
Suara Paloma terdengar begitu lantang, saat mengatakan bahwa dia merupakan istri dari pria yang tadi dirinya pukul menggunakan hak sepatu.
Apa yang Paloma katakan, membuat wanita di hadapannya seketika naik pitam. "Jaga bicaramu! Kau pelayan tak tahu diri!" sergahnya.
Menyaksikan adegan tak menyenangkan di depan mata, Sebastian segera memberi isyarat kepada Martin untuk mengamankan Paloma. Sang mandor pun langsung memegangi lengan wanita itu. Membawanya mundur agar menjauh dari pria yang tadi dia serang.
"Ayo. Jangan kacaukan jamuan ini," bisik Martin.
"Aku tak akan ke manapun sebelum menyelesaikan urusan dengan pria itu!" tolak Paloma tegas. Telunjuknya lurus tertuju pada pria seusia Martin, yang berdiri gagah dengan tatapan mengarah kepada wanita muda tersebut. "Katakan sesuatu, Rafael!" sentak Paloma tanpa segan.
Mendengar nama Rafael disebut, Martin segera mengarahkan perhatiannya pada pria itu. "Apakah dia Rafael Hernandez yang kau cari?" tanya pria tampan tersebut setengah berbisik.
"Ya. Dia Rafael Hernandez. Suamiku yang brengsek!" maki Paloma. Dia sudah terlanjur kehilangan harga diri di depan semua tamu undangan. Paloma tak peduli lagi akan hal itu.
Merasa namanya terus disebut, pria bernama Rafael Hernandez tadi melangkah maju. Dia mendekat kepada Paloma. Berdiri tegap di hadapan wanita yang terlihat ingin mencabik-cabik tubuhnya. "Apa yang kau lakukan di sini, Paloma?" tanya Rafael dengan raut wajah yang teramat tenang.
Rafael Hernandez. Pria tampan berusia tiga puluh satu tahun. Perawakannya tegap dengan kulit bersih terawat. Sangat berbeda jika dibandingkan dengan lima tahun lalu, saat dirinya meninggalkan Paloma di Granada. Penampilan Rafael pun sangat rapi. Mencerminkan orang yang berasal dari kalangan atas.
Pria berambut cokelat itu menatap lekat Paloma. Sepasang mata abu-abu miik Rafael, menyiratkan sesuatu yang seakan mewakili apa yang ada dalam benaknya. "Pulanglah," ucap Rafael kemudian.
"Aku kemari untuk mencarimu, Brengsek!" maki Paloma. Dia tak kuasa menahan amarah yang sekian lama terpendam.
"Untuk apa kau mencariku? Aku sudah menikah. Ini istriku." Rafael merengkuh wanita paruh baya di sampingnya. Wanita yang tadi menghardik Paloma.
"Kau mengenalnya, Sayang?" tanya wanita berambut pirang dengan sanggul rapi tersebut.
Rafael menoleh sejenak kepada si wanita yang dia sebut sebagai istrinya. Pria berjanggut terawat itu pun menyunggingkan senyuman lembut. "Ya, Tatiana. Aku sangat mengenalnya," jawab Rafael tenang. Dia kembali tersenyum kepada wanita dengan gaun indah itu. Rafael kemudian mengalihkan pandangan kepada Paloma yang masih dipegangi lengannya oleh Martin.
__ADS_1
"Paloma." Rafael menyebut nama wanita di hadapannya dengan lembut. "Bagaimana bisa paman dan bibi membiarkanmu berkeliaran hingga kemari?" tanyanya seraya menautkan alis.
"Apa maksudmu?" Paloma berusaha melepaskan diri dari pegangan Martin. Wanita muda itu terus menggerakkan lengannya dengan kuat.
"Terlalu berbahaya jika kau berkeliaran seperti ini," ucap Rafael lagi, membuat Paloma kian tak mengerti.
"Apa maksud Anda, Tuan?" Sebastian yang sejak tadi hanya diam dan memperhatikan kekacauan itu, berjalan mendekat.
Rafael segera menoleh pada sang tuan rumah. "Ah, Tuan Sebastian." Dia mengangguk sopan. "Sepupuku ini memang kerap mengamuk tanpa alasan. Dia mengalami gangguan kejiwaan sejak kedua orang tuanya tiada. Setahuku, paman dan bibi yang merawatnya tak pernah membiarkan dia keluar kamar. Karena itu aku heran saat melihat dia ada ...."
"Kurang ajar kau, Rafael!" sergah Paloma memotong ucapan pria itu. "Kau yang gila! Otakmu yang tidak waras!" bentak Paloma histeris.
"Bawa dia dari sini, Martin!" titah Sebastian dengan tegas. "Pastikan dia berada di tempat yang aman," pesannya.
"Baik, Tuan," sahut Martin. Pria itu mengangguk, lalu memaksa Paloma keluar dari aula tempat pesta berlangsung. Martin bahkan setengah menyeretnya, karena wanita muda itu terus memberontak. Paloma juga tak berhenti berteriak, melontarkan sumpah serapah yang dia tujukan kepada Rafael.
"Kau akan terbakar di neraka! Dasar pria brengsek! Kau lebih dari seorang penjahat!" Makin lama, teriakan Paloma semakin tak terdengar. Martin telah membawanya menjauh dari ruangan megah tadi.
"Ah, Sayangku. Keningmu berdarah." Tatiana menangkup paras tampan Rafael. Dia terlihat begitu mengkhawatirkan suaminya.
"Maaf atas ketidaknyamanan ini, Nyonya Vidal," ucap Sebastian. Dia menyesalkan apa yang dilakukan Paloma, terhadap suami dari wanita yang selama ini menjadi koleganya. "Bawalah suami Anda ke belakang untuk diobati," saran Sebastian seraya mengarahkan tangan pada pintu belakang aula pesta.
"Tidak usah. Terima kasih atas perhatian Anda, Tuan. Aku minta maaf, tapi kami akan pulang lebih awal," tolak Tatiana dengan halus. Kemarahan wanita paruh baya itu sirna, saat dia berhadapan dengan Sebastian.
Sang pemilik Casa del Castaneda pun tak berani menahan tamunya lebih lama. Dia mengangguk sopan. Mempersilakan Tatiana membawa Rafael pergi dari sana.
"Maaf untuk insiden memalukan tadi. Perjamuan akan kita lanjutkan." Sebastian tersenyum penuh wibawa. Sebisa mungkin, dia menyembunyikan kemarahan yang menggunung dalam dada, dan seperti akan segera meledak.
__ADS_1
Selagi Sebastian tengah mengendalikan amarahnya, Martin sibuk menenangkan Paloma. Dia cukup kewalahan menghadapi wanita muda tersebut. Martin tidak mengira, bahwa Paloma ternyata tak selembut seperti yang terlihat selama ini.
"Aku tidak gila, Martin! Aku masih waras! Pria itu yang gila!" Paloma masih belum dapat mengendalikan rasa marah. "Aku benar-benar sehat!" Dia kembali menegaskan, ketika melihat Martin memperhatikannya dengan tatapan aneh.
"Apa pria itu memang benar-benar suamimu?" tanya Martin ragu.
Paloma yang sedang mondar-mandir tak karuan, seketika terdiam. Dia balas menatap Martin dengan sorot kecewa. "Kau ... meragukanku?" Paloma mengalihkan pandangan ke arah lain. "Ah, ya. Aku bisa memahaminya. Kau tak mengenalku dengan baik. Wajar jika kau merasa ragu atau bahkan tak percaya sama sekali." Paloma duduk di sebelah Martin sambil meraup kasar wajahnya.
"Kenapa dia tidak bersedia mengakuimu sebagai istrinya?" tanya Martin heran.
"Kau dengar sendiri apa yang Carlos katakan kemarin. Rafael menyebut dirinya masih lajang. Padahal ... padahal dia meninggalkanku dalam kondisi tengah hamil. Tinggal beberapa bulan lagi aku akan melahirkan ...." Kali ini, Paloma tak kuasa menahan tangisnya. Dia menutupi wajah menggunakan kedua telapak tangan. Bayangan si kecil Nilo kembali hadir di pelupuk mata. Menghadirkan lagi perasaan sedih tak terhingga dalam dada.
Martin begitu terenyuh melihat apa yang terjadi kepada Paloma. Dia memang belum mengenal wanita muda itu dengan baik. Namun, entah mengapa dirinya merasa yakin bahwa Paloma tak sedang berbohong. Martin juga tidak melihat ada yang janggal dari kondisi kejiwaan si pemilik mata hazel tersebut.
"Maafkan aku, Paloma. Namun, harus kukatakan bahwa kau sedang menempatkan dirimu dalam masalah besar. Kau tak tahu seperti apa watak Tuan Sebastian," ucap Martin yang terlihat khawatir.
Paloma yang sedang menangis sambil menutupi wajahnya, segera menyingkirkan tangan dari sana. Dia menoleh kepada Martin dengan mata sembap. "Aku sudah mengacaukan semuanya. Tuan Sebastian pantas jika sampai marah padaku," ucap Paloma lesu.
Martin sudah akan menanggapi ucapan wanita itu. Namun, segera dia urungkan ketika melihat Raquela yang berjalan ke arah mereka. Martin lalu berdiri. "Nyonya Raquela," sapanya sopan.
Raquela mengangguk dengan diiringi senyuman khasnya. Sesaat kemudian, pandangan wanita berpostur tinggi besar itu beralih kepada Paloma yang juga ikut berdiri di sebelah Martin. "Tuan Sebastian menunggumu, Paloma," ucapnya datar. Ada raut kecewa yang terpancar dari wajah sang kepala pelayan tersebut.
"Baik, Nyonya Raquela," sahut Paloma. Dia sudah mulai tenang. Wanita itu kembali bertutur kata dengan lembut. Sama seperti kemarin-kemarin.
"Di mana Tuan Sebastian?" tanya Martin.
"Dia ada di ruang kerjanya," jawab Raquela singkat.
__ADS_1
"Baiklah." Martin menoleh kepada Paloma. "Mari kutemani kau ke sana," ajaknya penuh percaya diri.
"Tuan Sebastian hanya memanggil Paloma. Kau tak perlu menyertainya," tegas Raquela.