lesu.


“Bagaimana? Sebaiknya, kita bicara sambil makan siang saja,” ajak Martin. Refleks, dia meraih tangan Paloma. Pria itu menuntunnya ke arah dapur. Martin mengajak Paloma makan siang bersama di sana, di tempat khusus para pekerja Casa del Castaneda.


Tatapan aneh harus Paloma terima dari rekan-rekan pelayan lain yang juga akan melakukan santap siang. Hal itu sempat membuat Paloma merasa risi. Namun, Martin mengisyaratkan agar dia tetap bersikap biasa.


Setelah mengambil seporsi makanan, keduanya memilih tempat untuk bersantap siang bersama. Di sana, Paloma menceritakan semua yang terjadi. Mulai dari pemeriksaan dengan dokter ahli kejiwaan, hingga perbincangan bersama Sebastian yang berakhir pada keputusan hukuman yang harus dirinya jalani.


“Apa? Bagaimana mungkin kau harus bekerja di sini tanpa menerima upah sama sekali?” Martin tak percaya dengan penuturan Paloma.


“Itulah keputusan Tuan Sebastian. Harga dirinya begitu terluka akibat ulahku dalam acara perjamuan kemarin malam,” sahut Paloma pelan.


“Ini tidak mungkin. Tuan Sebastian bukan orang seperti itu,” sanggah Martin menyangsikan keputusan yang sudah diambil oleh sang majikan.


“Astaga.” Martin berdecak pelan. “Jika kau mau, aku akan mencoba untuk berbicara dengan Tuan Sebastian. Siapa tahu ada keringanan untukmu,” tawarnya.


“Tidak usah, Martin. Aku tidak ingin siapa pun harus ikut menanggung risiko demi diriku. Aku akan menghadapi semuanya sekuat tenaga,” tolak Paloma halus, lalu melanjutkan makan siangnya hingga habis.


Tepat pada saat Paloma hendak membersihkan piring kotor bekas dia makan, Matilde sang wakil kepala pelayan, berjalan tergesa-gesa memasuki ruang makan tersebut. “Paloma? Di mana Paloma? Tadi ada yang menyebutkan bahwa Paloma ada di sini,” serunya panik.


“Aku, Nyonya.” Paloma yang awalnya menghadap bak cuci piring, segera berbalik. Namun, sebelum dia sampai di hadapan Matilde, Martin sudah lebih dulu menghadang langkahnya. Pria tampan tersebut memusatkan perhatian sepenuhnya pada wakil kepala pelayan itu.


“Ada apa Anda mencari Paloma, Nyonya Matilde?” tanya Martin dengan raut serius.


“Ini tentang Tuan Sebastian. Dia memerintahkanku untuk memberitahukan pada Paloma agar membersihkan aula lantai dasar sekarang juga,” jawab Matilde dengan napas memburu. “Sekarang juga!” ulangnya.


“Astaga! Aku tidak tuli,” gerutu Martin.

__ADS_1


“Aku tahu, tapi … Tuan Sebastian menyuruh Paloma agar menuju ke aula saat ini juga. Wajahnya tidak ramah sama sekali. Terus terang, aku tak pernah melihatnya seperti itu,” resah Matilde.


“Dengan siapa Paloma akan membersihkan ruangan aula seluas itu?” tanya Martin lagi.


“Aku tidak tahu. Tuan Sebastian tidak mengatakan apa-apa lagi,” jawab Matilde.


“Baiklah. Akan kuantarkan kau ke gudang untuk mengambil peralatan kebersihan. Setelah itu, kutunjukkan jalan menuju aula,” ujar Martin lembut pada Paloma.


“Kurasa … itu bukan tugasmu, Martin,” sela Matilde hati-hati. “Kau mandor di perkebunan. Untuk urusan kebersihan dan pelayan, bukanlah tanggung jawabmu.”


“Hei, Anda tidak berhak ….”


“Sudahlah, Martin. Aku akan mencari lokasi gudang sendirian. Untuk hal sekecil itu, aku juga bisa melakukannya. Andaikan aku tersesat, maka aku bisa bertanya," ujar Paloma berusaha menenangkan Martin. Wanita bermata hazel itu merasa tak enak. Apalagi, saat itu dirinya tengah menjadi pusat perhatian semua orang yang ada di ruangan tersebut.


“Biar kutemani,” ucap Matilde. Sikapnya sudah terlihat jauh lebih tenang. Dia lalu mengarahkan Paloma ke bangunan lain yang tak terlalu jauh dari ruangan tadi. Bangunan sebesar itu ternyata khusus disediakan untuk menyimpan peralatan kebersihan serta kebutuhan pelayan lainnya, seperti stok seragam atau sepatu baru.


Setelah mengambil alat-alat yang dibutuhkan, Matilde menyodorkan sebuah troli pada Paloma. Dia juga mengajarkan wanita muda itu untuk menata dan meletakkan peralatan kebersihan ke dalam keranjang beroda itu.


“Nah, sudah lengkap semuanya. Tuan Sebastian menunggumu di aula sekarang,” ucap Matilde. “Kau tinggal berjalan lurus melintasi taman, kemudian berbelok ke kiri. Di sana ada bangunan tiga lantai. Aula berada di lantai paling bawah,” jelasnya.


“Baik. Akan kuingat. Terima kasih banyak, Nyonya,” balas Paloma. Dia mengangguk sopan, lalu melangkah pelan sesuai arahan yang telah ditunjukkan oleh Matilde tadi.


Namun, langkahnya seketika terhenti sesaat, ketika Sebastian berdiri tepat di tengah-tengah pintu masuk sambil berkacak pinggang. “Bersihkan lantainya. Nanti malam, aku akan menggunakan ruangan ini untuk jamuan makan malam bersama kolegaku. Mereka datang dari seluruh daratan Spanyol. Kuharap kau tidak berbuat onar, atau aku akan menuntut dan memenjarakanmu atas tuduhan pengrusakan properti,” ancam Sebastian.


Paloma memilih tak banyak membantah. Dia hanya mengangguk, kemudian melanjutkan langkahnya melewati Sebastian begitu saja. Akan tetapi, lagi-lagi dia harus berhenti saat menyadari bahwa hanya ada dirinya di ruangan luas seukuran separuh lapangan sepak bola itu. Paloma segera berbalik pada Sebastian yang tengah mengawasi dirinya.


“Di mana yang lain?” tanya Paloma tanpa basa-basi.


“Tidak ada yang lain. Aku hanya menyuruhmu,” sahut Sebastian datar.


“Oh.” Paloma melemparkan sebuah senyuman. Dia berusaha menutupi segala amarah dan rasa tak berdaya di hadapan Sebastian. Paloma tak ingin mengaku kalah. Setidaknya, dia dapat mempertahankan harga diri.


“Kau tidak ingin protes lagi seperti tadi? Apa kau mulai menyadari siapa Tuannya di sini, paloma?” Nada bicara Sebastian terdengar setengah mengejek. Arogansi pria itu kembali muncul.

__ADS_1


“Dari awal, aku sudah mengetahui dengan pasti bahwa Anda adalah penguasanya, Tuan,” jawab Paloma dengan enteng. “Lagi pula, membersihkan ruangan seluas ini tak akan membuatku merasa kewalahan. Aku sudah terbiasa menghadapi hal-hal yang jauh lebih berat dan menyakitkan.” Paloma tersenyum getir. Dia berbalik meninggalkan Sebastian yang terpaku mendengar ucapannya tadi.


__ADS_2