
“Tidak! Harus berapa kali kutegaskan bahwa aku tidak gila!” bantah Paloma seraya menggeleng kencang.
“Karena itulah, biarkan dokter yang memeriksamu dan memutuskan. Bagiku, tak ada bedanya antara masuk rumah sakit jiwa atau menjalani hukuman atas kesalahan yang telah kau perbuat malam ini,” ujar Sebastian.
“Usir saja aku dari sini.” Paloma menentang keras keputusan Sebastian yang dirasa tak adil.
“Kita tidak sedang berdiskusi. Jadi, aku tak membutuhkan pendapat apalagi bantahan darimu. Keputusanku sudah mutlak,” tegas Sebastian. Dia berjalan mendekat kepada Paloma. Berdiri gagah di hadapan wanita malang tersebut. Sebastian terlihat sangat berkuasa. “Kau orang baru di sini. Jadi, kumaklumi jika dirimu belum mengetahui aturan mainnya. Namun, harus kuberitahukan satu hal padamu. Setelah kakimu menapaki Casa del Castaneda, maka itu artinya kau sudah sepenuhnya berada di bawah kekuasaan dengan segala peraturan yang kubuat. Suka atau tidak. Terima atau tidak. Kau harus mematuhinya.” Tegas dan penuh wibawa nada bicara Sebastian yang dia tujukan kepada Paloma.
Wanita bermata hazel itu hanya terdiam. Dia tak ingin membantah sang tuan penguasa, karena tak akan ada gunanya. Namun, sorot mata Paloma sudah mewakili segala yang ingin dirinya ungkapkan kepada pria dengan rambut agak gondrong itu.
“Kenapa kau menatapku seperti itu? Kau ingin protes lagi?” tantang Sebastian. “Silakan., Dengan begitu, aku bisa menambah hukuman untukmu. Selama ini, belum pernah ada yang berani melawanku seperti yang kau lakukan saat ini. Jangankan menentang kata-kataku, mereka bahkan tak berani memandangku dengan ….” Sebastian menjeda kata-katanya. Dia terpaku melihat sepasang iris berwarna hazel milik Paloma.
Deru napas pria dengan wajah maskulin itu terdengar memburu. Tak beraturan seperti seseorang yang sedang sibuk mengendalikan gejolak amarah dalam dada. Sebastian masih belum mengatakan apapun. Seolah-olah, ada sesuatu yang menahan dirinya untuk kembali berucap. Namun, sesaat kemudian pria tersebut kembali sadar. Dia mundur beberapa langkah menjauh dari Paloma. “Keluar kau dari ruanganku!” usirnya penuh penekanan.
Paloma yang tak mengerti dengan perubahan sikap Sebastian, memilih untuk tidak banyak membantah. Tanpa melepaskan pandangannya dari sosok sang penguasa Casa del Castaneda yang tampak gusar, Paloma bergerak mundur hingga lengannya menyentuh pegangan pintu. “Permisi,” ucap wanita itu pelan. Seusai berpamitan, dia pun bergegas meninggalkan ruang kerja Sebastian.
Tanpa Paloma duga, Martin ternyata sudah menunggunya tak jauh dari ruang kerja tadi. Pria itu mengembuskan napas lega, saat melihat Paloma sudah keluar dari ruangan sang majikan. Dengan segera, dia menghampiri wanita berambut cokelat tersebut. “Bagaimana? Apa yang dikatakan Tuan Sebastian padamu?” tanyanya terlihat tak sabar.
“Martin? Kau di sini?” Bukannya menjawab pertanyaan Martin, Paloma malah balik bertanya.
__ADS_1
“Aku menunggumu sejak tadi. Kupikir, kau belum mengenal bangunan Casa de Castaneda dengan baik. Aku hanya tak ingin jika kau sampai tersesat,” kilah Martin sambil mengusap tengkuknya. “Lihatlah. Ada banyak pintu serta koridor panjang yang menghubungkan ke berbagai ruangan berbeda di sini. Jika kurang hati-hati, maka kau pasti akan merasa pusing … um … ya. Butuh waktu untuk menghafalkan denah bangunan ini.” Martin tersenyum kalem. Alasan yang terdengar begitu mengada-ada, tapi cukup masuk akal dan dapat diterima baik oleh Paloma
“Ya, itu juga jika Tuan Sebastian tak mengirimku ke rumah sakit jiwa,” ujar Paloma enteng. Dia mengangkat bahunya, kemudian berlalu mendahului Martin yang memasang ekspresi terkejut.
Martin sempat tertegun. Dia mencoba mencerna ucapan Paloma. Martin baru tersadar, ketika Paloma sudah berada beberapa langkah menjauh darinya. Dia bergegas menyusul wanita muda itu. Menyejajari Paloma dan berjalan di sampingnya. “Apa maksudmu dengan ‘mengirim ke rumah sakit jiwa’?” tanya pria itu tak mengerti.
“Ya. Seperti yang kau dengar. Setelah Rafael mengatakan bahwa aku menderita gangguan mental, Tuan Sebastian akan mendatangkan seorang dokter untuk memeriksaku.” Paloma tersenyum kelu.
“Kau sehat dan normal. Itu artinya kau tak perlu merisaukan hal itu,” ujar Martin.
Paloma menghentikan langkahnya. Dia menoleh kepada pria tampan dengan tatanan rambut rapi ke samping. “Mungkin hanya kau yang berpikir begitu untuk saat ini. Aku tidak tahu dengan yang lain.” Paloma mengalihkan pandangannya ke lantai dengan ubin berwarna hitam.
“Tuan Sebastian sudah menyiapkan hukuman untukku. Aku harus menjalaninya jika ….” Paloma terdiam sejenak. Dia kembali menoleh kepada Martin. “Apakah dia memang pria yang kejam dan bengis?” tanya Paloma. Perasaan ibunda Nilo tersebut mulai berkecamuk. Semuanya bercampur menjadi satu. Menimbulkan kegelisahan yang tiba-tiba menyeruak dengan kuat.
“Tuan Sebastian merupakan pria yang sangat tegas. Dia selalu konsisten dengan ucapannya. Kau harus tahu bahwa peraturan di sini memang terbilang ketat. Namun, hal itu membuat kondisi menjadi aman dan terkendali,” jelas Martin. “Jika Tuan Sebastian mengatakan bahwa dia akan memberikan hukuman padamu, maka dia tak akan mencabut pernyataannya lagi.”
“Aku berharap dia mengusirku dari sini,” ujar Paloma seraya mengembuskan napas pelan.
“Kenapa memangnya?” Martin mengernyitkan kening.
__ADS_1
“Aku tak suka berada di sini. Ini bukan tempat yang cocok untukku.” Paloma mengeluh pelan.
“Lalu, bagaimana dengan Rafael Hernandez? Bukankah kau ingin mendapatkan kejelasan statusmu?”
“Kau lihat sendiri bahwa dia sudah menikah lagi. Dengan bangga si brengsek itu memamerkan istrinya yang tua di hadapanku.”
Martin tertawa renyah setelah mendengar ucapan Paloma. Dia tak menyangka bahwa wanita berparas lembut dan cantik yang ada di hadapannya, ternyata bisa bersikap brutal seperti tadi. “Kuberitahukan satu hal padamu, Paloma,” ucapnya kemudian. “Tatiana Vidal merupakan seorang milyarder asal Sevilla. Dia memiliki beberapa sektor bisnis yang membuat namanya berada sejajar dengan para pengusaha sukses dan ternama Andalusia, bahkan mungkin di Spanyol. Sama seperti Tuan Sebastian. Rafael Hernandez mendapatkan harta karun tak ternilai dengan menikahi wanita itu,” tutur Martin.
“Jadi, wanita itu bukan orang sembarangan rupanya,” pikir Paloma sambil manggut-manggut.
“Begitulah. Dia juga merupakan kolega Tuan Sebastian sejak beberapa tahun yang lalu. Ah, sulit dibayangkan jika kau sampai mencari masalah dengan para pembesar.” Martin mengarahkan agar Paloma melanjutkan langkah.
Paloma kembali melangkah menyusuri koridor. Tujuannya saat itu adalah kamar yang dia tempati bersama Flor. “Aku hanya ingin meminta Rafael agar menemaniku melakukan pembatalan pernikahan di gereja tempat kami menikah dulu. Menurutku, itu bukanlah sebuah tuntutan yang terlalu berlebihan. Setelah itu, aku tak akan mengusik hidupnya lagi.”
“Semuanya akan menjadi mudah, andai Rafael bersedia untuk bekerja sama denganmu. Namun, dia justru mengatakan bahwa kau adalah sepupunya yang mengalami gangguan kejiwaan. Dari sana saja, seharusnya kau sudah dapat menangkap itikad tidak baik dari pria itu.”
Paloma terdiam setelah mendengar ucapan Martin. Pikirannya semakin kusut, bagaikan benang jahit yang menggulung tak beraturan. Butuh waktu serta ketelatenan untuk dapat merapikannya kembali. Paloma tak berkata apa-apa lagi, hingga dirinya tiba di dekat area kamar khusus pelayan.Dia lalu menoleh kepada Martin yang sudah menemaninya. Paloma tersenyum lembut. “Terima kasih untuk semua yang sudah kau lakukan. Aku akan memikirkan langkah selanjutnya. Selamat malam, Martin. Maaf, karena aku sudah merepotkanmu.” Paloma kembali tersenyum, sebelum berjalan melewati deretan kamar, hingga tiba di depan pintu nomor 55.
Ragu, Paloma hendak mengetuk pintu kamar itu. Dia tak tahu seperti apa tanggapan dari Flor tentang insiden yang melibatkannya tadi di aula pesta. Paloma mengembuskan napas pelan. Dia meraih pegangan pintu, lalu memutarnya perlahan. Paloma membukanya dengan tidak terlalu lebar. Dia melangkah masuk.
__ADS_1
Lampu kamar belum dimatikan. Namun, Flor sudah tertidur nyenyak. Wajar saja, karena saat itu telah lewat pukul satu dini hari. Paloma segera menuju tempat tidur. Tanpa berganti pakaian, dia langsung merebahkan diri di ranjang. Tubuhnya terasa begitu lelah. Tak membutuhkan waktu lama, Paloma langsung terlelap. Dia baru membuka mata, ketika mendengar Flor memanggil namanya.