Casa Del Castaneda

Casa Del Castaneda
Dua Lembar Foto


__ADS_3

Sebastian begitu terpana melihat penampilan baru Paloma. Wanita muda yang sempat tinggal di Casa del Castaneda untuk beberapa waktu tersebut, terlihat sangat berbeda.


Paloma tampak lain dari yang dulu sering dirinya lihat. Mulai dari tatanan rambut, hingga cara berpakaian yang teramat memesona. Membuat Sebastian terpaku, dan tak kuasa mengalihkan perhatian dari sosok cantik yang kini telah berdiri di hadapannya.


“Tuan,” sapa Paloma. Suara lembut wanita bermata hazel tersebut, membawa Sebastian kembali ke alam nyata. Sang penguasa Casa del Castaneda tadi agak gelagapan. Akan tetapi, pria itu dapat menguasai diri dengan segera. Sebisa mungkin, Sebastian menyembunyikan perasaan kagumnya terhadap Paloma.


“Paloma. Kau terlihat sangat berbeda,” balas Sebastian. Dia tetap menunjukkan wibawanya.


“Begitukah?” Paloma tersenyum lembut. Entah mengapa, wanita berambut sebahu itu bersikap demikian di hadapan Sebastian.


Sikap manis Paloma tadi, membuat Rafael mengernyitkan kening. Namun, pria bermata abu-abu tersebut tak berkata apa-apa. Dia hanya menggaruk kening dan tak ingin menanggapi terlalu berlebihan. Lagi pula, itu akan jauh lebih baik baginya yang ingin segera bercerai dari Paloma.


“Jadi, kau datang kemari dengan Rafael Hernandez?” tanya Sebastian berbasa-basi.


“Ya, Tuan Castaneda. Maaf jika kau tak berkenan dengan kehadiranku di sini. Akan tetapi, aku merupakan perwakilan Tuan Rogelio Gallardo. Aku datang kemari bersama Paloma. Kami berdua,” ujar Rafael dengan senyum puas.


Sebastian memicingkan mata. Dia kembali mengarahkan perhatian kepada Paloma. “Kau yakin jika kalian datang berdua kemari? Pria ini tidak melakukan hal yang macam-macam terhadapmu?” Sebastian memastikan.


“Apapun yang kulakukan terhadap Paloma, kau tak harus ikut campur. Paloma masih berstatus istriku, Tuan Castaneda,” ujar Rafael menyambar pertanyaan yang Sebastian tanyakan kepada Paloma.


“Aku hanya peduli dengan keselamatan wanita yang kau sebut sebagai istrimu ini,” balas Sebastian.


Paloma yang hanya menyimak, merasa harus segera turun tangan. Dia mendehem pelan, lalu tersenyum. “Maaf, Tuan Castaneda. Bisakah agar kita tidak membuang-buang waktu, untuk membahas sesuatu yang bukan merupakan bagian dari kerja sama bisnis?” Wanita berbaju putih itu mulai menunjukkan siapa dirinya


Sebastian dan Rafael, serempak menoleh kepada Paloma. Kedua pria tampan itu lalu saling pandang. Sebastian pun mengembuskan napas pelan. “Baiklah. Maafkan aku yang terlalu ikut campur. Kau tahu, ‘kan Tuan Hernandez? Tak semudah itu melupakan kejadian saat seorang pria tegap dan kekar sepertimu, tengah berusaha menembak wanita tak berdaya seperti Paloma,” sindirnya tenang.


“Ah, sudahlah.” Rafael mengibaskan tangan tanda keberatan atas pernyataan Sebastian. Namun, dia juga tak hendak mengelak, sebab memang begitulah kenyataannya.

__ADS_1


Sepanjang pertemuan, Rafael hanya terdiam. Paloma lah yang lebih banyak berbicara terkait proposal kerja sama antara Sebastian dengan Rogelio. Tepat seperti perkiraan pria paruh baya itu, Paloma memang gadis yang cerdas dan mampu mempelajari segala hal dengan cepat.


Sebastian pun terlihat sangat nyaman berdiskusi dengan wanita cantik tersebut. Ternyata, Paloma tak hanya pembangkang dan keras kepala. Dia juga dapat diandalkan dalam hal pekerjaan. Sungguh disayangkan, karena Rafael justru menyia-nyiakan wanita seperti itu.


Sambil terus menyimak apa yang Paloma katakan, Sebastian juga menikmati paras cantik wanita di hadapannya. Hal itu membuat pria tiga puluh tujuh tahun tersebut menjadi hilang konsentrasi. Sebastian, berkali-kali mengembuskan napas dalam-dalam, demi menghalau perasaan tak karuan dalam dadanya. Dia juga berusaha untuk kembali fokus, pada perundingan kerja sama yang akan mereka jalin.


Diam-diam, Rafael memperhatikan bahasa tubuh sang pemilik Casa del Castaneda tersebut. Dia menaikkan sebelah alisnya. Sebagai seorang pria, Rafael dapat menangkap gelagat tak biasa yang ditunjukkan Sebastian. Sesaat kemudian, perhatian Rafael beralih pada wajah cantik Paloma yang tampak begitu serius saat berdiskusi dengan Sebastian. Hal itu terus berlangsung, hingga pertemuan selesai dan mereka kembali ke hotel.


Rafael melepas blazer lalu melemparnya begitu saja ke sofa. Kamar suite yang disewa oleh Enrique memang sangat luas. Namun, sayang sekali hanya ada satu tempat tidur di sana, meskipun ukurannya cukup besar. “Bisakah kau menghubungi layanan kamar untukku? Aku sangat lapar,” pinta Rafael.


“Baiklah,” sahutbPaloma yang tadinya bermaksud hendak berganti pakaian. Dia mengurungkan niat tersebut. Paloma meraih pesawat telepon bergagang antik dari atas nakas, yang berada di samping tempat tidur.


Paloma memesan menu makan malam untuk Rafael, dengan gaya bicaranya yang lembut dan sopan. “Jangan lupa tambahkan telur rebus setengah matang pada sup krimnya,” pesan Paloma pada petugas hotel sebelum menutup telepon.


Apa yang Paloma katakan tadi, seketika membuat darah Rafael berdesir kencang. “Kau masih mengingat makanan kesukaanku, Paloma?” ucap pria tampan itu pelan.


Entah kebodohan apa yang Rafael lakukan selama ini, sehingga menjadikan Paloma sebagai sasaran amarah atas kematian sang kekasih. “Ah.” Rafael mende•sah pelan sambil menggelengkan kepala. Dia berusaha menepiskan segala perasaan tak nyaman yang mulai menyergapnya.


Tak berselang lama, bel pintu kamar berdenting, pertanda ada seseorang di luar sana yang meminta izin untuk masuk. Rafael sudah beranjak ke arah pintu, ketika Paloma keluar dari kamar mandi. Wanita itu memakai bathrobes berwarna putih dengan rambut digulung handuk. Dia bergegas membuka pintu lebar-lebar. Dengan ramah Paloma mempersilakan masuk seorang petugas room service yang membawa troli makanan.


“Letakkan saja di sana,” tunjuk Paloma ke arah sofa.


“Baik, Nyonya,” sahut si pelayan hotel dengan sopan. Dia mengangguk hormat sebelum meninggalkan ruangan suite tersebut.


“Makanlah,” ucap Paloma seraya membuka tutup troli, lalu menyodorkan beberapa menu masakan ke hadapan Rafael.


“Letakkan saja di meja. Aku akan memakannya sebentar lagi,” suruh Rafael dengan pikiran berkecamuk.

__ADS_1


Paloma menuruti apapun ucapan Rafael tanpa membantah. Seperti dulu saat dia masih tinggal serumah bersama pria rupawan berambut coklat tersebut. “Ah, mereka lupa memotong telurnya,” keluh wanita muda itu seraya berdecak pelan.


Sambil menggerutu, Paloma meraih pisau steak, lalu mengiris telur yang masih utuh menjadi dua bagian. Dia meletakkan telur setengah matang tersebut ke atas sup krim. Kuning telurnya meleleh di atas permukaan sup, yang menghadirkan aroma gurih dan lezat. Benar-benar menggoda indra penciuman Rafael. “Makanlah dulu,” suruh Paloma singkat.


“Kenapa?” Mata coklat Rafael memandang nanar pada wajah cantik Paloma.


“Kenapa apanya?” Paloma mengernyitkan kening.


“Kenapa kau melayaniku seperti ini? Tatiana saja tak pernah berbuat begitu,” ujar Rafael seraya menggeleng pelan. Rasa tak nyaman sekaligus gundah menyergap dengan semakin hebat.


“Entahlah. Mungkin karena aku sudah terbiasa melayanimu, walaupun hanya beberapa bulan.” Paloma mengangkat kedua bahunya, lalu berbalik meninggalkan pria yang sebentar lagi akan menjadi mantan suaminya tersebut. Dia tak memedulikan Rafael yang terus memperhatikan tubuh semampainya hingga menghilang di balik pintu walk in closet.


“Apa kau tak makan?” Sayup-sayup, terdengar suara Rafael kembali berbicara.


“Sebentar lagi,” balas Paloma sembari menyisir rambutnya yang sudah tak sepanjang dulu. Setelah berganti pakaian tidur, dia keluar dari ruangan kecil tersebut. Paloma berbaring begitu saja di ranjang.


“Ada dua porsi steak di sini. Makanlah,” suruh Rafael lagi.


“Nanti saja. Aku sangat lelah dan mengantuk,” sahut Paloma seraya menguap lebar. Dia merebahkan kepalanya di atas bantal. Seumur hidupnya, baru kali ini Paloma merasakan nikmatnya tidur di atas pembaringan mewah.


“Astaga." Rafael berdecak pelan. Dia melanjutkan santap malamnya dengan lahap. Tak lupa, pria itu menyisihkan seporsi steak di atas meja untuk dimakan Paloma, dia jika terbangun nanti. Rafael lalu berdiri dan mendorong troli yang telah kosong ke luar kamar. Dia meletakkannya di samping pintu.


Rafael masuk kembali. Dia bergegas ke kamar mandi. Pria itu berniat untuk membersihkan diri. Akan tetapi, dia tertegun saat ekor matanya menangkap tas make up, dengan segala peralatan rias Paloma berserakan di meja wastafel. Rafael bermaksud merapikan barang-barang Paloma. Namun, tangannya tak sengaja menyentuh dompet wanita yang tergeletak tak jauh dari tas make up.


Rafael sempat menoleh keluar kamar mandi, sebelum nekat membuka dompet itu.


Seketika, matanya terbelalak memperhatikan dua lembar foto berukuran kecil yang terselip di saku dompet. Adalah foto anak kecil tengah tersenyum lebar, yang mengingatkan Rafael akan sosok masa kecilnya yang persis seperti gambar di foto itu.

__ADS_1


“Apakah ini … Nilo?” pikir Rafael. Sesaat kemudian, dia melihat satu foto lain. Foto dirinya yang diambil beberapa waktu, setelah upacara pemberkatan pernikahan enam tahun yang lalu.


__ADS_2