Casa Del Castaneda

Casa Del Castaneda
Sambutan Penuh Kejutan


__ADS_3

Pesawat yang ditumpangi Rogelio, mendarat mulus di Bandara Internasional Sevilla. 196 kilometer jauhnya dari perkebunan milik Sebastian di Porcuna. Dua belas jam harus pria itu lalui, untuk tiba di benua yang sangat jauh dari tempat tinggalnya.


Rogelio tak menghiraukan rasa lelah yang mendera.


Dia tak peduli dengan jet lag dan perbedaan waktu yang cukup jauh antara Spanyol-Meksiko. Dalam benak pria paruh baya tersebut, sudah terbayang raut wajah sepasang suami istri yang sudah dia rindukan bertahun-tahun lamanya.


Seorang pemandu pribadi juga telah Rogelio sewa secara online, untuk menemani perjalanannya kali ini.


“Tuan Gallardo?” sapa seorang pria berusia jauh lebih muda.


Rogelio memperkirakan usia sang pemandu, sama dengan umur Rafael. Dia mengangguk ramah, saat pemandu itu menyambutnya.


“Santiago Nunez?” balas Rogelio seraya mengulurkan tangan.


“Ya, kita sudah bicara di telepon kemarin, Tuan. Aku akan mengantarkan Anda ke manapun selama berada di Spanyol,” ujar pemandu bernama Santiago itu sopan.


“Ah, iya. Bisakah kau mengantarkanku ke alamat ini?” Rogelio menyodorkan secarik kertas bertuliskan alamat pada sang pemandu.


“Rumah Keluarga Vidal?” gumam Santiago.


“Kau mengenalnya? Siapa itu Vidal?” tanya Rogelio.


“Tidak ada yang tidak mengenal nama Vidal di kota ini, Tuan. Mereka adalah keluarga kaya, dengan sektor bisnis yang menguasai sebagian besar wilayah kota Sevilla,” jawab Santiago penuh keyakinan.


“Ini aneh sekali.” Rogelio mengusap-usap dagunya yang ditumbuhi bulu-bulu halus. “Kenapa detektif itu memberikan padaku alamat orang lain?”


“Memangnya, siapa yang hendak Anda cari, Tuan?” tanya Santiago heran.


“Putraku. Rafael Hernandez,” jawab Rogelio.


“Ah, apakah mungkin dia adalah suami baru Nyonya Tatiana?” tebak Santiago seraya mengacungkan jari telunjuknya.


“Itu tidak mungkin. Putraku sudah menikah. Dia tidak mungkin menikah dengan wanta lain,” sanggah Rogelio.

__ADS_1


“Oh, maafkan aku, Tuan. Aku hanya mengira-ngira. Nyonya Tatiana cukup terkenal. Dia mempunyai banyak pengikut di sosial media, dan aku merupakan salah satunya,” terang Santiago seraya meringis, lalu tertawa lebar.


“Sudahlah. Aku tidak ingin kita membuang-buang waktu. Bawa aku ke alamat itu sekarang juga,” pinta Rogelio mulai tak sabar.


“Baiklah, Tuan. Silakan.” Tanpa diminta, Santiago mengambil alih troli barang milik Rogelio. Pria itu mendoronnya hingga tiba di area parkir. Pria itu juga telah menyewakan sebuah mobil mewah yang sangat nyaman. Sesuai dengan permintaan Rogelio.


“Silakan masuk, Tuan.” Santiago setengah membungkuk. Dia membuka pintu mobil lebar-lebar, mempersilakan Rogelio agar masuk. Setelah kliennya duduk dengan nyaman, barulah dia menjalankan kendaraan menuju alamat yang telah disebutkan tadi.


Butuh waktu lima belas menit di perjalanan, hingga mereka tiba di satu kompleks perumahan mewah yang terletak tak jauh dari pusat kota. Santiago menghentikan kendaraan tepat di depan sebuah rumah yang tampak paling mewah, jika dibandingkan dengan rumah lain yang telah mereka lewati.


Rogelio sempat kebingungan. Dia berdiri di depan gerbang kokoh dan menjulang, sampai seseorang bersetelan rapi datang menghampiri. “Buen día (Selamat pagi). Apa ada yang bisa kubantu?” tanya pria itu.


“Ah, selamat pagi juga. Tuan ini ingin bertemu dengan Nyonya Tatiana,” jawab Santiago seraya mengarahkan tangan pada Rogelio. Pria asal Meksiko itu segera melotot keberatan pada Santiago.


“Aku bukan hendak menemui Tatiana. Aku mencari Rafael Hernandez!” protes Rogelio sambil berbisik.


“Aku sangat paham daerah ini, Tuan. Rumah mewah ini adalah milik Nyonya Tatiana Vidal,” sahut Santiago menegaskan.


“Apakah Anda sudah membuat janji sebelumnya?” tanya pria itu, menyela perdebatan kecil antara Rogelio dengan Santiago.


Rogelio terpaksa menyombongkan diri, untuk mempermudah dirinya bertemu dengan pemilik rumah yang pastinya bukan orang biasa. Dia juga mengeluarkan kartu identitas, serta kartu khusus yang menunjukkan bahwa Rogelio adalah salah satu warga kehormatan yang dipilih oleh pemerintah.


“Ah, maafkan ketidaksopananku, Tuan. Silakan masuk. Aku akan memberitahukan hal ini terlebih dulu kepada Nyonya Tatiana.” Pria bersetelan rapi tadi kemudian membuka pintu gerbang lebar-lebar, sehingga mobil yang dikemudikan oleh Santiago dapat masuk ke halaman depan rumah megah tersebut dengan leluasa.


Setelah tiba di dalam halaman, Rogelio bergegas keluar dari kendaraan. Dia berdiri sejenak sambil mengedarkan pandangan ke setiap sudut halaman luas itu.


Namun, hal tersebut tak berlangsung lama, karena pria tadi mengajaknya masuk.


“Silakan duduk, Tuan." Pengawal tersebut mempersilakan Rogelio untuk duduk di ruang tamu, lalu meninggalkan dia di sana.


Tak berselang lama, si pria kembali. Dia mengarahkan Rogelio ke ruangan lain, yang ternyata merupakan ruang kerja.


Seorang wanita bertubuh sintal dengan sikapnya yang tampak angkuh, memperhatikan sosok jangkung Rogelio dari ujung kepala hingga ujung kaki. “Ajudanku mengatakan bahwa Anda berasal dari Meksiko. Benarkah?” tanyanya dengan dagu sedikit terangkat.

__ADS_1


“Anda bisa mengecek di mesin pencarian, siapa Rogelio Gallardo sebenarnya,” sahut Rogelio.


Wanita yang tak lain adalah Tatiana, hanya menanggapi dengan senyuman sinis, sebelum mengetikkan sesuatu di keyboard laptopnya. Sesaat kemudian, air muka yang dihiasi make up tebal itu berubah seketika. Dia tertegun sambil sesekali melirik kepada Rogelio.


“Bagaimana?” tanya Rogelio tenang.


“Ah, ya. Anda benar-benar Tuan Gallardo,” sahut Tatiana yang awalnya memasang wajah ketus. Dia mendadak ramah dan penuh senyum. “Silakan duduk, Tuan. Apa yang bisa kubantu? Bagaimana bisa orang sepenting Anda melakukan perjalanan jauh tanpa ditemani oleh siapa pun?” tanya Tatiana berbasa-basi.


“Memang sengaja, karena ini adalah perjalanan rahasia,” jawab Rogelio memelankan suaranya.


“Rahasia?” ulang Tatiana sambil mengernyitkan kening.


“Sejujurnya, aku kemari untuk mencari putraku yang telah menghilang selama bertahun-tahun. Aku menyewa detektif swasta. Ternyata, dia mendapatkan alamat rumah ini. Hal itu membuatku bingung,” tutur Rogelio


“Siapa nama putra Anda?” tanya Tatiana. Dia mulai tertarik dengan penjelasan pria paruh baya di hadapannya.


“Rafael Hernandez. Dia pergi dari Meksiko sekitar enam tahun yang lalu,” jawab Rogelio yang seketika membuat Tatiana terbelalak sempurna.


“Anda mencari Rafael Hernandez?” Tatiana segera beranjak dari duduknya, lalu menghampiri Rogelio.


“Kalau begitu, detektif swasta itu memang benar. Putra Anda berada rumah ini, Ayah mertua,” sambutnya dengan diiringi senyum semringah.


Berbanding terbalik dengan Rogelio yang semakin merasa heran. “Ayah mertua?” ulangnya dengan nada tak suka.


“Ya. Jika memang benar Anda adalah ayah dari Rafael, maka itu berarti aku adalah menantumu,” jawab Tatiana yakin.


“Maksudnya … kau … kau menikah dengan Rafael?” Rogelio tergagap.


“Ya, Ayah mertua. Sudah lima tahun kami mengarungi pernikahan. Namun, sampai sekarang kami belum dikaruniai keturunan,” terang Tatiana. Senyuman indah tak jua hilang dari wajahnya.


“Ini tidak mungkin!” Rogelio mundur beberapa langkah. Dia merasa lemas, sehingga harus berpegangan pada sandaran sofa yang terletak tak jauh dari tempatnya berdiri.


“Kenapa tidak mungkin?” Tatiana melayangkan kalimat bernada protes, seraya melipat kedua tangan di dada.

__ADS_1


“Rafael tidak mungkin menikahimu, sebab dia sudah menikah dengan Paloma,” desis Rogelio


__ADS_2