
Paloma terkejut bukan main. Dia segera menoleh. Dilihatnya Sebastian yang sudah berdiri di ambang pintu. Pria itu bahkan berjalan mendekat.
Sedangkan, Paloma kembali mengarahkan pandangan ke setiap sudut kamar. “Ruangan ini sudah sangat rapi dan indah. Apa lagi yang harus ditata di sini?” tanya wanita itu kebingungan.
“Coba kau pikirkan. Kira-kira apa yang harus ditata ulang?” Bukannya menjawab pertanyaan Paloma, Sebastian malah terkesan ingin bermain-main dengan wanita cantik tersebut.
Sekali lagi, Paloma mengedarkan pandangan ke setiap sudut kamar. Matanya tak menangkap ada sesuatu yang janggal. “Bisakah untuk tidak membuatku berpikir terlalu berat, Tuan? Masalah hidup yang harus kuhadapi sudah sangat memusingkan,” protes Paloma pelan. Dia menoleh kepada Sebastian yang beranjak ke dekat pintu di sudut kamar.
‘Aku tak ingin membuatmu semakin terbebani. Karena itu, lakukan apapun yang menurutmu harus dirapikan dari kamar ini.” Setelah berkata demikian, Sebastian membuka pintu berwarna cokelat, yang tadinya Paloma anggap sebagai dinding. Sebastian masuk ke sana.
Sepeninggal sang pemilik kamar, Paloma masih belum beranjak dari tempatnya berdiri. Dia kembali mengamati ruangan luas itu dengan lebih saksama. Sesaat kemudian, wanita bermata hazel tersebut menyunggingkan senyuman kecil. Dia bergegas keluar dari kamar tersebut.
Paloma, berjalan cepat menyusuri koridor. Tujuannya saat itu adalah gudang.
Sementara, Sebastian tengah menikmati guyuran air dari shower yang mengalir deras. Pria tampan itu berdiri dengan kepala tertunduk. Dia memejamkan mata, meresapi setiap deraian air yang jatuh menimpa tubuhnya. Sesekali, pria berpostur tegap tersebut menyugar rambutnya ke belakang.
Namun, tetesan air yang jatuh terlalu deras. Alhasil, rambut ikal Sebastian yang agak gondrong tadi kembali jatuh ke depan wajah.
Selagi Sebastian asyik menikmati ritual mandinya, Paloma pergi ke taman untuk memetik beberapa tangkai bunga. Setelah dirasa cukup, wanita cantik berambut cokelat tersebut kembali ke gudang. Dia mengembalikan peralatan yang tadi dirinya gunakan.
Paloma, kemudian melanjutkan langkah menuju dapur. Dari sana, menantu Rogelio tersebut mengambil sebuah toples polos cantik yang dirinya isi dengan air.
Setelah mendapatkan semua yang dia butuhkan, Paloma bergegas kembali ke kamar Sebastian. Seperti biasa, dia tak memedulikan tatapan tak biasa pelayan lain yang kebetulan berpapasan dengannya. Lagi pula, semenjak insiden di perjamuan dan kedatangan Rafael yang menyeretnya dengan paksa, setiap pelayan menjadi bersikap aneh. Tak terkecuali Flor. Gadis itu juga bersikap biasa saja, bahkan cenderung menjaga jarak dengannya.
Lagi-lagi, Paloma harus bersikap tak peduli. Sama seperti saat pertama kali Rafael meninggalkan dia beberapa tahun silam di Granada. Paloma harus menutup mata dan telinga, dari segala hal yang hanya akan membuat perasaannya kian tak menentu.
Setibanya di depan kamar Sebastian, Paloma langsung masuk tanpa mengetuk pintu. Suasana di ruangan pun tampak sepi. Sepertinya, Sebastian tak berada di sana. Itu akan jauh lebih baik, karena Paloma dapat melakukan pekerjaannya dengan tenang, tanpa merasa diawasi.
__ADS_1
Dengan langkah pelan dan hati-hati, Paloma meletakkan topes yang sudah diisi air setengahnya tadi di atas meja kecil sudut ruangan. Dia mulai merangkai bunga yang terdiri dari beberapa jenis ke dalam toples. Paloma mengerjakan itu semua dengan teliti. Dia yang dulu pernah bekerja di toko bunga saat tinggal di Granada, menampilkan kembali bakat terpendam itu. Walaupun hanya bekerja selama setengah tahun, tapi pengalaman singkat tersebut cukup membekas di benaknya.
Beberapa saat kemudian, Paloma telah menyelesaikan pekerjaannya. Dia memindahkan toples berisi bunga yang sudah dirangkai tadi, lalu meletakkan di atas meja sebelah tempat tidur. Paloma tersenyum sendiri atas hasil yang didapat. Terbesit rasa bangga dalam dirinya, meskipun dia tahu bahwa semua orang juga mampu melakukan seperti apa yang dia kerjakan barusan.
“Jadi, begitu?” Suara berat dan dalam Sebastian, tiba-tiba terdengar dan kembali mengejutkan Paloma. Wanita itu melonjak kaget. Dia menoleh dengan spontan ke arah sumber suara.
Tampaklah Sebastian yang sudah berdiri di sisi lain ruangan. Pria tampan tersebut telah berganti pakaian dan terlihat lebih segar. Sebastian berjalan tenang ke dekat Paloma. Dia berhenti tepat di sebelah wanita muda yang hanya setinggi pundaknya. “Bagaimana kau bisa punya ide meletakkan rangkaian bunga di dalam kamarku?” tanyanya seraya mengernyitkan kening.
“Entahlah. Kurasa, kamar Anda terlalu gelap dan misterius. Sepertinya, bunga berwarna-warni ini dapat menetralkan kesan menyeramkan itu,” jawab Paloma enteng.
Sebastian tertawa pelan. “Misterius dan menyeramkan. Begitukah? Menurutku, ini disebut teduh. Menenangkan dan ….”
“Apa Anda sedang bersembunyi dari sesuatu?” tanya Paloma menyela ucapan Sebastian.
Pria dengan kemeja putih tadi tak segera menjawab. Tatapannya lekat tertuju pada bunga berwarna-warni dalam toples transparan. Sesaat kemudian, Sebastian merapikan kerah serta melipat lengan kemejanya hingga tiga per empat. “Aku harus menyambut Tuan Gallardo di meja makan. Terima kasih untuk yang sudah kau lakukan hari ini,” ucap Sebastian tanpa menjawab pertanyaan yang diajukan Paloma. Dia berlalu ke dekat pintu. “Jangan lupa tutup rapat pintunya jika kau sudah selesai,” pesan pria itu seraya melangkah keluar kamar.
Setelah pria itu pergi, Paloma kembali mengedarkan pandangannya. Tatap mata wanita dua puluh lima tahun tersebut, terkunci pada sebuah foto yang tersimpan di atas buffet kayu dekat jendela.
Paloma, melangkah ke sana. Foto wanita cantik yang ada di dalam foto tadi, sama persis dengan lukisan besar yang terpajang di ruang kerja Sebastian. Tak perlu diragukan lagi, bahwa itu pasti mendiang istri Sebastian yang bernama Brishia.
Paloma tak ingin mengusik barang apapun yang ada di sana. Dia melihat sprei berwarna dark grey yang membuat kamar Sebastian kian gelap. Wanita cantik tersebut lalu beranjak ke sisi lain kamar. Dia meraba-raba dinding dengan lapisan kayu berukir. Paloma maksud mencari pintu.
Akhirnya, wanita itu dibuat terkejut ketika salah satu dinding yang dia raba tiba-tiba bergeser. Paloma terpaku sesaat, saat memperhatikan ruangan luas di balik dinding yang merupakan pintu geser tadi.
Sementara itu di meja makan. Seperti yang dikatakannya tadi, Sebastian menjamu Rogelio dengan penuh kekeluargaan. Mereka berbincang hangat, sambil membahas urusan pekerjaan.
Rogelio bercerita tentang prospek bisnis di kota kelahirannya, yaitu Chihuahua. Semua yang dia tuturkan, membuat Sebastian merasa tertarik.
__ADS_1
Selagi Rogelio masih berada di Porcuna, Sebastian bermaksud untuk mengajak pria paruh baya tersebut berkeliling perkebunan sambil menunggang kuda. “Aku biasa mengekspor hasil perkebunan ke Italia dan Turki. Pasti akan jauh lebih menantang jika bisa sampai ke Benua Amerika,” ujar Sebastian di sela-sela santap malamnya.
“Oh, tentu saja. Aku akan berkoordinasi dengan para staf khusus di perusahaan. Kita tahu seberapa banyak khasiat zaitun dalam dunia obat-obatan serta kecantikan,” balas Rogelio menanggapi dengan antusias. “Aku benar-benar terkesan dengan keramahan Anda, Tuan Castaneda. Kuharap, Anda juga bersedia meluangkan waktu untuk berkunjung ke Meksiko.”
“Itu pasti akan sangat menyenangkan,” ujar Sebastian. “Kenapa Anda tidak tinggal di sini untuk beberapa hari? Anggap saja sedang liburan. Ada banyak tempat menarik yang bisa dikunjungi selain Sevilla dan Porcuna tentunya,” tawar Sebastian berbasa-basi.
Rogelio tersenyum lebar menanggapi tawaran sang pemilik Casa del Castaneda tersebut. Dia meneguk minumannya terlebih dulu sebelum memberikan jawaban. “Aku ingin sekali melakukan itu, Tuan. Namun, aku selalu tak bisa berlama-lama meninggalkan Meksiko. Entahlah. Rasanya, seperti ada magnet yang sangat besar menarikku agar segera kembali,” jelas Rogelio tak mengerti.
“Jadi, Anda akan tetap berangkat besok?”
“Ya, Tuan Castaneda. Terlebih, karena Paloma juga akan ikut denganku kali ini. Rasanya seperti mimpi melihat dia lagi setelah sekian tahun berlalu.” Rogelio tiba-tiba terlihat muram.
Sesuatu yang dirasa aneh oleh Sebastian.
Dia tak dapat membayangkan, sebesar apa kasih sayang dari ayah mertua terhadap menantunya. Akan tetapi, Sebastian tak ingin berpikir terlalu jauh. Pria dengan janggut dan kumis tipis itu hanya tersenyum samar.
“Baiklah, kalau begitu. Aku tak mempunyai hak untuk memaksa Anda,” ucap Sebastian pada akhirnya. Dia tak lagi memaksa Rogelio untuk tinggal lebih lama.
Perbincangan di meja makan itu pun, diakhiri dengan obrolan serta candaan ringan. Tanpa terasa, malam kian larut. Rogelio berpamitan untuk beristirahat.
Sepeninggal Rogelio, Sebastian juga turut meninggalkan ruang makan menuju ke kamarnya. Namun, alangkah terkejut pria itu, ketika dia membuka pintu ruangan pribadinya.
Sorot mata Sebastian yang tajam, menangkap perubahan pada sprei yang terpasang di ranjang. Dia yakin, hal itu pasti hasil kerja Paloma.
Perlahan, Sebastian melangkah dan duduk di tepian ranjang. Satu tangannya mengusap permukaan sprei yang sudah berganti baru. Kain yang tadinya berwarna gelap, kali ini berganti menjadi sprei bermotif bunga dengan warna cerah. Sebastian masih mengingatnya dengan jelas, bahwa sprei yang sekarang terpasang di tempat tidurnya, merupakan kesukaan sang istri.
"Brishia," ucap Sebastian pelan, saat menyebut nama wanita yang teramat dia cintai. Wanita yang hingga saat ini tak pernah tergantikan tempatnya oleh siapa pun. Sebastian, memberikan singgasana tertinggi kepada Brishia, meskipun wanita cantik tersebut telah tiada dari semenjak beberapa tahun silam.
__ADS_1
"Kau akan selalu menjadi yang terbaik," ucap Sebastian lagi.