Casa Del Castaneda

Casa Del Castaneda
Pergi dan Menjauh


__ADS_3

Suara ketukan di pintu, memaksa Sebastian harus menghentikan adegan ciumannya bersama Paloma. Perlahan, dia menjauhkan wajah dari paras cantik wanita dengan dress floral berwarna biru itu. Sebastian, tak mengatakan apapun. Entah itu menjadi ciuman yang berkesan atau tidak baginya.


Tanpa diperintah, Paloma berjalan menuju pintu. Dia membukanya dengan tidak terlalu lebar. Seketika, Paloma tertegun. Pasalnya, yang berdiri di luar adalah Rogelio, sang ayah mertua. “Ayah,” ucap Paloma pelan.


“Kau di sini?” tanya Rogelio seraya menaikkan sebelah alisnya yang tebal.


“Aku ….”


“Paloma kemari untuk berpamitan,” sela Sebastian yang sudah berdiri di belakang wanita muda itu. “Apa Anda sudah siap, Tuan Gallardo?” tanya Sebastian setelah melihat penampilan Rogelio.


“Ya, Tuan Castaneda. Aku kemari untuk berpamitan kepada Anda,” jawab Rogelio. Sesekali, pria paruh baya itu melirik sang menantu yang tak banyak bicara.


“Akan kusuruh sopir untuk segera bersiap-siap,” ujar Sebastian.


“Aku akan mengambil barang-barangku. Permisi.” Paloma berpamitan. Dia berlalu dari hadapan kedua pria tadi. Langkahnya cepat menuju kamar yang ditempati bersama Flor.


Selang beberapa saat, mereka telah berada di halaman depan Casa del Castaneda. Seorang sopir sudah siap dengan mobil SUV putih, yang akan mengantar Paloma dan Rogelio menuju Sevilla.


Sebastian dan Rogelio bersalaman dengan hangat. Walaupun baru berjumpa kali ini, tapi mereka terlihat langsung akrab.


Sementara, Paloma tak banyak bicara. Perasaan wanita cantik tersebut menjadi tak karuan, setelah Sebastian tiba-tiba menciumnya. Selain itu, niat Rogelio yang hendak melakukan pertemuan dengan Rafael di Sevilla, telah membuat Paloma menjadi kian gugup.


"Sekali lagi terima kasih, Tuan Castaneda. Aku menunggu Anda untuk bertandang ke Meksiko," ucap Rogelio sebelum masuk ke mobil.


"Sama-sama, Tuan Gallardo. Aku pasti akan meluangkan waktu untuk berkunjung," balas Sebstian diiringi senyum ramah. Sesaat kemudian, ekor matanya tertuju kepada Paloma yang berdiri kikuk di sebelah Rogelio. "Semoga perjalanan kalian lancar," ucap sang penguasa Casa del Castaneda lagi.


Sebastian berdiri gagah, ketika sopir membukakan pintu unuk Paloma dan Rogelio. Ayah mertua dan menantunya itu telah duduk nyaman di dalam kendaraan.

__ADS_1


Rogelio sempat mengangguk sebelum mobil melaju. Sedangkan, Paloma yang sejak tadi tak berani menatap Sebastian, kali ini menoleh. Bersamaan dengan itu, kendaraan melaju pelan meninggalkan halaman Casa del Castaneda.


Setitik air mata menetes di sudut bibir Paloma. Kepedihan mengiringi laju kendaraan yang terus menjauh dari Porcuna. Niat hati wanita bermata hazel tersebut untuk singgah ke Granada, tak dia ungkapkan kepada sang ayah mertua. Alhasil, Paloma pergi dengan meninggalkan rasa sesal, karena tak sempat mengunjungi makam putranya.


"Kenapa bersedih?" tanya Rogelio yang melihat Paloma menitikkan air mata.


Paloma yang awalnya melihat ke luar jendela, segera menoleh kepada sang ayah mertua. Wanita muda itu menggeleng pelan, seraya mengusap pipi menggunakan punggung tangan.


"Apa kau merasa cemas?" tanya Rogelio. "Jangan takut. Aku menemanimu. Aku akan membantu hingga masalah yang sedang kau hadapi ini selesai." Rogelio menyentuh pucuk kepala Paloma, kemudian membelai rambut cokelat wanita muda tersebut.


Tersungging sebuah senyuman kecil di sudut bibir Paloma. "Terima kasih, Ayah. Sekarang aku tahu, kenapa ayahku begitu segan sekaligus kagum terhadap Anda. Anda memang layak mendapatkan penghargaan itu," ucap Paloma tulus.


"Jangan terlalu berlebihan, Nak." Rogelio menggeleng pelan. "Aku menyayangi dan sudah menganggap kau sebagai putri kandungku. Kau lebih dari sekadar menantu." Rogelio kembali mengangguk pelan sambil tersenyum lembut.


Setengah dari perjalanan menuju Sevilla sudah mereka tempuh. Tak lama lagi, Paloma dan Rogelio akan tiba di kediaman milik Tatiana Vidal, istri Rafael yang kaya raya.


"Apakah Anda yakin bahwa Rafael ada di sini?" tanya Paloma ragu.


"Seharusnya," jawab Rogelio. "


Saat datang ke Spanyol, rumah ini menjadi tujuan pertamaku," jawab Rogelio.


Setelah mempersilakan sopir Sebastian untuk kembali ke Porcuna, Rogelio dan Paloma berjalan mendekati pintu gerbang. Ayah angkat Rafael tersebut menemui penjaga di sana. Dia mengemukakan maksudnya yang ingin bertemu dengan Rafael.


Si penjaga pintu gerbang, rupanya masih mengingat wajah Rogelio yang datang kemarin-kemarin. Dia tak banyak bertanya lagi. Pria berseragam rapi itu mempersilakan Rogelio beserta Paloma untuk masuk, Terlebih, setelah Rogelio mengatakan hendak menemui Rafael.


Setelah masuk ke halaman, mereka dipersilakan untuk menunggu sejenak di tempat khusus. Sementara, si pria melapor kepada majikannya. Kebetulan, saat itu Rafael sudah kembali dari Porcuna. Namun, hubungannya dengan Tatiana menjadi dingin dan sedikit renggang, setelah kedatangan Rogelio ke sana.

__ADS_1


Bagaimanapun juga, Tatiana bukanlah wanita bodoh. Dia mungkin sudah menyadari, bahwa Rafael telah membohonginya terkait masalah status. Tatiana marah besar dan mendiamkan Rafael. Membuat kemarahan dalam diri pria itu kian menggunung, terlebih karena dia juga gagal dalam menghabisi Paloma.


“Tuan, ada yang ingin bertemu dengan Anda,” lapor si pria penjaga pintu gerbang.


“Siapa?” tanya Rafael. Dia meletakkan ponsel yang sedang dirinya mainkan, di atas meja ruang tamu. Rafael belum beranjak dari sana, setelah menerima kunjungan seorang kolega bisnisnya.


“Seorang pria paruh baya bersama wanita muda. Pria yang kemarin datang kemari dan mengaku sebagai ….”


“Izinkan mereka masuk,” sela Tatiana yang tiba-tiba ada di ruangan itu. Wanita berusia empat puluh tahun tersebut, berdiri angkuh menatap Rafael yang menoleh padanya dengan sorot protes. “Cepat bawa mereka kemari,” titah sang nyonya rumah, dengan bahasa tubuh yang terlihat tak bersahabat.


“Baik, Nyonya,” sahut si penjaga pintu gerbang seraya berlalu.


“Apa maksudmu, Sayang?” Rafael menunjukkan raut tak suka dengan sikap Tatiana.


“Kenapa? Kau takut?” tanya Tatiana bernada menantang.


Namun, Rafael tak sempat menjawab pertanyaan wanita itu, karena tamu yang dimaksud telah masuk ke sana. Rafael terpaku melihat sang ayah angkat, yang berdiri dengan tatapan penuh kemarahan terhadapnya. Sedangkan, tatapan Paloma juga tak kalah tajam. Wanita muda itu terlihat jijik terhadap pria yang masih menjadi suaminya tersebut.


“Apa kabar, Tuan Gallardo?” sapa Tatiana.


Rogelio yang tengah memandang tajam kepada Rafael, segera mengalihkan perhatiannya. Dia mengangguk sopan, sebagai pertanda penghormatan terhadap seorang wanita. “Kabarku sangat baik, Nyonya Vidal . Maaf jika kedatanganku kemari tanpa membuat janji terlebih dulu. Kami akan segera berangkat ke Meksiko.Namun, sebelum bertolak ke sana, kami ingin berbicara sebentar dengan Rafael.” Rogelio menjelaskan maksud kedatangannya.


Tatiana tak segera menanggapi. Tatapan dinginnya malah tertuju kepada Paloma. Dia yakin bahwa itu adalah wanita, yang telah melempar Rafael dengan sepatu hingga mengalami luka. “Baiklah, Tuan Gallardo. Silakan duduk.” Tatiana mengarahkan tangan kanannya ke arah sofa mewah tak jauh dari mereka berdiri.


Rogelio mengangguk. Dia mempersilakan Tatiana duduk terlebih dulu. Setelah itu, barulah dirinya dan Paloma mengikuti. Sementara, Rafael sudah terlihat salah tingkah dan tak nyaman. Jika bisa, mungkin Rafael akan lebih memilih melarikan diri saat itu juga.


“Jadi, bagaimana?” tanya Tatiana memulai perbincangan itu.

__ADS_1


“Kita langsung saja pada intinya, Nyonya Vidal. Ini adalah menantuku yang sah, Paloma Sanchez de Luna. Dia belum bercerai dengan Rafael. Itu artinya, pernikahan yang Anda dan putraku jalani selama ini tidak diakui secara hukum dan agama.”


__ADS_2