
Paloma berlari melintasi koridor, lalu berhenti tepat di depan kamar yang biasa dirinya tempati saat tinggal di Kediaman Rogelio. Perasaannya begitu bingung dan kalut. Marah, sedih, dan kecewa, bercampur menjadi satu.
“Nilo … jemput aku, Nak. Aku tak ingin lagi berada di dunia ini. Aku lelah, Nilo,” racau Paloma seraya menghadap dan menempelkan keningnya di daun pintu.
Paloma ingin menangis dan berteriak sekencang mungkin, untuk melampiaskan segala keresahan dalam dada. Namun, dia tak dapat melakukan hal itu. Paloma hanya terisak pelan.
“Paloma." Terdengar sapaan dari suara yang sangat Paloma kenal. "Apa kau baik-baik saja?” Sentuhan lembut di lengan wanita muda itu, membuatnya berhenti menangis dan langsung menoleh.
“Rafael ….” Sorot mata Paloma tampak sendu. Air mata tak juga berhenti mengalir, membasahi pipinya. “Apa kau juga mengetahui tentang kenyataan ini?” tanya Paloma lirih.
“Tidak sama sekali, Paloma. Aku juga sama terkejutnya denganmu,” sahut Rafael. “Aku sama sekali tak menyangka jika … ayah dan kau adalah ….” Nada bicara Rafael terdengar ragu. Pada akhirnya, dia bahkan memilih tak melanjutkan kalimat yang sempat terjeda.
“Kenapa kelahiranku seakan menjadi satu kesalahan, Rafael? Sejak hadir di dunia ini, aku sudah tak diinginkan. Kesialan itu berlanjut sampai detik ini.” Paloma menggeleng pelan, sambil mengusap ujung hidungnya yang memerah.
“Jangan berkata seperti itu,” tegur Rafael. Tanpa permisi, pria itu merengkuh tubuh Paloma. Memeluknya erat seakan tak ingin dilepaskan.
Anehnya, Paloma tak menolak. Wanita itu malah membalas pelukan Rafael, sembari membenamkan wajahnya di dada bidang pria tampan tersrbut. Isakan pelan yang tadi sempat terdengar, kali ini mulai sirna. Paloma menangis sejadi-jadinya hingga puas di dalam dekapan hangat suami yang akan segera dia ceraikan.
Bagian depan kemeja biru muda Rafael, sudah basah terkena air mata Paloma. Akan tetapi, dia tak hendak mencegah. Rafael membiarkan wanita itu menangis dalam pelukannya hingga benar-benar tenang.
“Kurasa, lebih baik kau tinggal di rumah ayah untuk sementara waktu, sambil meluruskan permasalahan ini. Bicaralah baik-baik dengannya. Kuharap kau masih bersedia melakukan itu,” saran Rafael meski agak ragu.
Akan tetapi, Paloma tak menanggapi. Dia masih terus menangis.
“Jadi, aku akan berangkat ke Spanyol sendiri saja. Apakah kau ingin aku bertemu dan bicara dengan Sebastian?” tawar Rafael. "Jika kau mau, aku bersedia menyampaikan pesan atau apapun itu padanya."
“Tidak! Jangan!” Paloma segera mengurai pelukan, lalu mengusap pipi yang basah oleh air mata. “Sebastian tidak menyukaimu. Dia pasti tak akan bersedia melihat, apalagi sampai berbicara denganmu,” tolaknya.
“Baiklah. Kalau begitu, aku akan menyelesaikan masalah dengan Tatiana saja. Kau tidak apa-apa kan, Paloma? Jangan berbuat bodoh selagi aku jauh, ya." Rafael tersenyum seraya memegangi kedua lengan Paloma. “Jangan pernah berpikiran untuk menyusul Nilo. Dia pasti sedih melihat ibunya terpuruk seperti ini.
Satu-satunya yang pantas menyusul Nilo adalah aku, karena diriku tak pernah memiliki kesempatan untuk bertemu dan mengenalnya.”
__ADS_1
Paloma sedang menunduk, langsung mendongak dan menatap mata abu-abu Rafael. “Nilo adalah anak yang baik dan manis. Seandainya dia masih hidup, dia pasti akan sangat senang bertemu denganmu,” ucapnya lirih.
“Aku tak tahu apakah Nilo bersedia memaafkanku atau tidak,” ujar Rafael seraya menunduk, lalu tertawa getir.
“Kau bicara apa, Rafael? Sejak awal, Nilo selalu bercita-cita untuk mengenalmu lebih dekat. Aku yakin, dia pasti akan senang saat mengetahui bahwa kau dapat menerima kehadirannya,” ujar Paloma yang sudah sedikit tenang.
“Begitukah?” Sorot mata Rafael tampak berbinar. “Paloma.” Pria tampan itu meraih kedua tangan sang istri, lalu menggenggamnya erat. “Jika suatu saat nanti aku mati, aku ingin dikuburkan di samping makam Nilo,” ucapnya tiba-tiba.
“Ah! Bicara apa kau ini? Sudahlah!" Paloma menarik tangannya, lalu membuka pintu kamar. “Berhati-hatilah selama di Spanyol,” pesan wanita itu seraya bermaskud menutup pintu.
“Apakah kau mulai mengkhawatirkanku, Paloma?” Rafael menahan daun pintu, sehingga tak jadi tertutup. Dia memandang penuh arti pada wanita cantik di hadapannya tersebut.
“Dalam mimpimu!” sahut Paloma ketus, seraya mendorong pintu kamar dengan kuat hingga tertutup sempurna.
Sementara, Rafael menanggapinya dengan tawa renyah. Namun, tawa itu seketika terhenti saat dia berbalik dan mendapati Rogelio yang sudah berdiri di belakangnya.
“Bagaimana keadaannya, Nak?” tanya Rogelio pelan.
“Aku ….”
“Jangan terlalu dipikirkan, Ayah. Semua akan baik-baik saja,” potong Rafael, sebelum Rogelio sempat melanjutkan kata-katanya. “Lagi pula, semua sudah berlalu. Tak ada yang bisa kita lakukan untuk mengubah semuanya. Tidak juga perbuatan jahatku pada Paloma.” Rafael mengembuskan napas panjang secara perlahan.
Sampai kapanpun, penyesalan dalam hati Rafael tak akan pernah bisa hilang dan terhapus. Walaupun, dia melakukan perbuatan baik pada Paloma selama tiga bulan.
“Kau dan aku. Kita sama-sama sudah menyakiti Paloma dengan cara yang berbeda, Ayah. Kau memukuliku atas kesalahan yang telah kulakukan. Lalu, siapa yang akan berani memukulimu?” Pertanyaan Rafael terdengar berat dan dalam. Ditatapnya Rogelio yang hanya diam terpaku.
“Aku pergi dulu, Ayah.” Rafael beranjak dari tempatnya berdiri. Dia melewati Rogelio yang masih terdiam, lalu menepuk pelan bahu pria paruh baya itu. Rafael tak ingin membuang waktu untuk membeli tiket, lalu bergegas terbang ke Spanyol. Semakin cepat urusannya bersama Tatiana selesai, maka itu akan semakin baik.
......................
Setelah sepuluh jam perjalanan udara, Rafael akhirnya tiba di bandara Kota Sevilla. Dia langsung menuju Kediaman Tatiana, yang tak berubah sejak terakhir kali dia tinggalkan. Tak dapat dipungkiri, ada banyak kenangan yang dirinya ukir di rumah mewah tersebut. Akan tetapi, semua itu sama sekali tak sebanding dengan penyesalannya terhadap Paloma.
__ADS_1
“Apakah Nyonya kalian ada di rumah?” tanya Rafael sesaat setelah dia menuruni taksi. Pria itu berdiri di depan gerbang mewah, yang menjadi pemisah antara kediaman dan tanah milik keluarga Vidal dengan bangunan lain yang berada di sekitarnya.
“Tuan Hernandez,” sapa salah seorang penjaga rumah. Dia hendak membuka gerbang rumah, tetapi lebih dulu dicegah oleh rekannya yang lain.
“Nyonya mengatakan bahwa Tuan Rafael Hernandez dilarang untuk memasuki kediaman Vidal selamanya,” ujar pria itu pelan. Namun Rafael dapat mendengarnya dengan cukup jelas.
“Tidak apa-apa. Sampaikan pada Tatiana bahwa aku sudah menyewa seorang pengacara bernama Jose Alvaro Cardenas. Aku memberikan kuasa penuh padanya untuk mewakiliku di pengadilan nanti. Melalui Jose, aku juga sudah memberikan jaminan pada pengadilan sebesar satu juta Euro, sebagai bukti bahwa aku tidak akan lari dari tanggung jawab,” jelas Rafael.
“Dari mana kau mengenal Tuan Cardenas?” seru suara nyaring seorang wanita. Suara itu berasal dari alat pengeras, yang terpasang di samping kamera CCTV dekat gerbang.
“Hai, Tatiana.” Rafael melambaikan tangan ke arah kamera CCTV sambil tersenyum. “Aku tak bisa tinggal lama di Spanyol. Ada seseorang yang harus kujaga di Meksiko. Kuharap kau bisa bekerja sama baik dengan Jose Alvaro.”
“Nikmati kebebasanmu untuk sementara, Brengsek! Setelah ini, kau akan membusuk di penjara!” Terdengar tawa Tatiana yang bernada penuh ejekan.
Akan tetapi, Rafael sama sekali tak terpengaruh oleh sikap Tatian. Dia masih memperlihatkan sikap tenang.
“Kita lihat saja, apakah Jose mampu membalikan keadaan atau tidak. Bukan tak mungkin justru kau yang akan dijebloskan ke dalam penjara, akibat bisnis-bisnis ilegal yang diam-diam dirimu jalankan selama ini. Ingat, Tatiana. Aku tahu siapa kau sebenarnya." Kali ini, giliran Rafael yang tertawa lebar. Dia memamerkan giginya yang putih dan rapi, pada wanita yang pernah tinggal bersamanya selama beberapa tahun ke belakang.
“Hasta la vista (sampai jumpa), Tatiana.” Rafael melambaikan tangan sekali lagi, sebelum berbalik meninggalkan rumah Keluarga Vidal.
“Kurang ajar!” Di ruang kerjanya, Tatiana mengumpat kasar. Dia juga membanting mikrofon beserta kamera kecil yang terhubung dengan CCTV di gerbang utama. “Rupanya, aku tak bisa menganggap remeh dirimu,” geram Tatiana kesal.
Tatian menegakkan tubuh. Dia berjalan mondar-mandir di belakang meja kerja. Tatiana lalu berhenti dan meraih ponsel yang tergeletak tak jauh dari tempatnya berdiri. Dengan cepat, wanita itu menekan tombol kontak Sebastian.
Tak membutuhkan waktu lama, hingga Sebastian menerima panggilannya. “Hola. Habla Sebastian," sapa suara berat di seberang sana.
“Sebastian. Sebagai seorang teman, aku membutuhkan bantuanmu!” pinta Tatiana tanpa basa-basi.
“Ada apa?” balas Sebastian dingin.
“Rafael ada di sini. Di Sevilla. Aku ingin kau mencegahnya agar tak bisa kembali ke Meksiko!” jawab Tatiana tegas.
__ADS_1