Casa Del Castaneda

Casa Del Castaneda
Bimbang


__ADS_3

Paloma keluar dari kamar Rafael dengan wajah muram. Dulu, dia pernah mengatakan agar jangan mengorbankan kebahagiaan demi balas budi. Ternyata, dirinya saat ini berada dalam posisi itu. Paloma merasa serba salah. Haruskah dia berbicara kepada Rogelio tentang segala kegundahannya? Akan tetapi, entah apa yang akan dipikirkan oleh sang ayah mertua, jika dia sampai mengatakan tentang hubungan percintaan yang dijalin bersama Sebastian.


Wanita berambut sebahu itu mengeluh pelan, sambil menyandarkan punggung pada dinding dekat tangga. Pikirannya mulai kalut. Paloma merasa begitu bodoh. Dia menggerutu karena tak mampu menahan diri.


Paloma begitu mudah jatuh ke dalam pelukan Sebastian. Seharusnya, dia lebih bersabar dan tidak terlalu cepat membuka hati pada pria manapun, selagi belum sepenuhnya mendapat kebebasan.


Paloma meraup wajah, lalu menyibakkan rambut serta poninya. Entah penjelasan seperti apa yang akan dia berikan kepada Sebastian. Pria itu terlihat sangat bahagia, atas jalinan cintanya yang baru berkembang. Namun, kenyataan yang terjadi kini justru membuat kuncup bunga itu tak jadi bermekaran.


Tiba-tiba Paloma teringat akan ucapan Rafael, yang meminta Rogelio agar mengatakan perihal pembatalan perceraian mereka kepada Sebastian. Dia tak boleh membiarkan hal itu sampai terjadi. Paloma bergegas menuruni anak tangga. Dia berjalan menuju ruang kerja sang ayah mertua. Paloma tahu, bahwa pada jam seperti itu Rogelio biasanya masih berada di sana.


“Bolehkah aku masuk, Ayah?” tanya Paloma setelah mengetuk dan membuka pintu.


“Masuklah, Nak,” sahut Rogelio yang sedang duduk di balik meja kerjanya.


Paloma membuka pintu dengan agak lebar. Dia berjalan masuk, lalu duduk di kursi yang biasa Rogelio gunakan untuk menerima tamu. Paloma merapikan rambutnya yang sedikit acak-acakan. Dia tak langsung bicara, karena melihat sang ayah mertua sedang sibuk di depan laptop. Selagi menunggu Rogelio menyelesaikan pekerjaannya, wanita muda itu merangkai kata yang akan dia sampaikan kepada pria paruh baya tersebut.


Beberapa saat berlalu, belum ada perbincangan antara mereka. Paloma menjadi sedikit gelisah. Namun, dia harus menepiskan perasaan itu. “Apakah Ayah sedang sibuk?” tanyanya hati-hati.


“Aku hanya sedang memeriksa beberapa laporan dan email. Memangnya ada apa?” Rogelio balik bertanya.


“Aku ingin membicarakan masalah ….” Belum sempat Paloma menyelesaikan kata-katanya, Rogelio sudah lebih dulu berbicara. Padahal, pria itu tak bermaksud menyela ucapan sang menantu.


“Tuan Castaneda mengirimkan email,” ucap Rogelio.


“Apa Ayah sudah menghubunginya?” tanya Paloma. Dia seakan mendapat kesempatan untuk mengutarakan apa yang akan dirinya katakan.


“Belum, Nak. Aku belum sempat menghubungi Tuan Castaneda. Lagi pula, kita harus memperhitungkan perbedaan waktu. Aku takut mengganggunya,” jawab Rogelio menjelaskan.

__ADS_1


Paloma dapat sedikit bernapas lega setelah mendengar jawaban sang ayah mertua. Namun, dia tetap harus membahas masalah yang saat ini tengah menjadi ganjalan dalam hati. Paloma memberanikan diri mengutarakannya. “Ayah, jangan bahas apapun tentang masalah perceraianku dengan Rafael kepada Tuan Sebastian. Ini bukanlah urusannya. Dia tak harus tahu apakah kami jadi bercerai atau tidak.” Akhirnya, kata-kata itu terucap juga dari bibir Paloma.


Rogelio yang masih berada di depan laptop, mengarahkan sejenak pandangannya kepada Paloma. Pria dengan rambut yang sudah bercampur uban tersebut mengembuskan napas pelan. “Aku juga merasa aneh, karena Rafael memintaku untuk melakukan hal itu. Walaupun selama ini kau sempat tinggal di Casa del Castaneda. Tuan Sebastian juga bersikap baik serta memberikan perlindungan padamu, tapi itu tak berarti dia harus masuk terlalu jauh dalam urusan pribadi kalian. Apakah Rafael terlalu berlebihan, atau dia ingin menunjukkan sesuatu?” Rogelio menaikkan sebelah alisnya.


“Ayah tahu sendiri bahwa Rafael terkadang … ah, sudahlah. Intinya, kupikir hal seperti itu tak perlu dibahas. Apalagi, jika Ayah sedang membicarakan masalah pekerjaan.” Paloma tersenyum lembut dan berusaha terlihat meyakinkan di hadapan sang ayah mertua.


“Ya. Kau tidak perlu khawatir,” sahut Rogelio. Dia menyudahi aktivitasnya dengan layar komputer. Rogelio beranjak dari balik meja kerja, kemudian melangkah ke kursi di mana Paloma berada. Dia duduk dengan penuh wibawa di salah satu kursi yang ada di sana. Rogelio sempat memperhatikan sang menantu untuk beberapa saat “Apa kau tidak bahagia?” tanyanya.


“Apa maksud Ayah?” Paloma balik bertanya.


“Tentang keputusan Rafael,” jawab Rogelio. “Kau terlihat tak menyukai keputusan yang diambilnya. Apakah dirimu memang sudah benar-benar yakin untuk bercerai?”


Paloma tak langsung menjawab. Dia harus kembali berpikir untuk merangkai kata yang masuk akal, dan dapat diterima sebagai alasan. Rogelio adalah pria berpendidikan yang selalu menjunjung tinggi logika. Paloma tak boleh salah bicara.


“Ada apa? Apa kau memang keberatan dengan keputusan Rafael yang ingin membatalkan gugatan cerai kalian?” tanya Rogelio lagi setengah mendesak.


“Harus kuakui bahwa ada banyak perubahan dalam diri Rafael. Dia memintaku agar mengantarnya ke makam Nilo. Kami juga sempat berbincang. Namun, aku tak pernah menyangka bahwa itu akan membuat dirinya berubah pikiran,” tutur Paloma lagi.


Rogelio mengusap-usap dagunya yang dihiasi sedikit janggut bercampur warna putih. Dia kembali memperhatikan sang menantu dengan bahasa tubuh yang terlihat sedikit aneh. “Jujur saja, aku sangat bahagia atas keputusan Rafael. Sebagai seorang ayah, aku sangat mendukung niat baiknya. Meskipun Rafael bukan darah dagingku, tapi dia sudah berada dalam asuhan Rogelio Gallardo sejak kecil. Aku mengenal wataknya dengan baik.”


Paloma terdiam mendengarkan ucapan Rogelio. Kebimbangan semakin kuat menyeruak dalam dada. Wanita muda bermata hazel tersebut tak tahu harus berkata apa. Paloma hanya mengangguk. Dia beranjak dari tempat duduknya. “Ini sudah malam. Aku sangat lelah. Aku akan beristirahat dulu.”


Rogelio ikut berdiri. Dia mengangguk pelan. “Aku juga akan ke kamar sebentar lagi. Selamat malam, Nak.” Rogelio tersenyum hangat, ketika Paloma menghampirinya. Dia mengecup kening wanita muda yang bukan hanya sekadar menantu. Rogelio sudah menganggap Paloma sebagai putrinya. Karena itulah, dia menikahkan Paloma dengan Rafael. Rogelio berharap agar ikatan di antara mereka dapat terjalin dengan jauh lebih erat.


“Selamat malam, Ayah.” Paloma merenggangkan pelukannya dari Rogelio. “Jangan tidur terlalu larut,” pesannya lembut.


“Iya, Nak. Sebaiknya, kau juga segera beristirahat," balas Rogelio lembut. Perhatiannya kepada Paloma memang sangat istimewa.

__ADS_1


Paloma tersenyum. Dia melangkah keluar dari ruang kerja Rogelio. Paloma berjalan menyusuri koridor dengan pikiran tak menentu, hingga dirinya tiba di depan kamar.


“Apa yang harus kulakukan sekarang?” pikir wanita muda itu sambil mengempaskan tubuh ke tempat tidur. Tatapannya menerawang pada langit-langit kamar.


Paloma lalu bangkit dan terduduk di tepian tempat tidur. Dia berpikir lagi dan lagi. Tatapan wanita itu kemudian tertuju pada telepon genggam, yang tergeletak di atas meja dekat ranjang. Tak ada pilihan lain bagi Paloma, selain mengatakan yang sebenarnya kepada Sebastian. Paloma menghubungi pria yang berada ribuan kilometer dari negara tempat di mana dia berada saat ini.


“Hola. Habla Sebastian,” sapa suara berat dari seberang sana. “Apa kabar, sayang?” Suara duda tiga puluh tujuh tahun itu terdengar sangat merdu di telinga. Membuat kerinduan tiba-tiba menyergap dan membuat kegelisahan kembali hadir dalam diri Paloma.


“Kabarku sangat baik, gato,” sahut Paloma, yang seketika membuat Sebastian tertawa renyah.


“Astaga. Aku sangat merindukanmu,” ucap Sebastian. Suara dan nada bicaranya penuh rayuan, yang membuat Paloma berhalusinasi. Kembali terbayang dalam ingatan, sentuhan bibir sang tuan tanah pemilik ribuan hektar perkebunan zaitun tersebut. Harus Paloma akui, ciuman Sebastian terasa begitu berbeda. Seperti candu yang membuatnya mabuk, tapi ingin terus mengulangi hingga berkali-kali.


Paloma menggumam pelan. Keraguan datang dan mencegahnya untuk berkata jujur. Namun, dia tak ingin memberi angan semu kepada Sebastian, yang justru berharap lebih pada dirinya. “Sebastian, aku … aku ingin mengatakan sesuatu padamu,” ucapnya.


“Tentang apa?” tanya Sebastian yang membuat Paloma kembali merasa ragu.


Paloma merasa tak yakin dengan apa yang akan dia katakan. Dia memang baru menjalin kedekatan dengan pria itu. Namun, perasaan cinta hadir dengan sangat cepat dan tak terduga. Sama seperti keputusan yang diambil oleh Rafael. Paloma tentunya tak akan tega mematahkan kuncup bunga dalam hati Sebastian, yang dipersembahkan dengan tulus untuk dirinya. Akan tetapi, dia juga tak dapat mengingkari rasa tak nyaman terhadap Rogelio, yang menyambut baik perubahan dalam diri putra angkatnya.


“Apa kau ada masalah?” tanya Sebastian, yang merasa aneh dengan sikap Paloma. “Biasanya, kau selalu banyak bicara," ucap pria itu lagi.


Paloma sudah hendak mengucapkan sesuatu. Namun, seperti ada ganjalan yang menghalanginya untuk melakukan itu. Paloma kembali terdiam. Dia mengurungkan niat untuk mengatakan yang sebenarnya kepada Sebastian. "Um, tidak. Aku ... aku hanya ingin mengetahui kabarmu," ucap wanita itu ragu. Paloma meringis kecil. Menyesali kebodohannya yang telah bersikap seperti seorang pengecut.


"Kabarku sangat baik. Aku merindukanmu setiap saat."


"Kau terlalu berlebihan, Sebastian." Paloma merasa tak enak dengan rayuan duda tampan itu. "Aku merasa risi jika kau bersikap terlalu manis seperti itu."


"Tidak ada yang berlebihan. Ini memang yang sesungguhnya. Aku ingin segera mempersunting dan memboyongmu ke Spanyol."

__ADS_1


__ADS_2