Casa Del Castaneda

Casa Del Castaneda
Pria Berhati Iblis


__ADS_3

Paloma mengerjakan tugas yang diberikan Sebastian seorang diri. Bohong, jika dia mengatakan bahwa dirinya tidak merasa lelah. Membersihkan ruangan seluas itu seorang diri, bukanlah ide bagus. Namun, apa mau dikata. Semua kembali pada konsekuensi yang harus diterima.


Paloma terduduk lesu setelah menyelesaikan pekerjaannya. Dia menatap ruangan luas tadi seraya tertawa renyah. “Nilo, lihatlah ibumu. Aku sangat menyedihkan,” gumamnya. “Kau tak akan menyukai hal ini.” Paloma mengembuskan napas pelan diiringi keluhan pendek.


Menjelang sore, Paloma baru meninggalkan aula tadi. Baru saja wanita muda itu menutup rapat pintu aula, Matilde sudah menghampirinya. “Apa semua sudah selesai?” tanya Matilde. Sang wakil kepala pelayan terlihat iba, saat melihat raut lelah pada diri Paloma.


“Sudah, Nyonya. Jika Anda belum yakin, silakan periksa ke dalam.” Paloma kembali membuka pintu aula, mempersilakan Matilde agar masuk dan memeriksa hasil pekerjaannya.


Matilde menurut. Dia melangkah ke pintu dan berdiri di sana. Wanita dengan rentang usia sekitar empat puluh tahun tersebut, mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan. Semuanya memang sudah terlihat rapi dan bersih. Setelah merasa cukup, Matilde kembali ke dekat Paloma. “Kau benar-benar mengerjakan ini seorang diri?” tanyanya ragu.


“Tuan Sebastian sempat menjadi mandor untuk beberapa saat, sampai dia merasa bosan dan memilih pergi dari sini. Setelah itu, tak ada siapa pun lagi di sini selain diriku,” jawab Paloma yakin.


Matilde mengembuskan napas panjang. Wanita dengan sanggul rapi itu berdecak pelan seraya menggelengkan kepala. Dia tak habis pikir dengan sikap Sebastian yang dinilanya sangat berlebihan. “Ya, sudah. Sekarang kembalilah ke kamarmu. Beristirahatlah untuk sejenak, karena ….” Belum sempat Matilde menyelesakan kata-katanya, seorang pelayan muda datang menghampiri.


“Nyonya Matilde, Anda dicari oleh Nyonya Raquela,” lapor pelayan muda tadi dengan sopan.


“Baiklah. Terima kasih, Elena,” balas Matilde. Dia tersenyum kepada wanita muda bernama Elena, yang segera mengikutinya berlalu dari depan bangunan tiga lantai itu.


Sementara Paloma kembali ke gudang. Dia mendorong troli berisi berbagai alat kebersihan yang sudah digunakannya, untuk disimpan kembali. Paloma sempat melihat kesibukan beberapa pelayan, yang sedang menyiapkan sesuatu.


Setelah dari gudang, Paloma bergegas menuju kamar. Setibanya di sana, dia segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Hari ini, dirinya bahkan bekerja tanpa mengenakan seragam pelayan.


......................


Sesuai dengan yang dikatakan Sebastian, malam itu tampak beberapa pria bersetelan rapi datang ke Casa del Castaneda. Mereka berjumlah sekitar sepuluh orang. Semuanya langsung menuju ke ruangan khusus pertemuan.


Ya, bukan aula yang tadi siang Paloma bersihkan. Sebastian tak pernah menerima para kolega di sana. Entah apa maksud pria itu dengan mengerjai Paloma, seperti seorang anak remaja yang ingin membalas perlakuan sahabatnya.


“Kekanak-kanakan!” gerutu Paloma setelah mengetahui bahwa aula yang tadi dia bersihkan terlihat kosong. Tak ada acara apapun di sana. Paloma kemudian berbalik. Dia seketika terkejut, saat mendapati seorang pria sudah berada di belakangnya. “Kau?” Sepasang mata hazel milik Paloma terbelalak sempurna, melihat seraut wajah tampan yang menyeringai kecil padanya.

__ADS_1


“Paloma,” sapa pria yang tiada lain adalah Rafael. Entah apa yang sedang dilakukannya di Casa del Castaneda.


“Kau? Apa yang kau lakukan di sini?” sentak Paloma.


“Seharusnya aku yang bertanya. Apa yang kau lakukan di Porcuna?” Rafael kembali menyeringai kecil. Memperlihatkan betapa liciknya dia.


“Aku kemari untuk mencarimu pria kurang ajar!” Paloma tak dapat menahan amarahnya.


“Hey, pelankan suaramu,” ucap Rafael. Dia bergerak semakin maju. “Kau sudah tahu bahwa aku pria kurang ajar. Lalu, untuk apa masih mencariku hingga kemari?” Rafael meraih lengan Paloma. Dia mencekalnya dengan kasar.


“Lepaskan! Jangan pernah menyentuhku. Kau pria kotor menjijikan!” cela Paloma. “Aku mencarimu bukan karena alasan yang macam-macam! Aku hanya ingin agar kita berpisah. Benar-benar berpisah!” tegas wanita itu penuh penekanan.


“Lalu?” Rafael masih terlihat tenang.


“Biarkan aku hidup bebas. Tanpa terikat denganmu lagi. Terlebih, kini kau sudah menikah dengan wanita tua itu,” cibir Paloma seraya memalingkan wajah.


Rafael tertawa pelan setelah mendengar ucapan Paloma. Dia bergerak semakin mendekat, sehingga Paloma harus mundur agar tetap memberi jarak antara dirinya dengan pria tersebut. “Kau tahu bahwa aku tak akan melepaskanmu sebelum ayahku tiada. Itu tidak mungkin, Sayangku.” Rafael menyeringai jahat. “Kau adalah aset penting,” ucapnya lagi.


“Kau tahu itu dengan baik. Aku tak pernah mencintaimu,” cibir Rafael. Sikap dan kata-katanya terdengar sangat menyakitkan, sekaligus mengerikan di telinga Paloma. “Aku akan melepaskanmu. Namun, tunggulah hingga ayahku meninggal dunia.” Rafael tertawa puas meski tidak terlalu nyaring.


Paloma bergerak semakin mundur. “Kau benar-benar iblis, Rafael! Tadinya, kupikir kau masih memiliki sisi baik dari segala sifat burukmu selama ini. Nilo-ku ….” Paloma berusaha untuk tak menangis di hadapan pria itu. Namun, air matanya tetap terjatuh membasahi pipi.


“Siapa Nilo?” tanya Rafael tanpa mengubah mimik mukanya yang terlihat menyebalkan.


“Nilo? Dia anak yang kulahirkan dan kubesarkan seorang diri selama ini. Nilo tak pernah melihat sosok ayahnya. Apa hati nuranimu tak tersentuh sama sekali? Tak ingatkah bahwa kau meninggalkanku ketika sedang mengandung?”


Rafael tak segera menjawab. Pria itu menggaruk kening yang tak gatal. Sesaat kemudian, dia mengembuskan napas panjang. Rafael memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana panjangnya. “Oh, iya. Aku lupa,” jawab pria itu enteng. “Bagaimana kabar anakmu sekarang?” tanya Rafael tanpa ada beban sama sekali.


Sikapnya yang demikian, membuat Paloma kian tak mengerti. Wanita berambut cokelat itu menggeleng. “Bagaimana kau ….”

__ADS_1


“Aku masih berbaik hati dengan menanyakan kabar anakmu,” ujar Rafael. “Bagaimana keadaannya sekarang?”


“Putraku ....” Paloma terdiam. Dia tak sanggup mengatakan apa yang sudah terjadi.


“Ya, putramu,” ucap Rafael lagi.


“Putraku … dia ….” Paloma terpaku beberapa saat. Tak berselang lama, tubuh indahnya merosot, kemudian ambruk ke lantai. Paloma duduk bersimpuh dengan kepala tertunduk. Air mata mengalir deras, berjatuhan ke atas punggung tangannya. “Nilo-ku sudah pergi. Tuhan memanggil dia untuk selamanya.” Isakan pelan Paloma mulai terdengar.


Akan tetapi, hal itu rupanya tak membuat hati Rafael tergugah sama sekali. Pria tampan tersebut hanya berdiri mematung sambil menatap dingin kepada Paloma yang tengah menangis, meratapi kepergian buah hatinya.


Rafael tak mengatakan apapun. Jangankan bujuk rayu yang dapat menenangkan kegundahan Paloma, dia bahkan tak mengulurkan tangan untuk membantu wanita itu bangkit. Rafael masih dengan raut dingin tak bersahabat. Dia membiarkan Paloma dalam kepedihan seorang diri.


“Baguslah,” ucap Rafael beberapa saat kemudian. “Dengan begitu, kau tak akan merasa terbebani.” Seusai berkata demikian, Rafael membalikkan badan. Dia berlalu begitu saja, meninggalkan Paloma yang terpaku tak percaya dengan ucapan pria tersebut.


Paloma segera mengangkat wajah. Dia menatap pria yang masih menjadi suaminya, tanpa tahu harus berkata apa. Padahal, bibir Paloma sudah bergerak hendak mengucapkan sesuatu. Akan tetapi, rasanya sulit sekali untuk dia lakukan. Paloma hanya dapat melihat punggung Rafael yang semakin menjauh.


Ketika tubuh tegap Rafael sudah tak terlihat, barulah Paloma dapat mengeluarkan suaranya. “Brengsek kau, Rafael,” ucapnya dengan bibir bergetar. “Kau benar-benar manusia berhati iblis!” teriak Paloma nyaring.


Apa yang Paloma lakukan, telah mengundang beberapa pelayan yang kebetulan berada di sekitar tempat itu menjadi terkejut. Mereka bergegas menghampiri wanita muda tersebut, yang masih berada dalam posisi terduduk di lantai.


“Paloma? Apa kau baik-baik saja?” tanya salah seorang dari tiga pelayan yang menghampirinya.


Paloma tersadar. Dia menoleh pada ketiga rekannya yang terlihat keheranan. Akan tetapi, Paloma tak tahu harus berkata apa. Dia tampak kebingungan. Wanita muda berambut lurus itu segera bangkit. Sambil memasang wajah tak karuan, Paloma berjalan meninggalkan ketiga pelayan tadi.


Sementara itu di ruang pertemuan. Sebastian bersama para kolega yang salah satunya adalah Rafael, tengah membahas masalah bisnis. Perbincangan serius terus berlangsung, hingga menemukan kata sepakat. Sekitar pukul sembilan malam, pertemuan pun berakhir. Beberapa kolega Sebastian telah berpamitan satu per satu.


Di sana, hanya ada empat orang lagi termasuk sang tuan rumah. Mereka asyik berbincang ringan sambil menikmati sebotol anggur bermerk ternama. Beberapa saat kemudian, ketiga kolega Sebastian yang masih berada di ruangan tadi memutuskan untuk berpamitan.


Sementara, Rafael yang menjadi salah satu tamu, memilih pulang paling akhir. Dia mendekati Sebastian terlebih dulu. “Aku ingin bicara secara pribadi dengan Anda, Tuan,” ucap Rafael.

__ADS_1


“Tentang apa?” tanya Sebastian.


“Tentang Paloma,” jawab Rafael. “Aku ingin meminta izin untuk mengantarkannya kembali ke Granada.”


__ADS_2