Casa Del Castaneda

Casa Del Castaneda
Kalung Titipan


__ADS_3

Paloma, kembali merasa tak habis pikir dengan apa yang ada dalam benak pria di hadapannya. Bagi wanita muda itu, sang penguasa Casa del Castaneda tersebut telah bersikap sangat kekanak-kanakan. “Kenapa Anda tak menyudahi saja semua ini, Tuan? Lagi pula, aku sudah melakukan banyak hal selama berada di sini,” ucap Paloma mencoba membujuk Sebastian.


“Tidak semudah itu, Paloma,” tolak Sebastian. Duda tampan dan mapan tersebut menyunggingkan senyuman kecil di sudut bibirnya yang dihasi kumis tipis. “Sudah kukatakan berulang kali, bahwa hukuman untukmu akan berakhir hanya ketika aku menghendakinya. Kau atau siapa pun tak bisa menentang keputusan itu.” Sebastian menegaskan.


“Oh, astaga. Padahal perjamuan sudah berlalu sekitar dua minggu yang lalu. Hingga saat ini Anda masih baik-baik saja. Tak ada seorang pun yang mengungkit atau menggunjingkan insiden memalukan itu,” bantah Paloma.


“Kau bisa bicara demikian, karena dirimu tak mengenal siapa pun di sini.” Sebastian melipat tangan di dada. Sorot mata pria itu menyiratkan sebuah tantangan, bagi wanita cantik dengan tampilan sederhana di hadapannya. “Kuharap, kau tak mempermasalahkan hal ini lagi. Aku tak akan melarangmu untuk kembali ke Meksiko. Namun, jangan lupa dengan utang yang harus kau lunasi.” Seusai berkata demikian, Sebastian mengarahkan tangan kanannya ke pintu. Dia memberi isyarat agar Paloma keluar dari ruang kerja itu.


Akan tetapi, Paloma menggeleng. Dia bergeming di tempatnya. Wanita cantik bermata hazel tersebut menolak apa yang Sebastian isyaratkan. Sikap Paloma yang demikian, membuat Sebastian hanya dapat menggaruk kening sambil berdecak pelan.


“Pembicaraan kita belum selesai, Tuan,” ujar Paloma tanpa bergeser sedikit pun dari tempatnya berdiri.


Sebastian mengembuskan napas panjang. Dalam hati, dia merasa semakin tertantang dengan wanita di hadapannya tersebut. Pria itu menunduk demi menyembunyikan senyum yang tak dapat ditahan. Sesaat kemudian, barulah Sebastian kembali mengangkat wajahnya. Itu juga setelah dia dapat menguasai diri. “Baiklah, Nona Sanchez de Luna. Apa lagi yang ingin kau katakan padaku?” tanyanya.


Mendengar pertanyaan demikian dari Sebastian, Paloma seperti diberi kelonggaran oleh pria itu. Senyuman lebar terlukis jelas di bibirnya yang polos. Sebuah pemandangan indah yang tak luput dari perhatian duda tiga puluh tujuh tahun tersebut.

__ADS_1


“Begini, Tuan.” Paloma mulai mengemukakan apa yang ingin disampaikan kepada pria dengan T-Shirt lengan pendek tadi. “Izinkan aku untuk kembali ke Meksiko terlebih dulu. Setelah itu, aku berjanji akan membayar sisa utang yang belum lunas. Anda bisa memegang kata-kataku. Jika perlu, aku akan bersumpah atas nama mendiang ibuku.” Paloma sudah mengangkat tangannya hingga sebatas telinga.


Sebastian tak segera menanggapi ucapan Paloma. Pria itu malah menatap lekat istri Rafael Hernandez tersebut. Sebastian kemudian menurunkan tangannya, lalu dia masukkan ke saku celana jeans. Dia menyandarkan sebagian tubuh pada pinggiran meja. “Siapa yang bisa menebak isi hati manusia? Aku tak tahu apa ada dalam benakmu, atau rencana yang sedang kau susun,” ucap pria itu tenang.


“Karena itulah, aku berani bersumpah bahwa diriku ….”


“Kau dan suamimu sudah bersumpah di hadapan Tuhan. Dalam janji suci pernikahan. Namun, lihatlah betapa ingkarnya Rafael Hernandez dengan ikatan sakral itu. Apa makna sebuah sumpah bagi manusia zaman sekarang? Semua orang menganggap segala hal yang dulu dianggap menakutkan dan tabu, menjadi sebuah permainan tak berharga. Tak ada gunanya kau memberikan sumpah di hadapanku.” Sebastian mengalihkan perhatiannya pada lantai dengan ubin hitam yang dia pijak.


Paloma terdiam sejenak. Dia tak menyangka bahwa Sebastian memiliki pemikiran yang sangat dalam. Dari sana, Paloma dapat menyimpulkan seperti apa karakter sang pemilik ribuan hektar perkebunan zaitun tersebut.


Namun, Paloma tak boleh berputus asa dalam meyakinkan Sebastian. Terlebih, karena dia merasa bahwa dirinya tak seperti yang pria tampan itu pikirkan. “Ayah dan ibu selalu menekankan, agar diriku senantiasa memegang segala ucapan yang telah dilontarkan. Itu sebagai tanda seberapa besar tanggung jawab yang kumiliki. Aku tak bisa meyakinkan Anda. Itu tak masalah. Namun, aku pasti akan memegang teguh apa yang sudah kujanjikan.”


Mendengar pertanyaan seperti itu, Paloma kembali terdiam. Dia memikirkan sejenak jawaban yang akan diberikannya kepada sang penguasa Casa del Castaneda. Sejujurnya, Paloma tak tahu harus berkata apa. Wanita itu pun mencari cara lain.


Paloma melepas kalung yang kemarin diberikan oleh Rogelio. Kalung titipan dari Carlos, sang ayah tercinta. Dia maju ke hadapan Sebastian. Jaraknya dengan pria itu hanya sekitar satu langkah.

__ADS_1


“Kuberikan kalung ini untuk Anda simpan, Tuan. Ini adalah benda yang sangat berharga, karena merupakan kalung turun-temurun milik ayahku. Secara logika, aku tak mungkin dan tidak akan pernah memberikannya pada orang lain. Karena itulah, aku pasti akan mengambilnya lagi dari tangan Anda. Kuharap, Anda menyimpannya dengan baik hingga aku meminta benda itu kembali.” Pelan tapi terdengar begitu meyakinkan, suara Paloma saat berbicara kepada Sebastian. Dia memberikan kalung yang sedang digenggamnya, kepada pria dengan rambut agak gondrong tersebut.


Setelah berkata demikian, Paloma mengangguk sopan. Dia membalikkan badan, lalu berjalan menuju pintu keluar. Wanita cantik berambut cokelat itu tak lagi menoleh. Dia meninggalkan Sebastian yang terpaku setelah menerima kalung tadi.


Sebastian menggenggam erat benda berharga yang Paloma titipkan padanya. Seulas senyuman terlukis di bibir berkumis tipis itu. Duda tampan berpostur tinggi tegap tersebut kembali menggeleng pelan. Tak dapat dipercaya, bahwa dia harus berurusan dengan seorang wanita yang bahkan tak diketahui identitas serta asal-usulnya secara pasti.


“Aku menyukai permainan konyol ini, Paloma,” gumam Sebastian. Dia beranjak ke balik meja kerja. Sebastian membuka laci paling atas, kemudian mengeluarkan sebuah kotak dari bahan stainless berkualitas. Sebastian memasukkan kalung tadi ke kotak itu. Setelah ditutup rapat, kotak stainless dia kembalikan ke dalam laci yang segera dirinya kunci.


Sementara, Paloma kembali pada pekerjaannya yang belum selesai. Selama berada di Casa del Castaneda, dia tak melakukan tugas pelayan. Paloma hanya mengerjakan segala hal yang Sebastian perintahkan padanya.


Seperti petang itu. Setelah perbincangan di ruang kerja, catatan dalam tugasnya selama satu minggu menyatakan bahwa kali ini dia harus menata ulang kamar sang tuan besar.


“Apa-apaan ini?” pikir Paloma. Walaupun menggerutu, dia tetap melakukan tugas tersebut. Dengan hati-hati, Paloma membuka pintu yang ternyata tidak terkunci. Wanita berambut sebatas lengan itu melangkah masuk. Sebelum melakukan sesuatu, Paloma tertegun beberapa saat. Sepasang mata hazelnya berkeliling, Menjelajah setiap sudut ruangan luas dengan interior yang sangat unik.


Kamar itu didominasi warna cokelat. Sebagian besar furniture yang ada di sana, terbuat dari kayu. Begitu juga dengan dindingnya yang berlapis kayu berukir.

__ADS_1


Paloma, mengalihkan pandangan ke atap kamar dengan hiasan lampu kristal berukuran kecil. Perhatiannya lalu berpindah ke tempat tidur berukuran lebar, berhiaskan kelambu dan sprei berwarna dark grey. Benar-benar suasana yang melambangkan sesuatu yang misterius.


“Kenapa hanya berdiri” Suara berat Sebastian seketika mengejutkan Paloma.


__ADS_2