Casa Del Castaneda

Casa Del Castaneda
Kenyataan Sebenarnya


__ADS_3

Sebastian melangkah tegap dalam balutan sepatu pantofel hitam mengilap. Dia tampak sangat percaya diri dengan penampilannya yang rapi dan berkelas. Malam itu, Sebastian datang dengan mengenakan setelan tuksedo, yang membuat dia terlihat luar biasa.


Setibanya di dalam aula pesta yang megah, Sebastian segera disambut oleh Rogelio. Jabat tangan serta rangkulan hangat khas para pria kalangan atas, mewarnai pertemuan dua pengusaha besar berbeda benua itu. Ini adalah pertemuan pertama mereka, setelah kedatangan terakhir Rogelio ke Spanyol. “Apa kabar, Tuan Castaneda?” sapa Rogelio ramah.


“Sangat baik, Tuan Gallardo. Senang sekali karena mendapat kehormatan untuk menghadiri acara jamuan besar ini,” balas Sebastian penuh wibawa.


“Aku yang seharusnya berterima kasih, karena Anda sudah bersedia menghadiri undanganku. Padahal, kita tahu sendiri jarak tempuh Spanyol-Meksiko yang sangat jauh.” Rogelio merengkuh pundak Sebastian yang berpostur lebih tinggi darinya. Dia mengajak duda tiga puluh tujuh tahun tersebut, menemui beberapa kolega serta para pengusaha Meksiko lainnya.


Sementara, Rafael tengah berdiri dengan perasaan gundah di luar kamar Paloma. Pasalnya, wanita itu belum juga keluar dari dalam sana. Rafael sudah mengetuk pintu berkali-kali. Namun, Paloma tidak menggubrisnya. Rafael bahkan hampir mendobrak pintu itu, andai dia tak ingat bahwa apa yang dilakukannya hanya akan menimbulkan keonaran.


“Paloma! Keluarlah!” seru Rafael dengan tidak terlalu nyaring. Sesekali, pria itu mengetuk pintu. “Kau tidak usah memakai gaun pesta yang kubelikan jika tak mau. Kumohon, Paloma. Jangan mempermalukan ayah. Dia sudah mempersiapkan acara ini dengan penuh sukacita.” Rafael mengeluh pelan. Dia tak tahu harus berkata apa. Jika bukan karena niatnya sudah bulat untuk berusaha meraih kembali cinta Paloma, Rafael pasti sudah meninggalkan tempat itu sejak tadi.


“Paloma! Apa kau mendengarku?” serunya lagi sambil sesekali mengetuk pintu. Namun, apa yang dilakukannya hanya sia-sia. Paloma, tak memedulikan sama sekali permohonan Rafael. “Paloma!”


Ketika Rafael sedang berusaha membujuk istrinya agar bersedia keluar, seorang pelayan datang menghampiri. Dia menyampaikan pesan dari Rogelio. “Tuan, Anda sudah ditunggu di aula pesta oleh tuan besar. Tamu istimewa dari Spanyol telah tiba.”


Rafael tidak menjawab. Dia hanya mengangguk. Rafael mengisyaratkan agar si pelayan kembali. Sementara, dirinya kini memiliki ide yang bisa memancing Paloma agar keluar dari kamar. Rafael, kembali mengetuk pintu. “Paloma. Pria pujaan hatimu telah tiba. Apa kau tak ingin menemuinya?” seru Rafael dengan cukup lantang.

__ADS_1


Paloma yang tengah duduk sambil merengut, segera menoleh ke arah pintu. “Sebastian? Dia datang kemari?” gumamnya seraya menautkan alis. Paloma kemudian beranjak dari tempat tidur. Dia mendekat ke pintu, menempelkan telinganya di sana.


“Kau harus tahu bahwa ayah telah mengundang Sebastian datang ke perjamuan kali ini. Jika kau mau, maka keluarlah. Jika tidak, aku akan mengatakan bahwa kau sedang tidak enak badan.” Seusai berkata demikian, Rafael berlalu dari depan kamar Paloma.


Kebimbangan mulai menggelayuti perasaan Paloma. Di satu sisi, dia ingin sekali bertemu dengan Sebastian. Di sisi lain, apa yang akan dirinya katakan andai pria itu mengetahui bahwa Rafael telah menarik gugatan cerai mereka. Paloma berjalan mondar-mandir sambil mengacak-acak rambut. Sesaat kemudian, pandangan wanita itu tertuju pada gaun pesta yang sudah tersedia untuk dirinya kenakan.


Paloma berjalan mendekat ke ujung tempat tidur. Dia meraih gaun mahal yang Rafael belikan untuknya. Gaun panjang tanpa lengan berwarna hijau emerald, dengan taburan kristal di bagian leher.


Sementara, Rafael sudah berada di aula pesta. Dia tersenyum hangat menyambut Sebastian. Senyum kepura-puraan yang dirinya tunjukkan, demi menyenangkan hati sang ayah. “Tuan Sebastian Cruz Castaneda. Senang melihat Anda berada di Meksiko.” Rafael menyalami Sebastian.


“Terima kasih Tuan Rafael Hernandez. Tentu saja aku sangat bahagia, karena bisa datang kemari. Terlebih ….” Sebastian tak sempat melanjutkan kata-katanya, ketika dia melihat kehadiran seseorang yang seketika mengalihkan perhatiannya. Wanita cantik bergaun hijau emerald yang sangat cantik. Dia melangkah gemulai ke arahnya.


Paloma tidak mengatakan apapun. Dia hanya menyunggingkan senyuman kecil seperlunya. Pandangan wanita cantik bermata hazel itu tertuju pada sosok tinggi tegap, yang memandangnya dengan penuh kekaguman.


“Paloma,” sapa Sebastian. Ingin rasanya dia membawa wanita berambut pendek itu menjauh dari aula pesta, agar dapat berduaan dengannya.


“Sebastian,” balas Paloma. Suaranya terdengar begitu lembut saat menyebut nama pria asal Spanyol tersebut. Mereka bahkan saling melempar senyuman.

__ADS_1


Tanpa keduanya sadari, sikap demikian telah mengundang perasaan tak mengerti dari Rogelio. Pria paruh baya itu memicingkan mata, seakan tengah menganalisa makna di balik senyuman yang tampak dari sorot mata penuh binar indah itu. “Baiklah, Tuan Castaneda. Silakan nikmati acara kami. Ada banyak santapan khas Meksiko di sini.” Rogelio mengarahkan Sebastian pada meja di mana terdapat berbagai sajian makanan enak yang sudah ditata sedemikian rupa. Di sana juga terdapat aneka minuman.


“Terima kasih, Tuan Gallardo. Apa kau ingin kuambilkan sesuatu?” tawar Sebastian kepada Paloma. Sikap manis itu kembali menjadi perhatian Rogelio. Dia menatap Rafael, lalu mengalihkan pandangan kepada Paloma yang tersipu. Bahasa tubuh jauh berbeda, dari yang ditunjukkan saat sedang bersama Rafael.


“Tidak usah. Aku bisa mengambil sendiri,” tolak Paloma halus.


“Baiklah. Aku permisi dulu.” Sebelum berlalu dari sana, Sebastian kembali menatap Paloma meski hanya sesaat.


“Ada apa ini?” tanya Rogelio penasaran.


“Nanti juga Ayah akan mengetahuinya,” jawab Rafael seraya menoleh kepada Paloma yang kembali terdiam.


Rogelio menggelengkan kepala seraya berdecak pelan. Dia lalu mengangkat gelas tinggi-tinggi, seraya mengetuk-ngetuknya menggunakan sendok kecil yang baru dikeluarkan dari saku tuksedo. Otomatis, semua tamu undangan mengarahkan perhatian padanya.


“Maaf mengganggu waktunya sebentar para hadirin,” ucap Rogelio memulai sambutannya. “Aku hanya ingin berbagi kebahagiaan dengan anda semua yang ada di sini,” ucap pria itu lagi.


Rogelio mengarahkan pandangan pada Rafael dan Paloma yang berdiri saling berdampingan. “Lihatlah.” Tangan kanan Rogelio mengarah pada kedua sejoli tadi. “Ini adalah putra dan menantuku. Mereka baru kembali dari Spanyol, setelah bertahun-tahun tinggal di sana. Kali ini, keduanya sudah memutuskan untuk menetap di Meksiko. Membina rumah tangga yang harmonis dan penuh kebahagiaan. Tak ada lagi yang kutunggu dari hal ini, selain kehadiran seorang cucu.” Rogelio tersenyum lebar setelah berkata demikian. Sambutan hangat yang disambut tepuk tangan dari para tamu undangan.

__ADS_1


Namun, tidak dengan Sebastian. Dia seperti tak dapat menelan minuman yang akan melewati lehernya. Sebastian memandang tak percaya kepada Paloma, yang juga tengah menatap nanar ke arahnya.


__ADS_2