
Paloma memandang heran kepada Rafael. Sesaat kemudian, tatapan wanita cantik dengan rambut pendek yang sudah tersisir rapi itu, beralih pada paper bag yang cokelat yang disodorkan padanya. “Apa ini, Rafael?” tanya Paloma sebelum menerima kantong belanja tadi.
“Ambil dan pakailah. Kurasa, ukurannya cocok untukmu,” sahut Rafael tetap menyodorkan paper bag yang dipegangnya.
Paloma tampak ragu saat menerima paper bag itu. Matanya terbelalak sempurna, ketika melihat isi di dalam kantong kertas tersebut. Terlebih, saat dia mengeluarkannya dari sana. “Kau?” Tatapan Paloma menyiratkan rasa tak mengerti.
“Gaun malam untukmu. Kuharap kau menyukainya,” ujar Rafael diiringi senyuman kalem. Tanpa banyak bicara, dia berbalik. Pria itu duduk di kursi, untuk menikmati kopi yang telah dingin. Rafael tak mengatakan apa-apa lagi. Dia sibuk mengetik sesuatu di layar ponselnya.
Paloma tersenyum. Dia tak tahu harus bagaimana. Namun, ini merupakan perlakuan termanis Rafael terhadap dirinya, dari semenjak mereka menikah. “Terima kasih. Ini gaun yang sangat indah,” ucap Paloma sebelum masuk ke ruangan lain dari kamar itu. Dia hendak berganti pakaian.
Rafael yang terlihat sedang serius berkirim pesan dengan seseorang, menoleh sejenak. Pria itu mengangguk pelan diiringi senyuman kalem. Dia sempat mengikuti langkah Paloma, hingga wanita tersebut menghilang di balik pintu.
Beberapa saat kemudian, Paloma keluar dari ruangan tempatnya berganti pakaian. Dia begitu cantik dan terlihat sangat anggun. Seperti perkiraan Rafael, gaun tadi memang sangat pas di tubuh Paloma. Namun, wanita berambut cokelat tersebut tampak tidak nyaman. Dia terus-menerus memegangi punggungnya yang terbuka lebar.
“Tidak apa-apa. Kau terlihat sangat cantik,” sanjung Rafael menatap kagum pada Paloma.
“Apa gaun ini tidak terlalu terbuka?” pikir Paloma yang tak terbiasa mengenakan pakaian seperti yang melekat di tubuhnya saat ini.
Rafael meletakkan ponselnya di atas meja. Dia beranjak dari kursi, lalu berjalan mendekat kepada Paloma. Pria tampan itu berdiri di hadapan si pemilik mata hazel tersebut. “Beginilah gaun malam seorang wanita. Kau tak perlu khawatir. Tak akan ada siapa pun yang berani mengejekmu, karena kau … kau terlihat sangat luar biasa dengan gaun cantik ini,” ujar Rafael penuh arti.
Paloma tertegun sejenak mendengar ucapan pria yang masih menjadi suaminya tersebut. Dia kembali memperlihatkan senyuman lembut nan manis. Paloma mengangguk pelan. Dia berdiri di depan cermin untuk merapikan riasan. Seperti biasa, Paloma hanya mengaplikasikan make up tipis di wajahnya.
“Aku akan mengantarmu ke Casa del Castaneda,” ucap Rafael.
“Aku bisa naik taksi,” tolak Paloma halus.
“Ini sudah malam. Lagi pula, aku sedang tak ada pekerjaan apapun.” Rafael tetap memaksa.
“Tidak usah. Aku tak ingin merepotkanmu,” ucap Paloma kembali menolak. Dia sudah memakai sepatunya, lalu mengambil tas. Paloma telah bersiap untuk pergi.
“Tolonglah, Paloma,” pinta Rafael setengah memaksa.
“Kau tak perlu bersikap berlebihan seperti ini,” ujar Paloma.
__ADS_1
“Ini bukan sikap yang berlebihan. Aku hanya ingin mengantarmu. Tenang saja, aku tak akan ikut masuk dan mengganggu acara makan malam kalian.” Rafael segera berbalik, ketika Paloma sudah akan menanggapi ucapannya. Dia meraih barang-barang di atas meja, lalu berjalan menuju pintu. Rafael mempersilakan Paloma untuk keluar terlebih dulu.
Paloma mengembuskan napas pelan seraya menggelengkan kepala. Namun, dia tak ingin terlambat ke Casa del Castaneda, sehingga dirinya harus berhenti berdebat dengan Rafael. Paloma melangkah tenang keluar dari kamar. Dia menunggu sebentar, hingga Rafael selesai mengunci pintu. Barulah mereka berjalan bersama menuju lift.
Perjalanan dari hotel ke Casa del Castaneda, hanya memakan waktu sekitar lima belas menit. Mobil yang dikendarai Rafael, telah tiba di halaman depan bangunan megah milik sang tuan tanah perkebunan zaitun terluas di kotamadya tersebut.
Rafael segera turun. Dia membukakan pintu untuk Paloma. “Jika kau sudah selesai, hubungi saja. Aku akan menjemputmu kemari,” pesan pria bermata abu-abu itu. Rafael memandang penuh arti pada wanita di hadapannya, yang hanya mengangguk pelan. Pria itu tak juga beranjak dari tempatnya berdiri. Dia masih memandang lekat Paloma.
“Aku masuk dulu,” ucap Paloma. Dia berlalu dari hadapan Rafael yang masih terpaku di dekat kendaraan. Paloma melangkah gemulai, ke arah di mana ada seorang pria berpostur tinggi tegap sedang menunggunya. Pria yang juga menghujani dirinya dengan tatapan penuh kekaguman.
“Selamat malam, Tuan,” sapa Paloma, ketika sudah berdiri di hadapan pria yang tak lain adalah Sebastian.
“Selamat malam, Paloma,” balas pria dengan rambut agak gondrong itu. Malam ini, penampilannya terlihat rapi dalam balutan kemeja hitam berbalut blazer abu-abu, dengan dua kancing atas yang dibiarkan terbuka. Tampaklah kalung berbahan platinum tanpa liontin yang menghiasi leher pria itu. “Kau tidak ingin mengajak pengawal barumu untuk masuk?” Pertanyaan yang lebih terdengar sebagai sindiran, dilontarkan oleh Sebastian kepada Paloma.
“Bukankah Anda hanya mengundangku?” Paloma menanggapi ucapan Sebastian dengan tenang.
“Tentu saja. Syukurlah jika kau tak lupa dengan hal itu,” sahut Sebastian seraya mengarahkan tangannya ke depan. Dia mengajak Paloma melangkah masuk, meninggalkan bagian depan Casa del Castaneda.
Sementara, Rafael yang masih berdiri di tempatnya tadi, segera tersadar. Dia menggeleng tak mengerti. Pria itu bergegas masuk ke mobil, lalu menjalankannya keluar dari area Casa del Castaneda. Rafael, pergi dengan membawa perasaan tak menentu yang belum dapat dia pahami.
Setelah semua tersaji, para pelayan tadi berlalu meninggalkan ruang makan. Mereka meninggalkan sang tuan hanya berdua dengan tamu istimewanya. “Apa kau akan lama di Porcuna?” tanya Sebastian, membuka percakapan antara mereka.
“Tidak. Kami akan pulang lusa, setelah Rafael menyelesaikan sedikit urusannya di sini,” jawab Paloma berusaha terlihat setenang mungkin. Dia tengah melawan rasa kikuk yang mendera hebat, karena Sebastian yang terus menghujaninya dengan tatapan lekat penuh arti.
“Bagaimana hubungannya dengan Nyonya Vidal?” tanya Sebastian lagi.
“Entahlah. Itu bukan urusanku. Kami hanya sedang menunggu proses pengadilan dan keputusan dari pihak gereja. Selama itu, ayah meminta Rafael agar menetap di Meksiko. Karena itulah, dia menemaniku kemari. Lagi pula, Rafael orang yang sudah berpengalaman. Dia banyak membantuku,” jelas Paloma seraya meneguk minumannya, demi menanggulangi rasa gugup dalam diri.
“Jadi, kalian sudah mantap untuk bercerai?” tanya Sebastian lagi.
Paloma tak segera menjawab. Dia memberanikan diri melawan tatapan iris berwarna cokelat madu, yang terlihat teduh dan memabukan itu. Paloma tak ingin terlihat lemah. Seperti biasa, dia akan selalu menunjukkan siapa dirinya di hadapan sang penguasa Casa del Castaneda tersebut. “Apakah Anda mengundangku kemari hanya untuk menginterogasi tentang masalah pribadiku?” protes Paloma.
Sebastian tertawa pelan mendengar ucapan wanita cantik di hadapannya. Dia mengalihkan tatapan sejenak dari paras cantik Paloma, meskipun pada akhirnya tetap kembali pada si pemilik mata hazel itu. “Tentu saja bukan. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu,” jawab Sebastian seraya memulai santap malamnya.
__ADS_1
“Tentang apa?” tanya Paloma, meskipun dia sudah dapat menebak apa yang akan duda tampan itu bahas dengannya.
“Kuharap kau tidak lupa bahwa kalungmu masih berada di tanganku,” jawab Sebastian tenang.
Paloma terdiam. Memang benar apa yang ada dalam pikirannya. Paloma kembali teringat pada ucapannya sebelum pergi meninggalkan Casa del Castaneda. Dia memang berjanji akan melunasi sisa utang, saat dirinya kembali ke Spanyol. Namun, untuk saat ini keadaannya tak memungkinkan. “Apa yang Anda inginkan, Tuan?” tanya Paloma penuh waspada.
Sebastian mengunyah makanan dalam mulutnya dengan perlahan dan teratur. Bahasa tubuh pria tiga puluh tujuh tahun tersebut tampak sangat indah. Gagah dan maskulin, tapi tidak terlihat berlebihan dan dibuat-buat. “Kuharap, kau tidak lupa dengan sisa utang yang belum dilunasi.”
“Ini bukan saat yang tepat. Aku datang kemari untuk urusan pekerjaan. Lagi pula, aku bersama Rafael. Aku tak ingin jika sampai dia ….”
“Cemburu?” sela Sebastian. Membuat Paloma tertawa renyah. “Kenapa? Apanya yang lucu?” Sebastian menautkan alisnya.
“Cemburu?” Paloma terus tertawa seraya menggeleng. “Kami akan segera bercerai. Kenapa dia harus merasa cemburu?”
“Kau tidak menyadari bagaimana caranya menatapmu?”
Pertanyaan Sebastian, seketika membuat Paloma terdiam. Dia menatap lekat pria dengan janggut yang sudah mulai lebat itu. “Kalian sangat lucu.” Paloma kembali menggeleng pelan.
“Apanya yang lucu?” tanya Sebastian yang justru memasang raut serius.
Paloma menyentuh ujung poninya, sebelum menjawab pertanyaan pria yang sejak tadi tak mengalihkan perhatian dari dirinya. Dia kembali meneguk minumannya. “Rafael juga mengatakan hal yang sama tentang Anda,” jawab Paloma membalas tatapan Sebastian. Dia meletakan alat makan di piring, sedangkan tangan kanannya berada di atas meja.
“Rafael mengatakan apa tentangku?” tanya Sebastian. Tangan kiri pria itu bergerak perlahan, mendekati jemari lentik Paloma. Namun, dengan segera Sebastian kembali memundurkan tangannya. Meskipun dia pernah mencium Paloma, entah mengapa keberanian tersebut tak muncul saat ini.
“Bukan hal penting,” sahut Paloma tak ingin membahas hal pribadi yang lebih lanjut.
Sebastian mengembuskan napas pelan. Dia kembali menyantap sisa makanannya. Hingga piring keduanya kosong, tak ada lagi percakapan yang berarti antara mereka.
“Sudahi saja semua ini, Tuan,” ucap Paloma setelah mereka berpindah tempat ke ruang tamu.
“Paloma ingin melarikan diri dari janji yang dibuatnya,” sindir Sebastian.
“Tidak begitu. Menurutku, Anda terlalu mengada-ada.” sanggah Paloma. “Seharusnya, masalah keributan yang kuciptakan telah selesai sejak beberapa waktu yang lalu. Aku tidak mengerti kenapa Anda bersikap sangat konyol. Sebaiknya, segera kembalikan kalung milikku,” pinta Paloma.
__ADS_1
“Bagaimana jika aku menolak?” tantang Sebastian tenang.
“Anda tidak sekonyol itu, Tuan,” ujar Paloma. Dia beranjak dari duduknya dan bersiap untuk pergi.