Casa Del Castaneda

Casa Del Castaneda
Terpaku


__ADS_3

Paloma menatap tajam Abelardo. Walaupun wanita itu sempat diam dan tak berkutik, tapi sikap keras Paloma tak berkurang sedikit pun. Dia maju ke hadapan Abelardo.


“Begitukah sikap Anda, Inspektur Lujan? Pantaskah seorang penegak hukum memberikan ancaman? Terlebih pada seseorang yang bukan warga asli negara ini! Aku bisa menuntut balik atas tindakan tidak menyenangkan berupa ancaman yang Anda lakukan!” Paloma, tetaplah Paloma. Dia akan selalu menjadi wanita keras kepala di hadapan siapa pun, yang belum dapat menaklukannya.


“Anda yang memaksaku, Nyonya! Jika saja Anda dapat bersikap lebih tenang dan sopan, maka aku juga tak akan menanggapi seperti tadi,” balas Abelardo.


“Asal Anda tahu, Nyonya Hernandez. Kami memiliki sistem kerja yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan. Kami adalah penegak hukum. Bekerja dan memutuskan atas dasar bukti valid, bukan hanya melayangkan tuduhan-tuduhan tanpa barang bukti yang jelas. Tidak, Nyonya! Bukan seperti itu cara kerja kami,” tegas Abelardo lagi.


“Aku tahu itu, Inspektur Lujan. Anda tak harus mengulanginya hingga berkali-kali,” balas Paloma masih dengan sikapnya yang angkuh. “Namun, apa susahnya memberikan jawaban jelas atas semua pertanyaanku, bukannya terkesan menghindar bahkan hingga sulit dihubungi.”


“Astaga, Nyonya. Aku hanya memakai satu ponsel dan satu nomor, yang selalu aktif dua puluh empat jam. Alasanku mengapa tak langsung memberikan jawaban kepada Anda, karena memang belum ada perkembangan yang terlalu berarti. Anda pasti akan merasa bosan, jika mendapat jawaban yang sama dariku,” jelas Abelardo.


“Anda terlalu banyak alasan, Inspektur,” cibir Paloma kesal.


“Nyonya ….”


“Hentikan,” lerai Sebastian. Dia menahan Abelardo agar tak terus menanggapi kekesalan Paloma. Bagaimanapun juga, Sebastian sudah mengetahui watak wanita itu yang sangat keras dan tak mau mengalah.


Sebastian menarik pelan lengan Paloma, hingga wanita yang pernah menjadi kekasih sesatnya itu mundur. Dia bahkan menempatkan ibunda Luz Maria tersebut di belakang tubuhnya.


“Hentikan, Paloma. Kau harus ingat dengan niat awalmu bertemu Abelardo. Kau meninggalkan Luz Maria demi datang kemari. Abelardo juga meluangkan waktu di sela-sela segala pekerjaannya agar bisa menerima segala keluh-kesahmu. Namun, bukan seperti ini caranya.” Sebastian menatap Paloma. Sorot matanya menyiratkan rasa kecewa terhadap wanita cantik bermata hazel tersebut.


Paloma seakan dapat memahami makna tatapan Sebastian. Perlahan, keangkuhannya berangsur memudar. Dia lalu mengalihkan perhatian kepada Abelardo yang juga mulai tenang. “Kalau begitu, aku ingin melihat rekaman CCTV yang pernah Anda katakan kemarin-kemarin,” pinta Paloma beberapa saat kemudian.


“Tidak bisa, Nyonya. Rekaman itu sudah dibawa ke laboratorium forensik untuk diperiksa lebih lanjut. Para penyidik sedang mencoba mencari tahu pemilik kendaraan, dengan cara melacak plat nomornya. Untuk mendapatkan plat nomor yang jelas, mereka harus meneliti video menggunakan alat khusus." Abelardo mencoba memberikan pengertian kepada Paloma.

__ADS_1


"Jadi, kami minta agar Anda bisa lebih bersabar. Jika semua penyelidikan telah selesai, kami pasti akan segera memberitahukan semuanya pada pihak keluarga korban,” jelas Abelardo dengan intonasi yang jauh lebih tenang.


Paloma sudah hendak menanggapi ucapan Abelardo. Akan tetapi, Sebastian dengan segera memberi isyarat. Pria itu menggeleng samar. Membuat Paloma mengurungkan niatnya.


“Baiklah, Abelardo. Kami permisi dulu.” Setelah berpamitan, Sebastian langsung membawa Paloma keluar dari sana. Keduanya berjalan menyusuri koridor, hingga tiba di halaman parkir.


Tanpa banyak bicara, Paloma langsung menuju ke mobil. Dia bermaksud untuk masuk, ketika Sebastian memanggilnya. Paloma menoleh sambil memegangi pintu yang sudah terbuka. “Ada apa?” tanya wanita itu. Masih terlihat sisa-sisa rasa jengkel dalam raut wajah Paloma, ketika Sebastian berdiri di hadapannya.


“Apa kau tidak memikirkan kata-kata Abelardo tadi?” tanya Sebastian.


“Kata-kata yang mana?” tanya Paloma biasa saja.


“Tentang visamu yang akan segera berakhir. Apa boleh jika kuberikan sedikit saran?”


Paloma tak langsung menjawab. Dia berpikir beberapa saat. Dirinya memang mengabaikan hal penting itu, karena terlalu fokus pada kasus kecelakaan yang menewaskan Rafael.


“Visa kerja? Maksudmu?” tanya Paloma tak mengerti.


Sebastian mengedarkan pandangan. Tepat di seberang bangunan kantor polisi tadi, ada sebuah cafètaria sederhana. Sebastian, memberanikan diri mengajak Paloma ke sana untuk berbincang sebentar. Dengan alasan ingin membahas masalah visa, duda tampan tersebut berhasil membuat Paloma menerima ajakannya.


“Langsung saja bicara ke intinya. Aku harus segera kembali ke Granada,” ucap Paloma, setelah minuman yang mereka pesan tersaji di meja.


“Kenapa kau tak mengajak Luz Maria ikut kemari?” tanya Sebastian sambil meneguk minumannya.


“Aku tak ingin mengambil risiko,” jawab Paloma singkat.

__ADS_1


“Risiko apa? Kau pikir semua orang ingin menghabisimu?” Sebastian menatap lekat wanita cantik di hadapannya. Pria tampan berambut cokelat itu mengembuskan napas pelan. “Berhentilah bersikap seperti ini, Paloma.”


Namun, Paloma tak menanggapi ucapan Sebastian. Dia sedang tidak ingin berbincang dengan siapa pun saat ini. Paloma ingin segera pulang dan bertemu putri tercintanya. “Sudah kukatakan tadi, langsung saja ke inti pembicaraan.”


Sebastian menggaruk kening yang tak gatal. “Baiklah,” ucapnya. “Jadi, begini.” Sebastian mulai pada inti pembicaraan, sesuai permintaan Paloma. “Kemarin, Elazar mengatakan bahwa ada salah seorang rekannya yang sedang pailit. Dia menjadi perantara untuk menjual perusahaan milik rekannya tersebut. Jika kau mau, berbicaralah dengan Tuan Gallardo. Siapa tahu ayahmu berminat membelinya.”


“Perusahaan?” Paloma memicingkan matanya.


“Ya. Jika kau memakai visa kerja, maka izin tinggalmu bisa lebih lama di sini. Kurasa, kau juga sudah mengetahui hal itu. Kau pernah menetap selama beberapa tahun di Spanyol,” jelas Sebastian. “Dengan begitu, kau akan lebih leluasa memantau kasus ini hingga selesai.”


“Kenapa?” tanya Paloma penuh selidik.


“Aku hanya ingin kau mengetahui, bahwa diriku tidak ada sangkut-pautnya dengan kasus kecelakaan yang menewaskan Rafael. Itu artinya, kau harus tetap mengawasi setiap perkembangan kasusnya,” jawab Sebastian.


“Baiklah. Aku akan membicarakan hal ini dengan ayahku.” Paloma meneguk sedikit minuman yang ada di hadapannya. Setelah itu, dia beranjak dan bersiap pergi.


“Kau akan pergi sekarang?” tanya Sebastian ikut berdiri.


“Ya. Aku sedang buru-buru,” jawab Paloma seraya menggantungkan tali tas ke lengannya. “Terima kasih karena telah membantuku hari ini, meskipun inspektur polisi itu masih tetap menyebalkan seperti biasanya,” ujar Paloma kembali terlihat kesal.


“Jangan begitu, karena Abelardo adalah satu-satunya orang yang bisa membantu memecahkan kasus pembunuhan suamimu," ucap Sebastian. “Bersabarlah, Paloma. Aku tahu hidupmu tak mudah. Sudah terlalu banyak kepahitan dan kejadian buruk yang menimpamu. Namun, itu tak berarti bahwa masa depanmu akan sama buruknya. Aku yakin, setelah badai akan ada pelangi indah yang menghiasi harimu. Kau hanya perlu menunggu,” imbuhnya.


Paloma yang sudah akan keluar dari cafètaria, segera menghentikan langkahnya dan menatap Sebastian. “Kau tak pernah tahu rasanya kehilangan berkali-kali,” ucapnya lirih dengan mata berkaca-kaca.


“Aku pernah merasakan kehilangan walaupun hanya sekali. Karena itulah, aku sangat paham bagaimana rasanya. Begitu menyakitkan sampai-sampai kau tak punya keinginan untuk melanjutkan hidup. Apakah benar begitu, Paloma?” Sebastian memberanikan diri berjalan mendekat, sehingga hanya tersisa jarak beberapa senti saja antara dirinya dengan Paloma.

__ADS_1


“Kau tidak sendirian. Aku ingin kau selalu mengingat hal itu,” ucap Sebastian seraya mendekatkan wajahnya pada Paloma. Sementara, Paloma hanya diam terpaku.


__ADS_2