Casa Del Castaneda

Casa Del Castaneda
Ciuman Tertunda


__ADS_3

Paloma terdiam, ketika Sebastian semakin mendekat. Namun, wanita cantik itu segera tersadar, saat duda tampan empat puluh tahun tersebut hampir menyentuh permukaan bibirnya. Paloma langsung memalingkan wajah, kemudian mundur beberapa langkah. “Aku harus pergi,” pamitnya seraya berbalik. Tanpa mengatakan apapun lagi, dia berlalu dari hadapan sang tuan tanah terluas di Porcuna.


Sedangkan, Sebastian hanya berdiri mematung. Dia tak kuasa melakukan apapun, termasuk mencegah kepergian wanita yang masih menjadi pujaan hatinya. Sebastian masih terpaku di tempat dirinya berdiri, hingga mobil yang ditumpangi Paloma melaju tenang meninggalkan tempat itu.


“Apa yang harus kulakukan, Paloma?” gumam Sebastian dengan tatapan menerawang. “Dengan cara bagaimana harus kutunjukkan perasaan cinta yang teramat besar ini padamu? Apa kau tak menyadari atau sengaja menepiskan perasaan itu? Apakah kau benar-benar mencintai Rafael Hernandez, dan melupakanku dengan sangat mudah?"


Sebastian menggeleng pelan. Keluhan pendek meluncur dari bibir berhiaskan kumis tipis pria empat puluh tahun tersebut, sebelum akhirnya memutuskan kembali ke dekat kendaraannya. Dia juga memilih pergi dari sana.


Sementara itu, Paloma terus memikirkan apa yang Sebastian katakan tentang perusahaan yang akan dijual. Wanita berusia dua puluh delapan tahun tersebut, tiba-tiba memiliki ide cemerlang. Paloma tersenyum kecil. Dia sudah tak sabar ingin segera tiba di Granada.


Setelah menempuh perjalanan sekitar kurang lebih dua jam, mobil yang ditumpangi Paloma akhirnya tiba di rumah yang sengaja disewa oleh Rogelio. Ibunda Luz Maria tersebut bergegas masuk.


Namun, belum sempat Paloma tiba di pintu, putri semata wayangnya telah lebih dulu menyambut. Balita cantik itu berjalan tertatih dengan diikuti Kalida, sang pengasuh muda yang terlihat sangat menyayangi putri Paloma bersama mendiang Rafael tersebut.


“Hallo, Sayang,” sapa Paloma seraya menurunkan tubuh. Dia merentangkan tangan, menyambut Luz Maria yang tertawa lebar saat menghampirinya. “Kuharap kau bersikap baik hari ini,” ucap Paloma seraya memeluk serta menciumi putri tercintanya.


“Luz Maria tadi sempat menangis. Sepertinya, dia merindukan Anda, Nyonya,” ucap Kalida, melaporkan apa yang terjadi pada saat Paloma pergi.


“Iyakah?” Paloma tersenyum seraya menatap gemas kepada putri kecilnya, yang lagi-lagi tertawa lebar. Luz Maria memperlihatkan dua giginya di bagian bawah. “Kau ingin bermain denganku, Sayang?”


Paloma kembali menciumi wajah Luz Maria yang sangat lucu. Balita itu terlihat begitu menggemaskan, dengan bando berhiaskan strawberry di bagian atasnya. Bando dari kain tadi mempercantik rambut ikal Luz maria yang berwarna cokelat. Ibu dan anak tersebut bercengkerama beberapa saat.


Luz Maria tertawa riang, ketika sang ibu menggelitik perutnya. Balita cantik tersebut sesekali memainkan pipi sang ibu, yang tak henti-henti menciuminya dengan penuh kasih.


“Paloma? Kau sudah pulang, Nak?” tanya Rogelio. Pria itu berdiri di ambang pintu.


“Kebetulan sekali, Ayah.” Paloma berdiri sambil menggendong Luz Maria, yang kali ini asyik memainkan rambut pendek sang ibu. “Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu,” ucap Paloma lagi seraya berjalan mendekat.


“Ayo, Luz Maria. Kita bermain di dalam,” ajak Kalida. Pengasuh muda itu bermaksud meraih tubuh mungil Luz Maria dari gendongan Paloma.


“Tidak usah, Kalida,” tolak Paloma. “Biarkan Luz Maria tetap di sini,” ucapnya diiringi senyuman.


“Baiklah, Nyonya. Aku ada di dalam jika Anda membutuhkanku.” Kalida mengangguk sopan, sebelum berlalu dari sana. Dia meninggalkan Rogelio dan Paloma berdua di teras.

__ADS_1


Rogelio mengajak Paloma duduk. Wanita itu menempatkan Luz Maria di pangkuannya. Dia membiarkan balita cantik tadi memainkan kancing blazer yang terbuka.


“Ada hal penting apa yang ingin kau bicarakan denganku?” tanya Rogelio.


Paloma yang sesekali mengajak Luz Maria bermain, langsung menoleh kepada sang ayah. Dia tersenyum lembut. “Aku memikirkan sesuatu tentang bisnis, Ayah,” ucapnya.


“Maksudmu?” tanya Rogelio tak mengerti.


Paloma menjelaskan kepada sang ayah. Dia menuturkan apa yang tadi dibahas bersama Sebastian. Paloma juga mengutarakan ide yang tiba-tiba tercetus dalam benaknya, selama dia berada di perjalanan pulang menuju Granada.


“Apa kau yakin dengan keputusan itu, Nak?” tanya Rogelio yang terdengar sedikit ragu.


“Tentu saja, Ayah,” jawab Paloma dengan segera. “Pertama, karena makam putra dan suamiku ada di sini. Kedua, aku tak tahu akan sampai kapan kasus kecelakaan yang menewaskan Rafael dapat terungkap. Sementara, aku memang harus terus mengawal proses ini hingga benar-benar tuntas,” terang Paloma seraya mengembuskan napas pelan.


“Ini bukan negara kita, Ayah. Kita tak bisa leluasa berada di sini, jika bukan karena alasan yang benar-benar jelas dan sesuai dengan aturan yang berlaku. Karena itulah, aku berpikir untuk mengajukan visa kerja. Jalan satu-satunya adalah diriku harus memiliki bidang usaha atau pekerjaan di sini,” jelas Paloma lagi. Dia terdengar begitu bersemangat, saat mengatakan maksudnya kepada sang ayah.


Rogelio manggut-manggut pelan. Apa yang Paloma katakan memang benar adanya. Namun, dia juga tak bisa sembarangan dalam membeli sebuah perusahaan yang dinyatakan pailit. Rogelio harus menyelidiki terlebih dulu, latar belakang perusahaan tersebut.


“Siapa yang menjadi perantara penjualan perusahaan itu?” tanya Rogelio beberapa saat kemudian.


“Ya, tentu saja. Itulah yang namanya profesionalisme,” sahut Rogelio membenarkan.


“Kalau begitu, pertemukan aku dengan Elazar. Aku ingin berbicara secara langsung dengannya,” pinta ayahanda Paloma tersebut dengan raut serius.


“Baiklah. Keputusan ada di tanganmu, Ayah. Jika kau setuju, maka aku akan menyusun segala perencanaannya dengan matang,” ujar Paloma. Sorot matanya menyiratkan harapan, agar Rogelio mengabulkan apa yang menjadi niatnya.


“Itu bukan hal yang sulit, Nak. Namun, aku ingin memastikan terlebih dulu segala sesuatunya, karena ini bukanlah urusan yang main-main. Ada beberapa hal yang juga harus diperhatikan serta dipertimbangkan baik-buruknya,” ucap Rogelio. Dia memberikan saran kepada Paloma, berhubung Rogelio adalah pengusaha yang sudah sangat berpengalaman.


“Aku akan selalu mengikuti saranmu, Ayah,” balas Paloma kembali tersenyum. Sikap angkuhnya seketika sirna, ketika berhadapan dengan Rogelio.


“Baiklah. Kalau begitu, kau atur saja pertemuan kita dengan perantara itu. Selebihnya, biar aku yang mengurus.” Rogelio tersenyum kalem. Tak lupa, dia mencubit gemas pipi Luz Maria. “Aku juga harus kembali ke Meksiko. Ada banyak sekali urusan yang tidak bisa kutinggalkan dalam waktu terlalu lama,” ujarnya.


“Setelah menidurkan Luz Maria, aku akan menghubungi Sebastian, Ayah. Besok akan kukabari hasilnya.” Paloma beranjak dari duduknya, kemudian mencium pipi Rogelio.

__ADS_1


“Aku juga akan beristirahat,” sahut Rogelio sembari mengikuti Paloma. “Jangan lupa makan malam, Nak,” pesannya sebelum memasuki kamar yang bersebelahan dengan sang putri.


“Aku sudah mengisi perut tadi,” sahut Paloma.


Terbayang olehnya, senyuman Sebastian saat berbincang dengannya di cafetaria. Begitu pula ketika pria itu hendak menciumnya.


“Mama,” celoteh Luz Maria. Balita itu sudah dapat berbicara sepatah dua patah kata.


“Kau harus tidur, Malaikat kecilku.” Paloma membaringkan putri semata wayangnya dengan hati-hati di ranjang. Dia sempat menggelitiki perut Luz Maria dan kembali bercanda, sebelum mengganti pakaian putrinya dengan baju tidur.


Paloma ikut berbaring di samping Luz Maria sambil menyusuinya, hingga anak itu tertidur pulas. Dia memperhatikan wajah lucu yang sudah terpejam. Semua terasa begitu damai saat itu, sampai bayangan Rafael datang dan memenuhi benaknya.


Paloma tak dapat melupakan saat terakhir dirinya bersama sang suami. Setiap detail dari tragedi kecelakaan itu terekam jelas dalam ingatannya.


“Ya, Tuhan.” Setitik air mata jatuh membasahi bantal. Paloma tak ingin lagi larut dalam kesedihan. Dia segera bangkit dan meraih telepon genggam. Paloma tak merasa sungkan, meski waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam.


“Holla." Suara berat Sebastian menyapa, menggoda keteguhan seorang Paloma.


“Maaf, karena aku menghubungimu malam-malam begini,” ucap janda Rafael itu pelan.


“Tak masalah, Paloma. Ini belum terlalu malam,” sahut Sebastian lembut. “Apakah kau ingin meminta nomor telepon Elazar?” terkanya.


“Ya. Ayahku setuju untuk bertemu dengannya. Dia ingin membahas masalah pembelian perusahaan itu secara langsung,” jawab Paloma. Tak seperti biasanya, nada bicara wanita itu terdengar jauh lebih tenang dari biasanya.


“Tentu. Akan kukirimkan nomornya padamu. Tunggu sebentar."


“Sudah,” ucap pria itu kemudian.


“Gracias (terima kasih)." Paloma mengangguk pelan, walaupun Sebastian tak akan mungkin melihatnya.


“Sebenarnya, aku ingin kau membayar lebih dari sekadar ucapan terima kasih,” ucap Sebastian, ketika dia merasa bahwa Paloma akan mengakhiri panggilan.


“Apa yang kau inginkan?” Nada bicara wanita cantik itu kembali dingin dan terdengar ketus.

__ADS_1


“Makan malam bertiga. Aku, kau, dan Luz Maria,” jawab Sebastian.


__ADS_2