Casa Del Castaneda

Casa Del Castaneda
Penyesalan Paloma


__ADS_3

Paloma tertegun, saat mendapati telepon genggam yang tadi menyala. Namun, belum sempat dirinya mengatakan sesuatu, nama Sebastian yang sempat tertera di layar sudah menghilang. Kebimbangan menggelayuti Paloma, antara menghubungi balik Sebastian atau tidak. Setelah menimbang beberapa saat, Paloma akhirnya memutuskan meletakkan kembali ponselnya di atas nakas. Dia berbalik kepada Rafael.


“Apa yang kau inginkan sekarang?” tanya Paloma lembut.


“Aku hanya ingin tidur dengan nyenyak di kamarku,” jawab Rafael lemah.


“Tenang saja, Anakku. Keinginanmu akan segera terlaksana. Para dokter sudah berkoordinasi dan pasti menyetujui proses pemindahanmu, setelah melaksanakan pemeriksaan secara merinci besok pagi. Berharaplah hasilnya baik,” sahut Rogelio yang baru masuk ke ruang perawatan.


“Benarkah itu, Ayah?” Sorot mata Rafael berbinar, setelah mendengar ucapan Rogelio.


“Ya, Nak,” sahut pria paruh baya tadi begitu, yakin sembari berjalan mendekat ke ranjang. Dia mengusap kepala Rafael yang masih dibalut perban dengan penuh kasih sayang.


Apa yang dikatakan oleh pemilik perusahaan farmasi terbesar di Meksiko itu memang benar. Keesokan harinya, tim dokter melakukan pemeriksaan lengkap. Mereka memutuskan bahwa pemindahan pasien siap dilakukan.


Setelah melewati proses dan tahapan yang cukup rumit, Rafael berhasil diterbangkan menggunakan pesawat khusus ke Meksiko.


Dia dipindahkan ke rumah sakit pusat Kota Chihuahua. Rafael juga ditempatkan di ruang perawatan VVIP.


Sepuluh jam perjalanan berhasil dilalui dengan lancar tanpa kendala yang berarti. Raut bahagia begitu terlihat pada wajah Rogelio.


Kondisi berbeda tengah dihadapi oleh Tatiana. Beberapa hari setelah kepindahan Rafael ke Meksiko, wanita yang selalu berpenampilan glamor itu hendak meninggalkan kediamannya yang mewah. Akan tetapi, kedatangan beberapa petugas kepolisian, terpaksa menghentikan langkahnya.


"Nyonya Tatiana Vidal?" tanya salah seorang petugas dengan sopan.


"Ada perlu apa kalian mencariku?" tanya Tatiana. Seperti biasa, wanita itu memperlihatkan sikap yang angkuh dan ketus.


Petugas tadi tak menjawab pertanyaan yang dilayangkan Tatiana. Dia langsung mengeluarkan selembar kertas yang segera sodorkan kepada Tatiana.

__ADS_1


"Lelucon macam apa ini!" sentak wanita empat puluh tahun tadi. Dia merasa tak terima, setelah membaca tulisan yang tertera di kertas tadi.


"Itu adalah surat penangkapan untuk Anda, Nyonya. Anda telah dijadikan tersangka, dalam kasus percobaan pembunuhan terhadap Tuan Rafael Hernandez," jelas polisi itu dengan tenang serta penuh wibawa.


"Kegilaan macam apa ini?" Nada bicara Tatiana semakin meninggi.


"Kami sudah mendapat izin dari Tuan Castaneda untuk memeriksa ponselnya. Di sana, kami menemukan pesan dari Anda yang mengajak Tuan Castaneda untuk mencegah kepulangan Tuan Rafael Hernandez ke Meksiko. Namun, Tuan Castaneda menolaknya," terang sang polisi.


"Hal itu tak bisa dijadikan sebagai bukti. Aku memang mengirimkan pesan kepada Sebastian, tapi tak berarti benar-benar melakukan tindakan di luar batas terhadap Rafael. Aku adalah wanita terhormat!" elak Tatiana yang masih bersikap jumawa.


"Sayangnya, kami menemukan lebih dari itu. Salah seorang pelaku penganiayaan yang tertangkap kamera CCTV, telah berhasil kami identifikasi wajahnya. Dari sana, kami mencari dan mencocokkan dengan data kependudukan yang ada. Kami telah berhasil mengungkap identitas pria tersebut," terang sang polisi dengan yakin.


"Dia sudah mengakui bahwa Anda telah menransfer sejumlah uang ke rekeningnya, sebagai upah untuk menghilangkan nyawa Tuan Hernandez. Kami telah menelusuri rekening milik pria itu, dan dapat memastikan bahwa semua yang dia katakan memang benar adanya." Polisi itu tersenyum kalem, saat melihat perubahan pada wajah yang selalu dipoles make up mahal Tatiana.


Sementara itu, jauh di sebuah bangunan mewah yang terletak di tengah-tengah perkebunan zaitun terbesar di Porcuna, Sebastian duduk dengan gelisah di kursi kebesarannya. Tatapan mata duda tiga puluh tujuh tersebut menerawang, memandang foto mendiang sang istri berukuran besar yang terpajang di dinding.


"Kau sudah menggenggam hatiku dan membawanya pergi dengan sesuka hatimu. Kau pikir aku akan diam saja?" racau Sebastian yang sudah berada dalam pengaruh alkohol.


Pria itu lalu bangkit dari duduknya. Dia berjalan mendekat ke jendela ruang kerja berukuran besar. "Aku tidak akan melepaskanmu, Paloma. Tidak sekarang atau kapanpun. Aku akan mengejar dan membuat perhitungan denganmu." Selesai berkata demikian, Sebastian melemparkan botol minuman kerasnya dengan kencang ke arah jendela. Dua benda berbahan kaca itu saling berbenturan, membuat pecahan kaca beserta serpihannya menghambur ke segala arah.


Ribuan mil jauhnya dari Porcuna, dan terpisah oleh samudra. Paloma terbangun dengan perasaan was-was. Saat itu, dia tengah tidur di ranjang khusus yang disediakan oleh pihak rumah sakit untuk penjaga pasien. Paloma merasa ada seseorang yang mengejutkannya dengan tiba-tiba. Padahal, tak ada seorang pun di sana selain Rafael yang tengah tertidur lelap.


Paloma beringsut ke tepian ranjang sambil memijit tengkuk. Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling. Paloma meraih ponsel, lalu melihat jam pada pojok kanan atas layar yang menunjukkan pukul tiga dini hari.


Wanita itu hendak melanjutkan tidurnya, ketika tiba-tiba telepon genggamnya bergetar. Paloma segera melihat panggilan masuk tadi, agar Rafael tak merasa terganggu.


"Pengacara Cardenas?" gumamnya membaca deretan nama di layar. "Hola," sapa Paloma pelan. "Ada apa anda menghubungiku sepagi ini, Tuan?" tanya Paloma penasaran.

__ADS_1


"Ah, maafkan aku, nyonya. Aku benar-benar lupa kalau kita memiliki perbedaan waktu," sahut sang pengacara dari seberang sana.


"Ini karena aku terlalu senang, aku sampai lupa bahwa di tempat anda sudah memasuki waktu dini hari. Di Spanyol masih pukul tujuh malam, nyonya," lanjut pengacara Cardenas.


"Mungkin itu alasannya nomor Tuan Rogelio tidak dapat dihubungi. Dia pasti sedang beristirahat." Pengacara Cardenas masih melanjutkan ucapannya.


"Sebenarnya apa yang ingin anda sampaikan, tuan?" Paloma mulai tak sabar.


"Ah, ya. Maafkan aku, nyonya. Aku hanya ingin menyampaikan kabar baik dari pihak kepolisian, bahwa mereka telah berhasil mengungkap pelaku percobaan pembunuhan terhadap suami anda," jelas pengacara Cardenas.


"Oh, ya?" Mata hazel Paloma terbelalak sempurna. "Siapa?"


"Nyonya Tatiana Vidal," jawab pengacara Cardenas.


Seketika perasaan bersalah menerjang dan memenuhi dada Paloma. Selama ini, dia selalu mencurigai Sebastian atas kemalangan yang menimpa Rafael. Pada kenyataannya, Sebastian tak terlibat sedikit pun dalam tindak kejahatan itu.


"Oh, Sebastian," desah Paloma. Sejuta penyesalan hadir dan menggelayutinya saat itu. Gemetar, jemari Paloma mengusap layar ponsel. Dia berniat mencari nomor kontak Sebastian. Paloma ingin sekali menghubungi pria itu untuk meminta maaf.


Akan tetapi, sebelum niatnya terlaksana, terdengar suara erangan dari Rafael. Paloma segera mengurungkan niatnya tadi. Dia segera beranjak ke dekat ranjang Rafael.


"Ada apa? Apa kau haus?" tanya Paloma.


"Seluruh tubuhku terasa sakit, Paloma" keluh Rafael lirih.


"Tunggu sebentar. Akan kupanggilkan dokter jaga " Paloma meletakkan telepon genggamnya begitu saja di atas nakas. Dia lalu menekan tombol darurat, yang berada di dinding bagian atas kepala ranjang perawatan.


Beberapa menit berlalu, tak ada respon. Tak ada seorang petugas medis pun yang datang, sehingga Paloma terpaksa keluar kamar. Dalam langkahnya menuju ruangan dokter, air matanya tiba-tiba menetes.

__ADS_1


Tergambar jelas wajah tampan Sebastian, saat terakhir kali bertemu dengannya di rumah sakit Sierra Norte. "Maafkan aku, Sebastian. Kuharap kau selalu berbahagia, meski tanpa diriku," isaknya lirih.


__ADS_2